Alam Tianwu

Alam Tianwu
Chapter 104. Monster Lima Elemen Vs Abercio Altair.


__ADS_3

Chapter 104. Monster Lima Elemen Vs Abercio Altair.


Monster Lima Elemen mengiring Abercio Altair menjauhi kerumunan orang yang sedang menonton, dia tidak ingin tujuannya melahap Abercio Altair diketahui siapapun.


Sedangkan Abercio Altair tersenyum tipis saat Kun Quentin terus dipukul mundur, dia belum menyadari jika telah berada di Hutan Belantara yang terkenal berbahaya.


Geografis Makam Peperangan Kuno sangatlah luas, dibagi menjadi 5 wilayah; Barat, Timur, Selatan, Tengah dan Utara. Pintu masuk ke Makam Peperangan Kuno berada di wilayah Utara, tepatnya dekat dengan lokasi Akademi Dewa Dewi. Saat ini masih banyak yang berpartisipasi dalam perburuan harta berada di wilayah Utara, sebab pintu masuk baru dibuka dua hari yang lalu.


Wilayah Utara terbagi menjadi beberapa lokasi yang berbahaya, salah satunya adalah Hutan Belantara, ada juga Lembah Bambu Racun, Kota Kuno dan Daratan Nisan Bertulis tempat pemakaman massal bagi korban peperangan.


Boom...


Kun Quentin menyerang dengan sangat kuat sehingga membuat Abercio Altair terhuyung-huyung kebelakang, sambil melihat Kun Quentin yang tertawa dan langsung kabur kedalam Hutan Belantara.


"Sialan!? Jangan kabur kamu!?" bentak Abercio Altair dan mengejar Kun Quentin.


Penonton terkejut melihat dua petarung masuk ke dalam Hutan Belantara, mereka akhirnya memutuskan untuk tidak mengikuti Abercio Altair dan Kun Quentin.


Yuna Aurora dan timnya segera menjauhi Lei Ziran dan banyak pria yang merayu, dia membawa timnya menuju lokasi netral, tepatnya perbatasan antara Daratan Nisan Bertulis dan Lembah Bambu Racun, yaitu Kota Kuno.


Yuna Aurora ingin bergabung dengan aliansi yang didirikan oleh para tetua dari Paviliun Penakluk Siluman dan Akademi Dewa Dewi. Dengan bergabung dengan aliansi, maka akan dengan mudah dapatkan informasi tentang Makam Peperangan Kuno dan lokasi yang berpotensi banyak tersembunyi harta langka.


Di dalam Hutan Belantara, Abercio Altair melihat banyaknya binatang mistik yang memiliki elemen tanah dan kayu, dia langsung berhenti saat menyadari telah berada di lokasi yang berbahaya.


"Siapa yang sekarang menjadi pengecut!" ledek Kun Quentin yang ikut berhenti dan mengangkat jari tengah.


Abercio Altair jelas marah melihat jari tengah Kun Quentin, tangan kanannya yang memegang tombak gemetaran dan mengeluarkan aura berwarna hitam, dia akan menggunakan Teknik Kitab Hitam yang tidak pernah dikeluarkan selama menjadi peserta Konferensi Tianwu.


Kun Quentin melotot melihat aura berwarna hitam, dia bukan takut kepada Abercio Altair, melainkan senang musuhnya memiliki Teknik Kitab Hitam yang tergolong langka. Jika dia berhasil melahap Abercio Altair, dia juga akan memiliki pengetahuan tentang Kitab Hitam.


"Hebat! Keluarkan semua segala kemampuanmu," ucap Kun Quentin sambil tangan kanannya memegang erat tombak api, sedangkan tangan kirinya disembunyikan di balik pinggangnya.


"Di Alam Tianwu, kamu satu-satunya orang yang berhasil memaksaku untuk menggunakan Kitab Hitam, terima ini ...," ujar Abercio Altair, lalu dia memutar tombaknya ke kiri dan ke kanan.


Suara gemuruh angin terdengar, pepohonan bergoyang-goyang dan perlahan mulai terangkat dari tanah. Namun, akar-akar pohon yang tercabut bergerak ke arah Abercio Altair.


Di luar Hutan Belantara, semua penonton yang akan kembali melanjutkan tujuannya segera merasakan aura kuat dari arah masuk dua petarung. Semua orang melihatnya Hutan Belantara, dimana pepohonan terangkat, lalu melihat aura berwarna hitam menyelimuti Hutan Belantara, setelah itu berdatangan banyak awan hitam.


Lei Ziran dan Javier Caldwell yang sedang merayu Yuna Aurora dan Qin Diao Chin segera membalikkan badan dan melihat ke arah Hutan Belantara, mereka berdua terkejut saat melihat aura hitam, ciri khas dari Kitab Hitam.


