
"Terimakasih Nyonya" ucap Juan yang merasa sungkan pada kedua orang tua Zia.
"Apa pekerjaannya anda saat ini anak muda?" tanya Dad Louis yang menampilkan seorang Ayah yang sedang menanyai seorang pria yang ingin mendekati putrinya.
"Saya hanya bekerja serabutan Tuan" jawab Juan yang menatap wajah Daddy Louis dengan berani.
"Apa yang bisa anda janjikan untuk putri saya?" tanya Dad Louis lagi yang menatap Juan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sedangkan Mom Vita dan Zia saling pandang dan tidak mengerti dengan maksud yang Daddy Louis katakan pada Juan.
"Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa Tuan. Yang bisa saya berikan hanya kasih sayang saja" jawab Juan dengan tugasnya.
"What!! Apa yang sebenarnya sedang kalian berdua bicarakan? Kenapa membahas yang tidak penting seperti itu?" tanya Zia yang merasa jengah dengan bahasan yang kemana-mana.
"Sorry girl. Daddy hanya ingin, jika dia benar-benar serius seharusnya memiliki pekerjaan yang tetap dan juga penghasilan yang tentu bukan malah sebaliknya" ucap Dad Louis yang mencari alasan yang tepat.
"Oh God. Ayolah Dad, aku dan dia itu tidak ada hubungan apa-apa. Kenapa malah membahas masalah itu?" ucap Zia yang tidak habis fikir dengan Daddy nya ini.
"Jika iya juga tidak apa-apa kan Mom?" ucap Dad Louis yang meminta pendapat dari Mom Vita.
"Jika memang saling menyukai kenapa tidak" jawab Mom Vita yang malah ikut-ikutan dengan Dad Louis.
"Mommy, apa?" tanya Quinzy yang melihat Zia menepuk keningnya sendiri.
"Mommy pusing sayang. Kita main diluar saja yuk, jangan disini" jawab Zia yang mengajak Quinzy untuk pergi dari tempat yang sama dengan kedua orang tuanya dan juga Juan.
Setelah kepergian Zia Mom Vita dan Dad Louis menatapnya dengan senyuman penuh arti pada putrinya itu. Mereka berdua beralih menatap Juan yang juga masih menatap kearah Zia tadi.
"Nak Juan, maaf bukan nya saya melarang anda untuk dekat dengan Zia, putri kami. Sebelumnya saya pribadi mau bertanya pada anda tentang maaf, penyakit yang ada derita selama ini apa sudah sembuh? Maaf jika pertanyaan saya menyinggung perasaan anda" ucap Mom Vita yang berhati-hati menanyakan hal yang sangat sensitive.
"Saya memang belum sembuh total. Tapi saya sering kontrol dan juga konsultasi pada ahlinya langsung. Kata dokter yang menangani saya, saya sudah lebih baik dan juga hampir sembuh" jawab Juan dengan sejujurnya pada kedua orang tua Zia.
"Saya mau bertanya lagi tentang Zia. Apa anda memiliki perasaan lebih kepadanya? Jika iya apa yang anda lihat dari Zia?" tanya Mom Vita lagi yang ingin mengetahui jika Juan menyukai Zia atau tidak.
"Saya memang menyukainya Nyonya. Dan mungkin bukan hanya sekedar suka saja, saya sudah mencintainya. Karena selain dia baik dan juga penyayang. Zia menerima Quinzy seperti putrinya sendiri, dan itu sudah lebih dari cukup untuk saya" jawab Juan dengan sangat tegas dan lugas.
"Apa Zia juga memiliki perasaan yang sama dengan anda? Jika iya apa yang akan anda lakukan kedepan nya terhadap putri saya?" tanya Mom Vita yang ingin mengetahui kebenaran nya.
"Satu lagi. Dimana sebenarnya Ibu dari Quinzy sekarang?" tanya Mom Vita lagi.
__ADS_1
"Jika perasaan Zia memang belum ada untuk saya. Tapi saya akan berusaha untuk bisa menumbuhkan itu semua padanya" jawab Juan dengan apa adanya.
"Jika tentang Ibunya Quinzy. Dia sudah lama meninggal, dia hanya memiliki saya seorang. Dan dia berada dibawah asuhan saya saja, tidak ada orang lain selain pengasuh yang saya sewa dan juga para palayan yang berada dirumah saya" jelas Juan yang memang kenyataan nya Ibunya Quinzy sudah meninggal dan dia juga sebatang kara.
"Jadi anda benar-benar seorang duda beranak satu?" tanya Dad Louis yang menanyakan hal konyol pada Juan.
"Tentu saja Tuan" jawab Juan mengiyakan pertanyaan dari dad Louis.
"Jadi anda tidak pernah dekat dengan perempuan lain?" tanya Mom Vita.
"Sama sekali tidak ada" jawab Juan pada kedua orang tua Zia.
"Izinkan saya untuk bisa dekat dengan putri anda berdua. Karena saya sangat ingin berdekatan dan selalu bersama dengan Zia" ucap Juan pada Mom Vita dan juga Dad Louis.
"Jika Zia memang menginginkan nya kami berdua hanya bisa mendukungnya. Jika memang itu membuat Zia senang dan bahagia. Itu saja yang kami ingin kan dari anda" jawab Mom Vita dengan bijaksana akan keputusan yang dia ambil untuk putrinya.
