
Sedangkan ditempat lain ada Zia yang sedang bertemu dengan Alexa dan juga Ara. Mereka berdua sedang mengobrol bersama. Apa lagi mereka bertiga baru bertemu lagi setelah sekian lama berpisah.
"Lexa, bagaimana study kamu disana? Pasti menyenangkan ya bisa sering berjalan-jalan dan bisa bertemu dengan cogan-cogan nya London" tanya Zia dengan sangat bersemangat.
"Biasa saja sih Zi, disana biasa saja sih seperti disini menurut ku. Dan tidak ada yang istimewa menurut ku sih. Jika cowok memang ya, namanya juga bule. Pasti banyak yang ganteng-ganteng juga yang menarik. Tapi entah kenapa aku sama sekali tidak tertarik pada mereka sama sekali" jawab Alexa yang memang terlihat biasa saja.
"Kamu ini Lexa, aneh banget sih. Masa kamu sudah hampir 6tahun masa tidak kecantol sama yang bule sedikit pun juga? Kan aneh menurut ku" tanya Zia lagi dengan tatapan aneh menatap Alexa.
"Aku itu kesana untuk melanjutkan study ku. Bukan untuk mencari cowok ya, dan ingat satu hal. Hati aku ini sudah terpaut sama yang blasteran" jawab Alexa dengan sangat memggebu.
Sedangkan Ara hanya menyimak obrolan mereka berdua yang membuat Ara sedikit pusing. Karena keudanya hanya membahas soal laki-laki saja dibandingkan dengan pengalaman mereka sendiri.
Saatbsedang asik bertiga mengobrol bersama juga asik bercanda juga, datang Alvin dan juga Joyce yang ternyata sedang jalan berdua. Dan betapa terkejutnya Joyce melihat adik yang dimaksud oleh Alvin adalah Ara. Wanita gagu yang sering dia hina dan ingin dia singkirkan.
Sedangkan Zia dan Alexa menatap datar pada Joyce yang terkesan seperti wanita yang gampangan jalan dengan seorang pria manapun.
"Ara, kenalkan ini adalah Joyce" ucap Alvin yang belum tahu jika keduanya sudah saling mengenal.
Ara hanya mengangguk dan menuliskan jika dia sudah kenal dengan Joyce.
"Ara sudah mengenal dia kak" tulis Ara.
"Oh, rupanya kalian sudah saling kenal rupanya" ucap Alvin dengan senyuman dibibirnya.
"Ya jelas saling kenal lah. Wong mereka berdua adalah rival merebutkan seorang pria yang sama. Lebih tepatnya sih ada yang sudah memiliki tapi ada yang mencoba merebutnya" ucap Zia yang sengaja intonasi nya dikeraskan.
"Yang bener Zi? Wah, kok aku nggak tahu ya?" tanya Alexa menimpali ucapan dari Zia yang memang sengaja untuk menyindir Joyce.
"Iya lah, masa aku bohong sih. Ya jelas itu real ya, no hoax atau hanya gosip belaka" ucap Zia yang semakin memanas-manasi keadaan.
"Wah, wah, wah aku memang sudah ketinggalan jauh berita terpanas dan juga masih sangat hangat untuk diperpanjang" ucap Alexa yang semakin julid.
"Kalian ini apa-apaan sih. Kan tidak baik membicarakan orang seperti itu" tulis Ara dan diperlihatkan pada keempat orang tersebut.
Lebih tepatnya pada Zia dan juga Alexa yang sedang sangat julid pada Joyce.
"Alvin, aku duluan saja ya. Nanti kabari lagi jika kita ada kerjasama lagi" ucap Joyce dengan berpamitan pada Alvin dan langsung lergi begitu saja tanpa mendengarkan ucapan Alvin lagi.
"Kalian ini, tidak bisakah menjaga ucapan-ucapan kalian didepan nya?" tanya Alvin dengan pandangan yang sudah sangat marah karena mereka berdua sudah membuat Joyce pergi begitu saja.
__ADS_1
Padahal selama ini Alvin sudah sangat lama ingin mendekati Joyce tapi sangat sulit. Dan baru kali ini dia bisa mengajak Joyce untuk jalan bersama dengan alasan pekerjaan tentunya.
"Helo, ini itu mulut-mulut saya. Mau bicara apa ya, terserah mulut saya lah. Kenapa jadi anda yang repot dengan ucapan saya?" tanya Zia dengan seperti biasanya yang memang tidak pernah bisa akur dengan Alvin.
"Kau memang benar-benar Mak Lampir. Tidak pernah bisa melihat orang lain senang sedikit kamu langsung saja membuat masalah" ucap Alvin yang selalu tersulut oleh kata-kata dari Zia.
"Eh, Kala Gondang. Saya tidak perduli dengan ucapan situ ya" ucap Zia yang juga tidak mau kalah dari Alvin.
"Enak saja. Lihat tuh mulut, makanya disekolahin supaya bisa jaga ucapan. Jangan asal jeplak saja! Sudah seperti kompor beleduk" ucap Alvin yang sudah sangat geram dibuat nya.
"Enak saja! Kamu tuh yang kayak kompor beleduk. Cowok tapi mulutnya lemes, sudah mirip emak-emak rumpi" ucap Zia tidak kalah emosinya dibandingkan dengan Alvin.
"Kalian ini serasi sekali sih... So sweet tahu" ucap Alexa yang langsung membuat mereka berdua berhenti berdebat.
"Idih, amit-amit" ucap Zia dengan bergidik ngeri melihat Alvin yang berdiri dihadapan nya.
