
Chapter 43. Sisi Lain Alam Tianwu!
...****************...
Setelah Zhi Shimo dan timnya terhisap kedalam lubang kawah, tidak jauh dari kawah itu datang Kun Ashi, Kun Liong, Wu Chyou, Wu Jin dan dua puluh orang. Mereka melihat apa yang dialami oleh Zhi Shimo dan timnya.
Kemudian Kun Ashi yang menjadi pemimpin segera turun dekat dengan bibir kawah, lalu dia mengeluarkan kulit binatang yang ternyata sebuah peta Alam Tianwu. Kun Ashi tersenyum saat melihat peta, lalu kembali memasukkan peta kedalam Pagoda Penjara sebelum diketahui timnya.
Peta Alam Tianwu sengaja diberikan oleh Kaisar Kun dan sudah ada didalam Pagoda Penjara, dia melakukan ini agar putrinya menjadi yang terbaik dalam Konferensi Tianwu.
"Apakah kita harus mengikuti mereka?" tanya Kun Liong kepada Kun Ashi, dia khawatir jika mengikuti Zhi Shimo tidak bisa kembali.
"Iya, tapi kita akan terpisah satu sama lainnya. Kawah itu adalah sarang Siluman Laba-laba dan tidak berbahaya jika kalian menggunakan elemen api, petir dan es. Didalam kawah itu banyak sekali harta berharga yang bermanfaat untuk meningkatkan kekuatan. Ayo, kita masuk saja dan mengandalkan keberuntungan," jelas Kun Ashi yang telah mengetahuinya setelah melihat peta.
Kun Liong dan timnya seketika menunjukkan wajah penuh keserakahan, dan tanpa menunggu Kun Ashi masuk terlebih dahulu, mereka segera terjun ke dalam kawah. Tubuh mereka langsung terhisap ke dalam lubang kawah, seperti batu yang dilemparkan.
Tinggal Kun Ashi seorang diri dengan senyuman kemenangan. "Begitu serakah kalian jika mengetahui ada harta berharga!" gumam Kun Ashi yang mengejek timnya, dia sebenarnya tidak senang Kun Liong diberikan kekuatan secara instan oleh ayahnya, sebab khawatir dia dikalahkan.
Namun, setelah mengetahui Pagoda Penjara menyimpan banyak Pil Kultivasi berbagai macam jenis dan harta, Kun Ashi tidak khawatir, hanya saja dia tidak mau ada orang yang lebih unggul darinya.
Kemudian, Kun Ashi berjalan menuju sebuah batu besar yang tidak jauh darinya. Sesampainya di dekat batu besar, Kun Ashi mencari sesuatu yang telah diketahui, lalu dia melihat sebuah batu berwarna merah yang tersembunyi di rerumputan kering.
Kun Ashi menekan batu merah tersebut. Tidak berselang lama, batu besar itu bergerak kesamping dan terlihat sebuah anak tangga menuju ke bawah. Kun Ashi segera masuk dan melewati batu besar, dia berhenti dan melihat ke kiri ada batu kecil berwarna merah.
Kun Ashi kembali menekan batu merah dan batu besar kembali tertutup. Kemudian jalur anak tangga yang gelap gulita menjadi terang dengan adanya Batu Cahaya. Kun Ashi berjalan sedikit lebih cepat menyusuri anak tangga yang tidak diketahui jumlahnya.
Setelah waktu satu dupa dengan berjalan cepat, Kun Ashi akhirnya melihat pintu. Setelah melihat daun pintu dan ada lubang berbentuk kerucut, dia mengeluarkan sebuah Giok yang juga berbentuk kerucut dan meletakkan di daun pintu itu.
Pintu itu pun berderak dan terbuka secara perlahan. Kun Ashi mengambil kembali Giok kerucut yang menjadi kunci, lalu dengan sendirinya pintu itu tertutup. Dia melihat sebuah ruangan besar, ruangan itu seperti tempat untuk memantau situasi di sarang Siluman Laba-laba. Ruangan yang sangat nyaman untuk ditinggali; ada layar hologram yang terbuat dari Formasi, tempat tidur besar, kolam pemandian, dan bisa dikatakan ruangan itu seperti penginapan kelas satu.
Kun Ashi duduk dikursi depan layar hologram yang memantau segala sesuatu yang terjadi di sarang Siluman Laba-laba, dia melihat semua orang yang terhisap sedang meronta-ronta saat melintasi lorong labirin.
Kun Ashi menyilangkan kaki kiri bertumpu pada paha kanan dan di depannya banyak sekali tuas yang mengatur pintu setiap lorong. Setelah mempelajari layar hologram, dia mulai mengatur tuas untuk memisahkan dan menyatukan semua orang sesuai kehendaknya.