"Ini ... Ini auranya Abercio Altair... Ternyata dia memiliki Kitab Hitam selama ini!" Lei Ziran terkejut yang baru mengetahui kehebatan Abercio Altair, dia segera berlari sangat cepat seperti petir untuk menyelamatkan Kun Quentin.


Javier Caldwell juga mengikuti dengan berlari seperti angin, lalu disusul banyak pria yang ikut bersaing dalam merebut hati pujaannya.


Di Makam Peperangan Kuno ada Formasi Anti Terbang, sebab itu Lei Ziran dan semua orang yang masuk hanya bisa mengandalkan basis kultivasi dan elemen untuk bisa bergerak dengan cepat.

__ADS_1


Yuna Aurora, Qin Diao Chin dan timnya bernafas lega saat dua orang kuat yang selalu saja menganggu telah pergi. Mereka buru-buru menuju ke Kota Kuno untuk bergabung dengan aliansi sebelum para pria kembali mengganggu.


Hutan Belantara bagian pinggir menjadi porak-poranda karena kekuatan Kitab Hitam. Abercio Altair belum menyadari akar-akar pohon bergerak ke arahnya, dia mengira akar-akar pohon bergerak karena tersapu angin.


Kun Quentin yang menahan kekuatan Kitab Hitam sekuat tenaga untuk bergerak maju, agar dirinya lebih dekat dengan target. Abercio Altair tersenyum sinis melihat musuhnya malah maju dan bukannya menghindar, seakan-akan Kun Quentin terlihat bodoh dimatanya.


"Jurus pertama, Tombak Angin Phoenix!" teriakan Abercio Altair.


Muncul seekor burung Phoenix diatas kepala Abercio Altair. Burung Phoenix memekik ketika menatap wajah Kun Quentin sambil mengepakkan sayapnya. Lalu bermunculan badai angin dari empat mata penjuru, empat badai angin melesat ke arah Kun Quentin.


Kun Quentin mengeluarkan Teknik Kitab Merah, sambil tangan kanan mengendalikan akar-akar pohon. Seluruh tubuhnya terselimuti aura berwarna merah, lalu tangan kanan sekuat tenaga menghunuskan tombaknya ke arah Abercio Altair dan bukannya menghindari empat badai angin yang bergerak cepat.


Swosh...


Tombak api berubah menjadi ular raksasa dan melesat ke arah badai angin didepannya. Sebelum empat badai angin mengenai tubuhnya, Kun Quentin mengeluarkan Kun Liong dari tubuhnya untuk dijadikan tameng, lalu dia sendiri tiba-tiba berubah menjadi air dan meresap ke dalam tanah.


Kun Liong yang terbebas dari kendali Monster Lima Elemen masih terlihat linglung, dia baru menyadari ketika melihat badai angin bergerak cepat dan sangat dekat.


Boom...


Suara ledakan energi ketika Ular raksasa berbenturan dengan badai angin, namun serangan Kun Quentin dengan mudah dikalahkan dan badai angin masih terus bergerak cepat, ketiga badai angin lainnya membentur tubuh Kun Liong dan tiga kali suara ledakan memekakkan telinga.


Boom boom boom...


Swosh... Swosh...


Akar-akar pohon melesat dan membuat Abercio Altair terkejut setengah mati, dia menduga jika Kun Quentin mendapatkan bantuan, dia secara naluri mengayunkan tombaknya untuk menghancurkan akar-akar pohon dengan jurus yang sama.


Boom... Boom...


Rentetan ledakan empat badai angin menghancurkan akar-akar pohon. Disaat Abercio Altair akan menggunakan jurus keduanya, tiba-tiba kedua kakinya terselimuti tanah yang menahan pergerakannya.


Ketika akan menghancurkan tanah yang mengunci kedua kakinya, akar-akar pohon muncul dari dalam tanah dan melilit kedua tangannya.


"Bangsatt!!" umpatan Abercio Altair kepada orang yang membantu Kun Quentin, dia sekuat tenaga untuk menghancurkan akar-akar pohon dan tanah yang mengunci kakinya. Sedangkan Monster Lima Elemen tersenyum sinis dan sekuat tenaga mengendalikan elemen kayu dan tanah.


"Ahhh...!!" teriakan Abercio Altair dan energi kekuatan God Sovereign keluar dari tubuhnya, dia juga menggunakan jurus ketiga, yaitu Tombak Kemarahan Phoenix.


Akar-akar pohon terbakar hingga menjadi abu dan tanah seketika hancur berkeping-keping. Tubuh Abercio Altair seperti terbakar tapi tidak sedikitpun melukainya, dari atas kepala kembali muncul Api Phoenix yang mengepakkan sayapnya.


"Sial!?" umpatan Monster Lima Elemen yang berada didalam tanah tepat di atas kaki Abercio Altair, dia mendapat dampak dari kekuatan God Sovereign dan Kitab Hitam, tubuhnya 55% mengalami luka bakar.


