
Juan sudah duduk menunggu para wanita selesai dengan ritual dandan nya. Juan menunggu dengan sangat sabar diruangan yang sudah dihias sedemikian rupa oleh para pelayan dan yang lainnya.
"Kenapa mereka lama sekali" gumam Juan yang sedang menunggu keduanya datang menghampiri nya.
Juan benar-benar diuji untuk bisa bersabar dalam menunggu seseorang. Jika dia tidak sadar maka dia sendiri yang akan rugi nantinya. Dan benar saja, buah dari kesabaran itu memang sangat indah. Karena kedua wanita beda usia itu turun dari lantai atas dengan bergandengan tangan juga sudah terlihat sangat cantik.
Juan sampai terpesona akan kecantikan keduanya. Terlebih lagi kecantikan Zia yang sangat mempesona, dengan gaun yang dia belikan untuknya sangat pas juga sangat cantik dikenakan oleh Zia.
"Daddy... Ici antik?" tanya Quinzy pada Juan.
"Cantik, selalu cantik my princess Daddy" jawab Juan yang langsung menggendong Quinzy dan menciuminya dengan gemas.
"Daddy no.. Stop Dad, geli" ucap Quinzy yang mana Juan malah menciumi perut Quinzy.
"Oke, Daddy berhenti. Apa kita bisa mulai sekarang?" tanya Juan pada Quinzy yang sedang dia gendong.
"Iya" jawab Quinzy yang sudah sangat antusias sekali.
"Mom, kenapa diam saja?" tanya Juan yang melihat Zia hanya diam mematung ditempatnya berdiri.
Zia yang dipanggil seperti itu malah langsung melototkan matanya kearah Juan yang sedang tersenyum kearahnya. Zia mau tidak mau mengikuti Ayah dan anak itu menuju ruang tamu yang sudah didekorasi dengan sangat cantik dan juga bagus.
"Tuan, Nona semuanya sudah siap" ucap pelayan paruh baya tersebut.
"Iya, ayo sayang" ucap Juan yang langsung menggandeng tangan Zia sambil menggendong Quinzy ditangan sebelahnya.
Zia sebenarnya merasa tidak nyaman dengan semua ini. Tapi dia juga tidak bisa jika harus menolak permintaan dari gadis kecil ini.
"Mom, Dad. Kita tiup lilin nya baleng-baleng" ucap Quinzy yang sudah turun dari gendongan Juan.
"Kenapa Mommy juga harus ikut? Kan ini ulang tahun Izy" tanya Zia dengan perasaan yang tidak karuan.
"Bertiga lebih baik Mom. Jangan menolak permintaan sederhana dari Quinzy, kita lakukan bersama-sama" ucap Juan yang sudah merangkul pundak Zia dengan sangat mesra sekali.
"Baiklah, tapi anda lepaskan dulu tangan anda" ucap Zia yang merasa tidak nyaman dengan keadaan ini.
"Jika tidak seperti ini maka tidak akan kompak meniup lilin nya" jawab Juan dengan alasan yang sangat masuk akal.
"Sebelum my princess tiup lilin, my princess make a wish dulu" ucap Juan pada Quinzy.
Dengan semangat Quinzy membuat permintaan yang membuat semua orang meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Ya Allah, Ici inin Ici celalu cama-cama enan Mommy dan Daddy. Ici inin cupaya Mommy celalu ada dicini cama Ici jua Daddy cama-cama telus. Janan bialkan Mommy pelgi lagi" ucap Quinzy dengan senyuman dibibirnya dan mereka bertiga meniup lilin yang ada diatas kue ulang tahun tersebut.
Fuh...
Mereka semuanya bertepuk tangan saat melihat ketiganya sudah meniup lilin tersebut. Mereka semua saling berpelukan dan tersenyum lalu matanya berkaca-kaca.
"Selamat hari jadi my princess, semoga apa yang Izy inginkan segera terkabul. Karena Izy memang pantas mendapatkan nya" ucap Juan yang langsung memeluk tubuh mungil putri semata wayangnya.
Juan sambil terisak memeluk Quinzy, karena terharu dengan permintaan darinya. Permintaan yang sederhana, tapi juga sulit untuk Juan lakukan. Karena tidak semudah itu mewujudkan keinginan dari Quinzy.
Zia juga langsung memeluk Quinzy dengan sangat lembut. Dia juga menciumi seluruh wajah Quinzy dengan penuh kasih sayang nya.
Zia memang tidak mengucapkan apa-apa. Tapi dia selalu mendo'akan yang terbaik untuk Quinzy kedepan nya. Jika memang dia ditakdirkan berjodoh dengan Juan maka dia akan bersama dengan mereka berdua. Tapi jika tidak, maka Zia hanya bisa berdo'a untuk kebahagiaan anak kecil ini.
"Apa, Mommy inap cini?" tanya Quinzy pada Zia yang dlsedang duduk disampingnya saat ini.
"Mommy akan menemani Izy hingga Izy bobok. Jadi jangan memikirkan apa-apa, oke" ucap Zia yang sebenarnya tidak enak jika harus menginap ditempat seorang pria.
"Oke" ucap Quinzy yang mengira jika Zia akan menginap dan menemaninya hingga tertidur nanti.
Semua orang ikut merayakan kebahagiaan Quinzy dengan penuh suka cita. Tidak ada yang dibedakan disini, baik itu pelayan atau bukan. Mereka semua menikmati waktu bersama-sama.
