
Zia masih saja memandangi layar ponselnya yang dia matikan sendiri. Lalu dia menyalakan kembali dan akhirnya dia tertidur dengan sendirinya posisi ponsel masih dalam genggaman nya.
Sedangkan saudaranya yang lain seperti Zio dan Zayd sudah terlelap sejak tadi seperti yang lain nya dan memasuki alam mimpi yang sangat indah.
Keesokan harinya semua heboh saat Zico memberi tahu akan segera menikahi Ara dalam waktu dekat ini dan disetujui oleh Mom Vita dan Dad Louis. Asalkan mereka berdua tetap tinggal bersama dengan nya didalam mainson Edison.
"Kalian semua tidak punya rencana dihari weekand ini seperti abang Zi?" tanya Mom Vita yang melihat anak-anak yang lain terlihat lesu terkecuali Zio dan Zayd yang seperti biasa selalu menampilkan keceriaan dan juga kekonyolan mereka berdua.
"Kakak Zoya kenapa murung, apa terjadi sesuatu?" tanya Mom Vita yang melihat putri sulungnya tidak bersemangat.
"Tidak ada apa-apa Mom. Hanya sedikit lelah saja. Mungkin karena semalam mengerjakan pekerjaan yang lumayan banyak" jawab Zoya yang tidak semuanya salah.
"Kakak harus bisa jaga kesehatan. Jangan sampai kakak sakit karena terlalu diforsir tenaganya" ucap Mom Vita memberi nasehatnya.
"Iya Mom aku akan selalu mengingat itu" jawab Zoya dengan senyuman.
"Kakak Zia sendiri kenapa dibawah matanya ada lingkaran hitamnya?" tanya Mom Vita yang melihat Zia lesu dan tidak bersemangat.
"Aku semalam tidak bisa tidur Mom, banyak nyamuk dikamar yang membuatku sulit memejamkan mata" jawab Zia menyalahkan nyamuk.
Padahal ada seseorang yang terus menghubungi nya hingga dia tertidur dengan sendirinya entah sudah jam berapa.
"Mom, Dad kami akan keluar sebentar" ucap Zico yang meminta izin untuk keluar dengan Ara.
"Iya, tapi kalian harus pulang. Tidak ada kata memginap-menginap lagi!" jawab Mom Vita memberi perintah yang mutlak.
"Iya Mom" jawab Zico sambil berpamitan dan mencium punggung tangan Mom Vita dan Dad Louis bergantian. Begitu juga dengan Ara.
"Kalian mau pergi kemana bang? Boleh ikut nggak?" tanya Zia yang bosan juga jika terus dimainson seharian ini.
"Kami akan ke Mall untuk membeli sesuatu. Apa kamu yakin akan ikut abang?" jawab Zico dan bertanya pada Zia.
Yang pasalnya Zia paling tidak suka jika harus mengikuti seseorang yang sedang barbelanja. Jika dia juga tidak ingin berbelanja.
"Aku juga ingin membeli sesuatu bang. Nggak apa-apa kan aku nebeng mobil abang?" jawab Zia meyakinkan Zico supaya bisa ikut dengan nya.
"Ya sudah ayo. Jangan lama-lama dandan nya Zi" ucap Zico yang melihat Zia naik keatas menuju kamarnya.
__ADS_1
Sedangkan yang lain nya saling pandang karena baru kali ini Zia mau mengikuti Zico. Biasanya yang selalu Zia bikin kesal atau selalu dia ikutin bukan Zico tapi Zayd dan Zio pun jarang. Apa lagi Zico.
Zia sudah bersiap dengan dandanan yang casual seperti para remaja pada umum nya. Dan mereka bertiga sudah ada didalam pusat perbelanjaan terbesar dan terlengkap disini.
"Abang Zia kesana ya. Nanti jika abang sudah selesai hubungi Zia" ucap Zia yang menunjuk wahana permainan.
"Iya, kamu harus hati-hati" jawab Zico yang melihat Ara nya juga sepertinya menginginkan permainan seperti Zia juga.
"Apa Ara juga mau seperti Zia juga? Menaiki wahana permainan?" tanya Zico dan diangguki oleh Ara.
"Oke, tapi kita beli cincin pernikahan kita dulu. Setelah itu baru kita menaiki wahana yang ada didalam sana" ucap Zico yang membuat Ara nya tersenyum lepas.
"Ya sudah ayo" ucap Zico lagi menuntun Ara untuk menuju toko perhiasan termewah dan termahal tentunya.
"Saya ingin cincin pernikahan yang paling bagus tapi simple" ucap Zico pada pelayan toko perhiasan berlian tersebut.
Ara menyukai berlian yang imut-imut seperti dirinya dan itu terlihat pas dan juga cocok dijari manis Ara. Zico langsung mengambil nya dan juga sebuah kalung kecil cantik untuk Ara kecilnya.
"Yuk, kita akan mencoba wahana yang kamu inginkan" ucap Zico yang menuntun Ara nya menuju wahana bermain yng sama dengan Zia.
"Ara ingin permainan juga. Kau ajaklah dia, pasti seru jika kalian berdua. Abang ingin membeli sesuatu dulu" jawab Zico yang memang ingin memberikan kejutan untuk Ara nya.
"Siap bang. Zia akan menjaga kakak ipar ku dengan baik dan tanpa lecet tentunya" ucap Zia yang langsung membawa Ara memasuki dan menaiki setiap wahana yang ada.
