
Karena terlalu asyik mengobrol dengan asisten rumah tangga di rumah ini maka Nadiba jadi tidak menyadari bahwa Faruq sudah datang padahal saat ini baru menunjukan pukul 5 sore dan kata asisten rumah tangga biasanya Faruq
dan Luna baru tiba jam 7 malam.
“Kok kamu sudah kembali jam segini?”
“Aku sudah kembali jam segini karena merindukan Rama, kamu sendiri apa yang dilakukan di dapur?”
“Aku membantu bibi memasak makan malam.”
“Tuan bukan saya yang menginginkannya, kok.”
“Iya bukan salah Bibi, kamu tolong jangan berpsangka buruk padanya.”
“Sama sekali tidak, aku malah tidak enak kalau kamu memasak untuk makan malam kami.”
“Ah, aku kan sudah biasa melakukan ini.”
Faruq kemudian pergi meninggalkan dapur untuk menuju kamar Rama, ia tidak sabar untuk bertemu dengan anaknya itu. Ketika ia tiba di tangga menuju lantai dua, terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga dan
rupanya yang menuruni anak tangga itu adalah Rama.
“Ayah?”
“Rama.”
Rama buru-buru memeluk ayahnya karena merindukan ayahnya itu, Faruq memeluk Rama beberapa saat sebelum akhirnya ia pamit untuk mandi dan berganti pakaian dulu.
“Baiklah.”
Faruq menuju kamarnya sementara Rama turun ke bawah untuk mencari di mana ibunya hingga akhirnya ia menemukan Nadiba yang tengah memasak di dapur bersama asisten rumah tangga.
“Ibu.”
“Rama, kamu sudah bangun rupanya.”
Rama mencium bau masakan yang sedang dimasak oleh ibunya ini dan membuatnya lapar, sementara itu asisten rumah tangga bilang bahwa Rama bisa makan makan siang dulu yang ada di meja makan karena ini makanan untuk makan malam.
“Baik, Bi.”
“Kamu juga lebih baik makan bersama Rama.”
“Tidak, aku tidak lapar, kok.”
“Mustahil kalau kamu tidak lapar, tadi pagi kan kamu dan Rama tidak makan, kalian langsung tidur karena kelelahan.”
“Tapi ….”
“Sudahlah, sana makan saja, temani anakmu.”
Maka kemudian Nadiba pergi menemani Rama makan di meja makan namun ia sama sekali tidak menyentuh makan siangnya.
__ADS_1
“Ibu kok tidak makan?”
“Buat kamu saja, Nak.”
****
Luna akhirnya tiba menjelang pukul 7 malam bersama dengan Ledi, Luna bersikap ramah pada Rama dan Nadiba namun berkebalikan dengan Ledi yang nampak tidak suka pada Rama dan Nadiba, wanita tua itu langsung masuk
ke dalam kamarnya dengan angkuhnya.
“Maafkan sikap mama mertuaku, ya,” ujar Faruq yang tidak enak pada Nadiba soal sikap Ledi barusan.
“Oh tidak masalah, Mas.”
Setelah berganti pakaian dan mandi, Luna duduk di kursinya untuk bersiap menyantap makan malam, Luna mempersilakan Nadiba dan Rama untuk mengambil nasi duluan namun Nadiba menolaknya.
“Tidak, aku tidak lapar.”
“Ibu kan sejak semalam belum makan, harus makan dulu dong,” ujar Rama.
“Apa Rama? Dari semalam ibumu belum makan?” tanya Faruq.
“Iya Ayah, sejak semalam ibu belum makan dan tadi ketika aku makan siang, ibu menolak untuk memakan makan siangnya dan malah memberikannya padaku,” jawab Rama.
“Nadiba, apakah masakan asisten rumah tanggaku tidak enak?” tanya Luna.
“Ah tidak, bukan seperti itu,” ujar Nadiba.
“Lantas kenapa kamu tidak mau makan?”
“Sudahlah Nadiba jangan bersikap canggung seperti itu, anggap saja rumah sendiri,” ujar Luna ramah.
Nadiba hanya tersenyum menanggapi Luna hingga akhirnya Luna mengambilkan Nadiba nasi dan lauk yang tersedia di atas meja makan.
****
Keesokan harinya Nadiba harus kembali ke kota tempat ia tinggal dan berpisah dengan Rama, anak itu nampak sedih ketika harus berpisah dengan Nadiba namun Rama tetap pada pendiriannya tidak mau ikut dengan
Nadiba pulang ke kota tempat mereka tinggal.