Setelah makan malam mereka selesai Quinzy langsung bergelayutan pada Zia. Dia sepertinya tidak mau jauh-jauh dengan Zia. Hingga Zia ganti pakaian pun dia selalu mengikutinya dan juga selalu ada didekatnya terus.
"Ya sudah kita bobok sekarang" ucap Zia yang langsung menggendong Quinzy menuju kamarnya yang ada dilantai atas.
Saat akan menaiki anak tangga, Zia dihentikan oleh Juan yang tidak tega membiarkan Zia untuk menggendong Quinzy kekamarnya.
"Sini, Izy digendong sama Daddy saja. Kasihan Mommy, pasti Mommy sudah sangat kelelahan sudah bekerja dan juga menemani Izy bermain juga kan" ucap Juan yang mengambil alih Quinzy dari gendongan Zia.
Quinzy dengan patuh nya beralih pada sang Daddy. Karena dia tidak ingin jika Mommy nya kecapean dan nanti sakit.
Saat sudah didalam kamar Quinzy, Zia kira Juan akan langsung keluar. Tapi ternyata salah Juan juga ikut membaringkan tubuhnya disamping Quinzy yang berada ditengah-tengah mereka berdua.
"Saya kira anda akan keluar dari sini saat sudah berada didalam sini?" tanya Zia yang sudah merebahkan dirinya juga disamping Quinzy.
"Awalnya iya, tapi setelah difikir-fikir tidak jadi. Karena Quinzy pasti menginginkan seperti ini" jawab Juan dengan sangat mudahnya.
"Iya Mom, Ici au obo cama Daddy dan Mommy cekalang" ucap Quinzy yang memeluk keduanya secara bersama-sama.
Mau tidak mau Zia mengalah juga. Dia tidak bisa berkutik jika sudah seperti ini, saat baru saja Quinzy ingin memejamkan matanya ponsel Zia berdering dengan sangat kencang. Kembuat Quinzy membuka matanya kembali dan menatap kearah Zia yang bangkit dari berbaring nya.
__ADS_1
"Mom, Zia sepertinya akan pulang terlambat" ucap Zia saat sudah mengangkat panggilan dari Mom Vita.
"Kenapa? Apa ada masalah disitu sayang?" tanya Mom Vita disebrang sana.
"Tidak Mom, tapi Zia tidak bisa pulang cepat saat ini. Maaf ya Mom" ucap Zia yang merasa bersalah karena belum jujur pada Mommy dan Daddy nya.
"Baiklah, kakak hati-hati disana. Jangan pergi-pergi sendiri, jika sudah selesai kamu bisa menghubungi Mommy atau Zayd. Supaya bisa menjemput kakak disana" ucap Mom Vita pada Zia dengan panjang lebar.
"Iya Mom. Ya sudah ya Mom, Zia matikan dulu panggilan nya" ucap Zia sebelum memutusakan panggilan telpon dari Mom Vita.
"Iya sayang. Kakak hati-hati" ucap Mom Vita yang langsung mematikan ppanggilan nya.
"Huh, maafkan Zia Mom" gumam Zia saat layar ponselnya sudah redup kembali.
Zia menghampiri kedua orang yang sedang duduk memperhatikan dirinya yang sedang menerima panggilan masuk dari Mom Vita. Zia langsung duduk dan menatap keduanya dengan tatapan heran nya.
"Kenapa kalian memandangi ku seperti itu?" tanya Zia dengan menatap keduanya bergantian.
"Tidak apa-apa. Hanya sedang heran saja, kenapa kamu berbohong jika kamu tidak bisa pulang cepat tanpa memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi" jawab Juan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Iya memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapan saya? Tidak bukan?" tanya Zia yang sudah merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan seperti ini.
"Napa Mommy dan Daddy malah-malah?" tanya anak kecil yang baru saja ulang tahun kemudian 3tahun nya.
"Kami tidak marah-marah, princess. Kami hanya berbicara saja" jawab Zia yang sudah bisa menetralkan perasaan nya yang tidak karuan.
"Benal?" tanya Quinzy yang memicingkan matanya malah terlihat sangat lucu sekali.
"Iya" jawab Zia dengan tersenyum dan mencubit gemas kedua pipi gembul Quinzy.
"Sekarang mendingan bobok saja. Sudah larut malam, tidak baik untuk anak-anak" ucap Zia yang membaringkan Quinzy untuk segera tidur.
Tidak membutuhkan waktu lama, Quinzy sudah tertidur. Zia akan bersiap untuk pulang, Zia membereskan barang-barangnya yang ada disana sebelum pulang.
Tapi saat sudah turun dari kamar Quinzy Zia dikagetkan oleh Juan yang langsung memeluk nya dari belakang.
"Jangan pernah tinggalkan aku. Please, tetap disisi mu dan jangan pernah pergi lagi" ucap Juan yang memeluknya.
Zia hanya diam. Entah kenapa perasaan nya juga sedih melihat Juan yang seperti ini kepadanya. entah apa yang harus dia lakukan kedepan nya.
"Aku haus pulang sekarang. Ini sudah sangat larut, please" ucap Zia yang tiba-tiba meneteskan air matanya.
__ADS_1
Juan melepaskan pelukan nya dan menatap Zia yang meneteskan air matanya. Juan memeluknya dengan erat sebelum membiarkan Zia untuk pulang. Juan juga mengecupi kepala Zia dengan penuh kasih sayang nya pada Zia.
Zia semakin terisak dalam pelukan Juan yang membuatnya dilema dan juga merasa nyaman.