Unforgettable Love five.Z

Unforgettable Love five.Z
Kemarahan seorang Zia


__ADS_3

Keduanya saling diam dan juga saling membaca berkas-berkas yang ada dihadapan nya. Lalu Zico memberi saran supaya memperbaiki kembali isi didalam berkas tersebut supaya lebih rinci lagi.


"Ini harus ada beberapa yang harus kamu rubah Zio, karena ini bisa saja membuat kacau dikemudian hari" ucap Zico setelah sekian lama diam.


"Iya bang, aku juga berencana seperti itu. Makanya aku bawa pulang supaya aku bisa membacanya ulang dan merevisi semuanya" jawab Zio dengan mengangguk.


"Itu lebih baik. Jika kamu tidak teliti, maka perusahaan akan mengalami masalah dan mungkin mengalami kerugian akibat keteledoran pemimpin nya" ucap Zico lagi sebelum dia menandai apa saja yang harus Zio ganti dan rubah.


"Thanks bang sudah membantuku" ucap Zio yang tersenyum kepada kakak kembarnya.


"Oke, abang harus kembali kekamar. Thanks juga sudah mau mendengarkan cerita abang" ucap Zico yang langsung bangkit dari duduknya dan keluar kamar Zio.


"Apa dia masih belum sadar juga dengan perasaan nya yang membuat orang kesal" gumam Zio yang langsung membereskan semua berkas dan memasukkan kedalam tas kerjanya.


"Dia itu pintar dalam urusan bisnis dan juga menaklukan klien yang susah sekali pun. Tapi akan menjadi bodoh jika masalah hati dan juga perasaan" gumam nya lagi lalu merebahkan dirinya dan langsung tertidur.


Keesokan harinya seperti biasa dikediaman Edison akan selalu ramai jika sudah pagi hari seperti ini. Seperti sekarang ini, dimana semua penghuninya sedang menikmati sarapan seperti biasanya.


Tapi ada yang aneh dengan Zico pagi ini. Dia terlihat kusut dan juga tidak seperti biasanya.


"Abang Zi sakit?" tanya Mom Vita yang melihat putranya sedang terlihat murung dan juga lesu.


"Tidak Mom" jawaban yang selalu singkat dan padat dari Zico.


"Boy, jika ada masalah lebih baik ceritakan. Jangan dipendam seperti itu, nanti akan menyiksa diri kamu sendiri" nasehat dari Dad Louis yang langsung mengena pada diri Zico.


"Aku baik-baik saja Dad. Tidak ada masalah sama sekali" jawab Zico dengan wajah datarnya.


"Baiklah jika tidak mau bercerita sekarang. Mungkin nanti kamu akan berubah fikiran boy" ucap Dad Louis yang langsung diam tidak bertanya lagi pada Zico.


"Abang tidak mau bercerita pada Mommy nak?" tanya Mom Vita yang merasa ada sesuatu dengan Zico saat ini.


"Iya Mom, aku baik-baik saja dan tidak ada yang harus abang bicarakan pada Mommy" jawab Zico yang menghindari bertatapan langsung dengan Mom Vita.


Jika itu terjadi bisa dengan mudah Mom Vita mengetahui masalahnya sekarang dengan Ara. Apa lagi Ara hingga saat ini ponselnya tidak aktif dan tidak ada kabar sama sekali. Membuat Zico semakin dilema dibuatnya.

__ADS_1


"Abang yakin? Jika yakin tatap Mommy bang" tanya Mom Vita yang sedang menatap Zico dengan sangat tajam.


"Sudahlah honey, jangan memaksanya jika dia tidak mau bercerita. Nanti malah membuat dia tidak nyaman dibuatnya. Tunggu saja sampai suasana hatinya membaik. Mungkin akan bercerita dengan sendirinya" ucap Dad Louis yang menggenggam tangan Mom Vita dengan erat dan juga mengusapnya.


"Baiklah. Mommy akan menunggunya" jawab Mom Vita dengan menghela nafasnya.


Sedangkan yang lain nya hanya memandangi keduanya bergantian. Memandangi Zico dan juga Mom Vita yang malah saling diam satu sama lain.


"Abang Zi masih ada waktukan untuk bisa mengantar ku? Aku sedang malas pergi dengan Zayd" tanya Zia dengan tatapan memohon nya pada Zico dan meledek Zayd.


"Maksud kakak apa malas dengan ku? Awas saja nanti jika menginginkan bantuan ku!" tanya Zayd yang tidak terima dengan ucapan sang kakak dan dia juga mengancam kakak nya.


"Whatever" jawab Zia dengan menjulurkan lidahnya semakin meledek Zayd.


"Mommy, lihat kakak. Dia meledek ku" adu Zayd kepada Mom Vita.


"Dasar pengadu" ucap Zia yang langsung berdiri dari duduknya dan langsung menggandeng tangan abang nya, Zico.


"Apa abang yakin tidak ada masalah?" tanya Zia saat sudah berada diluar dengan Zico.


"Baguslah. Dengan begitu aku tidak perlu repot-repot membarikan konseling untuk abang" ucap Zia dengan melangkah lebih dulu menuju mobilnya Zico.


"Maksud kamu apa Zia? Memangnya abang mu ini sangat membutuhkan konseling dari mu begitu?" tanya Zico dengan tatapan tajam nya pada Zia.