"Jika begitu saya akan melakukan yang terbaik untuk Zia" ucap Juan yang meminta izin langsung pada Mom Vita dan Dad Louis.
"Lakukan saja. Tapi ingat satu hal saja, jangan pernah memaksanya" ucap Dad Louis yang mendahului Mom Vita yang akan bicara.
"Terimakasih Tuan. Saya tidak akan pernah mengecewakan anda berdua" ucap Juan dengan senyuman mengembang dibibirnya karena mendapatkan lampu hijau dari kedua orang tua Zia.
Juan tidak henti-hentinya tersenyum saat mendapatkan izin dari kedua orang tua Zia untuk bisa dekat dengannya. Dan itu membuat Zia yang melihat nya menjadi bingung sendiri. Pasalnya dia baru kali ini melihat Juan yang tersenyum lebar seperti itu.
"Dia kenapa? Apa dia salah minum obat?" gumam Zia yang melihat Juan masih setia tersenyum.
"Aneh" gumamnya lagi sambil berlalu dari tempatnya untuk bermain kembali dengan Quinzy.
Zia menemani Quinzy bermain hingga dia meminta untuk berhenti karena sudah lelah. Zia mengajak masuk kedalam yang ternyata Juan sudah menunggunya untuk berbicara berdua.
"Aku ingin berbicara dengan kamu" ucap Juan saat melihat Quinzy sudah berada didalam pangkuan nya.
"Bicara tentang apa?" tanya Zia yang belagak cuek tapi hatinya ketar ketir.
"Aku ingin membahas masalah kita berdua. Apa kamu mau menerima ku sebagai pendamping kamu saat ini hingga nanti?" tanya Juan yang langsung to the point pada Zia.
"Anda melamar saya? Apa anda serius dengan ucapan anda barusan?" tanya Zia yang merasa jantungnya akan copot mendengar penuturan dari Juan saat ini.
__ADS_1
"Iya, maaf saya tidak bisa memberikan apa-apa. Dan juga tidak bisa menjanjikan apapun untuk anda" jawab Juan dengan penuh keyakinan penuh.
"Jika anda sudah yakin maka apa yang harus saya katakan pada anda?" Zia malah balik bertanya. Dia memang sangat menyebalkan jika sudah seperti ini.
"Jadi? Apa anda menerima saya atau tidak?" tanya Juan yang sudah tidak sabar mendengar jawaban dari Zia.
"Tidak tahu. Karena seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, jika saya belum memiliki perasaan apapun pada anda. Jadi kenapa anda masih bertanya juga?" jawab Zia yang memberikan pertanyaan juga pada Juan.
"Kita jalani saja kedepan nya seperti apa. Jika anda sudah memiliki perasaan pada saya, maka saya akan segera melamar anda secara resmi. Karena bagi saya tidak perlu seperti anak remaja untuk pendekatan atau saling mengenal satu sama lain. Saya sedang mencari pendamping dalam hidup saya dan melengkapi separuh agama tentunya" ucap Juan yang membuat Zia semakin tidak karuan.
Zia ingin sekali jingkrak-jingkrak didalam ruangan ini jika saja tidak ada Juan. Karena dia sekarang sudah ada yang melamarnya, dan itu adalah hot duda lagi. Membuat Zia semakin klepek-klepek dibuatnya.
Tapi Zia masih mempertahankan gengsi dan juga harga dirinya yang terlalu tinggi. Dia tidak memperlihatkan wajah senangnya pada Juan. Dia hanya memasang wajah datarnya saja. Dan itu membuat Juan menjadi lemas tidak bertenaga.
"Jika begitu saya permisi. Karena Quinzy juga sudah tertidur, tolong sampaikan maaf saya yang tidak bisa berpamitan pada orang tua anda" ucap Juan yang langsung beranjak dari duduknya sambil menggendong Quinzy yang sudah terlelap.
Tanpa Juan sadari Zia mengikuti nya dari belakang dan langsung memeluknya dengan erat. Zia mulai meruntuhkan gengsinya dengan mengakui perasaan nya juga pada Juan.
"Aku juga merasakan hal yang sama. Jangan pernah mengecewakan ku" ucap Zia yang memeluk Juan dari belakang.
"Aku akan melakukan nya untukmu" jawab Juan sambil tersenyum.
Dia sangat bahagia. Karena Zia mau mengakui perasaan nya juga, Juan juga semakin mempererat pelukan nya pada Quinzy yang berada dalam dekapan nya.
"Aku akan pulang sekarang. Kasihan Izy, tidurnya pasti tidak nyaman" ucap Juan yang sudah membalikan tubuhnya menatap Zia.
"Pulanglah, nanti aku akan kesana memberikan sesuatu untuk mu" ucap Zia yang tersenyum sangat manis pada Juan.
"Aku tunggu" jawab Juan yang juga tersenyum pada Zia. Lalu Juan mengusap pipi Zia dengan sangat lembut dan tersenyum juga kearahnya.
"Hati-hati" ucap Zia saat Juan sudah memasuki mobilnya dengan Quinzy yang berada dikursi belakang.
Zia melambaikan tangan nya pada mobil Juan yang sudah melaju menjauhi halaman mainson. Dan sekarang sudah keluar dari gerbang dan tidak terlihat lagi.
.
.
Othor mengiba donk.....
__ADS_1
Minta vote dan hadiahnya....
Like dan juga komennya....