
Chapter 34. Istana Dewa Abadi.
Kemudian, semua orang baru menyadari telah berada di tempat yang membuat bulu kuduk berdiri, kecuali Zhi Shimo yang terlihat tenang sambil berjalan untuk mengambil Orb Dragon Sky tahap menengah.
"Jadi benar cerita Dewa Abadi telah terbunuh" seruan Putri Niu.
Bagi generasi muda Ras Siluman, mereka mengenal Dewa Abadi dari mulut ke mulut dan juga mempelajari catatan sejarah. Tapi, tidak ada yang tahu tempat makam Dewa Abadi berada yang katanya telah terbunuh. Baru saat ini Putri Niu dan yang lainnya menemukan makam Dewa Abadi dan membuat mereka sangat bahagia.
"Kita beruntung bisa menemukan makam leluhur kita!" imbuh Lu Guniang yang terlihat kedua matanya akan mengeluarkan air mata.
Tian Zhi memandang keempat wanita Siluman Putih itu setelah mengambil Orb Dragon Sky dan menyimpannya, lalu dia segera bertanya, "aku dengar desas-desus Dewa Abadi memiliki teknik yang mampu membangkitkan orang mati, apakah benar?"
Zhi Shimo bertanya demikian karena kemampuan Dewa Abadi seperti Third Eye Stone. Jika memang benar, maka dia juga akan memiliki musuh yang sama, musuh yang telah membunuh Dewa Abadi.
Yuna Aurora melirik Lu Guniang, karena ibunya juga memiliki teknik yang mampu membangkitkan orang mati, Teknik Kebangkitan. Seandainya Dewa Abadi memiliki teknik yang sama, Yuna Aurora berasumsi jika Dewa Abadi berhubungan dengan keluarganya. Teknik Kebangkitan merupakan andalan Keluarga Aurora, dan Azalea Aurora telah memberikan peringatan agar tidak memberitahukan kepada siapapun.
"Aku tidak tahu, sebab tidak ada catatan leluhur kami memiliki teknik yang kamu katakan itu!" jawab Putri Niu yang mewakili ketiga siluman, dia segera menjawab karena statusnya lebih tinggi dari ketiga siluman.
Disaat Zhi Shimo ingin bertanya lagi, suara tangisan bayi terdengar, lalu dia dan semua orang mengalihkan pandangan ke sumber suara. Zhi Shimo segera berjalan untuk menemukan suara, semua wanita juga mengikutinya dengan kewaspadaan penuh.
Xu Huang merapatkan tubuhnya pada Juan Rou, dia terlihat ketakutan dengan tempat makam Dewa Abadi yang sangat seram.
"Tempat ini tampak tidak pernah dikunjungi dalam waktu yang sangat lama," kata Yuna Aurora yang bergandengan dengan Zhi Shimo.
Semua orang mengangguk setuju, sebab tidak ada jejak ada seseorang yang pernah mendatangi makam Dewa Abadi. Semakin dekat dengan makam, Zhi Shimo melihat banyak tulang, kerangka manusia dan binatang yang sangat besar.
"Apakah jaman dulu, binatang seperti Celestial Snake?" gumam Yusan yang melihat banyak kerangka binatang dimana-mana.
"Hati-hati, banyak roh jahat!" peringatan Putri Niu dengan dia berjalan cepat untuk mendahului Zhi Shimo, "biar aku yang memimpin!" pintanya dengan mengeluarkan banyak dupa.
Putri Niu melakukan ritual penghormatan dan diikuti oleh Lu Guniang, She Xia dan She Jinjing. Zhi Shimo dan yang lainnya hanya melihat cara ritual penghormatan mereka.
Putri Niu membuat lingkaran berdiameter tujuh meter, lalu setiap garis lingkaran itu ditancapkan dupa, setiap dupa berjarak setengah meter. Lalu ditengah lingkaran itu, Lu Guniang membuat simbol yang unik.
Zhi Shimo, Yuna Aurora dan Yusan dengan cermat mengamati keempat siluman tersebut saat membuat simbol-simbol yang unik. Di dalam lingkaran, Lu Guniang membuat dua segitiga yang saling tumpang tindih. Ditengah dua segitiga itu ditancapkan satu dupa.
Setelah selesai membuat simbol-simbol, Putri Niu menyalakan semua dupa, lalu mereka menari di luar simbol segitiga dan bernyanyi dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh Ras Siluman, bahasa aneh yang tidak pernah Zhi Shimo dengar.
"Bahasa apa yang mereka ucapkan?" tanya Zhi Shimo kepada Yuna Aurora.
__ADS_1
"Bahasa Siluman, bahasa yang digunakan Ras Siluman untuk berkomunikasi dengan Dewa Abadi!" sahut Yusan.
