
Rama masuk ke dalam rumah dan langsung ditanyakan oleh Kusuma kenapa cucunya itu masuk ke dalam padahal sebelumnya ia perhatikan Rama sedang bermain dengan Faruq di luar sana. Rama pun mengatakan kalau Faruq yang memintanya untuk masuk karena Faruq tengah berbicara dengan seseorang yang asing.
“Orang asing katamu?”
“Iya Nek, orang yang waktu itu mengantarkan kita dari rumah sakit.”
Kusuma nampak terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh cucunya barusan, tentu saja ia tahu siapa yang Rama maksudkan ini, buru-buru Kusuma pergi menemui Nadiba dan memberitahu putrinya itu untuk keluar
rumah dan melerai perdebatan Faruq dan Noah.
“Nadiba, ini gawat.”
“Ada apa, Bu?”
“Di luar sana ada pak Noah dan sepertinya dia ribut dengan Faruq.”
Nadiba tentu saja terkejut dan panik mendengar kata ada keributan di sana, buru-buru ia langsung keluar rumah untuk melihat apa yang sebenarnya tengah terjadi di antara mereka berdua. Ketika ia sudah keluar
rumah nampak Noah dan Faruq sedang beradu mulut namun ketika Nadiba muncul, mereka berdua sontak terdiam.
“Ada apa ini sebenarnya?”
“Nadiba, pria ini mengatakan bahwa dia masih mencintaimu padahal dia sudah memiliki istri,” jawab Noah.
“Aku telah mengatakan yang sejujurnya pada Nadiba mengenai perasaanku padanya, aku juga mengatakan kalau aku akan bercerai dengan Luna.”
“Hentikan.”
Mereka berdua kemudian berhenti berdebat kembali setelah Nadiba memintanya, Nadiba menghela napasnya panjang dan kepalanya terasa begitu pusing akibat pertengkaran Noah dan Faruq yang sama-sama tengah
memperebutkan dirinya.
“Tolong kalian berdua jangan bersikap seperti ini.”
“Memangnya kenapa? Apakah kamu masih mencintai pria yang tak mencintaimu itu?” tanya Faruq.
“Nadiba, sudah saya katakan bahwa Felix itu tidak pernah mencintaimu, kamu selama ini hanya dipermainkan saja olehnya, lebih baik kamu lupakan saja dia,” ujar Noah.
“Cukup, aku tidak mau mendengar apa pun lagi dari mulut kalian, kalau memang masih ingin berdebat maka silakan akan tetapi jangan di rumah ini,” tegas Nadiba yang kemudian masuk ke dalam rumah dengan raut
wajah kesal.
__ADS_1
****
Noah akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah karena tidak ingin membuat Nadiba semakin membencinya, ketika pulang ke rumah ia sempat berpapasan dengan Felix yang sepertinya hendak keluar rumah menuju suatu
tempat.
“Mau ke mana kamu?” tanya Noah.
“Papa lebih baik tidak perlu bertanya aku akan pergi ke mana.”
“Felix!”
“Kenapa? Apakah Papa masih merasa kesal padaku karena sudah mempermainkan Nadiba?”
“Papa masih tidak habis pikir kamu tega sekali mempermainkan perasaan wanita itu, kamu tahu kan kalau Nadiba itu begitu tulus mencintaimu namun kamu tega-teganya mempermainkan dirinya.”
“Kalau memang Papa menginginkan wanita itu maka ambillah dia, itu pun kalau Nadiba mau dengan Papa.”
“Felix!”
“Aku tidak memiliki banyak waktu untuk mengobrol dengan Papa, aku memiliki urusan penting.”
Felix segera masuk ke dalam mobilnya, ia menghiraukan apa yang Noah katakan padanya barusan sementara itu ketika Noah masuk ke dalam rumah, ponsel yang ada di saku celananya berdering dan menampakan nama
“Ada apa kamu menelponku?”
“Aku ingin bicara denganmu, apakah kamu memiliki waktu sekarang?”
“Memangnya ada masalah apa sampai-sampai kamu ingin bertemu denganku?”