"Dih ogah saya sama dia. Bisa-bisa dunia benar-benar kiamat" ucap Alvin yang membuat Alexa tertawa terbahak-bahak akan ucapan-ucapan dari keduanya.
"Hahaha" kalian memang sangat serasi dalam hal mengumpat satu sama lain. Hahaha" ucap Alexa yang tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air matanya.
Sedangkan Ara hanya menepuk keningnya merasa pusing dengan tingkah dan sifat dari ketiga orang yang ada dihadapan nya saat ini. Ara langsung saja bangkit dari duduknya untuk segera pergi dari ketiganya yang sangat absurd menurut Ara.
Ara menghampiri toko jam tangan mewah dan juga mahal ini. Dia langsung menanyakan jam tangan tersebut dengan menunjukkan tulisan nya.
"Ini berapa harganya?" tanya Ara yang tidak langsung mengambil. Tapi malah bertanya harga.
"Yang ini Nona?" ucap pelayan tersebut dengan ramah.
Mungkin dia melihat pakaian yang dikenakan oleh Ara adalah pakaian branded makanya diperlakukan baik oleh pelayan toko tersebut.
"Iya yang itu" tulis Ara lagi.
"Ini harganya 67.000.000 Nona" jawab pelayan toko tersebut dengan tersenyum ramah.
"Saya mau ambil yang ini. Tapi dibungkus kado ya kak" tulis Ara lagi pada pelayan tersebut.
"Baik Nona akan saya bungkuskan. Mau bayar menggunakan apa Nona?" jawab pelayan tersebut dan menanyakan pembayaran nya.
Ara mengeluarkan kartu yang diberikan oleh Alvin untuk membeli jam tangan tersebut. Ara sangat senang bisa menghadiahkan sesuatu untuk orang yang dia sayang nantinya. Ara juga memilih satu jam tangan lagi yang lebih mewah dan juga lebih mahal untuk sang kakak.
__ADS_1
"Apa ini juga akan dibungkus menggunakan kado juga Nona?" tanya pelayan toko tersebut menanyakan pada Ara.
"Yang ini tidak usah. Itu saja yang dibungkus" tulis Ara menunjukkan nya pada pelayan.
Ara sudah membeli keduanya dan yang satu dia jinjing saja sedangkan yang satu lagi dia simpan didalam tasnya untuk dia berikan pada seseorang.
"Kamu habis dari mana?" tanya seseorang yang ternyata sudah memperhatikan nya sejak tadi.
"Abang Zi" ucap Ara menggerakkan jari-jarinya.
"Sedang apa? Kelihatan nya sangat senang?" tanya Zico lagi yang melihat wanitanya sedang tersenyum menatap wajahnya.
"Iya, aku memang sedang sangat senang sekarang. Apa lagi bisa bertemu abang disini" ucap Ara sambil menggerakkan jarinya.
"Oh, benarkah?" tanya Zico dengan wajah terkejutnya.
"Iya" jawab Ara yang selalu tersenyum menatap nya.
"Habis beli apa?" tanya Zico lagi. Sebenarnya dia sudah tahu Ara membeli apa, karena ditangan nya ada tertera logo brand tersebut.
"Ini, jam tangan untuk kak Alvin. Aku sudah lama tidak membelikan nya hadiah, lagi pula lusa adalah hari ulang tahun nya. Jadi aku beli saja kadonya sekarang" ucap Ara yang menggunakan bahasa isyarat nya.
"Oh, Alvin rupanya" ucap Zico langsung berubah lesu. Yang awalnya sedang sumringah karena dia menganggap akan dibelikan sesuatu oleh wanitanya ini, ternyata dugaan nya salah besar.
"Abang kenapa? Apa abang tidak suka jika aku membelikan ini untuk kak Alvin?" tanya Ara dengan polosnya pada Zico.
"Tentu saja tidak Ara ku. Untuk apa abang tidak suka, justru abang senang. Karena Ara sudah sayang pada kakak nya Ara sendiri. Jadi, apa yang membuat abang merasa tidak senang dengan ini?" jawab Zico dengan bertanya juga pada Ara.
"Ara kira abang tidak suka" ucap Ara dengan senyuman yang sangat manis pada Zico.
"Tentu tidak. Apa Ara sudah makan?" tanya Zico pada Ara.
"Belum. Tadi mau makan bersama dengan Zia dan Alexa tapi malah nggak jadi karena keburu Zia dan kak Alvin berantem" jawab Ara dengan sangat jujur pada Zico.
"Jadi Ara kesini dengan mereka berdua atau dengan Alvin?" tanya Zico pada Ara yang tidak tahu jika Ara disini tidak sendiri.
"Ara kesini dengan Zia dan Alexa. Tapi kak Alvin datang dengan Joyce dan mereka akhirnya berdebat berdua" jawab Ara dengan menceritakan semuanya pada Zico.
"Joyce, Joyce juga ada disini dengan kalian juga?" tanya Zico yang masih penasaran dengan yang dikatakan oleh Ara.
__ADS_1
"Ara kesini dengan Zia dan Alexa. Saat kami ingin memesan makanan tiba-tiba kak Alvin dan Joyce datang dan kak Alvin memperkenalkan Joyce pada Ara. Tapi karena Ara sudah kenal jadi Ara bilang jika sudah kenal dengan Joyce jadi tidak perlu berkenalan lagi. Dan terjadilah Zia dan kak Alvin berdebat setelah kepergian Joyce" jelas Ara panjang lebar pada Zico.