
Melihat respons yang baik dari wanita itu Zico langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan nya.
"Bagaimana keadaan nya dok? Tadi dia merespon ucapan saya dengan menggerak kan jarinya" ucap Zico menunjuk jari telunjuk nya wanita itu.
Saat dokter sudah masuk dan memeriksanya secara keseluruhan.
"Ini suatu kemajuan Tuan Muda, pasien merespon dengan baik. Semoga memang bisa cepat sadar, Tuan Muda harus selalu mengajak nya berbicara. Dengan begitu pasien akan merespon dengan cara seperti tadi" jelas dokter tersebut menjelaskan semuanya pada Zico.
"Terimakasih" ucap Zico sambil mengangguk kan kepala nya.
"Kalau begitu kami permisi Tuan Muda" ucap dokter nya pamit keluar.
Sedangkan Zico hanya mengangguk saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Zico menatapi wajah wanita yang mungkin masih sangat muda, tapi wajahnya seperti sudah berumur.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada kamu? Kenapa kamu menabrak kan diri kamu kemobil ku? Apa yang ada didalam fikiran kamu sampai membahayakan diri kamu sendiri?" tanya Zico yang masih menatap nya tanpa berkedip.
Bola matanya seperti bergerak-gerak, dia merespon apa yang diucapkan oleh Zico. Zico masih memandangi dan dia mau memegang tangan wanita itu. Dan bola matanya berhenti bergerak saat tangan Zico memegang tangan nya.
"Kau merespon setiap kata-kata ku rupanya. Semangat lah untuk sembuh, karena ada aku yang akan menjaga kamu" ucap Zico sambil melangkahkan kaki nya menuju pintu kamar mandi.
Dua bulan berlalu...
"Kamu masih betah saja tertidur" gumam Zico saat dia menjenguk nya.
"Abang, apa abang yakin akan membawa nya pulang saat sudah sadar dan sembuh nanti?" tanya Zia yang kebetulan ikut untuk menjenguknya.
"Iya, kenapa memangnya?" jawab Zico dengan pertanyaan nya juga.
"Seriously? Aku tidak percaya, abang mana bisa dengan orang asing?" tanya Zia lagi dengan menatap wajah Zico dengan memicingkan matanya menyelidik.
"Entahlah, abang hanya merasa kasihan pada nasibnya. Dia masih sangat muda, tapi nasibnya sangat buruk dan juga sangat memprihatin kan. Abang hanya ingin melindunginya dari orang-orang yang hanya ingin memanfaatkan dan juga merugikan nya" jawab Zico dengan panjang lebar.
"Hanya karena itu? Selama lebih dari dua bulan ini hanya itu yang abang rasakan? Aku tidak percaya dengan kata-kata mu itu bang, abang benar-benar pembohong besar" ucap Zia sambil berlalu pergi dari ruangan rawat wanita itu.
__ADS_1
"Apa yang dia katakan. Kenapa dia berbicara seperti itu? Aneh" gumam Zico yang menatap adiknya yang menghilang dibalik pintu.
"Hai, kamu kira juga tidurnya. Sampai-sampai tidak terusik sama sekali oleh kehadiran adik ku yang heboh tadi" ucap Zico yang langsung memegang tangan nya tanpa canggung lagi seperti pertama kali.
"Wah, dia juga tumbuh dengan baik rupanya. Lihatlah, dia sudah tumbuh besar. Kata dokter, usia nya sekarang sudah menginjak 17minggu. Apa kamu tidak ingin melihatnya? Coba pegang lah, dia akan merespon nya dengan baik pada Mommy nya" ucap Zico yang meletak kan tangan wanita bernama Arabella.
"Come on baby, bergerak lah. Beri tahu Mommy kMu supaya dia cepat bangun" ucap Zico sambil memegang perut Arabella yang sudah terlihat membuncit. Dan juga tangan Arabella berada digenggaman tangan nya juga.
Ternyata didalam perutnya juga merespon dengan baik. Dia bergerak walau pelan, tapi itu sudah sangat bahagia sekali.
"Kau bisa merasakan nya bukan? Ara, bangun lah. Kita akan menjaga putri kita dengan baik. Ya, dia putri ku juga. Aku sudah menganggap nya seperti putri ku, jadi bangun lah" ucap Zico sambil meneteskan air mata nya.
Entah kenapa rasanya begitu sakit. Melihat wanita yang sudah dua bulan lebih bersama dengan nya. Selalu dia temani dan juga diajak mengobrol walau tidak merespon. Ada yang salahkah dengan perasaan nya?
"Maaf bang aku langsung masuk saja. Karena sejak tadi aku mengetuk pintu tidak abang respons" ucap seorang gadis cantik. Siapa lagi jika bukan Joyce.
"Tidak apa-apa Joyce. Duduk lah" ucap Zico yang langsung masuk kedalam kamar mandi didalam ruangan tersebut.
