
Chapter 36. Dewa Abadi.
Zhi Shimo perlahan membuka matanya. Pandangan pertamanya, melihat langit-langit kamar yang berwarna putih, lalu melihat benda kristal bercahaya yang digantung pada atap kamar.
"Ini seperti di dunia modern yang aku lihat dari pengelihatan masa depan!" gumam Zhi Shimo yang teringat.
Benda kristal yang bercahaya dan menggantung adalah lampu hias, Zhi Shimo pernah melihatnya saat bertemu dengan Mahkota Maharaja.
Lalu dia melihat ke kanan, dimana ada lemari geser tiga pintu, ada meja bundar yang terbuat dari bahan marmer dan empat kursi.
Zhi Shimo segera duduk saat memastikan dia telah berada di dunia modern, lalu dia memikirkan kejadian saat menemukan makam Dewa Abadi hingga membawanya ke dunia modern.
Kemudian, dia melihat jendela di samping tempat tidur, dimana melihat gedung-gedung pencakar langit, ada pula pesawat terbang yang sedang melintas.
Disaat akan berdiri, pintu kamar terbuka. Zhi Shimo segera waspada dengan mengeluarkan energi Kunang-kunang untuk melindunginya. Namun, dia syok saat melihat pria yang sangat mirip dengannya.
Pria itu tersenyum dan terlihat lesung pipinya, dia menggunakan pakaian jas hitam slim fit, pakaian dalam lengan panjang berwarna putih dan berdasi hitam, gaya rambut pendek (Comma Hair).
Lalu dia berbicara kepada Zhi Shimo.
"Akhirnya kamu bangun! Aku tahu kamu pasti kebingungan dengan apa yang kamu alami. Tenang dulu dan hilangkan energi Kunang-kunang mu!"
Zhi Shimo menghilang energi Kunang-kunang sambil tetap waspada dengan kembarannya.
"Apakah kamu dari masa depan?" tanya Zhi Shimo setelah tenang.
Pria itu duduk di kursi, dengan sandaran kursi dia jadikan tumpuan kedua lengan.
"Tepat! Aku adalah kamu, kamu adalah aku. Kamu dari masa lalu dan aku dari masa depan. Aku adalah Dewa Abadi dan kamu adalah Dewa Binatang." jawabnya sambil mengeluarkan benda dari saku baju, benda itu adalah handphone.
Zhi Shimo melihat handphone itu, dan kembali bertanya tentang hal yang penting, "jika kita sama, kenapa nama ke-Dewa-an kita berbeda?"
"Karena kita abadi!" jawabnya singkat.
Zhi Shimo tertawa mendengar ucapan kata abadi, sebab baginya tidak ada di alam semesta yang abadi, semua hal pada akhirnya akan terus berganti.
"Itu artinya kamu tidak bisa mati dan dibunuh, kan? Keabadian hidup memang diburu oleh setiap kehidupan, namun apa arti bisa hidup abadi tapi mengalami banyak hal yang menyakitkan. Kehilangan yang kita cintai, kehilangan semuanya, tapi kita tidak menua, hidup terus untuk selamanya... Benar-benar melelahkan!" cemoohan Zhi Shimo.
Dewa Abadi tidak marah, dia sudah tahu akan jawaban Zhi Shimo, sambil memainkan handphone dia berbicara.
"Memang kita Abadi, bahkan jika Petir Semesta yang bertindak untuk membunuh kita, kita tetap tidak akan mati. Melelahkan? Apanya yang melelahkan jika sudah terbiasa! Nikmati saja kehidupan ini, kamu bisa menjadi buruk hari ini, keesokan hari kamu bisa menjadi baik Berikutnya, kamu bisa menjadi munafik, naif dan angkuh. Langkah kita dimulai dari selangkah, seterusnya juga selangkah. Satu ditambah satu, hasil tetap satu, karena kita melangkah-nya juga selangkah."
Zhi Shimo merenungkan ucapan Dewa Abadi. Satu adalah kunci yang terkandung dalam ucapan Dewa Abadi, yang artinya adalah tunggal, tidak terbagi maupun berkurang.
__ADS_1
"Bagaimana kita bisa menjadi abadi? Lalu apa tujuanmu membawaku ke sini? Dan, saat ini aku berada di mana?" cecar Zhi Shimo yang sudah paham akan ucapan Dewa Abadi.
Dewa Abadi melihat Zhi Shimo dan kembali memainkan handphone yang terus-menerus mengeluarkan suara notifikasi.
"Aku jawab yang paling mudah dulu. Kita berada di Bumi. Tempat yang menyenangkan dan netral dari apapun, sebab itu Yuna Aurora sangat melindungi Bumi. Bumi adalah tempat dimana kecerdasan manusia diuji, tapi sekaligus juga banyak kemunafikan karena kecerdasannya. Aku memilih Bumi karena banyak orang yang pintar namun juga menjadi bodoh. Sedangkan banyak orang yang cerdas memilih diam dan tidak seperti orang pintar...,"
Dewa Abadi berhenti sejenak sambil menyalakan sebatang rokok, lalu dia mengeluarkan asap rokok keatas hingga membentuk angka nol.