“Rama yakin tidak mau ikut dengan Ibu pulang?”
“Tidak Bu, aku kan sudah bilang mau tinggal dengan ayah.”
Nadiba nampak sedih ketika Rama mengatakan itu namun ia berusaha tegar menerimanya, ia melakukan semua ini semata-mata demi hubungannya dengan Rama tidak memburuk.
“Tenanglah Nadiba, saat libur sekolah aku akan mengantarkan Rama menemuimu,” ujar Faruq.
“Iya Mas, aku percaya padamu.”
“Pokoknya kamu jangan khawatir soal Rama, aku akan menjaga Rama dengan baik,” ujar Faruq.
__ADS_1
Nadiba menganggukan kepalanya dan kemudian ia pun pamit pada mereka berdua untuk pergi ke stasiun setelah sebelumnya ia berpamitan pada Luna juga.
“Nadiba, tunggu dulu, aku akan mengantarkanmu ke stasiun,” ujar Faruq.
“Tidak perlu Mas, aku bisa sendiri ke stasiun,” tolak Nadiba.
“Sudahlah, jangan menolak tawaranku, aku kasihan melihatmu harus naik turun angkutan umum dari rumah ini menuju stasiun lagi pula sebentar lagi kan keretamu akan segera berangkat maka kalau naik angkutan umum tidak
akan terkejar.”
****
Lagi-lagi Faruq mengantarkan Nadiba ke stasiun bersama dengan Rama, Nadiba nampak begitu berat sekali meninggalkan Rama di kota ini bersama dengan mantan suaminya walaupun ia sudah membuktikan sendiri ucapan
Rama dan Faruq soal Luna yang bersikap baik pada anaknya namun dalam hati kecil Nadiba masih terbesit keraguan mengenai ketulusan wanita itu dalam bersikap baik pada anaknya.
“Terima kasih karena Mas Faruq sudah mau mengantarkanku ke stasiun.”
“Tidak masalah Nadiba.”
“Aku akan merindukan Ibu.”
Rama memeluk Nadiba sebelum Nadiba masuk ke dalam peron stasiun, mereka berpelukan beberapa saat sebelum akhirnya Nadiba melepaskan pelukan mereka karena sudah terdengar panggilan untuk masuk ke dalam
kereta.
“Mas, aku titip Rama di sini, tolong jaga dia baik-baik, ya?”
“Tentu saja Nadiba, aku akan menjaga Rama sebaik mungkin, kamu tak perlu khawatir mengenai hal itu.”
Nadiba menganggukan kepalanya dan kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam area peron stasiun namun sebelum memasuki area pemeriksaan tiket kereta, ia sempat menoleh ke belakang, ia masih melihat Faruq
dan Rama tengah berdiri seraya melambaikan tangan padanya. Nadiba tersenyum dan melambaikan tangan pada mereka berdua sebelum akhirnya ia masuk ke area peron stasiun untuk menaiki kereta karena tidak lama lagi kereta ini akan segera diberangkatkan.
“Ya Tuhan, semoga saja memang Luna tidak akan menyakiti Rama,” lirihnya ketika perlahan kereta mulai meninggalkan stasiun ini.
****
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 12 jam lamanya di dalam kereta, akhirnya Nadiba kembali di kota tempat ia tinggal, ia melangkahkan kaki keluar dari stasiun dan langsung mendapatkan telepon dari Felix yang
membuatnya terkejut.
“Kenapa dia menelponku, ya?”
Nadiba pun akhirnya menjawab telepon dari Felix, rupanya Felix menelpon untuk menanyakan saat ini Nadiba apakah sudah sampai di stasiun atau belum karena ia dalam perjalanan ke stasiun untuk menjemputnya.
“Apa? Tuan Felix tidak perlu repot-repot untuk menjemputku, aku bisa pulang sendiri kok.”
“Sudahlah kamu tunggu saja di stasiun itu, oke?”
Felix menutup sambungan telepon Nadiba dan akhirnya karena tidak enak meninggalkan Felix maka Nadiba menunggu kedatangan pria itu, tidak lama kemudian akhirnya Felix tiba dan ia membawakan barang Nadiba masuk
__ADS_1
ke dalam bagasi mobilnya.
“Ayo masuklah ke dalam.”