Unforgettable Love five.Z

Unforgettable Love five.Z
Bersikaplah tidak saling mengenal


__ADS_3

Zia dan Quinzy sedang menikmati es krim nya masing-masing. Dengan Quinzy yang selalu belepotan jika sedang makan, tapi itu terlihat sangat menggemaskan.


Juan yang melihat bibir Zia ada sisa es krim juga mengusapnya, tapi tidak menggunakan tisu. Melainkan menggunakan ibujari nya sendiri, dan itu terlihat sangat romantis sekali.


Zia yang mendapatkan perlakuan seperti itu diam membeku dan badan nya menegang. Zia memang baru mendapatkan perlakuan manis seperti ini dari seorang pria.


Zia juga merasakan debaran jantung nya tidak karuan saat mendapatkan perlakuan dari Juan. Bukan hanya dirinya saja yang merasakan perasaan tidak karuan. Juan juga merasakan hal yang sama, untuk sesaat mereka berdua saling pandang dan juga saling diam hingga mereka berdua disadarkan oleh suara anak-anak kecil yang berada diantara keduanya.


"Mommy dan Daddy ucu" ucap Quinzy dengan bertepuk tangan heboh melihat kedua orang dewasa yang saling diam dan saling memandang.


Zia langsung memutusakan pandangan nya dari Juan dengan perasaan yang tidak menentu. Dia mencoba untuk fokus kembali pada es krim yang sedang dia makan.


"Izy, kita pulang sekarang. Ini sudah sore, dan Izy belum mandi" ucap Juan yang mencoba menetralkan debaran jantung nya yang berdetak sangat kencang.


"No, Ici itut Mommy" jawab Quinzy yang tidak mau diajak pulang oleh Juan.


"Mommy harus pulang. Izy harus patuh pada Daddy" ucap Juan dengan tegas membuat Quinzy ingin menangis karena mendapatkan suara tegas dari sang Daddy.


"Kau melukai perasaan nya. Apa kau tidak tahu, jika perasaan nya itu sangat lembut dan juga sangat rapuh. Apa kau tidak tahu itu!" Zia yang tidak terima langsung bangkit dan menenangkan Quinzy supaya tidak bersedih.


"Mommy ada disini. Jangan bersedih, jika Daddy bersikap seperti itu lagi. Bilang pada Mommy, Mommy akan memarahinya lagi" ucap Zia yang sudah tersenyum pada Quinzy.


Quinzy juga ikut tersenyum mendengarkan penjelasan dari Zia. Dia sangat senang bisa bertemu dengan Mommy nya yang ternyata selain sangat cantik Mommy nya juga baik dan menyayangi nya.


"Anda tidak berhak untuk ikut campur dalam hal mendidik anak. Karena anda bukan siapa-siapa untuknya. Jadi jaga batasan anda" ucapan Juan sangat menyakiti perasaan nya sebagai seorang perempuan.


"Baiklah. Didiklah dia dengan caramu sendiri, dan ingat satu hal. Jangan biarkan putri anda memanggil saya dengan sebutan itu lagi! Itu sangat membuat ku tidak nyaman" ucap Zia yang langsung pergi begitu saja dari hadapan mereka berdua.


"Mommy, Mommy janan pelgi. Mommy" Quinzy berteriak memanggil Zia yang sudah pergi menjauh darinya.


Zia juga merasakan sesak dan sakit didadanya. Perasaan nya begitu terluka dengan semua yang diucapkan oleh Juan. Apa lagi Quinzy terdengar menangis histeris karena Zia tinggalkan begitu saja tanpa pamit padanya.


Juan mencoba menenangkan Quinzy yang sedang menangis sesegukan dan juga sangat histeris. Tapi tetap saja usaha Juan gagal untuk menenangkan nya. Juan langsung menggendong Quinzy untuk menjauh dari cafe dan pergi melewati Zia yang berdiri ingin masuk kedalam mobilnya.


"Mommy.... Hiks.... Hiks... Hiks...." Quinzy masih menangis dan meronta didalam gendongan Juan.


Zia yang merasa tersentuh langsung mengejar langkah kaki Juan dan mengambil Quinzy kedalam pelukan nya.

__ADS_1


"Tenanglah princess. Mommy tidak akan kemana-mana, Mommy hanya akan pergi sebenar. Ingat apa yang diucapkan oleh Mommy sekarang. Izy, harus jadi anak yang baik. Jangan membuat Daddy marah atau Daddy kecewa ya, Izy harus menurut dengan apa yang diucapkan oleh Daddy. Jangan membantah ucapan nya, karena Mommy tidak suka dan tidak mau princess nya Mommy seperti itu. Ingat apa yang Mommy katakan?" tanya Zia dengan pandangan yang sudah berkaca-kaca juga.


Mungkin dengan mengedipkan kelopak matanya akan ada lelehan bening dari mata indahnya. Quinzy menganggukan kepalanya dan langsung memeluk leher Zia dengan erat nya.


"Sekarang Izy harus ikut Daddy pulang. Nanti setelah mandi dan sudah cantik Mommy akan menemui Izy lagi. Janji akan menurut dengan Daddy?" ucap Zia yang mengulurkan jari kelingkingnya.


Dengan semangat Quinzy menerima uluran tersebut dan dia juga melakukan hal yang sama dengan Zia. Quinzy mengaitkan jari kelingkingnya yang mungil dengan hari kelingking Zia.


"Anda sudah bisa membawanya. Ingat satu hal, jika bertemu dijalan dan tidak sengaja bersikaplah tidak saling mengenal. Karena saya tidak mau jika kejadian seperti ini terulang kembali!" ucap Zia yang tidak memandang Juan sedikit pun juga.


