
"Jika kalian berdua diam seperti ini kan terlihat tenang dan juga nyaman ditelinga orang lain" ucap Alexa yang menuji kediaman keduanya yang ternyata mendengarkan ucapan nya tadi.
Mereka memakan makanan nya dengan tenang karena Zia maupun Alvin. Keduanya dian dan menikmati makanan nya dengan sangat lahap dan juga tenang.
"Apa yang kamu rencanakan Zi setelah kamu benar-benar bisa buka praktek sendiri?" tanya Alexa yang masih melihat Zia asik dengan makanan nya.
"Ya aku memang sangat ingin membuka peraktek sendiri. Tapi belum mendapat izin dari Mommy dan Daddy, mereka bilang jika membuat klinik otomatis akan menghabiskan waktuku disana dan jarang kumpul bareng" jawab Zia dengan mulut penuh nya yang sedang mengunyah makanan nya.
"Iya juga sih. Mami dan Papi juga bilang begitu, aku harus menurutinya bukan? Jika tidak bisa-bisa kagak dikasih kebebasan lagi. Bisa tamat lah dunia perbebasan. Hahaha" ucap Alexa yang disambut gelak tawa oleh keduanya.
"Tidak bisakah kalian berdua makan dengan tenang dan terlihat feminim dan juga anggun sebagai seorang wanita?" tanya Alvin yang tidak habis fikir dengan kedua wanita ini.
Mereka berdua seolah tidak memperdulikan orang lain atau pengunjung yang menatap aneh pada keduanya yang sedang tertawa tidak jelas dengan bahasan yang aneh juga menurut Alvin.
"Tidak. Karena inilah kami" jawab keduanya dengan sangat kompak menjawab ucapan Alvin.
Mereka berdua memang teman satu frekuensi. Sama-sama gesrek dan juga absurd jika sedang bersama seperti sekarang.
"Dasar aneh. Bukan nya menjaga sikap didepan laki-laki. Ini malah sebaliknya" ucap Alvin yang langsung bangkit ingin pergi dari meja kedua wanita aneh menurutnya.
"Whatever" ucap keduanya dengan gelak tawa yang membuat mereka berdua jadi pusat perhatian.
"Sedang menertawakan apa sih seru banget?" ucap seseorang yang baru saja datang menghampiri keduanya.
"Hai bang. Biasa urusan cewek" jawab Zia yang langsung menatap wajah abang kembar nya.
"Jadi abang ganggu nih ya sama urusan cewek?" tanya Zio pada Zia.
"Ya nggak lah. Cuman dikit. Hihihi" jawab Zia dengan senyum cekikikan.
"Dasar" ucap Zio yang langung menoyor kepala adik kembar nya.
"Hai sayang. Kok lama banget sih?" ucap Alexa dan juga bertanya kepada kekasihnya. Yaitu Zio.
"Hai juga sayang. Maaf tadi ada accident kecil saja kok dan sekarang sudah selesai" jawab Zio yang langsung duduk disamping Alexa.
"Wah, accident apa bang?" tanya Zia dengan heboh.
"Biasa kerjaan. Tapi sudah clear kok" jawab Zio dengan senyuman nya yang khas.
__ADS_1
"Oh oke" ucap Zia dengan mengangguk lalu melanjutkan makan nya lagi.
"Sayang, kamu tidak makan? Kenapa hanya dia saja yang makan?" tanya Zio pada Alexa yang hanya diam memainkan ponselnya.
"Aku sudah selesai. Dan ini baru saja habis" jawab Alexa yang menyodorkan piring bekas nya makan.
"Kamu sendiri mau pesan apa sayang?" tanya Alexa balik pada Zio.
"Apa saja, yang penting makanan dan juga membuat kenyang" jawab Zio dengan mengusap pipi Alexa.
"Uwek. Pasangan bucin yang membuat ku mendadak menjadi mual" ucap Zia yang melihat abang dan Alexa sedang bermesraan dengan menampilkan wajah ingin muntah nya.
"Iri, bilang dek!" ucap Zio yang langsung mengacak-ngacak rambut Zia yang sedang digerai.
"Ish abang... Jadi berantakan kan? Lagi pula siapa juga yang iri pada abang? Ogah lah ya" ucap protes Zia tidak terima jika rambutnya yang bagus dan juga rapih diacak-acak dan juga dibilang iri.
"Siapa tahu kamu memang iri pada kami berdua Zi?" tanya Alexa malah semakin gencar menggoda calon adik iparnya.
"Idih, percaya diri sekali anda! Aku sama sekali tidak iri pada kalian, ya cuman ngenes saja sih ngeliat kebucinan tingkat tinggi kalian berdua. Hahaha" ucap Zia yang malah tertawa dengan sangat lebar hingga Zio menyuapkan satu potongan besar daging steak kedalam mulut Zia yang terbuka lebar.
Zia langsung melotot sempurna saat mulutnya penuh dengan daging steak yang disuapkan oleh Zio. Zia yang ingin protes tidak jadi karena mulutnya sedang mengunyah makanan tersebut.
"Makanya jadi wanita harus lebih anggun sedikit. Ini tertawa sudah seperti apa saja mulutnya" ucap Zio yang langsung mendapatkan pelototan dari adik kembarnya.
"Kamu bener banget sayang" jawab Zio yang masih meledek Zia yang dengan susah payah mengunyah makanan nya.
