
Setelah pergi dari rumah Joyce, Zico langsung pulang dan dia merasa masih ada yang mengganjal dihati nya. Entah itu apa, yang pasti itu sangat membuatnya tidak karuan.
Dia sudah berada didalam kamarnya. Dan langsung mengecek ponselnya untuk melihat pesan dari Ara nya. Tapi ternyata tidak ada pesan Apa-apa dari nya dan ponselnya juga terakhir dilihat kemarin.
Ada yang aneh dengan Ara nya saat ini. Dia tidak tahu apa yang sedang Ara sembunyikan darinya. Zico mencoba menghubungi nya tapi tidak aktif sama sekali.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa malah tidak bisa dihubungi?" gumam Zico yang menatapi ponselnya.
Dia bngun kembali dan ingin menemui Zia. Tapi ternyata Zia sudah terlelap dalam tidurnya. Zico malah menghampiri kamar sang kakak yang ternyata masih menyala.
Benar saja, Zoya belum tertidur. Dia masih mengerjakan sesuatu didalam laptopnya dan sedang sangat serius menekuri nya.
"Kak, boleh aku masuk?" tanya Zico pada Zoya setelah membuka pintu kamar sang kakak.
"Masuk saja Zi. Tumben banget, ada apa?" jawab Zoya, dia bertanya juga pada Zico.
"Tidak ada apa-apa, hanya ingin berbicara saja berdua dengan kakak. Apa aku mengganggu kakak?" tanya Zico pada Zoya yang sedang membereskan pekerjaan nya.
"Mau bicara tentang apa?" tanya Zoya Langsung to the poin.
"Tentang Ara" jawab Zico dengan lesu.
"Oh. Bicaralah" ucap Zoya yang seperti tidak semangat mendengar Zico menyebutkan nama Ara.
"Apa kakak tidak suka dengan apa yang akan aku tanyakan pada kakak? Kakak terlihat tidak bersemangat akan hal itu?" tanya Zico balik pada Zoya yang terkesan dingin dan cuek dengan Ara.
"Begini Zi, kakak bukan tidak suka atau apapun pada Ara. Kakak hanya tidak ingin kamu salah pilih nanti nya Zi. Apa kamu tidak sadar jika kamu ini tidak benar-benar mencintainya? Seharusnya kamu mengerti tentang perasaan kamu sendiri. Kamu jangan pernah mempermainkan perasaan seorang wanita Zi. Karena perasaan seorang wanita sangat peka dan juga tidak bisa dibohongi" ucap Zoya dengan panjang lebar pada Zico menjelaskan apa yang dia maksud padanya.
"Maksud kakak apa? Aku sama sekali tidak pernah mempermainkan Ara sedikit pun kak. Bahkan aku sangat menjaga perasaan nya dengan baik. Apa yang membuat kakak bisa berfikiran seperti itu?" tanya Zico yang tidak mengerti dengan penjelasan darinya.
__ADS_1
"Begini Zi. Kakak bisa melihat dari mata kamu yang tidak berbinar saat membahas Ara. Bahkan kamu terkesan biasa saja, coba kamu fikirkan lagi dan juga renungkan semuanya dengan baik. Jangan sampai kamu salah menentukan pilihan hati kamu yang nantinya akan berujung saling menyakiti satu sama lain" ucap Zoya yang memang menyadari perasaan Zico yang sedikit demi sedikit memudar pada Ara.
"Aku tidak mengerti dengan yang kakak maksudkan. Aku sangat mencintainya kak, dan itu dari dulu hingga sekarang. Kenapa kakak malah berbicara seolah-olah aku memang sudah berubah dan tidak memiliki perasaan apapun padanya. Ternyata aku salah jika berbicara dengan kakak" ucap Zico dengan sedikit meninggikan intonasi suaranya pada Zoya.
"Tunggu Zi. Kakak tidak bermaksud untuk menyinggung kamu tentang perasaan kamu. Kakak hanya ingin kamu menyelami perasaan kamu sendiri itu saja. Dan semuanya itu adalah hak kamu, kakak dan yang lain nya hanya bisa berdo'a dan melihat kamu bahagia dengan pilihan hati kamu. Ingat baik-baik, hati kamu" ucap Zoya saat Zico akan keluar dari kamarnya.
Tanpa mengucapkan apa-apa lagi Zico bemar-benar keluar dari kamar Zoya dengan hati dan fikiran yang marah dan juga tidak terima. Apa maksudnya dengan menyelami perasaan nya sendiri dan juga hatinya. Sungguh ini membuat Zico semakin pusing dibuatnya.
Dia tidak tahu jika kakinya malah melangkah menuju kamar Zio yang masih terbuka lebar, menampilkan Zio yang sedang melakukan sesuatu dengan semua berkas yang sedang dia bolak balik.
"Zi, boleh abang masuk?" Tanya Zico saat sudah diambang pintu.
Zio mendongak dan langsung menjawab " Masuklah bang, tumben banget. Ada apa nih? Nggak biasanya datang kemari?" tanya Zio yang tidak mengalihkan pandangan nya dari tumpukan berkas didepan nya.
"Iya, abang ingin berbicara dengan kamu. Siapa tahu bisa meringankan beban yang ada difikiran abang saat ini" jawab Zico langsung duduk disamping adik kembarnya sambil mengambil salah satu berkas yang ada diaras meja dan membacanya.
"Katakanlah bang. Mungkin saja memang aku bisa bantu masalah abang" ucap Zio yang juga masih membaca berkas yang ada ditangan nya saat ini.