"Iya, karena semuanya terlihat jelas diwajah abang saat ini. Abang sengaja menghindari tatapan dari Mommy karena abang tidak mau jika Mommy tahu abang sedang ada masalah bukan? Karena setahu aku, Mommy adalah pakarnya membaca wajah seseorang. Apa lagi wajah anak-anaknya, itu akan dengan sangat mudah Mommy ketahui" jawab Zia tanpa mengalihkan tatapan nya pada Zico.


"Sok tahu kamu" ucap Zico yang menoyor kening Zia lumayan keras. Hingga Zia protes akan ulah abang nya ini.


"Abang iihh, sakit tahu!" ucap Zia sambil mengerucutkan bibirnya.


"Makanya jangan sok tahu jadi orang" ucap Zico yang langsung mengemudikan mobilnya untuk mengantarkan Zia lebih dulu.


"Aku tidak sok tahu bang. Aku bicara serius. Makanya aku ingin abang yang antar karena aku ingin bicara berdua dengan abang. Aku tahu jika abang sedang ada masalah saat ini, abang tidak bisa berbohong akan hal itu" ucap Zia yang langsung menegakkan duduknya.


"Oke, apa yang kamu ketahui tentang abang?" tanya Zico pada Zia dengan menatap sekilas Zia. Karena dia sedang menyetir saat ini.

__ADS_1


"Yang aku ketahui dari abang adalah perasaan abang yang sedang kacau" jawab Zia yang langsung membuat Zico menginjak pedal rem secara mendadak.


"Kenapa berhenti mendadak sih bang! Untung saja kepala aku nggak ngebentur dashboard" gerutu Zia yang merasa kaget karena Zico menghentikan laju mobilnya.


"Kamu, dari mana kamu tahu?" tanya Zico yang tidak menanggapi gerutuan dari Zia.


"Ya jelas tahu lah bang. Lihat wajah abang sekarang! Sangat terlihat tidak bersemangat dan juga sangat lesu. Apa harus aku jelaskan juga masalahnya apa?" jawab Zia dengan menunjuk wajah abang nya dan juga memberinya pertanyaan.


"Apa yang kamu ketahui?" pertanyaan yang sama dari Zico dilontarkan untuk Zia.


"Abang sedang ada masalah kan dengan Ara?" Zia bukan malah menjawab pertanyaan dari Zico. Dia balik bertanya akan masalah Zico dengan Ara.


"Dari mana kamu tahu?" tanya Zico lagi pada Zia.


"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan abang dengan Ara waktu dicafe. Aku awalnya mau pulang dan tidak ingin mampir lagi kemana-mana. Tapi saat mendengar suara abang bertanya pada Ara, aku merasa penasaran dengan semua itu. Makanya aku duduk tidak jauh dari abang dan Ara" jawab Zia dengan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Lalu apa lagi yang kamu ketahui?" tanya Zico.


"Aku merasa abang sudah sangat keterlaluan. Disaat abang sedang berdua dengan Ara, abang dengan gamblang dan jelasnya membahas tentang wanita lain dan menanyakan itu padanya juga! Apa abang sadar dengan yang abang lakukan sudah sangat menyakiti hati Ara!" ucap Zia yang meninggikan intonasi suaranya pada Zico.


Zia benar-benar sudah sangat geram sejak tadi pada Zico. Dia benar-benar tidak habis fikir dengan jalan fikiran abang nya satu ini.


"Apa yang salah dengan pertanyaan abang padanya Zi? Abang bertanya saja dan tidak ada maksud lain didalamnya. Kenapa bisa membuatnya sakit hati hanya karena masalah sepele seperti itu!" ucap Zico yang tidak kalah kerasnya juga dengan Zia.


Mereka berdua seperti sedang berdebat masalah yang besar dan juga rumit. Diantara keduanya tidak ada yang mau mengalah sedikit pun. Dan terjadilah perdebatan antara kakak beradik itu.


"Abang bilang sepele? Wah bang, wah. Abang benar-benar sangat hebat dalam menghancurkan perasaan orang lain. Abang juga sudah bisa mengklaim jika masalah seperti ini adalah masalah yang sepele. Apa abang tahu? Jika abang tidak lebih dari seorang pecundang yang dengan teganya membuat seorang wanita lugu dan juga polos merasakan sakit hati yang teramat sangat. Anda benar-benar hebat Tuan Muda Zico Pratama Edison!" ucap Zia yang langsung turun dari mobil Zico dengan perasaan yang sangat marah dan juga kesal.


Zia tidak mau jika emosinya semakin meledak jika masih berada didekat Zico. Dia tidak mau jika sampai dia malah melukai abang nya sendiri karena masalah yang membuatnya semakin kesal dan juga emosi.


"Zia, kenapa kamu turun?" ucap Zico yang mengejar Zia.


"Jangan ganggu aku dulu bang. Aku ingin sendiri, abang pergilah lebih dulu. Aku akan naik taxi saja, pergi bang. Aku tidak mau jika aku semakin tidak bisa mengendalikan amarah aku" ucap Zia yang langsung lergi dari hadapan Zico.


"Dia kenapa? Kenapa dia marah-marah tidak jelas" gumam Zico yang menatap punggung Zia yang sudah menjauh darinya.

__ADS_1


Sedangkan Zia malah menangis disepanjang jalan yang dia lewati. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk bisa menyadarkan Zico dari perasaan nya yang tidak menentu itu. Zia ingin jika Zico sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi pada Ara seharusnya dia katakan padanya langsung dan jangan pernah mempermainkan perasaan nya yang begitu tulus pada Zico.


__ADS_2