****
Faruq masih belum pergi dari rumah keluarga Nadiba, pria itu bersikukuh untuk meminta maaf pada Nadiba atas kesalahan di masa lalunya yang lebih memilih Luna ketimbang Nadiba, kini Faruq menyesalinya dan berharap Nadiba mau kembali padanya akan tetapi Nadiba mengatakan bahwa ia tidak akan pernah mungkin kembali pada Faruq, ia meminta supaya Faruq melupakan impiannya itu untuk mereka bisa kembali bersama.
“Apakah kamu masih membenciku, Nadiba?”
“Aku sama sekali tidak membencimu, Mas, hanya saja rasanya kalau pun kita kembali bersama, maka semua itu tidak akan sama seperti dulu.”
“Aku tahu semua memang tidak akan sama lagi, akan tetapi kita bisa mencobanya kan? Kita bisa memulai semuanya dari awal lagi?”
Nadiba menggelengkan kepalanya, ia meminta maaf pada Faruq karena harus menghancurkan perasaan pria ini, akan tetapi ia sudah mengambil keputusan dan ia berharap kalau setelah ini Faruq akan memahami keputusan
__ADS_1
yang sudah ia ambil ini.
“Aku harap Mas Faruq bisa menerima keputusanku ini walaupun terasa begitu berat dan tidak dapat menerimanya.”
“Nadiba ….”
“Aku mohon Mas, tolong jangan memaksaku.”
Faruq menghela napasnya berat, tentu saja ia kecewa dengan keputusan yang telah diambil oleh Nadiba, akan tetapi ia juga tidak dapat memaksakan kehendak Nadiba untuk kembali padanya.
“Baiklah Nadiba, kalau memang itu keputusanmu saat ini, akan tetapi kalau kamu berubah pikiran maka jangan ragu untuk mengatakannya padaku karena aku akan menunggumu.”
****
Faruq pamit pada Nadiba dan Kusuma untuk kembali ke hotelnya, setelah Faruq pergi kini Kusuma bertanya pada Nadiba mengenai keputusannya menolak ajakan Faruq untuk kembali rujuk.
“Apakah Ibu tidak setuju dengan keputusanku?”
“Apa pun yang telah menjadi keputusanmu maka Ibu akan mendukungnya, Nak.”
“Aku sudah mengatakan padanya bahwa hubungan kami pasti setelah ini tidak akan sama lagi, akan tetapi dia tetap memaksanya.”
Kusuma bisa memahami apa yang dirasakan oleh putrinya ini, ia meminta Nadiba untuk jangan terlalu memikirkan hal rumit seperti barusan karena Nadiba baru saja diizinkan pulang dari rumah sakit. Kalau Nadiba memikirkan hal-hal yang berat maka Kusuma khawatir kalau fisik Nadiba tidak akan kuat dan kemudian akan jatuh sakit kembali.
“Ibu tidak mau kalau kelak kamu akan kembali masuk rumah sakit hanya karena memikirkan masalah ini, Nak.”
“Iya Bu, aku sudah mengambil keputusan dan aku harap mas Faruq bisa menerima keputusanku ini walaupun pasti tidaklah mudah untuk menerimanya.”
Kusuma menganggukan kepalanya dan Nadiba pun meminta izin pada Kusuma untuk pergi ke dapur melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda akibat pembicaraannya dengan Faruq barusan.
“Apakah Ibu perlu membantu?”
“Tidak perlu Bu, aku bisa melakukannya sendiri.”
****
Noah tiba di sebuah restoran tempat di mana ia dan seseorang yang menelponnya tadi sepakat untuk bertemu, ketika ia baru saja masuk ke dalam restoran dan mengedarkan pandangan ke sekeliling, dirinya bisa langsung menemukan orang itu tengah duduk di salah satu sudut restoran dan tentu saja Noah langsung menghampirinya dan duduk di kursi yang berada di hadapannya.
“Jadi apa yang ingin kamu bicarakan denganku?”
Wanita itu menoleh ke arah Noah setelah menyadari kalau orang yang sejak tadi ia tunggu akhirnya muncul juga, wanita itu nampak menghela napasnya panjang sebelum akhirnya mengatakan sesuatu pada Noah.
__ADS_1
“Kini aku tahu siapa putramu itu.”