Unforgettable Love five.Z

Unforgettable Love five.Z
Membawa Ara mengunjungi Zara


__ADS_3

Zayd diam lumayan lama, dia sedang memikirkan apa yang diucapkan oleh kakak nya ada benarnya juga. Jadi dia akan mempertimbangkan semuanya.


"Iya kak, akan aku jauhi dia. Lagi pula aku juga tidak terlalu suka dengan cara dia yang sok akrab sama aku" jawab Zayd dengan mulut yang digerakan kekanan dan kiri.


"God boy. Kakak bangga pada kamu. Kamu harus bisa membedakan seseorang yang memang tulus pada kita atau hanya memanfaatkan kita saja. Karena didunia ini banyak ragam bahasa dan bidaya. Jadi kita harus pandai-pandai mawas diri" ucap Zia yang masih duduk disamping Zayd.


"Iya kakak benar. Jika kita salah dalam memilih kawan, bisa saja kita terjebak didalamnya. Dan kita salah mengenali seseorang maka kita sendiri yang akan rugi, bukan kak?" tanya Zayd pada Zia.


Mereka berdua saling berbincang dan juga saling tersenyum dan bercanda bersama. Hingga waktu menjelang sore mereka berdua akan segera pulang karena mereka tidak mau jika nanti membuat Mommy Vita marah.


.


Sedangkan setempat yang berbeda Zico sedang membawa Arabella kemakam putri kecil nya yang sudah beristirahat dengan tenang.


"Assalamualaikum my princess nya Daddy. Maaf Daddy barunya bisa mengajak Mommy datang kemari, karena kondisi Mommy baru saja pulih dan diperbolehkan untuk keluar rumah" ucap Zico pada batu nisan yang tertera dengan nama Zara Pratama Edison.


'Sayang, maafkan Ibu yang tidak bisa menjaga kamu didalam kandungan Ibu. Ibu adalah wanita yang gagal, Ibu benar-benar sangat minta maaf pada kamu sayang. Ibu benar-benar ceroboh yang tidak bisa mempertahankan kamu berada didalam kandungan Ibu. Semoga kelak kita akan bertemu lagi ya nak. Ibu akan selalu mendo'akan kamu, karena kamu adalah permata hati Ibu' ucap Arabella didalam hati dan juga menangis sesegukan sambil mengusap-ngusap batu nisan sang putri.


"Kamu jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri lagi. Karena mungkin ini adalah takdir dari yang maha kuasa, kita semua disini hanya bisa menjalankan semua amanah yang memang sudah digariskan untuk kita semua" ucap Zico yang memeluk tubuh yang sudah mulai berisi kembali.


Arabella yang sebelumnya sangat kurus dan juga bertemu dengan keluarga yang sangat baik dan juga penuh perhatian dan juga kasih sayang.


Arabella hanya mengangguk menanggapi ucapan dari Zico. Dia sangat bersyukur bisa memiliki laki-laki yang juga menyayangi nya tanpa melihat kekurangan nya yang tidak dapat bicara.


"Apa kamu mau kesuatu tempat atau kemana saja yang kamu inginkan. Kebetulan hari ini abang mengambil cuti, karena ingin mengajak Ara nya Abang jalan-jalan" ucap Zico dengan penuh senyuman.


Dia menggenggam tangan mungil Ara. Zico benar-benar membawa Ara untuk kesuatu tempat yang sangat indah dan juga bagus. Disini berada, mereka sedang ditepi danau yang tidak jauh dari pemakaman umum tersebut.


"Kita disini dulu ya. Tidak apa-apa kan jika kita hanya berada disini dulu sebelum kita jalan-jalan ketempat yang lebih indah lagi" ucap Zico yang menatapi senyuman tipis dibibir Ara.


"Kamu menyukainya?" tanya Zico yang dijawab anggukan oleh Ara.

__ADS_1


"Kamu menyukai pantai?" tanya Zico lagi yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Ara.


"Apa kamu takut pada air atau pada laut?" tanya Zico menggunakan bahasa isyarat , dan Ara menjawab jika dia sangat takut pada air laut karena dia pernah tenggelam.


"Maafkan aku, aku tidak tahu apa-apa tentang kamu. Mulai sekarang aku akan bertanya pada kamu jika aku ingin mengajak kamu kesuatu tempat. Kamu juga harus menjawab nya" ucap Zico lagi dan Ara mengangguk.


"Jadi kita akan kemana sekarang?" tanya Zico untuk kesekian kalinya.


"Kemana saja, asalkan abang yang mengajak" jawabnya menggunakan bahasa isyarat nya dan selalu tersenyum manis.


"Baiklah, abang tidak akan bicara lagi. Kita kesana sekarang" jawab Zico dengan menggenggam tangan Ara yang kecil.


'Ya Tuhan izinkan aku untuk merasakan bagaimana rasanya bahagia seperti ini, bersama dengan laki-laki yang sangat baik dan juga menerima diriku ini apa adanya. Tidak pernah memandang kekurangan ku sebagai tolak ukur kesempurnaan seorang wanita. Izinkan aku bisa membahagiakan nya juga walau hanya bersama ku, karena aku menginginkan dia hanya menjadi milik ku' ucap Ara didalam hati.