Kun Ashi ingin mempermainkan semua orang dan juga ingin melihat kemampuan Zhi Shimo yang sebenarnya.
"Yuna Aurora... Maaf, dia milikku dan kamu harus merelakannya. Apapun yang aku inginkan, pasti kan kudapatkan!" gumamnya saat teringat akan tantangan Yuna Aurora sewaktu di Kota Lima Menara Bintang.
Semenjak itu, Kun Ashi bersumpah untuk memiliki Zhi Shimo si Dewa Binatang, satu-satunya peserta termuda dan paling berbakat, mampu melawan Celestial Snake seorang diri dan membuat banyak orang mengagumi.
__ADS_1
Ya, Kun Ashi tidak kehilangan ingatan, padahal dia merupakan peserta baru, semua ini atas pengaturan Kaisar Kun. Ambisi akan kekuasaan dan haus akan pengakuan membuat Kaisar Kun melakukan segala cara untuk mencapainya, dia ingin menunjukkan dominasinya sebagai seorang penguasa.
Sifat Kaisar Kun menurun kepada putrinya yang manja, Kun Ashi juga haus akan pengakuan dari semua orang, sebab itu dia ingin memiliki Zhi Shimo yang terkenal dan secara otomatis akan mendapatkan ketenaran.
Sayangnya, Kaisar Kun ingin membunuh Zhi Shimo untuk mendapatkan harta berharga. Karena itu, Kun Ashi meminta ayahnya tidak membunuh Zhi Shimo.
Kemudian, Kun Ashi menggerakkan banyak tuas sesuai kehendaknya, dia ingin membuat semua orang yang berada di lorong-lorong merasakan putus asa. Namun, tiba-tiba beberapa tuas pengendali pintu lorong menjadi macet dan tidak bisa digerakkan.
Brak... Brak...
Kun Ashi yang kesal menghancurkan tuas yang macet, dan kembali duduk dengan wajah muram, dia melihat lorong-lorong itu menuju ke beberapa lokasi yang berbeda.
Setelah melihat kemana tujuan semua orang, Kun Ashi mengembangkan senyuman bahagia. Lalu dia segera beranjak dari tempat duduk dan menuju pintu lain yang berada di belakangnya...
...****************...
"Kampret...!!" umpatan Zhi Shimo yang sangat kesal dengan situasi saat ini, sudah lorongnya sempit, licin dan dinding sangat keras, sehingga tidak mampu menghentikan tubuhnya yang meluncur deras.
Lorong itu seperti angka delapan yang tidak memiliki ujung, tubuhnya terombang-ambing tanpa arah, setiap kali melihat pintu, jalur lorong tiba-tiba bergerak dengan sendirinya dan menjauhi pintu.
"Hmm! Ini seperti hidup di rumah kaca raksasa, terasa banyak mata yang melihat dari luar... Hidup seperti dipermainkan oleh para penguasa!" gumam Zhi Shimo yang ingin berteriak sekeras mungkin untuk meluapkan kekesalannya terhadap para penguasa.
Swosh...
"Arghh...!!"
Bang...
Zhi Shimo terlempar keluar lorong seperti dimuntahkan, hingga tubuhnya menghantam tanah sangat keras. Dia segera bangkit namun tubuhnya menjadi sangat berat, sehingga dia berusaha sekuat tenaga untuk berdiri, lalu mengibas-ibaskan pakaiannya yang kotor dengan susah payah.
"Medan gravitasinya disini sepuluh kali lipat... Tempat apa ini...!" gumamnya.
Lalu melihat sekelilingnya, Zhi Shimo diam membeku, apa yang dilihatnya seperti berada di dunia mistik; dimana cahayanya didominasi warna biru berkilauan, rerumputan setinggi tiga meter, banyak jamur raksasa seperti payung, banyak semut seukuran kepalan tangan orang dewasa yang juga mengeluarkan cahaya biru, tanah berkelap-kelip dengan warna kuning, biru dan putih.
Lalu Zhi Shimo mendongak dan melihat langit dipenuhi kelap-kelip bintang, terdengar suara raungan binatang yang bersautan dan kembali dia melihat sekelilingnya, pepohonan menjulang tinggi, setinggi gedung pencakar langit.
Mulut Zhi Shimo terbuka lebar saat melihat binatang air Kunpeng bisa melayang diudara yang jumlahnya sangat banyak, lalu dia melihat banyak burung berbagai macam jenis; ada Phoenix, Suzaku, Merak, Gagak, Elang dan masih banyak lagi, dan yang menakjubkan adalah tubuh binatang itu, dimana didominasi warna biru, sedikit warna merah dan hijau.