Bahasa Siluman merupakan ciptaan Dewa Abadi untuk berkomunikasi dengan roh, bahasa khusus untuk siluman. Jika ras lain menggunakan bahasa ini untuk berkomunikasi dengan Dewa Abadi, maka Dewa Abadi tidak akan merespon, dikarenakan ras lain bukan bagiannya.
Dengan empat wanita siluman itu melakukan ritual penghormatan selama waktu satu dupa, banyak roh jahat yang berteriak ketakutan dengan menjauhi dan bersembunyi kedalam tanah.
Kemudian, tiba-tiba tanah berguncang hebat seperti gempa, lalu secara perlahan bangunan yang runtuh mulai menyatu, kerangka manusia dan binatang yang tertimbun tanah pun berderak. Tian Zhi dan semua orang segera mundur menjauhi tulang-tulang itu, kecuali keempat wanita Siluman yang terus bernyanyi dan menari semakin bersemangat.
Bangunan-bangunan yang tadinya seperti makam mulai terlihat bentuk aslinya, dimana membentuk sebuah istana megah, indah dan besar. Tulang Naga dan manusia juga bergerak menuju ke istana. Tulang-tulang itu menempel pada dinding istana dan membentuk sebuah ornamen unik seperti sebuah lukisan. Lukisan itu seperti menceritakan tentang perjalanan Dewa Abadi.
Batu Cahaya juga ikut bergerak dan membentuk jalan yang menyala berwarna-warni. Selain itu, Batu Cahaya juga banyak yang menempel di dinding istana dan memperjelas ornamen.
"Wow!" seruan semua orang yang takjub mendongak untuk melihat istana yang setinggi tiga puluh meter.
Kini tempat yang tadinya seram berubah menjadi menenangkan hati dan memanjakan mata. Tumbuhan warna-warni dan pepohonan pun mulai keluar dari tanah, semakin mempercantik keindahan istana. Sekarang, setelah tempat makam Dewa Abadi berubah, pandangan pertama yang dilihat adalah seperti berada di dunia bawah tanah.
Keempat wanita siluman itu segera berhenti melakukan ritual penghormatan, mereka kegirangan dengan langsung bersujud untuk menghormati Dewa Abadi yang merupakan leluhurnya.
Zhi Shimo melihat Batu Cahaya membentuk empat jalan baginya dan semua orang. Kemudian, keempat wanita siluman itu mengikuti jalan yang menyala-nyala dengan indah untuk menuju pintu istana. Zhi Shimo dan timnya segera mengikuti keempat wanita siluman.
"Apakah kalian sebelumnya pernah ke sini?" tanya Zhi Shimo kepada keempat wanita siluman itu.
"Tidak pernah!" jawab Putri Niu sambil menoleh ke belakang untuk melihat Zhi Shimo.
"Apa yang kami lakukan tadi, merupakan ritual yang biasanya digunakan setiap satu tahun sekali untuk memberikan penghormatan kepada Dewa Abadi. Namun, jika ada prasasti atau patung Dewa Abadi ditempat terpencil, semua Ras Siluman akan melakukan hal seperti tadi!" jawab Lu Guniang dan di anggukkan ketiga wanita siluman.
Ras Siluman Putih dan Hitam akan bersatu ketika memperingati hari kelahiran Dewa Abadi, mereka melakukan ritual penghormatan seperti yang dilakukan oleh keempat wanita siluman itu.
Sesampainya di depan pintu masuk istana, semua orang melihat papan nama yang terbuat dari emas dan perak. Papan nama itu bertuliskan "Istana Dewa Abadi".
"Bagaimana caranya kita masuk?" tanya Xu Huang yang tidak sabaran untuk mendapatkan harta lagi, dia menduga jika didalam istana ada banyak harta berharga.
"Tidak tahu!" jawab Putri Niu sambil memeriksa pintu masuk ke Istana Dewa Abadi.
Sedangkan Zhi Shimo berjalan ke kiri untuk melihat lukisan yang terbuat dari tulang-tulang binatang dan manusia, dia ingin mempelajari lukisan tentang perjalanan Dewa Abadi semasa hidupnya.
Setelah dilihat dari dekat, tulang-tulang itu mengeluarkan energi spiritual yang menciptakannya lukisan, lalu Batu Cahaya itu sebagai pewarnanya.
Zhi Shimo melihat Batu Cahaya itu membentuk seperti meteor yang jatuh ke Alam Tianwu. Yuna Aurora juga ikut melihat lukisan tanpa melepaskan tangan Zhi Shimo.