Dia terus tersenyum memandangi tangan yang tidak pernah lepas dari genggaman tangan seseorang Zico Pratama Edison. Seorang pria yang mengangkatnya dari penderitaan dan juga hinaan dari orang yang sangat membencinya.


"Kenapa?" tanya Zico saat melihat Ara selalu menatap pada tangan nya yang menggenggam tangan Ara.


Ara begitu kaget saat turun dari mobil dan melihat apa yang ada didepan nya. Ternyata Zico membawanya menuju kesebuah panti asuhan yang pernah membesarkan dan merawat Ara waktu masih kecil hingga ada orang yang membawanya pergi hingga tidak ingat untuk kembali kepanti asuhan ini.


"Abang membawa Ara kemari?" tanya Ara dengan mendongak menatap wajah Zico.


"Kenapa? Apa kamu tidak menyukai tempat ini?" Zico bertanya seolah-olah dia tidak tahu akan Ara pernah tinggal disini.


"Emm, Ara pernah tinggal disini dan pernah bahagia juga saat berada disini. Tapi, semuanya berubah saat Ara bersama dengan keluarga yang memisahkan Ara dengan saudara Ara dipanti ini" jawab Ara sendu.


Zico baru tahu jika kisah hidup Ara semenyakitkan itu? Walau begitu dia tidak ingin menyerah untuk membuat wanitanya bahagia. Zico tahu, walau Ara selalu menampilkan senyuman dibibirnya. Tapi itu masih menyimpan luka yang begitu besar dan dalam.


"Ayo kita masuk. Abang tidak tahu jika ini adalah tempat Ara sebelum bersama dengan keluarga yang membuat kamu seperti sekarang ini. Memiliki trauma yang begitu dalam dan juga luka yang mungkin akan sangat sulit untuk dilupakan. Tapi abang akan selalu disamping kamu, jika abang sedang lupa atau membuat kesalahan. Tolong ingatkan abang pada masa-masa ini, masa dimana abang begitu sulit untuk menyembuhkan luka kamu yang begitu besar" ucap Zico yang panjang lebar dengan senyuman mengembang dibibir nya.


Ara mengangguk dan tersenyum menanggapi ucapan Zico, dia akan selalu mengingat ucapan-ucapan Zico yang mengatakan akan selalu ada bersama nya dan begitu juga sebaliknya.

__ADS_1


"Ayo, kita kedalam. Ini adalah panti naungan langsung dari Zia dan Zayd. Mereka berdua memang sangat menyukai hal-hal seperti ini" ucap Zico yang tahu akan pandangan Ara yang ingin tahu dari mana dia tahu tempat terpencil ini.


Dan jawaban Zico membuatnya semakin mengagumi keluarga kaya itu. Mereka begitu baik dan juga dermawan, bahkan tidak terlihat oleh orang lain saat membantu atau menolong orang lain.


"Assalamualaikum" ucap Zico saat mengetuk pintu rumah yang terlihat sangat asri ini.


"Wa'alaikum musallam" jawab seseorang yang berada didalam rumah dan membukakan pintu untuk tamu nya.


"Eh, den Zayd. Silahkan den, silahkan masuk. Maaf ibu tidak tahu jika aden akan datang kemari" ucap Ibu yang mengurus panti mengira gadis adalah Zayd.


"Terimakasih Bu, tapi saya bukan Zayd. Saya Zico, apa Ibu lupa lagi?" tanya Zico yang mencoba mengingatkan dirinya pada seorang wanita paruh baya.


"Oh Ya Allah. Maaf den, maaf. Ibu tidak bisa membedakan antara kalian makanya Ibu menyangka jika den Zico adalah den Zayd. Sekali lagi maafkan Ibu ya den?" ucap si Ibu dengan pandangan yang sangat menyesal telah salah mengenali orang.


"Tidak apa-apa bu, lagi pula saya memang jarang berkunjung kemari. Makanya ibuIbu bisa lupa pada saya" jawab Zico dengan senyuman tipis nya.


Mereka berdua berbincang-bincang dengan hangat, sedangkan Ara menatap mereka dengan tatapan yang berkata-kata. Dia adalah wanita yang selalu mengajarinya hingga dia bisa berinteraksi dengan teman sebaya nya.


Wanita ini juga yang selalu menemani disaat dia ketakutan jika setelah bermimpi buruk. Wanita ini juga yang menyayangi nya tanpa melihat kekurangan yang dimiliki oleh anak berusia 6tahun.


"Ibu masih ingat dengan gadis yang ada disamping saya?" tanya Zico pada Ibu pengurus panti.


"Maaf den, maksud Aden ini gadis cantik yang sedang menunduk?" tanya Ibu itu pada Zico.


"Iya" jawab Zico dengan singkat.


"Nak, apa Ibu mengenal kamu? Ibu memang merasa seperti sedang dekat dengan anak Ibu sendiri" tanya ibu pengurus panti.


"Saya Ara bu, yang pernah tinggal disini belasan tahun silam" jawab Ara menggunakan bahasa isyarat.


Betapa terkejutnya Ibu pengurus panti. Melihat anak yang dulu begitu dekat dengan nya dan sangat manja bila bersama nya. Semenjak kejadian itu, dimana Ara diculik oleh orang yang tidak dikenal membuat Ibu panti tidak mengijinkan anak-anak untuk keluar dari pagar didepan.

__ADS_1


__ADS_2