Sedangkan Zio langsung menaruh berkas yang sedang dia pegang diatas meja dan langsung menatap Zico dengan intens.
"Apa abang merasakan itu semua?" Zio malah balik bertanya.
"Iya Zi. Tadi saat kami bertemu dimall dia seperti biasa dan tidak ada yang aneh. Tapi setelah dia bercerita tentang sesuatu dia malah menjadi terlihat diam dan tidak bisa dimengerti" ucap Zico yang tidak menjelaskan jika dia pernah bertanya soal Joyce pada Ara.
"Jika Ara diam itu tidak aneh bang, dia kan memang tidak bisa bicara. Jadi jelas dia hanya diam kan" jawab Zio dengan jawaban anehnya untuk Zico.
"Jika itu abang juga tahu Zio. Maksud abang, dia diam seperti sedang banyak fikiran dan juga terkesan dingin dan cuek juga tidak pernah tersenyum seperti biasanya pada abang. Dan itu tidak seperti biasanya jika dia bertemu dengan abang" jelas Zico panjang lebar pada Zio.
"Jika itu aku tidak tahu. Karena menurut ku, perasaan wanita itu sangat sulit ditebak dan juga sulit untuk dimengerti. Makanya aku lebih baik diam dan mengikuti keinginan wanita" jawab Zio dengan menghembuskan nafasnya sedikit kasar.
__ADS_1
"Maksud kamu apa dengan diam dan mengikuti keinginan wanita?" tanya Zico dengan menatap Zio dengan tatapan penuh tanya.
"Begini bang, wanita itu mood nya suka berubah-ubah dan layaknya roller coasters yang naik turun. Jika mood nya sedang baik maka dia akan bersikap biasa dan mungkin terkesan ceria dan sebagainya. Tapi jika mood nya sedang buruk, sudah untung kita sebagai kaum pria tidak kena semprot omelan dan juga kemarahan nya" jelas Zio yang sudah mengalaminya sendiri dengan Alexa. Apa lagi Alexa adalah gadis yang sangat bar-bar.
"Apa mungkin seperti itu? Abang baru mengalaminya sekarang Zi. Dia memang tidak seperti biasanya dalam bersikap. Dan dia juga tidak pernah mengalami apa yang kamu sebutkan tadi pada abang" ucap Zico yang memang tidak pernah melihat Ara seperti itu. Jangankan untuk marah, dia tidak pernah marah padanya sedikit pun. Makanya membuat Zico heran.
"Jika tidak seperti itu maka dia sedang dalam fase yang lebih sulit lagi bang" ucap Zio sok tahu.
"Maksud kamu?" tanya Zico yang tidak mengerti.
"Mungkin dia sedang ada masalah dan mungkin juga dia memang kelelahan dan mungkin dia sedang cemburu. Wanita jika sedang cemburu mengerikan juga loh bang" jelas Zio yang membuat Zico semakin pusing dengan mendengar penjelasan dari adik kembarnya ini.
"Kamu itu jika memberi penjelasan yang mudah dimengerti Zi. Bukan malah menambah pusing" ucap Zico yang melemparkan berkas kearah Zio yang sedang tersenyum meringis.
"Intinya itu begini bang. Mungkin saja Ara sedang cemburu pada seseorang. Dan itu sangat berbahaya dengan hubungan abang. Abang harus bisa meyakinkan nya supaya jangan cemburu berlebihan yang nanti bisa merusak hubungan abang dengan nya. Apa lagi jika abang juga ikut tersulut emosinya juga, bisa hancur dunia persilatan. Hehehe" jawab Zio dengan nyengir kuda diujung kalimatnya.
"Apa mungkin seperti itu? Tapi apa yang dia cemburukan? Selama ini abang seperti biasa padanya dan melakukan apa yang sering abang lakukan juga padanya. Apa yang salah dengan semua itu?" tanya Zico yang semakin heran dengan semua ini.
"Coba abang ingat-ingat, mungkin saja abang ada menyinggung masalah perempuan lain atau membahas tentangnya juga didepan Ara. Itu bisa saja terjadi kan, tanpa abang sadari" ucap Zio yang langsung membuat Zico ingat dengan berbagai pertanyaan yang dia lontarkan pada Ara tentang Joyce.
"Apa mungkin dia sedang cemburu padanya?" gumam Zico yang tidak bisa didengar oleh Zio.
"Abang mengatakan sesuatu?" tanya Zio pada Zico yang hanya diam dan menggerak-gerakkan bibirnya saja seperti mbah dukun yang sedang baca mantra.
"Tidak, abang tidak mengatakan apapun" jawab Zico yang langsung sadar dari lamunan nya tentang kejadian tadi saat bertemu dengan Ara.
"Jika tidak mengatakan apa-apa, kenapa mulut abang berherak-gerak seperti mbah dukun yang sedang membaca mantra?" tanya Zio dengan memicingkan matanya menatap wajah Zico dari dekat.
"Kau ini. Mana ada seperti itu! Jangan mengada-ada Zio" ucap Zico yang langsung mengambil berkas diatas meja dan mencoba mambacanya.
__ADS_1
"Jelas-jelas seperti itu masih tidak mau mengaku juga" gerutu Zio yang melakukan hal yang sama dengan Zico.
Mereka berdua malah saling membaca berkas yang ada diatas meja. Hingga mereka saling diam dan tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun mereka keluarkan. Itu membuat suasana kamar menjadi hening.