"Aku suka disini karena banyak orang yang selalu disibukkan dengan urusan sederhana dan melupakan urusan penting. Aku paling suka memainkan ego mereka yang memuja keyakinannya. Mereka seperti sebatang rokok ini, mudah tersulut api dan lenyap untuk selamanya. Tapi akan ada lagi, dan akan terulang seperti sebelumnya...,"
Zhi Shimo menangkap sebungkus rokok yang dilemparkan oleh Dewa Abadi, lalu dia segera mengikuti apa yang dilakukan oleh Dewa Abadi, menyalakan sebatang rokok.
Zhi Shimo pun terbatuk-batuk saat menyedot rokok yang sangat tidak menyenangkan mulut, terasa pahit dan di dada membuat sesak nafas.
Dewa Abadi menertawakan Zhi Shimo, lalu dia mengajarkan caranya. "Serap filter ini secara perlahan dan asapnya jangan ditelan. Lalu hembuskan secara perlahan dan kamu akan merasakan sensasi yang berbeda."
Setelah beberapa kali terbatuk, Zhi Shimo akhirnya bisa merasakan sensasi tenang. "Ini seperti candu?" penilaiannya terhadap rokok yang buruk bagi kesehatan.
Sekali lagi Dewa Abadi tertawa, lalu dia mengeluarkan banyak kardus yang berisi rokok di lantai. "Ambil dan racuni dunia kultivator!" kata Dewa Abadi yang mengajarkan buruk kepada Zhi Shimo.
Biarpun tahu itu buruk, Zhi Shimo tetap mengambil semua kardus rokok dan menyimpannya di dalam cincin dimensi.
"Apakah tidak ada lagi?" tanya Zhi Shimo dan tertawa bersama Dewa Abadi.
"Tentang, dunia ini aku adalah pimpinan kartel dalam segala bidang. Apapun yang kamu butuhkan untuk dibawa pulang, segera minta!" jawab Dewa Abadi.
Zhi Shimo memikirkan apa yang dia tidak milik di Bumi, berhubungan baru pertama kali disini, dia ingin melihat Bumi terlebih dahulu.
"Ajak aku keliling di Bumi! Tapi, jawab dulu pertanyaan kedua ku!" pinta Zhi Shimo.
Dewa Abadi sudah tahu apa yang akan dibutuhkan oleh Zhi Shimo, dia segera menghubungi semua bawahannya untuk menyiapkan semuanya di gudang.
"Tujuan ku membawamu ke Bumi, karena Bumi adalah tempat segala sumber emosi, banyak pula reinkarnasi yang berasal dari sini, mereka hidup baru di dunia kultivator. Yuna Aurora telah mengetahuinya, dia cantik, egois, penyayang, tapi juga berbahaya. Berikan Kitab Asal Muasal Alam Semesta, aku akan menyebarkan setiap beberapa lembaran keseluruhan Alam Jagat Raya...," jawab Dewa Abadi dan meminta kepada Zhi Shimo.
Zhi Shimo tidak segera memberikan apa yang diinginkan oleh Dewa Abadi, sebab jawabannya tidak memuaskan hatinya, dan apa maksudnya dengan segala sumber emosi di Bumi?
"Jangan khawatir, kita adalah satu!" ucap Dewa Abadi agar Zhi Shimo tidak ragu-ragu.
Zhi Shimo mengeluarkan empat Kitab Asal Muasal Alam Semesta. Dewa Abadi hanya melihat kitab itu dan melayang di depan mereka. Kemudian, empat Kitab Asal Muasal Alam Semesta terbagi-bagi menjadi beberapa bagian dengan mudah.
Zhi Shimo sedikit terkejut melihat Dewa Abadi begitu mudahnya membuka Kitab Asal Muasal Alam Semesta, padahal dia dan Celestial She telah mencoba untuk membukanya namun tidak pernah berhasil.
Setelah Kitab Asal Muasal Alam Semesta terbagi, Dewa Abadi mengeluarkan banyak bola besi yang mirip dengan meteor di lukisan, ukurannya sebesar buah semangka.
__ADS_1
Bola besi itu terbuka dengan sendirinya, lalu setiap satu bagian kitab itu masuk kedalamnya. Setelah masuk, bola besi kembali seperti semula dan melesat ke langit tanpa menghancurkan atap kamar.
Bola besi itu menyebar ke segala arah dengan kecepatan cahaya, Zhi Shimo yang melihatnya takjub dengan teknologi modern.
