
"Untuk apa kamu menjelaskan semuanya sama aku jika kamu sendiri tidak tahu jika kamu merasa bingung bukan?" tanya Zoya yang sudah tidak mau membahas masalah yang hanya tentang orang ketiga dan hanya itu-itu saja.
"Tapi sungguh, aku tidak pernah memiliki perasaan apapun padanya dan juga aku tidak tahu jika dia memiliki perasaan padaku" jawab Dharma yang memang seperti itu kenyataan nya.
"Sudahlah jangan membahas itu lagi. Aku sedang tidak ingin memikirkan itu untuk saat ini" ucap Zoya yang mencoba bisa tenang dan tidak marah dengan semua ini.
"Sayang dengarkan aku dulu. Ini harus segera diluruskan supaya tidak ada kesalahfahaman lagi diantara kita" ucap Dharma yang menggenggam tangan Zoya yang ada dipangkuan nya sendiri.
"Kesalahfahaman seprti apa yang kamu maksudkan? Apa karena aku cemburu buta? Atau aku ini terlalu posesif kepada kamu? Sekarang aku tanya sama kamu, apa kamu pernah memikirkan perasaan ku yang saat itu sedang sakit hati dan kamu dengan santainya dan seenak sendiri meninggalkan aku hanya untuk jalan berdua dengan sahabat masa lalu kamu itu?" tanya Zoya yang membuat Dharma bungkam tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Oke, mungkin saat itu aku terbawa emosi dan juga terlalu cemburu akan hal itu. Aku mencoba untuk tidak melakukan hal seperti itu, yang membuat kamu merasa terkekang dengan cinta dan juga kasih sayang yang aku berikan. Tapi apa yang aku dapatkan dari itu semua. Kebahagiaan kalian berdua yang sedang jalan berdua dengan sangat mesranya dan juga sangat dekat. Apa aku salah jika aku berfikiran jika akulah yang ada diantara kalian berdua" ucap Zoya yang mengeluarkan semua unek-unek yang sejak kemarin dia tahan dan dia pendam sendiri.
"Itu sama sekali tidak seperti yang kamu fikirkan, aku suka sekali tidak ada hubungan apa-apa dengan dia dan itu adalah murni berteman. Itu saja tidak ada yang lebih dari itu" jelas Dharma lagi pada Zoya yang masih sangat kecewa kepadanya.
"Aku tidak tahu harus percaya atau tidak. Yang jelas hubungan seperti ini sudah tidak sehat jika sudah ada pihak ketiga. Aku ingin menenangkan diri dulu, dan mungkin untuk sementara hubungan kita break dulu. Aku tidak mau semakin tidak karuan dengan diri dan perasaan ku sendiri. Maaf jangan memaksa ku untuk bertahan jika hanya sendiri" ucap Zoya yang langsung beranjak dari duduknya dan pergi dari ruangan nya dengan perasaan yang tidak menentu.
"Maksud kamu apa? Kenapa harus break?" tanya Dharma yang tidak ingin jika hubungan nya dengan Zoya yang sudah terjalin lama harus kandas begitu saja tanpa alasan yang jelas.
"Aku tidak bisa Dharma. Maafkan aku" ucap Zoya saat tangan nya ditahan oleh Dharma.
"Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Kenapa kamu egois memutusakan dengan sepihak seperti ini? Aku sudah menjelaskan semuanya sama kamu. Kenapa kamu tidak mendengarnya dan malah seperti ini padaku Zoya?" ucap Dharma yang sudah benar-benar prustasi menghadapi Zoya yang sangat keras kepala jika sudah memutusakan menggunakan logika dibandingkan dengan perasaan nya sendiri.
Zoya tidak mengindahkan ucapan Dharma, dia langsung menghempaskan tangan Dharma dan pergi. Sedangkan Dharma sudah sangat bingung harus seperti apa meyakinkan Zoya supaya bisa percaya dan juga seperti sebelumnya.
"Dia masih sama seperti dulu. Dia akan selalu memutusakan semuanya sendiri tanpa bisa menerima penjelasan seperti apapun itu" gumam Dharma yang juga pergi dari ruangan kerja Zoya.
Untung saja saat keduanya sedang terlibat cekcok semua kariawan sudah tidak ada. Jika ada mungkin akan ada gosip akan mencuat begitu cepatnya seperti api yang disiram bensin.
Zoya pergi keluar perasaan yang tidak menentu, bahkan dia melupakan sesuatu yang sangat penting dia tinggalkan begitu saja didalam ruangan nya.
"Apa keputusan ku sudah benar dengan memutusakan nya dulu?" gumamnya didalam mobil.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Biarlah dia membenciku saat ini dan juga nanti. Aku tidak mungkin menahan ini semua lebih lama lagi, ini sangat menyakitkan. Sebentar lagi dia juga akan bekerja ditempat yang sama dan juga selalu dekat dengan Dharma. Biarlah semuanya berjalan sesuai alurnya saja, jika memang dia jodoh ku maka tidak akan pergi kemana. Tapi jika sebaliknya aku harus bisa dan ikhlas melepasnya" gumam Zoya saat sudah menepikan mobilnya ditaman yang tidak jauh dari PRATAMA.GROUP.
"Maaf, anda menjatuhkan ini auntie" ucap seorang anak kecil yang memberikan nya kunci mobilnya.
"Oh, terimakasih" ucap Zoya yang langsung berjongkok menatap anak kecil yang menyodorkan kunci mobilnya dan Zoya mengusap kepalanya.
Anak kecil itu langsung berlari menjauh dari Zoya yang masih menatapnya.