Setelah mengunyah dan juga menelan nya pelan-pelan Zia sudah menelan daging steak nya dengan sempurna dan akan melayangkan protesnya pada Zio.
"Abang tega banget sih. Kalo mau nyuapin ya seharusnya dengan romantis dan juga penuh kasih sayang gitu, sama adik nya yang cantik dan juga menawan ini. Bukan malah membuat aku susah mengunyah nya" ucap protes Zia pada Zio yang malah tersenyum tanpa dosa pada Zia.
"Jika kamu mau disuapi mending kamu cari pacar yang mau dan mungkin bisa tahan dengan semua tingkah kamu yang seperti ini" jawab Zio masih dengan meledek Zia.
"Ish, abang nyebelin!" ucap Zia yang langsung bangkit ingin pergi dari sisi abang nya yang satu ini.
Mereka memang seperti itu jika sudah bersama dan berdekatan satu sama lain. Pasti tidak pernah akur.
"Kamu mau kemana Zia?" tanya Alexa yang melihat Zia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar restaurant.
"Aku mau pulang saja. Males jika bareng sama kalian berdua yang sedang bucin. Yang ada aku jadi obat nyamuk lagi. Bye" jawab Zia yang langsung pergi begitu saja dari keduanya.
__ADS_1
"Apa kita tidak keterlaluan ya sayang sama Zia? Aku merasa tidak enak padanya" tanya Alexa yang merasa bersalah karena ikut meledek Zia.
"Kita kan hanya bercanda saja. Lagi pula kan Zia memang seperti itu orang nya. Dia pengertian jika aku ingin mengajak kamu berkencan" jawab Zio yang kalimat terakhirnya dibisikkan ditelinga Alexa.
"Uhh, so sweet banget sih pacarnya akoh" ucap Alexa lebay pada Zio yang sedang tersenyum padanya.
"Masa sih sayang? Nanti kita jalan ya setelah aku makan ini dulu" ucap Zio yang langsung menyantap makanan nya dengan sangat lahap.
"Kamu doyan apa lapar sayang? Lahap banget makan nya" tanya Alexa pada Zio yang sedang makan dengan sangat lahap sekali.
"Dua-duanya sayang" jawab Zio yang tersenyum kepada kekasih nya.
"Dasar" ucap Alexa yang merangkul mesra lengan Zio kekasih nya.
Mereka berdua malah tersenyum bersama dan juga saling bercanda hingga makanan yang sedang Zio nikmati tandas tak bersisa. Dan setelah nya mereka berkencan sesuai yang diucapkan oleh Zio tadi.
.
Sedangkan ditempat lain, Ara sedang merenung dan hanya diam didalam mobil milik Zico. Zico yang merasa heran dengan sikap Ara saat ini yang tidak seperti biasanya langsung menghentikan laju mobilnya dan menepikan nya dipinggir jalan.
"Kamu kenapa?" tanya Zico yang sedang menatap Ara dengan sangat inters.
"Tidak apa-apa bang. Hanya sedikit lelah saja" jawaban Ara masih sama seperti tadi.
"Kamu tidak seperti biasanya. Ada apa? Cerita pada abang, mungkin abang bisa bantu masalah kamu saat ini" ucap Zico yang menggenggam tangan Ara yang sangat dingin dan juga berkeringat.
"Ara tidak apa-apa bang, sungguh" jawab Ara dengan jari-jarinya yang dia gerakkan.
"Sungguh tidak ada masalah apa-apa?" tanya Zico lagi memastikan pada Ara.
Ara hanya mengangguk pada Zico dan juga memperlihatkan senyuman seperti biasanya yang diberikan nya pada Zico.
'Kenapa perasaan aku sama kamu semakin ragu bang? Entah ini hanya perasaan ku saja atau memang kamu hanya menggunakan setengah hati pada ku. Aku harus berbuat apa supaya bisa menghindar atau mungkin memastikan hati kamu untuk aku atau tidak. Aku sungguh tidak tahu bang, aku tidak berani mengungkapkan semua ini pada kamu. Aku hanya bisa diam dan diam seperti aku yang tidak bisa bicara dan juga mendengar dengan baik. Apa yang harus aku lakukan kedepan nya bang. Apa?' ucapan yang tidak pernah Ara keluarkan untuk Zico maupun dia keluarkan pada sang kakak untuk mencari solusi.
"Apa kamu menginginkan sesuatu dulu sebelum kita pulang? Abang akan mengantarkan kamu" tanya Zico untuk kesekian kalinya menawarkan nya pada Ara.
Ara hanya menggeleng dan tersenyum. Hanya itu yang bisa Ara lakukan saat ini dan entah sampai kapan dia membohongi dirinya sendiri dengan cara diam dan diam.
"Kita sudah sampai" ucap Zico yang sudah memarkirkan mobilnya didepan pagar yang menjulang tinggi didepan rumah mewah kediaman Harrison.
__ADS_1
"Terimakasih bang. Maaf tidak meminta abang mampir dulu, Ara ingin langsung beristirahat" ucap Ara yang langsung keluar dari mobil Zico dengan wajah yang biasa saja. Bahkan terlihat sangat murung.
"Dia kenapa? Kenapa sikapnya aneh sekali hari ini? Apa memang dia sedah lelah dan juga kecapean? Kenapa kamu selalu diam dan tidak pernah membagi kesedihan kamu sama abang Ara?" gumam Zico yang langsung mengemudikan mobilnya keluar dari area rumah Ara.