
Mom Vita benar-benar mendukung semua yang akan dilakukan oleh Zico nantinya. Baik itu Joyce maupun Ara yang penting baik dan juga saling mencintai dan bisa saling menghargai satu sama lain.
Jika urusan Joyce dan Zico yang pernah melakukan hubungan diluar batas itu menjadi urusan yang paling penting dan juga bisa dibicarakan kembali. Apa lagi ini adalah menyangkut dengan perasaan dan juga hati. Jika Zico dan Joyce menikah dan akhirnya tidak bahagia dan berakhir dengan saling menyakiti lebih baik jangan dibiarkan seperti itu.
Pasti disini pihak perempuan yang disalahkan nantinya. Karena tidak bisa menjaga dirinya karena bergaul dengan pria melebihi batasnya. Tapi kita kembali lagi pada perasaan dan juga cinta. Jika pernikahan tidak adanya cinta dan sayang akan jadi seperti apa pernikahan itu sendiri? Apa akan selalu diam dan mencontohkan pada anak-anak kita nantinya? Tentu saja tidak bukan.
"Mommy akan selalu mendukung apapun keputusan abang nantinya. Sebaiknya abang melakukan sholat Istikharah, meminta petunjuk yang lebih yakin lagi. Dan mintalah yang terbaik yang akan Allah berikan pada abang. Jika Allah yang sudah memberikan jalan, maka semuanya akan baik dan juga bisa menjadi kebahagiaan untuk abang nantinya" nasehat dari Mom Vita sangat bijaksana dan itu patut untuk dituruti bagi anak-anaknya.
"Iya Mom, selama ini abang memang belum pernah melakukan itu semua. Semoga saja memang Allah akan memberikan jalan yang terbaik untuk abang nantinya" jawab Zico dengan pandangan yang mulai seperti biasa lagi. Tidak kosong seperti tadi saat baru bangun dari pengaruh obat bius.
"We all support brother and always will be (Kami selalu mendukung mu bang dan akan selalu ada)" ucap Zia yang langsung merangkul Zico dari belakang dan diikuti oleh Zayd. Sedangkan kedua saudaranya yang lain hanya mengangguk dan mengacungkan dua jempolnya untuk Zico.
"Thank you very much my brothers and sisters (Terimakasih saudaraku semua)" ucap Zico yang menerima pelukan dari Zia dan Zayd juga support dari Zoya dan Zio, dukungan dari mereka semua sangat berarti bagi Zico saat ini.
Semuanya tersenyum bersama dan saling berpelukan. Membuat Mom Vita semakin senang, karena dia sangat bisa mendidik anak-anaknya supaya selalu akur dan juga saling support satu sama lain. Itu semua sudah lebih dari cukup untuk seorang Ibu.
"Sekarang abang sudah boleh pulang. Dan juga bisa melakukan apapun yang abang inginkan, termasuk meledakan mainson Edison. Hahaha" ucap Zia yang langsung tergelak dengan ucapan nya sendiri.
TWING...
Zayd menoyor kepala Zia yang baru saja asal bicara pada Zico. Apa lagi membuat Zico sampai terfikirkan kembali bagaimana? Membuat Zayd geram pada mulut kakak nya ini yang suka asal ceplos jika bicara.
"Kamu apaan sih Zayd. Main toyor-toyor saja kepala kakak!" ucap Zia dengan suara kesalnya pada Zayd.
"Habisnya kakak itu kalo ngomong nggak pake Bismilah dulu" jawab Zayd dengan tak kalah sinis.
"Haduh, ini dua orang ini nggak bisa apa akur gitu? Akurnya itu yang lama gitu? Jangan selalu bikin orang pusing melihat kalian berdua" ucap Dad Louis yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan semua anak-anaknya yang baru saja akur harus bertengkar kembali.
"Dia duluan Dad. Masa kepala aku ditoyor begitu saja, nggak ada sopan-sopan nya sama kakak!" ucap Zia yang membela diri dan dia juga sudah mengerucutkan bibirnya.
"Masya Allah ini bibir" ucap Mom Vita yang mencomot bibir Zia dengan sangat gemasnya dan itu membuat Zia semakin kesal saja.
"Mommy nyebelin" ucap Zia yang langsung menghentakan kakinya dilantai dengan sangat keras dan langsung pergi lebih dulu.
Baru saja Zia keluar dari kamar rawat Zico malah berpapasan dengan Juan dan Quinzy yang ingin menjenguk Zico dengan membawa parcel buah dan Quinzy membawa bucket bunga yang sangat indah.
Bunga yang dibawa oleh Quinzy.
__ADS_1
"Mommy" ucap Quinzy saat melihat sang Mommy ada dihadapan nya saat ini.
"Loh, kok sudah disini aja?" tanya Zia yang berjongkok langsung mensejajarkan tingginya dengan Quinzy.
"Ici inin iat uncle Io" jawab Quinzy dengan bicara cadelnya.
"Tapi uncle nya mau pulang. Ya sudah tidak apa-apa, Izy masuk saja dengan Daddy oke" ucap Zia yang ingin pergi tapi tangan nya ditahan oleh Juan.
"Mau kemana? Bukan nya menemani malah mau kabur begitu saja. Ikut masuk juga dan perkenalkan aku pada semua keluarga kamu" ucap Juan dengan sangat tegas pada Zia.
Sedangkan Quinzy hanya menatap dua orang dewasa itu dengan tatapan bingungnya. Tapi tidak lama kemudian dia malah tersenyum, melihat Mommy nya yang memanyunkan bibirnya kesal.
"Mommy ucu, anyun taya ebek" ucap Quinzy yang tersenyum cekikikan menertawakan Mommy nya yang dia bilang seperti bebek.