Hingga mereka berdua kelelahan tapi Zico belum muncul juga. Zia dan Ara masih semangat dan juga masih ingin mencoba setiap wahana yang ada.
"Kakak, mulai hari ini Zia panggil nya kakak ya?" ucap Zia pada Ara dan diangguki oleh Ara.
"Kita udahan yuk, aku lelah ingin menikmati makanan disini. Mau ikut?" tanya Zia yang menggunakan bahasa isyarat.
"Iya aku juga sudah mersa lapar" jawab Ara juga.
Mereka langsung pergi ke restaurant ayam goreng yang terkenal itu. Tanpa disengaja pandangan Zia mengarah pada pasangan muda yang sedang makan berdua juga didalam sana.
Zia langsung menghampirinya dan ternyata benar. Orang itu adalah Zico dan seseorang yang sangat Zia kenal dan juga tidak suka.
"Abang kenapa sudah makan lebih dulu? Bukankah abang bilang akan menyusul kami jika sudah membeli sesuatu?" tanya Zia yang sudah terlihat marah pada abang nya.
__ADS_1
Sedangkan Ara hanya diam menunduk. Dia tidak berani menatap wajah Zico yang baru saja semalam membuat janji dan sekarang seperti ini dihadapan nya.
Ara tidak bisa berbuat apa-apa jika memang ini adalah keinginan Zico sendiri. Dia mencoba tersenyum dengan semua ini.
"Abang juga baru kesini Zi. Abang tidak sengaja bertemu dengan Joyce dan kami mengobrol, itu saja" jawab Zico menjelaskan supaya tidak salah faham.
"Bukankah kamu bilang abang Zi tidak sebaik itu? Tapi kenapa kamu mengajak nya mengobrol?" tanya Zia pada wanita yang sejak tadi sepertinya sangat senang jika Zico dan Ara bertengkar atau mungkin akan diusir dari kediaman Edison.
"Seperti yang abang Zi katakan tadi. Jika kami memang tidak sengaja bertemu dan kami hanya mengobrol saja. Apa ada yang salah?" tanya Joyce yang memasang wajah polos dan juga lugunya.
"Wharever" jawab Zia yang langsung membawa ara menuju mena lain. Karena meja yang Zico dan Joyce duduki hanya untuk berdua saja.
"Kamu nggak apa-apa kan kak?" tanya Zia yang melihat perubahan pada wajah Ara.
"Aku baik-baik saja" jawab Ara menggunakan bahasa isyarat adan menampilkan senyum seperti biasanya. Padahal hatinya sedang sedih dan juga merasa tidak enak dan menjadi benalu dikehidupan Zico.
Ara melakukan hal yang seperti biasa. Tidak memperlihatkan bahwa dia sedang sedih dan juga merasa kecewa.
Sedangkan Zia sudah benar-benar muak akan semua ini. Dia tidak ingin jika hubungan yang baik ini akan terputus hanya karena orang keriga.
"Kakak benar tidak apa-apa?" tanya Zia untuk kesekian kalinya.
"Tidak, aku baik-baik saja" jawab Ara yang sudah ingin menangis.
"Aku ingin kekamar mandi dulu. Apa kamu mau ikut?" tanya Ara yang sudah berdiri dari duduk nya.
"Hati-hati ya. Aku sedang menikmati makanan ku" jawab Zia yang sebenarnya ingin melakukan sesuatu pada abang nya.
Ara langsung bangkit dan segera pergi menuju toilet didalam restaurant ayam goreng tersebut. Didalam toilet Ara menangis dalam diam. Dadanya terasa sesak dan sulit untuk bernafas. Dia ingin sekali pergi dari Zico dan keluarga nya. Tapi dia harus pergi kemana? Dia tidak punya siapa-siapa dan juga tempat tinggal. Jika dia kembali ke panti asuhan yang dulu pasti akan semakin merepotkan penghuni panti yang lain.
'Ya Tuhan, kenapa nasib ku selalu tidak pernah beruntung? Disaat aku ingin merasakan memiliki keluarga dan juga orang yang tulus menyayangi ku. Kenapa hanya dalam sekejap dia sudah berubah. Apa aku tidak pantas untuk merasakan kebahagiaan? Apa sebegitu rendahnya kah diri ini sehingga tidak ada yang bisa tulus kepada ku? Aku juga tidak ingin terlahir seperti ini....' tangisan yang begitu sangat menyayat didalam hati Ara.
Dia tidak tahu harus berbuat apa? Dia hanya ingin disayangi dan dicintai dengan tulus. Tidak perduli jika itu siapa dan bagaimana. Tapi Ara tidak bisa meminta nya langsung. Dia tidak seberani itu.
Zia langsung sja menarik abang nya untuk menjauh dan ingin berbicara berdua dengan nya.
"Apa yang abang lakukan itu benar-benar salah bang. Disaat abang memutuskan ingin menikahi Ara, tapi abang malah dekat dengan Joyce. Maksud abang apa? Mau mempermainkan hati gadis lugu dan tidak bisa bicara seperti Ara. Begitu? Abang benar-benar keterlaluan! Abang tidak berfikir jika diantara aku atau kak Zoya mengalami hal serupa. Aku benar-benar kecewa pada abang!" ucap Zia yang langsung pergi setelah membayar tagihan makanan nya dan menyusul Ara didalam toilet.
__ADS_1