Unforgettable Love five.Z

Unforgettable Love five.Z
Ketenangan jiwa dan raga


__ADS_3

Zoya dan Aisha sudah terlihat sangat akrab walau baru pertama bertemu. Dan itu terlihat sangat bagus dan juga sangat indah dipandang mata.


Zoya dengan seksama mendengarkan semua tausiyah yang sedang diterangkan oleh seorang Ustadt yang memang sering memberikan tausiyah-tausiyah dimasjid ini. Dan itu adalah abang dari Aisha sendiri.


Zoya tidak mendengarkan semua orang yang mencoba ingin menggunjing dirinya karena kemari tidak membawa pakaian yang tertutup. Melainkan hanya mengenakan mukenah yang disediakan didalam masjid itu sendiri.


Zoya hanya mendengarkan tausiyah saja yang bahkan membuat hatinya semakin tenang dan juga merasa sangat tentram dengan semua isi tausiyah yang diberikan.


Setelah hampir satu jam lamanya tausiyah ditutup dengan bacaan ayat-ayat suci Al-qur'an yang dibacakan langung oleh Aisha. Zoya semakin mengagumi Aisha yang bukan hanya baik hati saja dia juga ramah dan juga suaranya sangat merdu sekali dan juga membuat hati semakin sejuk dibuatnya.


Zoya semakin mengagumi sosok Aisha yang solehah dan juga lemah lembut. Dia sampai berfikir jika Zoya ingin mengenalkan nya dengan Zico, supaya dia bisa menjadi lebih baik lagi dan juga bisa semakin dekat kepada Allah.


Tapi Zoya tidak seberani itu. Zoya juga tahu, jika keluarganya jauh dari kata soleh dan solehah. Tapi walau begitu mereka semua tidak pernah meninggalkan kewajiban nya sebagai seorang Muslim.


Zoya terus mendengarkan suara merdu dari Aisha. Dan setelah selesai dia pamit pada Aisha dan juga Abang nya yang sudah ingin pulang juga.


"Aisha, terimakasih banyak untuk hari ini. Ini adalah pengalaman pertama yang pernah saya lakukan. Dan ini semua adalah ucapan syukur dari saya pribadi tolong diterima. Ini tidak seberapa bagi saya, saya memang sudah berniat untuk memberikan ini pada orang atau tempat yang membutuhkan. Saya berniat memberikan ini untuk pondok lesantren yang kamu miliki dan juga ini untuk masjid disini. Tolong jangan ditolak. Saya ikhlas kemberikan ini semua" ucap Zoya dengan panjang lebar dan dia sebelum pergi.


"Terimakasih banyak Nona. Nona sangat baik dan juga dermawan, tapi ini terlalu besar untuk kami semua. Apa ini tidak masalah untuk anda dan keluarga anda Nona?"ucap Aisha yang merasa berat menerima bantuan sebesar ini.


"Jangan menolaknya. Dan jangan sebutkan dari saya, sebut saja hamba Allah. Saya permisi ya, Assalamualaikum" ucap Zoya yang langsung masuk kedalam mobilnya dan menekan tlakson dua kali tanda dia berpamitan dan dia pergi dari halaman masjid.


"Wa'allaikum salam" jawab Aisha dan juga abang nya.


Zoya melajukan mobilnya menuju arah pulang, dia sudah sangat tenang dan juga merasa lebih baik lagi. Saat sudah sampai dimainson dia melihat Zico masih bermain dengan Quinzy dihalaman mainson.

__ADS_1


Zoya melihat jika Zico sangat bahagia dan juga bisa tertawa lepas dan juga bisa menjadi dirinya sendiri saat sedang bersama dengan Quinzy.


Zoya terus melangkah menuju kamarnya dan setelah itu dia langung merebahkan dirinya dan tak terasa malah terlelap dengan sendirinya.


.


Sedangkan ditempat yang berbeda Dharma sedang dimarahi habis-habisan oleh Ibunya. Karena sekarang Ibunya sudah tahu kenapa alasan nya Zoya tidak ingin lagi bersama dengan Dharma lagi.


"Apa yang ingin kamu jelaskan pada Ibu Dharma!" ucap Ibu Sri dengan sangat marah saat melihat Dharma dengan santainya jalan berdua dengan wanita yang tidak pernah Ibunya sukai.


"Semuanya sudah jelas dan tidak ada yang perlu dijelaskan lagi Bu. Karena Zoya memang sudah tidak mau lagi mau bagaimana?" jawab Dharma dengan malas karena mendengarkan ocehan dari Ibunya.


"Ibu sedang tidak membahas masalah Zoya. Ibu membahas wanita itu!" teriak Ibu Sri dengan menunjuk Luna yang sedang duduk diruang tamu.


"Memanganya ada yang salah dengan semua ini Bu, Luna tidak salah apa-apa dalam hal ini. Dia juga korban disini, karena aku hanya berteman saja dengan Luna. Jadi stop, Ibu selalu menyalahkan Luna" ucap Dharma yang tidak ingin mendengarkan ocehan dari Ibunya.


"Cukup! Apa yang kalian ributkan hah! Bapak pusing mendengarkan kalian berdua selalu saja berdebat dan tidak pernah bisa akur dalam hal ini. Bapak lebih baik tinggal dikampung saja dari pada harus disini dan melihat kalian yang selalu bertengkar. Lagi pula mau dekat dan juga sama siapa saja tidak ada yang salah Bu, Dharma sudah besar dan dia sudah bisa mencari kebahagiaan nya sendiri. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan juga mendo'akan saja" ucap Pak Kimin yang sudah jengah dengan perdebatan Ibu dan anak ini. Yang membuatnya semakin pusing.