__ADS_1
Zhi Shimo tersadar saat mendengar suara rumput alang-alang dilewati seseorang, dia segera waspada dengan sorot mata tajam menatap kearah sumber suara. Lalu muncul seekor binatang Rusa setinggi dua meter; bertanduk empat bercabang-cabang, warna tubuhnya perpaduan warna biru dan putih, kedua matanya berwarna merah.
Binatang Rusa itu melihat Zhi Shimo yang tidak berbahaya dan berjalan melewatinya. Tidak berselang lama muncul seekor binatang Bunglon sebesar Buaya normal. Saat melihat Zhi Shimo, binatang Bunglon itu segera berkamuflase untuk penyamaran, lalu pergi meninggalkan Zhi Shimo.
"Wow!! Dunia yang indah... Tempat apa ini?" gumam Zhi Shimo yang takjub melihat keindahan tempat yang tidak pernah dia lihat.
"Seperti yang pernah aku kata, inilah sisi lain Alam Tianwu yang terbagi dua. Inilah Dunia Mistik, dunia yang diimpikan oleh banyak orang, tetap juga sangat bahayanya... Konon katanya, Dunia Mistik diciptakan oleh jutaan Laba-laba!" sahut Celestial She yang juga ikut melihat yang sedikit bercerita.
Dunia mistik memiliki medan gravitasi sepuluh kali lipat dari dunia luar, sebab itu lubang kawah memiliki daya hisap yang kuat. Jika ingin terbang, seseorang harus memiliki kekuatan minimal setingkat Earth Immortal. Tempat ini sangat cocok untuk meningkatkan kekuatan fisik dan mengasah keterampilan beladiri untuk bertahan hidup di Dunia Mistik.
"Luar biasa kemampuan Laba-laba membuat dunia sebesar ini...," pujian Zhi Shimo saat tidak melihat ujung Dunia Mistik.
Setelah puas melihat keindahan Dunia Mistik, Zhi Shimo membiasakan tubuhnya dengan melompat-lompat, memukul dan menendang.
"Tak banyak pengaruhnya terhadap tubuhku!" gumam Zhi Shimo setelah terbiasa dengan medan gravitasi Dunia Mistik, dia berkata begitu karena telah merasakan medan gravitasi saat berada di Benua Jiang Shan.
Zhi Shimo melompat dan meluncur keatas, lalu dia mendarat di ranting pohon besar, dia ingin menemukan Yuna Aurora dan timnya. Dia pun mengaktifkan Mata Langit, namun keadaan ini sama seperti sebelumnya, jarak pandang terbatas, tidak lebih dari dua kilometer. Biarpun begitu, cukup baginya menemukan salah satu rekan, yaitu Pang Shui, dimana jarak mereka terpaut sejauh Mata Langit memandang, dua kilometer.
Pang Shui terlihat meringis kesakitan akibat medan gravitasi, dia hanya bisa duduk dengan wajah penuh keringat. Reaksinya sama seperti Zhi Shimo, kagum akan keindahan Dunia Mistik, namun kekagumannya berubah menjadi ketakutan, saat seekor Banteng Api mendekatinya.
"Pergi... Huss... Huss!!" Pang Shui berusaha mengusir Banteng Api yang perlahan mendekat, dia juga berusaha mundur dengan sekuat tenaga.
Banteng Api menggaruk tanah dengan kaki kiri untuk bersiap-siap menyeruduk Pang Shui yang memasuki wilayahnya, dia memamerkan tanduknya sebagai senjata andalan.
Karena tidak bisa lari dari Banteng Api, Pang Shui membidiknya dengan senjata busur. Anak panah melesat menargetkan kepala Banteng Api, namun anak panah itu terpental dan tidak mampu menembus kepalanya.
Perbuatan Pang Shui memicu kemarahan Banteng Api yang segera berlari kearahnya. Pang Shui terus-menerus melepaskan anak panah, walaupun tahu hasilnya tetap sama. Tidak mau menyerah, Pang Shui melepaskan pukulan berenergi, tapi gerakannya sangat lambat dan membuat serangan tidak berarti apa-apa bagi Banteng Api.
Akhirnya Pang Shui pasrah tidak bisa lari dari Banteng Api, dengan memejamkan dia membayangkan wajah pria yang dia sukai untuk terakhir kalinya.
"Seandainya aku tidak malu mengungkapkan isi hati ini!" sesal Pang Shui yang tidak sempat mengutarakan isi hatinya kepada pria yang dia sukai.
Swosh...
Banteng Api melesat dengan cepat untuk menyeruduk Pang Shui. Lalu suara benturan "Bang" terdengar keras. Tubuh Pang Shui pun ambruk kebelakang...
Pang Shui.
__ADS_1