Zia melepaskan pelukan nya dari Quinzy. Dan dia pergi dari hadapan keduanya dengan mata yang sudah membasah.


"Kenapa rasanya begitu sesak mendengar ucapan darinya?" gumam Zia yang sudah masuk kedalam mobil.


"Apa dia akan baik-baik saja dengan keadaan seperti itu? Dia masih sangat kecil jika harus tahu apa yang sebenarnya terjadi" gumam nya lagi dengan deraian air mata yang membasahi pipinya.


"Anda tidak apa-apa Nona?" tanya Jack yang melihat Nona nya sedang menangis.


"Hmm" jawab Zia dengan deheman saja.


Zia masih menangis dalam diam karena dia masih mengingat Quinzy yang sedang menangis tadi. Itu rasanya sangat berat berpisah dari gadis kecil yang imut dan juga sangat menggemaskan seperti Quinzy.


.


Sekarang seperti ada yang kurang didalam rumah besar itu. Sekarang terlihat sepi, walau Quinzy ada didalam nya tetap saja seperti tidak ada Quinzy.


"Baby, kenapa diam saja? Apa tidak suka dengan makanan nya? Ini semua adalah kesukaan Izy semua" tanya Juan yang sedang menatap Quinzy hanya diam saja tidak mau memakan makanan nya.


Quinzy hanya menggelengkan kepalanya, dia sudah tidak bersemangat dan berselera makan lagi saat dia tidak bisa bertemu dengan Zia lagi.


"Makanlah, jangan seperti ini. Apa yang Izy inginkan? Daddy akan mengabulkan nya" tanya Juan yang sudah menyerah dengan ini semua.


"Mommy" jawab Quinzy dengan suara sangat pelan dan itu mungkin tidak terdengar oleh telinga Juan.


Tapi Juan mengerti dengan gerakan bibir Quinzy. Juan langsung tersulut emosinya kembali. Dia langsung menggebrak meja dengan sangat keras. Hingga menimbulkan suara gaduh diruangan makan tersebut.


BRAK..

__ADS_1


"Sudah Daddy katakan dia bukan Mommy kamu! Dia adalah orang lain yang bukan siapa-siapa. Apa kamu mengerti!" ucap Juan dengan berteriak dihadapan Quinzy.


Quinzy yang ketakutan hanya menangis, dia tidak tahu kenapa Daddy nya sekarang sering marah kepadanya. Quinzy sudah menangis sesegukan, sedangkan Juan pergi dari ruangan makan tersebut sebelum emosinya benar-benar memuncak pada Quinzy.


"Mommy... Hiks... Hiks... Hiks... Daddy jaat, hiks... " ucap Quinzy yang menangis dan ditenangkan oleh pengasuhnya yang sedang berada didekatnya.


"Nona kecil jangan menangis, Nona harus sabar ya. Nanti jika sudah waktunya pasti akan bertemu dengan Mommy lagi" ucap pengasuhnya memberi pengertian pada Quinzy yang entah mengerti atau tidak dengan ucapan nya.


Quinzy langsung pergi kekamarnya dengan berlari menggunakan kakinya kecilnya yang sangat lucu. Dia masih menangis dan juga tidak mau makan sama sekali. Bahkan minum susu saja tidak mau, membuat pengasuhnya kebingungan.


Mau bilang pada Tuan nya pasti akan marah kembali padanya. Dan ini sudah dua hati berlalu, tapi Tuan nya tidak mau keluar dari kamarnya. Dan membiarkan Quinzy hanya bersama dengan pengasuhnya saja.


"Waduh, badan Nona panas. Pasti karena tidak mau makan dan minum susunya. Bagaimana ini?" gumam pengasuh Quinzy dengan bingung.


Dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Juan. Karena in no keadaan nya sudah urgent.


TOK..


TOK...


TOK...


"Tuan, Nona Izy demam Tuan. Dan juga tidak mau minum susu atau makan" ucap pengasuh Quinzy dibalik pintu kamar Tuan nya.


Tak ada jawaban dari dalam. Membuat pengasuh tersebut menjadi serba salah. Dia langsung pergi lagi menuju kamar Quinzy. Betapa kagetnya dia melihat Quinzy yang sudah sangat pucat dan juga tidak sadarkan diri.


"Aku harus membawanya kerumah sakit. Terserah Tuan mau menemaninya atau tidak, dari pada terjadi sesuatu pada Nona Izy" gumam pengasuhnya tersebut yang langsung menggendong Quinzy keluar dari kamar setelah menyiapkan pakaian untuk Quinzy, jika nanti harus dirawat.


.


Sedangkan Zia sudah beberapa hari ini perasaan nya juga merasa tidak enak entah apa yang sedang dia rasakan sekarang.


"Kenapa kak? Kusut banget tuh muka" tanya Zayd dengan meledek kakak nya yang terlihat tidak bersemangat.


"Kamu jangan ngeledek kakak" ucap Zia yang langsung menoyor kepala Zayd.


"Weissss, santai kak. Kenapa serem banget sekarang sih?" ucap Zayd dengan mengangkat kedua tangan nya.

__ADS_1


Zia hanya menghembuskan nafasnya sedikit kasar. Dia sendiri juga tidak tahu dengan dirinya saat ini. Apa lagi Juan juga tidak datang untuk jadwal konsultasi yang sudah ditentukan. Zia merasa bingung dengan semua ini. Apa mungkin Juan benar-benar sudah tidak mau lagi bertemu dengan nya walau hanya sebatas konsultasi saja. Entahlah apa yang sedang terjadi.


__ADS_2