"Dengerin Bu, Ibu jangan pilih-pilih orang untuk bisa dekat dengan kita" ucap Dharma yang membuat hati Ibu Sri sangat sedih.


'Dia tidak sebaik dan sepolos yang kalian lihat. Ibu sudah sering melihat dia pergi dengan berbagai laki-laki. Dan itu akan kembali jika sudah malam hari, apa mata dan hati kalian sudah tertutup oleh wajah dan juga kepolosan yang dia perintahkan' ucap Ibu Sri yang hanya bisa dalam hati dan juga menangisi dirinya sendiri yang tidak bisa memperingatkan anaknya ini.


Ibu Sri langsung pergi dan tidak ingin lagi menanggapi ucapan dan juga perkataan dari Dharma atau pun suaminya yang malah memojokan dirinya didepan wanita yang sangat dingin dia jauhkan dari putranya.


Ibu Sri ternyata sudah membereskan semua barang-barangnya yang sebelumnya dia baca dari kampung. Dia tidak ingin membuat beban pada putranya dan juga menyusahkan nya lagi. Jika suaminya mau ikut dengan nya syukur, tidak juga tidak masalah. Yang penting dia harus pergi dari rumah bagus ini yang terasa panas dan juga tidak nyaman.

__ADS_1


"Ibu mau kemana Bu? Ibu jangan seperti anak kecil yang sedikit-sedikit ngambek dan pergi begitu saja dari rumah. Ibu ini sudah tua dan Ibu harus bisa mengendalikan diri Ibu sendiri" tanya Bapak yang malah menganggap jika sikap istrinya ini terlalu kekanak-kanakan yang masalah sedikit pergi dan kabur dari rumah.


"Terserah Bapak mau menganggap Ibu teh seperti apa. Yang jelas, Ibu teh tidak bisa tinggal disini lagi jika Ibu tidak dihargai. Ibu pamit Pak, jaga diri baik-baik dan juga anak Bapak. Ibu sudah tidak punya anak lagi" ucap Ibu Sri yang sudah menahan tangisan nya sejak tadi.


Dia melangkah dengan sangat tegap dan juga pasti. Saat melewati Luna dia melihat Luna yang tersenyum melihat dia yang sudah merusak dan juga tersingkirkan oleh dirinya. Ibu Sri hanya diam dan terus melangkahkan kakinya keluar dari rumah putranya sendiri. Saat akan menuju terminal bus dia bertemu dengan seseorang yang sangat dia kenal dan dia juga sedang bersama dengan wanita cantik.


"Ibu, Ibunya bang Dharma kan?" tanya seseorang itu yang tidak lain adalah Zayd yang sedang jalan berdua dengan Eleanor yang kebetulan melewati jalanan yang dekat dengan rumahnya Dharma.


"Iya den, Aden sendiri sedang apa disini?" jawab Ibu Sri dengan sangat ramah pada Zayd yang dia temui dan juga bertanya padanya.


"Kami memang sedang jalan-jalan saja Bu. Ibu mau kemana bawa tas besar seperti itu? Maaf jika Zayd lancang menanyakan hal seperti itu pada Ibu" tanya Zayd yang merasa tidak enak pada Ibunya Dharma menanyakan lah seperti itu.


"Oh, senang bisa bertemu dengan Aden lagi yah den. Ibu teh mau pulang, tiba-tiba saudara jauh Ibu ada yang sedang sakit dan juga kritis. Jadi Ibu teh harus pulang sekarang juga, dan Ibu mau keterminal sekarang" jawab Ibu Sri dengan sangat ramah dan juga terlihat tersenyum walau sebenarnya dalang hati dia menangis.


"Ya sudah, kami antarkan saja Bu. Sekalian kami juga sedang ada urusan disekitar terminal" ucap Eleanor yang merasa ada yang aneh dengan Ibu-Ibu yang sedang berdiri dihadapan nya juga Zayd.


"Aduh, jadi ngerepotin kalian berdua atuh ya. Bener ini Ibu boleh bareng?" ucap Ibu Sri merasa tidak enak pada kedua anak muda dihadapan nya.


"Alhamdulilah, tidak sama sekali Bu. Ayo" ucap Eleanor yang dijawab anggukan kepala oleh Zayd.


Dan Ibu Sri ikut dengan mobil yang dikendarai oleh Zayd. Saat yang bersamaan juga setelah Ibu Sri masuk kedalam mobil, Dharma dan juga Pak Kimin menyusulnya tapi sudah tidak ada lagi. Mereka berdua mencari-carinya tapi tidak menemukan Ibunya yang Sudh pergi dengan Zayd.


"Ibu kemana ya Pak? Apa mungkin Ibu sudah keterminal? Tapi, Ibu kan tidak tahu jalan dikota ini" tanya Dharma yang mulai panik dengan keadaan Ibunya yang entah kemana.


"Kita cari saja. Pasti Ibu belum jauh" ucap Pak Kimin yang langung mencari keberadaan istrinya yang pergi.

__ADS_1


Sedangkan Luna dengan santainya hanya melihat kedua orang yang sedang panik mencari Ibu Sri. Dia malah tersenyum melihat semua yang dia saksikan saat ini.


__ADS_2