
Zia hanya diam saja. Malam ini Zia hanya diam saja dan entah apa yang sedang dia fikirkan saat ini. Sehingga saudara nya yang lain merasa heran dengan sikap Zia saat ini.
"Zia kenapa Zayd?" tanya Zoya yang sedang menatap adiknya dengan tatapan bingung nya.
"Entah, aku tanya juga diam saja dan tidak mau diganggu" jawab Zayd sambil mengedikkan bahunya.
"Aneh sekali. Tidak biasanya dia seprti ini, apa dia sedang ada masalah dengan pekerjaannya saat ini Zayd?" tanya Zoya lagi yang sedang bingung itu.
"Sejauh ini tidak ada masalah apapun dirumah sakit. Apa lagi jika kakak juga masih melakukan semuanya dengan wajar dan juga seperti biasa kak" jawab Zayd dengan menatap Zoya dengan tatapan yang kebingungan nya juga.
"Huh, apa yang sebenarnya dia sembunyikan dari kita?" tanya Zoya pada dirinya sendiri.
"Ya sudah kak, aku mau menghampiri kakak dulu. Dan membuatnya tidak seperti itu terus" ucap Zayd yang langsung pergi dari hadapan Zoya menuju pada Zia yang duduk menyendiri ditaman belakang.
"Kak, apa kakak tidak mau bercerita padaku kenapa kakak jadi pendiam seperti ini? Aku kangen kakak yang selalu mengganggu ku dan juga selalu membuat semua orang tersenyum dan tertawa. Kami semua merindukan itu semua" ucap Zayd yang menunjuk saudara nya yang lain berada dibelakang nya juga.
"Kakak tidak apa-apa Zayd. Hanya entah kenapa perasaan nya sedang tidak enak saja" jawab Zia yang menatap Zayd dan juga saudara nya yang lain bergantian.
"Lalu jika terjadi apa-apa kenapa kakak murung seperti ini? Coba ceritakan pada kami kak, mungkin saja kami bisa memberikan solusinya" ucap Zayd yang selalu bisa membuat suasana menjadi hidup kembali.
"Iya Zia, kami ingin mendengarnya" ucap Zio yang membenarkan ucapan Zayd.
Mereka berlima saling mendekat dan berkumpul bersama untuk bisa mendengarkan apa yang akan Zia katakan pada mereka semua.
"Zia sedang mengingat anak perempuan yang waktu itu Zia bilang. Sudah dia hari ini aku tidak bertemu dengan nya lagi karena dilarang oleh Daddy nya. Entah apa alasan nya, yang pasti perasaan ku saat ini merasa tidak enak dan selalu tertuju pada nya. Dan ada rasa sesak didada rasanya" jelas Zia pada semua saudaranya.
"Apa kamu sudah bicara dengan nya apa masalahnya kenapa kamu tidak diperbolehkan bertemu dengan anak itu?" tanya Zoya yang menatap pada Zia.
"Aku tidak pernah lagi bertemu dengan nya kak. Dan dia juga sudah melewatkan konsultasi nya, aku sempat berfikiran macam-macam tentang nya. Apa lagi dia mempunyai riwayat yang sangat buruk terhadap masalalu nya" jawab Zia dengan tertunduk lesu.
"Maksud kamu dia adalah pasien kamu sendiri? Apa kamu tidak menyelidiki apa penyebabnya dan kenapa dia bisa berubah kepada kamu?" tanya Zio yang sangat antusias mendengarkan cerita dari Zia.
"Aku tahu semua riwayat nya bang. Aku juga sudah menganjurkan supaya dia tidak telat atau memberhentikan pengobatan dan juga meminum obatnya. Jika tekat mungkin dia akan melakukan kejadia belasan tahun silam" jawab Zia dengan menatap lurus kedepan.
"Kejadia seperti apa yang kamu maksud Zi?" tanya Zico yang mulai penasaran.
"Membunuh seseorang dengan sangat sadis. Dan juga sering melukai dirinya sendiri jika sedang merasa tertekan atau sebagainya" jawab Zia lagi.
"Apa dia mengalami bipolar disorder?" tanya Zoya dengan tatapan yang serius.
__ADS_1
dan semua saudaranya yang lain menatapnya dengan tatapan penuh tanya nya juga penuh rasa penasaran.
"Iya, dia memang memiliki itu. Makanya aku merasa khawatir dengan kondisi nya dan juga putrinya yang masih sangat kecil itu. Aku mencoba menghubungi nya tapi tidak bisa. Dan meminta alamat yang tertera ternyata itu adalah alamatnya yang lama, dan alamat yang sekarang tidak tahu" jawab Zia yang selalu menghembuskan nafasnya sedikit kasar.
"Itu bukan nya sangat berbahaya ya kak? Kenapa kakak tidak mencoba meminta bantuan abang Z untuk mencari tahu keberadaan nya saat ini?" tanya Zayd memberinya saran.
"Sudah kakak lakukan Zayd. Tapi dia selalu berpindah-pindah tempat, dan itu salalu menggunakan nama yang berbeda-beda juga. Kakak sendiri bingung dengan keadaan seperti ini" jawab Zia lagi dengan lesu.
Tiba-tiba ponsel Zayd berdering. Dan itu adalah panggilan dari rumah sakit. Zayn langsung mengangkatnya dan ingin langsung pergi jika Zia tidak bertanya padanya.
"Apa yang terjadi?" tanya Zia yang melihat Zayd panik.
"Ada pasien kritis kak. Dia anak kecil, aku harus segera kesana sekarang" jawab Zayd dengan tergesa-gesa.
