
Louis semakin mendekat pada istrinya yang sedang dipenuhi dengan amarah nya.
"Tenang honey, jangan marah-marah seperti ini. Nanti tekanan darah tinggi nya kumat" ucap Louis menenangkan istrinya yang sedang marah.
"Aku sudah tenang Dad" jawab Vita sambil tersenyum menatap wajah suaminya.
Sedangkan ketiga tamu tak diundang sudah pergi beberapa detik yang lalu. Sedangkan yang punya mainson sedang bersama-sama menghembuskan nafasnya sedikit kasar.
"Dad, kita harus cepat mengabari Zoya. Kita harus bilang padanya supaya tidak khawatir akan Samuel yang mungkin akan mengancam nya. Aku takut jika Samuel berhasil membuat Zoya tidak berkutik dan mau menerima nya" ucap Vita pada Louis yang sangat tahu dengan perasaan istrinya.
"Kita hubungi sekarang ke nomor ponsel yang waktu itu menghubungi kita honey" jawab Louis langsung menekan nomor ponsel yang waktu itu menghubungi nya.
Tidak berapa lama kemudian panggilan nya diangkat oleh seseorang disebrang sana.
"Halo. Dengan siapa ini?" tanya seseorang disebrang sana.
"Bisa saya bicara dengan Zoya, saya Daddy nya Zoya ingin bicara padanya. Apa dia ada?" jawab Louis dengan sikap biasa saja.
"Oh, maafkan saya Tuan. Saya tidak tahu, tapi Zoya sudah tertidur mungkin. Karena sejak tadi sudah masuk kedalam kamarnya" ucap pria disebrang sana.
"Sudah tidur. Anda siapa putri ku? kenapa anda tahu?" tanya Louis lagi penuh selidik.
"Saya anak pemilik rumah yang sedang Zoya tinggali. Ada apa Tuan, jika ada yang perlu dibicarakan dan sangat penting saya akan membangunkan nya" jawab pria itu dengan sangat ramah pada Louis.
"Tidak perlu, sampaikan saja besok. Jika saya menelpon nya, dan ingin berbicara dengan nya. Itu saja" ucap Louis lalu Kangkung saja memutusakan panggilan telpon nya sepihak.
"Bagaimana Dad, apa kita bisa berbicara dengan nya?" tanya Vita yang sudah sangat antusias.
"Besok lagi honey, kata nya dia sedang istirahat. Mungkin dia lelah karena habis berjalan-jalan, besok kita hubungin kembali" jawab Louis menenangkan istrinya yang sudah sangat ingin berbicara pada putrinya.
Louis dan Vita sedang memikirkan bagaimana caranya supaya bisa menghindari Samuel yang akan membuat kedua putrinya dalam masalah. Jika Zia, dia sudah memiliki bodyguard yang akan selalu mengikutinya kemana pun dia pergi. Dan juga ada Zayd yang berada didekatnya juga.
Mereka sedang memikirkan bagaimana dengan Zoya. Dia sedang berada jauh dari nya. Mungkin saja Samuel dan juga keluarga nya merencanakan sesuatu pada nya.
"Dad, apa kita akan menyusul Zoya kesana?" tanya Vita pada Louis yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh nya yang membuat Vita bergidik ngeri.
"Kita jangan gegabah mengambil tindakan honey, bisa saja mereka memang sengaja memancing kita untuk pergi ketempat dimana Zoya berada. Jadi kita hanya harus menghubungi nya saja dan memberitahunya supaya jangan banyak fikiran" jelas Louis menenangkan istrinya yang jika sudah seperti ini tidak akan pernah bisa tenang.
__ADS_1
"Baiklah Dad. Itu memang lebih baik dari pada kita malah yang akan membuat nya menjadi celaka" ucap Vita yang akhirnya pasrah dengan usulan suaminya.
"Honey, aku menginginkan mu" ucap Louis dengan tatapan mesumnya.
Walau mereka sudah tidak muda lagi tapi jika urusan olahraga ranjang, itu adalah rutinitas wajib bagi mereka berdua jika sedang ada waktu luang. Seperti sekarang ini, mereka berdua sudah berada didalam kamarnya dan entah siapa yang memulai nya lebih dulu. Mereka sudah melakukan yang seharusnya mereka lakukan.
.
Sedangkan keluarga Hernandez sedang dilanda kepanikan. Pasalnya mereka sudah membuat dua orang pemilik perusahaan besar menjadi marah pada mereka. Bisa saja mereka akan membuat perusahaan nya menjadi gulung tikar.
"Apa yang harus kita lakukan Dad?" ucap Nyonya Hernandez pada suaminya.
"Aku juga tidak tahu. Aku kira mereka tidak tahu apa yang dilakukan oleh Samuel selama ini" jawab Hernandez pada istrinya yang sedang panik bukan kepalang.
"Mommy dan Daddy tidak perlu khawatir. Yang harus kita lakukan adalah menemukan Zoya lebih dulu Danu menekan nya supaya mau menikah dengan ku. Jika Zoya sudah dalam genggaman kita mereka tidak akan bisa menolak nya. Bukankah mereka bilang jika anak-anak nya lah yang paling utama" ucap Samuel pada kedua orang tua nya itu supaya lebih tenang.
"Benar juga yang kamu katakan nak. Kita harus segera mencarinya" ucap Hernandez mengiyakan ucapan putranya.