"Dia begitu menggemaskan" gumam Zoya yang menatap kearah anak kecil tadi.
__ADS_1
Seolah dia melupakan sejenak masalahnya dan juga perasaan yang membuatnya jadi tidak bisa berfikir jernih untuk memutuskan sesuatu.
.
Sedangkan didalam rumah sakit Zia sedang bermain dengan Quinzy yang kondisinya sudah semakin baik dan juga sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Mom, apa Mommy itut pulang belcama Ici?" tanya Quinzy saat akan pulang.
"Maaf, Mommy harus bekerja dulu. Setelah pekerjaan Mommy selesai Mommy akan datang mengunjungi Izy" ucap Zia yang mencolek hidung mungil Quinzy.
Quinzy hanya diam dan murung mendengar jika Zia tidak bisa mengantarkan nya pulang kerumah. Quinzy berfikir jika dia tidak akan bertemu dengan sosok wanita yang dia anggap sebagai Mommy nya.
"Loh, kenapa murung? Mommy berjanji akan menemui Izy setelah selesai bekerja oke. Jadi jangan sedih dong" ucap Zia sambil tersenyum pada Quinzy dan mengusap kepalanya.
"Senyum dulu dong buat Mommy. Supaya Mommy semangat kerjanya dan bisa segera bertemu lagi dengan Izy" ucap Zia yang merayu Quinzy supaya ceria lagi.
"Janji" ucap Quinzy menyodorkan jari kelingkingnya dan disambut oleh Zia.
"Janji" jawab Zia dengan senyuman dibibirnya.
"Baiklah, kalian hati-hati dijalan" ucap Zia yang mengantarkan mereka menuju parkiran rumah sakit.
"Yang sudah baikan sama suaminya ceria banet" goda Zayd yang tiba-tiba sudah ada disampingnya.
"Awuoch. Kakak kejam banget sih kak" protes Zayd yang perutnya mendapatkan bogeman mentah dari Zia.
"Makanya kalo ngomong disaring dulu. Jangan asal nguap" ucap Zia dengan senyum sinis saat sudah membuat Zayd kesakitan dan dia langsung pergi dari samping Zayd.
Kira-kira seperti itu ya ekspresi Zia..
"Dasar bar-bar. Pria sial mana yang akan mendapatkan kakak nanti" ucap Zayd yang masih memegangi perutnya yang terasa mulas.
Sedangkan Zia tidak mendengarkan ocehan dari Zayd yang sedang mengumpatnya saat ini.
"Dia ini sebenarnya menurun dari siapa sifatnya yang seperti ini?" gumam Zayd yang ikut masuk juga kedalam rumah sakit lagi.
Sedangkan Zia langsung menuju kantin. Dia ingin memakan apapun yang dia inginkan dan bisa mengembalikan mood nya yang sempat hilang oleh Zayd.
"Anda mau pesan apa dokter?" tanya pelayan kantin tersebut pada Zia yang sudah duduk dimeja nya.
__ADS_1
"semua makanan yang enak-enak bawa kemari" jawab Zia yang membuat pelayan tersebut melongo mendengarnya.
"Kenapa diam. Cepat ambilkan" ucap Zia yang heran dengan pelayan yang ada disampingnya.
"Baik dokter, akan saya ambilkan" jawabnya dengan ragu. Pasalnya baru kali ini dia melihat wanita cantik memesan berbagai makanan dalam sekali pesan saja.
"Disini rupanya" ucap Zayd yang sudah duduk disebrang Zia duduk saat ini.
"Kamu ini seperti jelangkung Zayd, dimana-mana pasti ada" ucap Zia yang menyindir adiknya ini.
"Enak saja, tampan seperti ini dibilang jelangkung" protes Zayd dengan senyuman yang dibuat seimut mungkin didepan Zia.
Anggap saja pake jas dokter ya... yang penting senyumnya itu loh😍😍
"Zayd jangan menampilkan wajah seperti itu" ucap Zia yang membuat Zayd bingung.
"Kenapa?" tanya Zayd yang heran dengan tatapan kakak nya yang aneh.
"Aku mual dan tidak bisa menghabiskan makanan ku nanti. Hahaha" ucap Zia yang langsung tergelak keras menertawakan ucapan nya sendiri.
Sedangkan Zayd mengerucutkan bibirnya kesal, karena kakaknya yang satu ini memang paling bisa membuat mood seseorang menjadi anjlok karena ucapan nya yang suka diluar nalar.
"Kakak menyebalkan!" ucap Zayd dengan sebal dan menatap jengah pada Zia.
"Aku tahu" jawab Zia dengan cueknya.
Saat sedang berdebat dengan Zayd, makanan yang dipesan oleh Zia datang dengan memenuhi meja yang ada didepan mereka saat ini.
"Silahkan dokter" ucap pelayan tersebut dan sambil melirik kearah Zayd yang sangat tamvan.
"Terimakasih mbak" ucap Zia pada pelayan tersebut.
"Kakak yakin akan menghabiskan semuanya?" tanya Zayn saat pelayan itu sudah pergi.
"Tentu saja tidak. Untungnya kamu kemari, jadi kita habiskan bersama" ucap Zia dengan santainya dan dia menyantap soto babat yang dia pesan juga.
"What! are you kidding?!" ucap Zayd yang tidak menyangka jika dia akan disuruh ikut menghabiskan makanan sebanyak itu.
"Why? I'm serious" jawab Zia yang sedang mengunyah makanan nya dengan sangat lahap.
__ADS_1
Zayd mau tidak mau memakan nya juga. Walau perutnya terasa kenyang lebih dulu sebelum memakan nya.