"Jika Yuna Aurora mengetahuinya dan dia mencurinya, dia akan memberikan kepada mereka (orang tua), itu akan sangat berbahaya bagi semua kehidupan di seluruh Alam Jagat Raya. Kamu jangan khawatir tentang siklus Samsara, aku sudah mengaturnya!" ungkap Dewa Abadi yang tujuan agar Zhi Shimo tidak kecolongan.
"Aku juga tidak bodoh memberikan kepadanya!" sanggah Zhi Shimo, karena dia tahu betapa pentingnya Kitab Asal Muasal Alam Semesta.
"Aku tahu! Tapi, saat kamu berada di Alam Tianwu, keadaanmu sangat lemah dan akan dimanfaatkan oleh para penguasa busuk itu! Apakah kamu tidak ingat ucapan kakek? Alam Suci sedang mengawasi mu, hati-hati saat menggunakan Batu Keabadian, karena itu aku menyebarkan bagian-bagian Kitab Asal Muasal ... Jangan sampai kamu membawa semua hal penting yang menyangkut kehidupan alam semesta... Apa kamu paham?" tutur Dewa Abadi dengan tegas.
Dewa Abadi ingin memperbaiki kesalahannya dimasa lalu, dia tidak ingin Zhi Shimo menjadi tempat penampungan benda berharga dan dipanen oleh musuhnya. Seandainya, entah itu Deity atau Yaksa yang berhasil menangkap Zhi Shimo, maka mereka akan memiliki Batu Keabadian dan Kitab Asal Muasal Alam Semesta. Jika itu dimiliki mereka, hal yang mengerikan akan terjadi melebihi bencana Petir Semesta.
Zhi Shimo akhirnya paham dengan rencana Dewa Abadi, sedikit rasa penasarannya terobati. "Bagaimana dengan yang terakhir?" tanyanya.
"Batu Keabadian sesuai namanya!" jawab Dewa Abadi dengan menaik turunkan kedua alisnya dan sambil tersenyum lebar.
"Hahaha!"
Zhi Shimo tertawa yang akhirnya mengerti kenapa nama ke-Dewa-an bisa berganti, karena semua itu terkait dengan Batu Keabadian. Dewa Abadi pun ikut tertawa.
Setelah beberapa saat, kembali suasana kamar menjadi hening ketika Zhi Shimo masih memiliki banyak pertanyaan di benaknya.
"Aku bisa menjawab semua keingintahuan mu atau kamu bisa memilih untuk mencari jawaban sendiri dan mengalami bagaimana kehidupan yang dipenuhi misteri!" sela Dewa Abadi sebelum Zhi Shimo bertanya.
Zhi Shimo berpikir akan pilihan yang diberikan oleh Dewa Abadi, seandainya dia mengetahui semua perjalanannya hingga menjadi Dewa Abadi, maka dia tidak akan lagi mengalami kehidupan yang penuh warna.
"Lebih baik menemukan jawabannya sendiri, sebab saat aku tahu nanti, itu akan mempengaruhi banyak kehidupan!" jawab Zhi Shimo yang dengan tegas tidak ingin lagi bertanya tentang masa depan.
"Aku sudah tahu! Hahaha!" kata Dewa Abadi dan kembali tertawa.
"Perasaanku, aku jarang tertawa seperti ini, baru saat berada di Alam Tianwu bisa tertawa lepas," kata Zhi Shimo yang heran melihat dirinya di masa depan selalu banyak tertawa.
Dewa Abadi berhenti tertawa, lalu dia kembali memainkan handphone. "Apakah jadi mengelilingi Bumi, disini banyak wanita cantik dan menarik, berbagai macam jenis makanan dan minuman yang akan menggoda lidah!" ajak Dewa Abadi agar tidak jenuh berada di dalam kamar.
"Jadi benar, adanya Ras Siluman karena Third Eye Stone?" tanya Zhi Shimo yang tidak sabaran untuk mengetahui sejarah.
Dewa Abadi mengangguk sebagai jawaban, lalu dia berdiri. "Keunggulan Ras Siluman dalam hal pesona seperti Ras Rubah dan Ular, tapi lemah dalam hal emosinya.
Zhi Shimo mengangguk paham dan juga ikut berdiri. Lalu Dewa Abadi mendekati Zhi Shimo dan menepuk bahunya. Seketika tubuh Dewa Abadi dan Zhi Shimo menjadi satu.
Tubuh Zhi Shimo tiba-tiba menjadi lemah dan secara perlahan memejamkan mata.
"Kamu ...." kata Zhi Shimo sebelum pingsan ketika Dewa Abadi seakan-akan mengendalikan tubuhnya.
__ADS_1
"Semua demi masa depan kita!" ungkap Dewa Abadi setelah mengendalikan tubuh Zhi Shimo.
Setelah itu, keadaan di dunia modern berubah, kini Zhi Shimo telah kembali ke gua dimana tempat tinggal Monster Mounth...