"Tapi kemana kita akan mencarinya. Bukankah kamu bilang ponselnya tidak aktif? Tapi, bukankah kamu pernah menghubungi nya? Kamu sudah lacak dimana dia berada?" tanya Monica, Mommy nya Samuel.
"Aku sudah melakukan nya Mom, tapi tidak ada diGPS. Jadi percuma saja kita melacaknya, tapi aku punya rencana yang sangat bagus. Kita suruh seseorang untuk mengikuti kedua orang tua Zoya. Mungkin saja dengan kejadian waktu itu mereka panik dan akan menyusul dimana Zoya berada. Jadi kita tidak perlu repot-repot untuk mencari-cati nya" jawab Samuel dengan sangat senang memiliki ide brilliant seperti ini.
Mereka benar-benar sangat menginginkan bisa masuk kedalam keluarga konglomerat itu. Apa mungkin semua rencana mereka berhasil? Atau mungkin mereka akan gagal dan hancur? Entahlah Othor juga tidak tahu 😁😁
.
Sedangkan Zoya masih menangis dalam diam. Dia sedang memikirkan bagaimana caranya bisa menghadapi Samuel yang sangat nekad dalam melakukan segala hal. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada Zia.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus pulang sekarang? Dan dengan keadaan yang seperti ini? Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan" gumam Zoya pada dirinya sendiri.
"Apa aku minta pendapat Dharma saja ya? Tapi bagaimana caranya? Aku bingung harus menceritakan nya dari mana" gumam nya lagi dengan kebingungan yang membuatnya pusing.
Zoya akhirnya keluar dari kamar, dan ternyata Dharma sedang menunggunya nya sambil mengerjakan sesuatu menggunakan laptop nya.
"Kamu mempunyai MacBook juga?" tanya Zoya melihat Dharma dengan lihainya menari-nari diatas keyboard.
"Eh, sudah bangun rupanya" ucap Dharma dengan menatap wajah Zoya yang sangat kusut juga terlihat sembab.
__ADS_1
"Ditanya apa jawab nya apa" gerutu Zoya pada Dharma.
"Oh ini. Aku memang bisa melakukan nya dan juga aku sedang menyelesaikan skripsi terakhir aku. Makanya aku menggunakan nya" jawab Dharma dengan memperlihatkan layar laptop nya.
"Oh, jadi kamu kuliah ambil jurusan bisnis?" tanya Zoya pada Dharma sambil menatap wajah Dharma dan juga layar yang ada dilayar laptop milik Dharma.
"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Dharma.
"Tidak, justru aku sangat senang, ternyata kamu memang benar-benar sangat ingin menjadi pebisnis rupanya" jawab Zoya dengan senyuman dibibir nya.
"Akhirnya kamu bisa tersenyum lagi dari kemarin cemberut terus" ucap Dharma menggoda Zoya.
"Masa sih? Perasaan aku biasa saja" jawab Zoya dengan wajah datarnya.
Tiba-tiba Dharma menyodorkan laptop nya yang sudah terpampang dengan jelas wajah Mommy dan Daddy nya dilayar laptop Dharma.
"Mom, Dad. Sejak kapan kalian ada disini dan melihat ini semua?" tanya Zoya pada kedua orang tua nya yang sedang tersenyum kearahnya.
"Sejak tadi kamu berbicara dengan pemuda itu" jawab Mom Vita dengan tersenyum menggoda putrinya.
"Mommy... " ucap Zoya yang sudah merona karena malu.
"Sayang, Mommy cuman mau bilang. Kamu jangan khawatir masalah Samuel, dia sudah Mommy beri pelajaran berharga. Dan jangan pernah memikirkan yang tidak-tidak, kamu hanya harus selalu tersenyum dan bersenang-senang dulu disitu. Sebelum kamu akan disibuk kan kembali oleh berbagai macam berkas-berkas yang harus kamu kerjakan" ucap Mommy Vita sambil tersenyum dan juga memberi peringatan pada putrinya.
"Thank you Mom Dad" ucap Zoya sambil tersenyum kepada kedua orang tua nya.
"Bersenang-senang lah dulu sayang. Nanti setelah bosan berada disana kembalilah, dan bawa juga dia kemari. Dia sudah mengerahkan proposal nya untuk melamar kerja, dan semuanya bagus. Ingat pesan Mommy ini sayang" ucap Mommy Vita sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda putrinya.
"Iya Mom, pasti aku akan kembali. Tapi entah kapan itu, yang pasti disini sangat sejuk dan pemandangan nya juga sangat indah Mom. jadi tidak akan bosan berlama-lama disini" jawab Zoya penuh senyuman.
"Daddy merindukan mu my princess" ucap Dad Louis menyela ucapan kedua wanita kesayangan nya.
"Aku juga merindukan Daddy. Tapi boong" ucap Zoya langsung menutup layar laptop nya dan wajahnya terlihat sangat berseri-seri setelah melakukan panggilan video dengan kedua orang tua nya.
"Seneng banget yang habis video call" ucap Dharma yang baru masuk membawa berbagai macam sayuran.
"Iya, eh. Kamu habis memetik ini semua? Kenapa tidak mengajak ku?" protes Zoya pada Dharma.
__ADS_1
"Iya, nanti saja protesnya. Sekarang kamu bantuin Ibu masak gih" ucap Dharma sambil mengarahkan sayuran pada Zoya.
Dengan senang hati Zoya menerimanya dan menuju dapur untuk memasak makan siang bersama Ibu Sri.