
Mereka berdua Lu berjalan kembali dengan perlahan-lahan menuju tempat yang sangat indah untuk dilewatkan. Maka dari itu Dharma membawa Zoya ketempat yang sangat indah dan juga bagus berada didesa sebelah.
"Kita mau kemana lagi Dharma? Apa ada spot wisata yang bagus?" tanya Zoya saat melihat sekeliling banyak dipenuhi dengan pepohonan dan juga persawahan yang sangat bagus dan juga cantik sekali untuk dipandang.
"Iya, disekitar sini ada tempat wisata yang sangat indah dan juga bagus. Aku jamin kamu pasti akan suka" jawab Dharma dengan senyuman mengembang dibibir nya.
"Benarkah? Wah, jadi tidak sabar untuk cepat sampai" ucap Zoya dengan semangat nya.
Mereka sudah memasuki area air terjun dan juga pegunungan yang sangat indah dan juga sangat bagus sekali.
Zoya selalu mengabadikan moment langka ini dengan kamera ponsel nya. Dia tidak membawa kamera digital, jadi menggunakan yang ada saja sudah bagus.
"Kamu suka?" tanya Dharma pada Zoya sambil tersenyum.
"Sangat, sangat suka sekali" jawab Zoya yang langsung turun menuju ari terjun yang sangat bagus dan juga sangat bersih.
"Syukurlah jika kamu suka" ucap Dharma yang mengikuti langkah Zoya yang sangat cepat dan sangat menikmati keindahan alam ini.
"Ya, suka lah Dharma. Aku memang lebih suka dengan alam dan juga pedesaan yang masih sangat asri ini" ucap Zoya yang memberi tahu Dharma jika dia sangat menyukai alam dan sekitar nya.
"Disana lebih bagus untuk bersua foto" ucap Dharma sambil menunjuk keatas air terjun.
Zoya mengikuti langkah kaki Dharma menuju keatas air terjun yang sangat bagus. Hingga Zoya hampir saja jatuh jika Dharma tidak langsung menolongnya.
"Maaf, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Dharma pada Zoya yang sedang menunduk merasa malu.
"Iya, aku baik-baik saja" jawab Zoya dengan wajah yang merah seperti tomat.
"Syukurlah, ayo kita lanjutkan lagi jalan nya" ucap Dharma dengan menggenggam tangan Zoya.
Dharma takut jika Zoya akan terhelincir lagi. Maka dari itu dia menggenggam tangan nya. Sedangkan Zoya semakin gugup didepan Dharma, karena tangan nya terus digenggam oleh Dharma.
"Kita sudah sampai. Kamu suka kan?" tanya Dharma saat setelah sampai diatas air terjun.
__ADS_1
"I.. Iya, aku suka. Dari sini sangat bagus" jawab Zoya menetralkan perasaan gugup nya.
"Iya, sini aku fotoin kamu" ucap Dharma sambil menadahkan tangan nya meminta ponsel Zoya.
Zoya memberikan ponselnya dan segera berpose, dia sangat senang berada disini hingga ponsel Zoya berdering menampilkan nama sayang dilayar ponselnya. Dharma terlihat langsung berubah raut wajah nya setelah melihat layar ponsel Zoya.
"Ada yang menelpon kamu" ucap Dharma sambil mengarahkan ponsel Zoya dan dengan nada seperti pertama dia datang bersama dengan Pak Kimin.
"Eh, ada signal disini?" tanya Zoya dan diangguki oleh Dharma.
"Terimakasih" ucao Zoya.
Saat Zoya melihay nama penelpon nya dia juga langsung berubah raut wajah nya. Dia yang awal nya ceria dan penuh kegembiraan menjadi murung dan terlibat lesu.
"Hmm" jawab Zoya setelah mengangkat panggilan dari Samuel.
"Kamu dimana sih sayang, aku sejak kemarin menghubungi mu tapi tidak bisa. Kamu dimana?" tanya Samuel diujung telpon sana.
"Aku sedang ada kerjaan. Jadi ponselnya tidak bisa dihubungi" jawab Zoya dengan datar.
"Sam, aku ingin kita selesai. Aku tidak bisa menjalani hubungan yang seperti ini dengan mu, aku ingin kebebasan, aku ingin menjadi diriku sendiri. Please, jangan pernah mengharapkan ku lagi dan jangan pernah menghubungi ku. Aku ingin ketenangan" ucap Zoya dengan menghembuskan nafasnya sedikit kasar.
"Apa maksud kamu! Kamu jangan seenaknya membuat keputusan! Ingat keluarga kita sudah saling terikat satu sama lain, jangan pernah gegabah dalam mengambil keputusan. Jika kamu ingin berpisah dariku, maka bersiaplah adik mu lah yang akan menanggung akibat nya! Camkan itu baik-baik" ucap Samuel dengan penuh ancaman.
Lalu memutusakan panggilan telpon nya dengan sepihak. Inilah yang tidak disukai dari Samuel, dia terlalu memaksa dan juga selalu memberikan ancaman untuk nya.
"Sam, halo. Sam, Samuel!" teriak Zoya dengan sangat keras dan sambil menangis.
Dharma menyaksikan itu semua, dia tidak menyangaka dengan kehidupan seperti apa yang Zoya hadapi. Dia langsung menangis dan tergesa-gesa untuk turun dari tabing yang lumayan tinggi.