"Enak saja seperti bebek" protes Zia yang langsung menuntun Quinzy dan juga menggandeng lengan Juan masuk kedalam lagi.
"Assalamualaikum" ucap ketiganya kompak.
Semua orang menatap pada pria tinggi tegap dan juga sangat keren, jangan lupakan ada anak kecil yang sangat lucu sedang membawa bucket bunga untuk orang yang sedang dia cari.
"Mommy, uncle Io ana?" tanya Quinzy yang mendongak menatap wajah Zia.
Quinzy langsung berlari menghampiri Zico dan memberikan bunga yang sedang dia bawa pada Zico.
"Uat uncle Io" ucap Quinzy dengan senyuman yang memperlihatkan gigi kecilnya yang seperti kelinci.
"Terimakasih, siapa nama kamu cantik?" tanya Zico pada Quinzy yang sangat cantik dan juga imut-imut.
"Ici" jawabnya dengan sangat semangat memperkenalkan dirinya pada Zico.
"Ici?" tanya Zico yang mengerutkan keningnya bingung.
"Iya, Ici" jawab Quinzy yang mengangguk berapa kali dan menatap wajah Zico.
Zico hanya tersenyum dan langsung memangku gadis kecil ini dengan sangat sayangnya. Bahkan mereka langsung akrab saja walau baru bertemu. Apa lagi Zico yang memang sangat menyukai anak-anak semakin senang melihat dan juga bisa bertemu juga dekat dengan Quinzy.
"Saya membawakan buah untuk anda" ucap Juan yang memberikan parcel buah pada Zico yang diterima oleh Mom Vita.
Karena Zico sedang memangku Quinzy dan juga memesangatgang bucket dari Quinzy. Quinzy senang bisa memiliki banyak uncle dan auntie juga.
__ADS_1
"Terimakasih, maaf tidak menyambut anda tadi dan juga jadi merepotkan" ucap Zico yang sedang menatap Quinzy yang sedang tersenyum.
"Sama-sama. Sama sekali tidak merepotkan, ini hanya buah dan juga bunga saja" jawab Juan dengan tersenyum pada Zico dan juga yang lainnya.
"Buat uncle mana? Kenapa uncle tidak dikasih bunga juga?" tanya Zayd dengan tatapan sedihnya pada Quinzy.
"Emangnya uncle atit uga?" tanya Quinzy dengan polosnya.
"Tentu saja tidak" jawab Zayd menggelengkan kepalanya dan itu langsung membuat Quinzy menepuk keningnya sendiri.
"Ata Daddy, unga ini utuk uncle akit. Adi nda akit nda aci unga" ucap Quinzy dengan suara cadelnya yang membuat semua orang langsung tergelak mendengar jawaban dari Quinzy.
"Hahaha. Kau harus sakit dulu Zayd, bisa dikasih bunga sama Izy" ucap Zia yang dengan puasanya menertawakan Zayd yang sekarang mengerucutkan bibirnya kesal mendengar ejekan dari Zia.
"Zia, kenapa kamu tidak bisa menjaga sikap didepan calon kamu?" tanya Zio yang tidak habis fikir dengan tingkah adiknya ini.
"Tidak ada jaim-jaimnya sama sekali didepan seorang pria" lanjutnya lagi dengan menggelengkan kepalanya saja.
"Dia ini sudah biasa bang. Bahkan bang Juan sudah tidak bisa berkata-kata lagi jika sudah berada didekat kakak" ucap Zayd yang malah semakin memanas-manasinya.
"Kalian ini bisa diam nggak sih. Kesel deh" ucap Zia yang sudah sangat kesal sejak tadi.
"Kamu juga. Kenapa hanya diam saja!" ucap Zia yang malah memarahi Juan.
"Iya maaf" hanya itu yang diucapkan oleh Juan pada Zia.
Sedangkan Zico hanya menggeleng saja melihat keduanya yang seperti itu. Zico masih asik dengan Quinzy yang sangat imut dan juga tidak berhenti berbicara, dan itu membuat Zico semakin senang dan juga merasa hilang sudah perasaan yang mengganjal didalam hatinya.
Mom Vita dan Dad Louis malah saling pandang dan juga mengedikan bahunya masing-masing, melihat tingkah putrinya yang sangat tidak bisa menjaga cara bicaranya pada Juan. Juan nya juga memang menerima saja dengan Zia yang seperti itu.
Kamar rawat untuk Zico sekarang malah ramai. Apa lagi Dharma dan kedua orang tuanya juga datang menjenguknya. Dan disinilah Mom Vita bisa melihat jika Zoya dan Dharma sedang ada masalah. Perasaan Mom Vita sangat peka dan juga sangat mengerti dari gesture tubuh Zoya maupun Dharma.
"Maaf kami telat menjenguk Tuan Muda Zico" ucap Ibunya Dharma pada Mom Vita dan Dad Louis yang sedang duduk berhadapan dengan Ibu dan Bapak nya Dharma.
"Tidak apa-apa. Justru saya berterimakasih, karena sudah mau repot-repot untuk menjenguk Zico disini" ucap Mom Vita yang merasa tidak enak pada kedua orang tua Dharma.
"Sama sekali tidak repot atuh Nyonya. Kami teh malah senang, bisa sekalian silaturahmi" jawab Bapak nya Dharma yang memang sangat senang bisa bertemu langsung dengan calon besan nya.
Jika dilihat oleh kedua orang tuanya Dharma, Mom Vita dan Dad Louis masih terlihat awet muda dan itu terlihat seperti adik kakak dengan anak-anaknya sendiri.
__ADS_1