
Luna masih berkeras bahwa Darsih tidak jujur padanya namun Darsih mengatakan pada Luna untuk jangan keras kepala karena ia memang mengatakan yang sebenarnya.
“Sudah aku katakan padamu bahwa Faruq memang tinggal di rumah ini namun saat ini dirinya sedang keluar.”
“Kalau begitu aku akan menunggunya di sini.”
“Tidak perlu menunggunya, lebih baik kamu pulang saja.”
“Kok anda malah mengusir saya, sih?”
“Aku bukannya mengusir hanya saja aku takut kalau ketika Faruq datang ke sini dan kamu masih berada di sini maka terjadi pertengkaran hebat.”
“Benarkah? Apakah anda mengatakan yang sejujurnya?”
“Iya, aku memang mengatakan yang sejujurnya.”
Akan tetapi Luna tetap tidak mau pergi, ia berkeras ingin menunggu Faruq sampai pria itu kembali ke rumah, Darsih tentu saja tak dapat berbuat banyak karena ia telah mencoba sebisanya untuk mengusir Luna namun wanita ini tetap saja tak mau pergi.
“Baiklah, aku benar-benar sudah lelah mengusirmu, silakan saja kalau kamu mau menunggu Faruq pulang.”
Darsih segera masuk ke dalam rumah dan Luna nampak menyeringai puas karena akhirnya ia bisa menang debat dengan Darsih, ia menunggu sampai Faruq pulang namun sebuah pemandangan aneh justru yang ia temukan di sana. Faruq pulang tidak sendiri melainkan dengan seorang wanita asing dan si wanita asing ini menggandeng tangan Faruq.
“Faruq.”
Faruq yang namanya dipanggil oleh seseorang menoleh ke arah sumber suara dan ia dibuat terkejut melihat mantan istrinya muncul di rumah Darsih.
“Luna?”
Luna langsung berjalan menghampiri Faruq dan memeluk pria itu, akan tetapi Nimas yang melihat suaminya dipeluk oleh Luna tentu saja murka, ia mendorong Luna supaya menjauh dari Faruq.
“Siapa kamu? Kenapa berani sekali memeluk suamiku?”
“Apa maksudmu? Suami?” tanya Luna terkejut.
“Luna, apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanya Faruq.
“Aku datang ke sini karena aku ingin mencarimu, Faruq.”
“Untuk apa kamu mencariku, Luna? Bukankah sudah tidak ada hal yang kita perlu bicarakan lagi?”
“Tentu saja ada.”
****
Luna mengatakan pada Faruq bahwa maksud dan tujuannya datang ke desa ini tidak lain adalah untuk mengajak Faruq kembali rujuk dengannya, tentu saja Faruq dan Nimas terkejut dengan apa yang Luna katakan barusan.
Nimas mengatakan pada Luna bahwa dirinya dan Faruq sudah menikah namun Luna tak mempercayai apa yang Nimas katakan karena menganggap bahwa Nimas adalah wanita yang suka berhalusinasi.
__ADS_1
“Kalau memang kalian sudah menikah maka tunjukan bukti buku nikah kalian.”
Nimas nampak terkejut ketika diminta untuk menunjukan bukti buku nikah karena ia dan Faruq belum resmi menikah secara negara melainkan baru menikah secara siri saja, Luna nampak menyeringai karena dugaannya
benar bahwa wanita ini hanya mengaku-ngaku sebagai istri Faruq saja.
“Sudahlah, kamu tak perlu mengaku-ngaku bahwa kamu adalah istri Faruq.”
“Aku tidak mengaku-ngaku sebagai istrinya namun aku benar-benar istrinya, kami sudah menikah walaupun belum secara negara namun kami sudah menikah secara siri.”
“Dan apakah aku harus mempercayai itu?”
Nimas nampak naik pitam karena Luna seperti meragukan kesaksiannya, sebelum Nimas melakukan hal yang buruk pada Luna, Faruq langsung mencegah Nimas melakukan kekerasan pada Luna.
“Kenapa kamu menghalangiku, Faruq?”
“Karena kalau aku tidak menghalangimu maka kamu akan merugikan dirimu sendiri.”
“Lepaskan aku!”
Namun tentu saja Faruq tidak akan melepaskan Nimas begitu saja, ia membawa Nimas masuk ke dalam rumah.