"Zoya, tunggu. Kamu harus berhati-hati! Jalan nya sangat licin, kamu bisa terhelincir. Zoya.... Zoya... " ucap Dharma sambil terus memanggil nama Zoya yang sudah berjalan sangat cepat.
Zoya tidak memperdulikan keselamatan nya sendiri. Yang dia fikirkan hanya Zia, adiknya yang sudah Samuel ancam. Zia baru saja pulih dari rasa trauma nya karena pernah mendapatkan pele*ehan dari orang yang sejak lama dekat dengan nya. Jika ini terjadi lagi Zoya tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Yang terlintas dalam fikiran nya hanya dia harus bertemu dengan Samuel. Dia harus bicara langsung dengan nya.
__ADS_1
"Zoya" ucap Dharma yang melihat Zoya seperti pertama kali bertemu dengan nya. Tatapan mata kosong dan banyak fikiran.
"Zoya, lihat aku. Zoya, tatap mataku. Kamu kenapa? Jangan seperti ini, kamu harus bisa mengontrol diri kamu sendiri. Jangan membuat kamu seperti ini, kamu harus menghadapi semuanya" ucap Dharma sambil menangkup kedua pipi Zoya dan membuatnya menatap wajahnya.
Zoya langsung menangis dan memeluk tubuh Dharma. Dia saat ini benar-benar sangat rapuh, inilah yang dia tidak suka dari Samuel, inilah yang dia benci dari pria itu. Dia selalu memaksakan kehendak nya pada orang lain, termasuk pada Zoya. Zoya tidak menyangka jika Samuel yang dia kenal dulu adalah pria yang kasar dan pemaksa.
Zoya sangat sedih, dia menangis dalam pelukan Dharma dan menangis sesegukan disana. Dharma hanya mengusap kepala dan juga punggung Zoya supaya lebih tenang.
"Menangislah, mungkin hanya dengan tangisan dan air mata, kamu akan lebih tenang dan relax. Aku tidak akan menyuruh kamu berhenti menangis dan berbicara pada ku" ucap Dharma sambil terus mengusap kepala dan punggung Zoya dengan lembut.
Hingga suara tangisan Zoya tenggelam dan tidak terdengar lagi. Dharma mengurai pelukan nya dan menatap wajah sembab Zoya, dia mencoba tersenyum untuk bisa membuat Zoya lebih tenang.
Zoya masih sesegukan, dia sedang duduk disebuah batu yang tidak jauh dari Soraya terjun. Mereka saling memandang dan akhirnya Zoya kembali meneteskan air matanya.
'Kenapa aku harus bertemu dengan pria jahat sepertinya? Aku sungguh tidak tahu jika dia adalah pria yang sangat pemaksa dan juga selalu mengancam ku. Ya Allah, apa yang harus Zoya lakukan sekarang? Zoya sangat bingung. Jika Zoya memutusakan nya, dia pasti akan menyakiti Zia. Zoya tidak mau itu terjadi' isak tangis yang begitu memilukan bagi siapa pun yang mendengarnya.
Zoya hanya diam dan meneteskan air matanya. Hingga matanya membengkak dan hidung nya juga sangat merah karena terlalu banyak menangis. Dharma bingung harus berbuat apa pada Zoya. Dia tidak tahu masalah yang sedang dihadapi oleh nya. Dia hanya bisa menatap Zoya dengan pandangan yang sangat prihatin melihatnya.
"Aku ingin pulang sekarang Dharma" ucap Zoya dengan suara parau nya. Diaangsung bangkit menuju mobilnya diperkirkan.
Dia berjalan dengan tidak bersemangat. Dia baru saja ingin menikmati hidupnya dan juga kebahagiaan nya sendiri, tanpa harus membohongi diri dan hati nya sendiri. Tapi jika seperti ini, apa yang bisa dia lakukan? Dia akan kembali pada Zoya yang sebelum nya. Zoya yang pendiam dan penurut, dia akan menjadi orang lain dalam dirinya sendiri.
"Zoya, apa kamu yakin dengan keputusan kamu? Maaf bukan nya aku mau ikut campur masalah kamu. Aku hanya ingin bilang, jadilah diri kamu sendiri dan jangan pernah membohongi diri kamu dan hati kamu sendiri. Bukan kah kamu pernah bilang jika selama ini kamu tidak menjadi diri kMu sendiri? Kenapa kamu akan mengulanginya lagi? Apa kamu mengalami masalah yang sangat besar dan tidak bisa dibicarakan dengan keluarga kamu? Master jika aku terlalu ikut campur dalam hal ini. Aku hanya mengingatkan kamu saja" ucap Dharma saat melihat tatapan berbeda dari Zoya.
tatapan yang terlihat sangat berbeda dari sebelum nya. Tatapan lebih dingin dan juga tajam, ini bukan Zoya, dia seperti memiliki kepribadian lain dalam dirinya sendiri. Dia bukanlah Zoya, Dharma bisa melihat itu dengan jelas. Tapi dia tidak berani untuk menanyakan nya pada Zoya.
"Zoya, kamu pasti bisa menjalaninya. Hadapi dan jangan menyerah" ucap Dharma sebelum dia melangkahkan kaki nya menuju mobil yang terparkir didepan nya.
.
.
.
__ADS_1
Nyesek banget bikin part nya Zoya... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Bacanya harus siapin tisu yang banyak.... 🤧🤧🤧