
Zayd dan Zia seperti sedang berlomba untuk makan siang berdua ini. Zayd sudah sangat kenyang dengan memakan lebih dari setengahnya makanan yang ada didepan nya saat ini.
"Sudah kak, aku menyerah. Perutku sudah tidak sanggup lagi untuk memakan ini semua" ucap Zayd yang sudah menyerah untuk menghabiskan semua makanan sebanyak itu berdua dengan Zia.
"Kau itu lemah sekali" ucap Zia yang masih saja terus makan dan menghabiskan makanan yang sedang dia makan saat ini.
"Kakak kan mememiliki perut karet makanya makan banyak tidak membuat mu kekenyangan atau gendut" ucap Zayd yang mengejek sang kakak.
Zia tidak menanggapi ucapan dari Zayd yang sedang bersandar dikursi yang sedang dia duduki dan dia juga melepas kancing celananya yang terasa ketat.
Zia hampir menghabiskan semuanya jika saja tidak ada yang memanggilnya untuk segera keruangan prakteknya saat ini. Dia sudah ada janji dengan salah satu pasien nya yang datang dari jauh hanya untuk bertemu dan juga konsultasi padanya.
"Zayd kakak harus pergi. Kamu bayar semuanya ya, dan yang belum dimakan atau disentuh suruh saja diberikan pada yang membutuhkan. Jangan sampai dibuang percuma" ucap Zia yang langsung pergi dari hadapan Zayd saat ini.
"Kenapa jadi aku yang harus bayar. Dasar kakak luknut" gerutu Zayd yang sedang menatap beberapa makanan yang masih utuh.
"Mbak, tolong ini dibungkus dan berikan pada yang membutuhkan. Jangan dibuang karena ini belum disentuh sama sekali" ucap Zayd sambil menyerahkan seberapa lembar uang berwarna merah.
"Baik dokter. Tapi ini kelebihan uangnya dok" ucap pelayan yang biasa melayani pesanan Zia dan juga Zayd.
"Ambil saja" jawab Zayd yang langsung pergi setelah mengucapkan itu pada pelayan tersebut.
"Terimakasih dokter. Semoga selalu berkah dan selalu bertambah rezeki yang anda dapatkan" ucap pelayan tersebut yang sudah sangat senang mendapatkan uang tip dari pelanggan nya.
Sedangkan Zia sudah sampai didepan ruangan nya yang ternyata sudah banyak sekali yang mengantri. Apa lagi kebanyakan adalah seorang pria dan juga terlihat sangat berbeda dari biasanya para pasien nya selama ini.
"Sus, langsung panggil saja satu persatu pasien nya" ucap Zia yang sudah duduk dan mengenakan kembali jas dokter nya.
"Selamat siang dokter Zia Pratama Edison" sapa pria pertama yang menjadi pasien pertamanya disiang hari ini.
"Iya, ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Zia yang menerima berkas pendaptaran dari pasien nya ini.
"Tuan Samar, apa yang membuat anda ingin menemui saya. Sedangkan anda tidak memiliki keluhan apapun?" tanya Zia dengan heran tapi tetap tenang.
"Saya kemari hanya ingin bertemu langsung dengan anda dan bisa jadi anda mau dengan saya" ucapnya tanpa basa-basi lagi.
Sedangkan Zia dan juga suster yang mendampingi Zia menjadi heran sendiri. Pasalnya memang ini tidak untuk pertama kalinya, hal seperti ini sudah sering dianiyaya alami selama dia bekerja disini.
"Maaf Tuan Samar. Saya sudah menikah dan juga memiliki seorang putri" ucap Zia yang selalu menggunakan alasan yang sama untuk membuat semua orang mundur.
"Jadi anda boleh keluar sekarang. Karena sudah mendapatkan jawaban dari saya" ucap Zia dengan sangat tenang.
Sedangkan suster tersebut sedang menahan tawanya yang mungkin saja bisa meledak saat dia sudah berdua saja dengan Zia.
__ADS_1
"Suster, bukankah saya sudah bilang. Jika bukan pasien yang memang benar-benar untuk konsultasi jangan pernah menerimanya. Saya sudah lelah dengan semua ini. Kamu mengerti!" ucap Zia pada suster tersebut dengan tatapan tajam nya.
"Mengerti dok. Saya tidak akan mengulanginya lagi, tapi izinkan saya untuk tertawa dulu" ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak karena mendengar ucapan dari pria yang ingin menjadi pasien pribadi dari dokter Zia yang memang sangat cantik ini.
Zia hanya berdecak kesal dan juga menatap sinis pada suster yang sedang tertawa didepan nya saat ini
Kira-kira begitu tatapan Zia pada suster tersebut...
"Apa kau sudah bosan bekerja dengan ku saat ini?!" tanya Zia dengan tatapan yang sangat mengerikan bagi suster tersebut. Apa lagi ada ancaman nya yang membuatnya semakin takut.
"Maafkan saya dokter. Saya tidak akan mengulanginya lagi" ucapnya sambil membungkukan badan nya dan langsung bungkam.
"God, sekarang panggilkan pasien yang sebenarnya. Bukan yang seperti tadi" ucap Zia dengan senyuman tipis dibibirnya.
Tak berapa lama masuk pasien nya yang sudah membuat janji sebelumnya. Dia langsung menceritakan semuanya dan juga menjelaskan apa saja yang membuat dia trauma dan juga tidak bisa berfikir lebih jernih lagi.