****
Setelah membawa Nimas masuk ke dalam rumah, kini Faruq kembali menemui Luna yang menunggu diluar rumah. Faruq mengatakan pada Luna bahwa saat ini dirinya telah menikah dengan Nimas dan meminta supaya Luna untuk pergi saja dari rumah ini namun seperti yang telah Luna katakan sebelumnya bahwa ia sama sekali tidak mempercayai apa yang Faruq katakan.
“Sayangnya aku sama sekali tidak percaya, apalagi kalian hanya menikah siri yang tidak memiliki hukum kuat seperti menikah secara sah oleh negara kan?”
“Luna, kita sudah berakhir, jadi tolong jangan ganggu hidupku lagi.”
“Apa maksudmu mengganggu hidupmu? Aku datang ke sini untuk mengajakmu kembali bersama seperti dulu lagi, sekarang aku sudah berhasil menyingkirkan papa dari perusahaan.”
“Luna, ketika aku sudah mengambil keputusan untuk berpisah denganmu maka seharusnya kamu mengerti bahwa kita tidak akan pernah mungkin kembali bersama.”
“Faruq, apakah kamu sudah tidak lagi mencintaiku?”
“Luna, aku tidak pernah mencintaimu, apa yang pernah terjadi di antara kita semua itu hanyalah sebuah kekhilafan saja.”
Luna nampak tak percaya dengan apa yang Faruq katakan barusan, ia merasa Faruq sudah mempermainkan dirinya selama ini dengan mengatakan hal tersebut.
“Tidak mungkin, kamu pasti berbohong kan?”
****
Nimas memaksa untuk keluar rumah namun Darsih menahan Nimas untuk tidak keluar karena kalau Nimas sampai berhasil keluar maka keadaan akan semakin runyam dan ia tak mau sampai hal buruk terjadi setelah ini.
“Kenapa Ibu mencoba menghalangiku? Biarkan aku keluar dan menemui wanita kurang ajar itu.”
__ADS_1
“Ibu tidak akan mengizinkanmu keluar karena kalau sampai keluar maka kamu hanya akan membuat masalah.”
“Kenapa Ibu mengatakan kalau aku akan membuat masalah? Aku sama sekali tidak membuat masalah justru wanita itu yang membuat masalah.”
Akan tetapi Darsih sama sekali tidak membiarkan Nimas untuk keluar hingga Faruq masuk ke dalam barulah Nimas bisa menemui Faruq lagi.
“Di mana wanita itu?” tanya Nimas.
“Dia sudah pergi,” jawab Faruq.
“Benarkah?”
“Iya, dia sudah pergi.”
“Apa saja yang kalian bicarakan?”
“Tidak ada.”
“Tidak ada? Faruq, kamu pikir aku ini bodoh? Kamu pikir kamu bisa menipuku?”
Faruq nampak emosi dengan apa yang Nimas katakan barusan, saat ini Faruq sedang memikirkan banyak hal dan ditambah dengan sikap menyebalkan Nimas membuatnya mau meledak saja.
“Nimas, lebih baik jangan memaksa Faruq mengatakannya,” ujar Darsih.
“Kenapa Ibu malah membela dia? Sebenarnya siapa sih anak Ibu?!” jerit Nimas.
Faruq malas bedebat dan ia memilih untuk mengunci dirinya di dalam kamar, Nimas berusaha untuk menggedor pintu kamar Faruq namun pria itu sama sekali tidak mau membukakan pintu untuknya.
****
Nadiba baru saja selesai bekerja di rumah Noah dan ia berjalan pulang menuju rumahnya yang memang letaknya tidaklah jauh dari rumah Noah, ketika dalam perjalanan pulang itu sebuah mobil berhenti di sebelahnya dan rupanya mobil tersebut ditumpangi oleh Luna.
“Nadiba.”
“Luna?”
“Kamu mau ke mana?”
“Aku mau pulang.”
“Pulang? Kok bukannya berjalan ke sana?”
“Aku sudah tidak tinggal di desa itu.”
“Kalau begitu di mana rumahmu?”
“Di sana, tidak jauh dari sini.”
__ADS_1
“Bolehkah aku mampir ke rumahmu? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu sebentar.”