Segera dan sebelum musuhnya mengetahui keberadaannya, Monster Lima Elemen berubah wujud menjadi Transformasi kedua, lalu dia membuka rahangnya lebar-lebar untuk melahap tubuh Abercio Altair yang ada diatasnya.


"Keluar kamu penge--" teriak Abercio Altair kepada seseorang yang telah membantu Kun Quentin, dia terhenti berkata ketika dari bawah terlihat rahang binatang besar yang akan menelannya.

__ADS_1


Abercio Altair yang melompat untuk menghindari mulut Monster Lima Elemen, namun rahang lebih cepat menutup.


Bang...


Terdengar suara ledakan terendam di dalam rahang Monster Lima Elemen ketika Abercio Altair berusaha keras untuk keluar. Di dalam mulut Monster Lima Elemen, Abercio Altair terkejut melihat dari kerongkongan Monster Lima Elemen mengeluarkan banyak tentakel dan langsung melilit tubuhnya.


Monster Lima Elemen yang sudah terluka kini makin parah setelah Abercio Altair memukul rahang dalamnya, dia segera masuk ke dalam tanah untuk mencerna tubuh Abercio Altair dan juga memulihkan kondisinya.


Setelah Abercio Altair berhasil dilahap oleh Monster Lima Elemen, Hutan Belantara kembali seperti sediakala, tapi meninggalkan kondisi yang telah porak-poranda.


Ternyata, aksi Monster Lima Elemen melahap Abercio Altair diketahui oleh Lei Ziran dan Javier Caldwell, mereka berdua terdiam membeku karena syok melihat monster yang mengerikan. Terlihat tubuh mereka berdua gemetaran saking takutnya terhadap Monster Lima Elemen...


...****************...


Zhi Shimo keluar dari pintu dimensi, seketika matanya menjadi silau karena lama tidak terkena sinar matahari. Setelah beradaptasi dengan lingkungan, dia memeriksa sekitarnya dan berada di puncak Gunung Jiuhua, dia menjadi teringat akan perkataan Putri Niu.


"Gunung Jiuhua lebih mengerikan dari Lembah Seribu Siluman, sedikit siluman tapi memiliki kekuatan yang mengerikan, belum lagi dengan binatang mistik yang banyak dan juga kuat!"


Zhi Shimo tersenyum yang teringat awal-awalnya terhisap ke dalam kawah bersama timnya, dia memejamkan mata sambil menghirup udara segar dan menyerap sinar matahari yang lama tidak dirasakannya


Dia seketika membuka mata saat merasakan aura Kitab Hitam yang berada di wilayah pusat Alam Tianwu. Dengan Mata Langitnya, Zhi Shimo mampu melihat lokasi Makam Peperangan Kuno yang sangat jauh.


Mata Langit menembus Formasi Perlindungan yang menyelimuti wilayah Makam Peperangan Kuno, lalu kedua matanya mengunci lokasi pertarungan antara Monster Lima Elemen dan Abercio Altair.


Mata Langit terus mengamati Abercio Altair yang berada di dalam mulut Monster Lima Elemen, dia terkejut saat melihat banyak tentakel keluar dari kerongkongan.


(Berdesis)


Disaat Zhi Shimo sedang mengamati Monster Lima Elemen, dia mendengar suara desisan ular dari bawah puncak gunung, lalu dia melihat ular yang pernah kabur saat melawan Phoenix ekor sembilan. Si ular yang membuka mulutnya untuk melahap Zhi Shimo, namun seketika menutup rahangnya, dia ketakutan dengan aura kekuatan yang mengerikan.


"Aku lapar, apa kamu mau aku panggang?" kata Zhi Shimo kepada si ular.


Spontan si ular langsung kabur karena nalurinya untuk bertahan hidup, akhirnya niat untuk melahap buruannya pun gagal lagi. Zhi Shimo terkekeh-kekeh sambil melihat si ular yang ketakutan.


Di dalam hati si ular, "puasa satu tahun lagi!"


Zhi Shimo kembali melihat ke arah Makam Peperangan Kuno untuk menyelidiki Monster Lima Elemen. Namun, tiba-tiba Alam Tianwu bergetar hebat dan membuatnya terkejut.


Dengan cepat tanah mulai mengeluarkan retakan dan menjalar kemana-mana. Tapi itu hanya sesaat, seketika Alam Tianwu kembali normal dan membingungkan Zhi Shimo.


Tidak hanya dia saja yang terkejut dan menjadi bingung dengan Alam Tianwu yang bergetar sesaat, semua penghuninya juga mengalami hal yang sama.


"Apa yang terjadi?" gumam Zhi Shimo sambil melihat kedalam retakan tanah.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2