Zia menjelaskan semuanya dan juga memberikan resep obat untuk bisa membuatnya tenang dan berfikir waras. Zia juga mengatur jadwal pertemuan nya kembali minggu depan, untuk bisa tahu kemajuan seperti apa pada pasien nya yang satu ini.
"Akhirnya selesai juga" ucap Zia setelah beberapa jam berbicara dengan pasien nya.
"Apa dokter akan pulang sekarang? Ini sudah waktunya pulang dok" tanya suster tersebut yang sedang membereskan berkas-berkas yang ada diatas meja kerja Zia.
Zia langsung menuju lobby untuk segera bertemu dengan Quinzy. Karena dia sudah berjanji pada anak itu, jika selesai kerja akan menemuinya.
"Kak, kakak mau kemana?" tanya Zayd yang juga baru keluar dari lobby menuju parkiran kusus pegawai rumah sakit.
"Mau bertemu dengan suami dan juga putriku. Puas!" jawab Zia yang menatap dengan sengit adik bungsunya itu.
"Wah, akhirnya kakak mengakui juga dia itu siapa" ucap Zayd dengan senyuman mengejek kearah sang kakak.
"Whatever" ucap Zia yang langsung masuk kedalam mobilnya untuk segera pergi dari adik luknut nya.
"Kakak, memang sangat lucu. Dia tidak sadar jika dia sudah merasa nyaman dekat dengan pria itu dan juga putrinya" gumam Zayd yang juga langsung masuk kedalam mobilnya untuk bertemu dengan pujaan hatinya dulu sebelum pulang.
Zia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, dan dia sudah sampai didepan kediaman Juan yang terlihat sepi dan juga seperti tidak berpenghuni.
Saat Zia menekan bel, dia dikejutkan oleh seorang anak yang langsung memeluk kakinya dari belakang.
"My princess, kenapa membuat Mommy kaget. Hmm?" tanya Zia saat melihat Quinzy yang memeluk kakinya.
"Ici, cenaja tadet Mommy" jawabnya dengan senyuman yang sangat manis dan juga lucu.
__ADS_1
"Wah, Izy berhasil membuat Mommy kaget. Kenapa Izy sendiri? Dimana mbak?" tanya Zia saat melihat Quinzy hanya sendirian saja.
"Ada, alam" jawabnya sambil menunjuk kearah dalam rumah yang ternyata sedang dihias sedemikian rupa oleh para pelayan dan juga pekerja yang ada dirumah Juan.
"Ini akan ada acara apa? Kenapa ada hiasan nya juga?" tanya Zia yang melihat sekeliling rumah sedang dihias dengan berbagai hiasan yang mereka pasang.
"Ulang taun Ici Mom, apa Mommy da tau?" tanya Quinzy yang malah menanyakan nya pada Zia.
"Mommy tidak tahu. Maafkan Mommy, Mommy tidak membawa kado untuk kamu" ucap Zia yang merasa bersalah pada Quinzy yang tidak tahu jika saya ini adalah ulang tahun Quinzy.
"Da apa Mom, Ici eneng Mommy atang" jawab Quinzy yang sudah sangat senang akan kedatangan Zia diulang tahun nya sekarang.
"Sama-sama princess. Mommy memang sudah berjanji kan akan datang kemari setelah pekerjaan Mommy selesai" ucap Zia yang langsung memeluk dan menggendong Quinzy yang sedang tersenyum dan langsung memeluk leher Zia.
Interaksi keduanya selalu mendapatkan perhatian dari seorang pria yang sejak tadi memperhatikain iteraksi kedua wanita berbeda usia itu.
Juan datang menghampiri keduanya dengan tatapan yang sangat teduh dan juga sangat bahagia kelihatan nya. Itu membuat Zia semakin tidak karuan dibuatnya. Zia masih menggendong Quinzy dalam pelukan nya dan Juan lebih mendekatinya lagi hingga keduanya saling pandang satu sama lain.
Quinzy seperti tahu akan kedua orang dewasa tersebut akan berbicara berdua dan dia pergi menjauh dari keduanya. Zia membiarkan Quinzy pergi dan dia menatap Juan dengan tatapan datarnya, keduanya saling pandang dalam beberapa saat.
Hingga tanpa diduga Juan langsung mendekat dan langsung memeluk Zia dengan sangat erat dan seperti menahan kerinduan yang begitu besar padanya.
Zia hanya diam saja, dia tidak membalas atau menolak pelukan dari Juan saat ini. Keduanya saling diam dalam fikiran nya masing-masing.
Membuat semua orang menjadi diam dan melihat adegan yang sayang untuk dilewatkan. Apa lagi jika keduanya memang berjodoh, akan sangat baik untuk Tuan dan juga Nona Muda nya yang memang sangat membutuhkan wanita seperti Zia saat ini.
Zia masih diam saja dalam pelukan Juan dan Juan semakin mempererat pelukan nya terhadap Zia. Dia menangkup wajah Zia dan saling menatap.
"Apa aku diijinkan untuk bisa berada disisi kamu untuk selamanya?" tanya Juan saat keduanya saling berpandangan.
.
.
.
Hayo.... Apa Zia akan menerimanya atau tidak....
Othor tunggu like, komen, vote dan juga hadiahnya ya.... supaya Othor makin semangat buat up yang banyak...
__ADS_1