"Kakak ikut" ucap Zia yang langsung mbuntuti Zayd dari belakang.
"Mereka berdua sudah kompak kembali jika masalah pasien mereka" ucap Zio yang melihat keduanya berjalan dengan terburu-buru.
"Kamu benar Zi" ucap Zoya mengiyakan ucapan Zio.
Sedangkan Zia dan Zayd sudah berada dirumah sakit untuk melihat kondisi pasien Zayd saat ini. Dan betapa terkejutnya Zia melihat anak kecil yang sedang berbaring lemah adalah anak yang dia rindukan selama dua hari ini.
"Kakak mengenal anak kecil ini?" tanya Zayd sambil memeriksa keadaan anak kecil ini.
"Dia yang tadi kakak ceritakan Zayd. Ternyata perasaan kakak benar jika dia sedang tidak baik-baik saja" jawab Zia yang langsung menangis menatap tubuh lemah anak berusia dua tahun ini.
Anggap saja seperti ini kondisinya Quinzy..
"Jadi gadis kecil ini yang kakak ceritakan tadi?" tanya Zayd yang memastikan kebenaran nya pada Zia.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Zayd pada pengasuhnya yang sedang menunggu Quinzy.
"Sudah beberapa hari ini tidak mau makan dan juga meminum susunya juga. Dan hingga tadi mulai demam lalu tidak sadarkan diri" jelas pengasuhnya Quinzy pada Zayd.
"Diamana Juan kenapa dia tidak menunggui Izy disini?" sekarang Zia yang bertanya.
Karena Zayd sudah memeriksanya dan juga sudah memberikan obat pada Quinzy melalui infusan.
__ADS_1
"Tuan juga sudah dua hari tidak keluar kamar nya Nona. Kami sudah memberitahunya jika Nona Izy sedang berada disini" jawab pengasuh Quinzy pada Zia.
"Saya ingin tahu alamat rumah nya saat ini. Saya ingin bertemu langsung dengan nya" ucap Zia pada pengasuh Quinzy.
"Baik Nona, supir kami akan mengantarkan anda kesana" jawab nya dengan perasaan yang ketakutan pasalnya jika sudah seperti ini Tuan nya akan marah besar padanya.
Zia dan Zayd langsung pergi menuju rumah Juan untuk bertemu dengan nya dan memberitahukan jika Quinzy sedang sakit dan membutuhkan dirinya.
"Jadi ini rumahnya" ucap Zia yang langsung turun dari mobil dan mencari keberadaan Juan saat ini.
"Anda mencari siapa Nona? Kenapa anda masuk tanpa izin? Saya bisa melaporkan anda pada pihak yang berwajib" ucap seorang pelayan paruh baya yang sedang mengikuti langkah Zia yang kesana kemari untuk mencari kamar Juan.
"Saya ingin bertemu dengan Juan saat ini juga. Dimada dia sekarang?" ucap Zia dengan tatapan tajamnya.
"Anda ada urusan apa mencari Tuan? Tolong jangan membuat keributan Nona" ucap pelayan tersebut pada Zia yang masih terus membuka pintu kamar yang ada didalam rumah tersebut.
Zia sudah ada didepan pintu kamar terakhir dan pintunya juga dikunci dari dalam. Zia yakin ini adalah kamar milik Juan. Dengan tegasnya Zia menggedor-gedor kamar tersebut.
"Juan... Saya tahu kamu didalam! Jika kamu tidak mau membuka pintunya saya akan mendobraknya. Kamu dengan itu! Juan" ucap Zia yang sudah berteriak-teriak didepan pintu kamar Juan.
"Kak tenang dulu, jangan berbuat seperti ini. Kakaknya bisa saja membuat orang lain merasa terganggu juga dengan sikap kakak saat ini" ucap Zayd yang mencoba menenangkan kakak nya yang sudah sangat marah.
"Kakak tidak akan diam saja setelah dia menyiksa anaknya sendiri hingga kritis dirumah sakit sekarang! Apa dia tidak sadar dengan yang dia lakukan ini adalah sebuah kesalahan besar dan juga penelantaran anak. Apa dia tidak berfikir kearah sana. Hah!" ucap Zia dengan sangat emosi juga sengaja mengeraskan suaranya suapaya Juan bisa mendengarnya dari dalam.
"Tapi kak, ini adalah rumah orang. Tidak sepantasnya kakak bersikap bar-bar seperti ini" ucap Zayd yang sudah sangat frustasi menghadapi kemarahan kakaknya yang satu ini.
"Kakak tidak perduli" jawab Zia yang semakin menjadi menggedor-gedor pintu kamar Juan.
DUG
DUG
DUG
"Juan keluar kau!" teriak Zia yang mencoba memdobarak pintu kamar Juan yang masih terkunci dari dalam. Dan tidak ada tanda-tanda akan dibuka dari dalam.
"Kenapa kamu diam saja, cepat carikan kunci cadangan nya sekarang juga" ucap Zia pada pelayan yang sejak tadi melihat dan mengikuti Zia sejak tadi.
Pelayan dan juga Zia dibantu oleh beberapa orang mencari kunci cadangan kamar Juan. Mereka semua berhamburan mencari disetiap tempat yang kemungkinan adalah tempat penyimpanan semua kunci cadangan rumah ini.
__ADS_1
Hingga Zia yang menemukan nya lebih dulu dan segera membuka kamar Juan dengan tergesa-gesa. Betapa terkejutnya Zia melihat kondisi kamar yang sangat gelap dan juga berantakan. Saat Zia menyalakan lampu Zia dan semua orang dibuat terkejut bukan kepalang melihat Juan yang sudah tidak sadarkan diri lagi.