__ADS_1
Kemudian, Zhi Shimo berjalan untuk melihat lukisan berikutnya, dimana dari batu meteor itu keluar sosok pria muda usia 17 tahun, pria itu adalah Dewa Abadi saat masih remaja.
"Aku perkirakan, batu meteor itu merupakan alat transportasi antar bintang!" tebak Tian Zhi dengan melihat lukisan.
"Bisa jadi! Aku menebak dia bukan asli dari Alam Tianwu...," sahut Yuna Aurora sambil terus mengamati lukisan Dewa Abadi.
"Teknologi modern ... Aku perkirakan dia berasal dari masa depan, jika dilihat alat transportasinya. Coba lihat pakaiannya yang tidak sama seperti kita dan waj--!"
Tian Zhi terkejut saat melihat wajah Dewa Abadi dari dekat sangat mirip dengannya, sehingga dia tidak melanjutkan perkataan. Yuna Aurora melongo dan mencocokkan wajah Dewa Abadi dengan Zhi Shimo. Namun, wajah Dewa Abadi tidak memiliki tanda lahir seperti milik Zhi Shimo.
Zhi Shimo menebak asal Dewa Abadi dari masa depan, karena dia pernah mendapatkan pengelihatan dimasa depan saat mendapatkan Mahkota Maharaja waktu itu.
"Kebetulan mirip! Tapi masih lebih tampan kamu serta lebih unik!" ucap Yuna Aurora setelah membandingkan wajah Dewa Abadi dengan kekasihnya.
"Kamu juga adalah wanita tercantik yang pernah aku temui!" pujian Zhi Shimo sambil menyentuh hidung Yuna Aurora.
Seketika Yuna Aurora tersipu malu, ada rasa bangga di hati menjadi satu-satunya wanita tercantik bagi Zhi Shimo, hatinya makin tenang saat melihat wajah Yusan dan keempat wanita siluman yang berada di bawahnya. Namun, mengingat Qin Diao Chin dan Qin Lianshi, dia menjadi khawatir jika kalah bersaing.
Kemudian, Zhi Shimo berlanjut ke lukisan berikutnya. Kali ini lukisan itu menunjukkan Dewa Abadi sedang bertarung dengan banyak binatang di Alam Tianwu dan menaklukkannya.
"Senior Yuna, coba letakkan telapak tangan mu disini, siapa tahu pintu bisa terbuka!" pinta Yusan kepada Yuna Aurora, sambil melambaikan tangan tanda memanggil.
Keempat wanita siluman, Yusan, Ming Yun, Xu Huang dan Juan Rou melihat cetakan telapak tangan diantara dua pintu istana, mereka menebak jika pintu itu bisa terbuka jika ada telapak tangan yang cocok sebagai kunci. Mereka sudah mencoba satu per satu dengan mengalirkan energi spiritual, namun pintu istana tetap tidak terbuka.
Yuna Aurora dan Zhi Shimo segera datang dan berhenti ketika melihat pintu istana. Yusan segera meminta Yuna Aurora untuk meletakkan telapak tangan di pintu istana.
Yuna Aurora segera meletakkan telapak tangan di cetakan, mengalirkan energi spiritual sambil mendorong pintu istana. Namun, pintu istana tidak bergerak sama sekali, bahkan tidak memicu reaksi apapun.
"Giliran mu," kata Yuna Aurora dengan wajah tak berdaya, dia telah mengeluarkan segala kekuatan untuk mendorong pintu istana.
"Kekuatan sama seperti kalian, jelas tidak mungkin bisa membuka pintu!" ujar Zhi Shimo, dia mengamati pintu untuk menemukan petunjuk.
"Dicoba saja, siapa tahu ada reaksi!" harap Putri Niu dengan mengedipkan mata menggoda Zhi Shimo.
Yuna Aurora yang melihatnya mendengus kesal, lalu dia menghalangi pandangan Putri Niu. Xu Huang segera mengalihkan perhatian semua orang dengan mengeluarkan palu, dia berniat untuk menghancurkan pintu istana.
"Hancurkan saja!" kata Xu Huang dengan semangat dan bersiap-siap.
"Coba saja jika bisa!" kata Ming Yun yang jarang berbicara, sebab dia malu jika ada Zhi Shimo. Ming Yun menyukai Zhi Shimo, tapi takut dengan Yuna Aurora sebagai seniornya.
__ADS_1
"Jangan!!" cegah keempat wanita siluman yang tidak mau merusak milik leluhurnya, mereka langsung menghalangi Xu Huang dengan tatapan bengis.
Xu Huang tertawa ringan dan menyimpan senjatanya. "Aku hanya bercanda!" alasannya yang takut mendapatkan pukulan lagi, dia segera bersembunyi di belakang Juan Rou.