"Semoga kamu cepat pulih, dan tidak membuat abang Zi menjadi seperti ini. Kurang tidur dan mungkin juga kurang memperhatikan makan nya. Dia lebih terlihat kurus dari sebelum-sebelumnya" ucap Joyce yang langsung duduk saat melihat Zico datang menghampiri nya.
"Ada apa? Tumben kamu datang kesini?" tanya Zico yang baru kali ini melihat Joyce datang kemari.
"Apa aku salah ingin menjenguknya?" tanya Joyce balik pada Zico sambil menatap pada wanita yang masih terbaring lemah.
"Tidak, tidak sama sekali. Terimakasih sudah mau menjenguknya" ucap Zico pada Joyce.
Mereka lama saling diam hingga ucapan Joyce membuat Zico tercengang.
"Aku kesini juga karena abang. Aku ingin abang menjadi kekasihku dan berhenti menjaga nya, karena disini masih banyak dokter dan perawat yang akan menjaga nya" ucap Joyce dengan sangat mengejutkan.
"Apa yang baru saja kamu katakan?" tanya Zico yang tidak habis fikir dengan ucapan Joyce.
Wanita yang terlihat sangat lemah lembut dan juga baik ini mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak pantas untuk diucapkan.
__ADS_1
"Apa ada yang salah bang? Aku sangat mencintai kamu! Apa abang tidak bisa melihat nya, Hah!" ucap Joyce dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Selama ini aku hanya diam dan menerima semua perlakuan manis dan baik dari kamu. Tapi kenapa kamu dengan teganya meninggalkan aku hanya demi wanita yang sama sekali tidak abang kenal!" ucapnya lagi sambil menangis dan senyuman sinis nya.
"Semua yang kamu katakan adalah sebuah kekaguman dan juga rasa nyaman saja Joyce. Bukan cinta, karena cinta tidak seperti itu" ucap Zico yang masih menatap wajah sendu wanita cantik dan juga sangat elegant.
"Wah, seperti apa cinta itu bang? Seperti kamu pada nya? Yang rela siang dan malam berada disini hanya untuk menjaga wanita yang tidak tahu akan bangun atau tidak!" ucap Joyce benar-benar sangat marah akan sikap Zico.
"Selama ini aku memberi perhatian padamu karena aku mengagumi kamu yang sangat baik dan juga sangat lugu dan polos. Tapi itu tidak seperti yang aku lihat selama ini. Apa ini adalah sifat asli kamu? Bahkan kamu baru kali ini membentak dan berbicara kasar pada orang" ucap Zico yang sudah terpancing emosi juga.
"Iya, ini adalah sifat asliku. Kenapa! Apa abang akan membenciku, dan menjauhi ku. Begitu?" ucap Joyce begitu menyebalkan.
"Terserah pada mu Joyce, kamu mencintaiku atau puntidak itu hak mu. Aku tidak akan melarang mu untuk mencintaiku. Tapi ingat satu hal, jangan pernah memaksakan kehendak kamu untuk ku. Karena aku hanya menganggap kamu sebagai adik ku saja. Sama seperti pada Zia" ucap Zico dengan panjang lebar dan tetap menatap mata Joyce.
"Kamu jahat bang! Aku akan membalas semua rasa sakit dihati ku ini padamu" ucap Joyce sambil berlalu pergi dengan membanting pintu ruangan rawat Arabella.
Zico menatap kearah brangkar pasien dimana ada wanita yang ternyata sudah membuka matanya dan mungkin juga mendengar semua percakapan nya dengan Joyce. Lalu Zico menghampiri nya dan menekan tombol untuk memanggil dokter.
"Kamu sudah bangun? Syukurlah, sebentar lagi dokter datang untuk memeriksa keadaan kamu. Tunggu sebentar ya" ucap Zico dengan mengusap kepala Arabella.
Arabella hanya diam dan menatapnya dengan tatapan yang sendu dan berlinangan air mata. Zico langsung mengusap nya dan mengajak nya bicara.
"Hey, kenapa menangis? Kamu sudah bangun, jangan memikirkan yang tidak-tidak. Kamu harus relax" ucap Zico. dan tidak lama para dokter dan perawat datang menghampiri mereka berdua.
Setelah dokter memeriksa kondisi nya. Dokter dan perawat langsung pergi lagi setelah mengetahui jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena kondisi luka luarnya sudah sembuh total.
"Kamu mengingatkan sesuatu?" tanya Zico pada Arabella.
Arabella hanya diam dan tidak mengucapkan apapun, bahkan dia tidak menggerak kan bibirnya sedikit pun.
'Terimakasih Tuan, anda sudah menolong saya dan menjaga saya hingga saya menjadi seperti ini. Entah apa yang harus saya katakan pada anda, karena saya sendiri tidak bisa berbicara' ucap Arabella hanya didalam hati saja dan menggerak-gerak kan kelopak matanya.
Zico mengambilkan minum dan disambut oleh Arabella. Mereka saling diam, sebenarnya Zico merasa canggung dengan situasi seperti ini. Dia memang lebih suka diam, tapi setelah bertemu dengan Arabella dia lebih suka banyak bicara.
__ADS_1