Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Meninggalkan Kota


__ADS_3

Walaupun berat meninggalkan kota ini namun pada akhirnya Nadiba dan Rama harus pergi juga demi kebaikan mereka bersama, setelah kejadian kemarin Rama menjadi lebih banyak diam walaupun Nadiba sudah berusaha


menghibur anaknya itu dengan mengatakan bahwa ketika libur sekolah tiba maka Rama bisa berkunjung ke sini dan menemui Faruq.


“Apakah kita benar-benar harus pergi, Bu?”


“Iya sayang, kita harus pergi sekarang.”


Rama masih nampak berat sekali meninggalkan rumah yang sudah ia tempati sejak masih kecil itu, Nadiba pun juga merasakan hal yang sama dengan Rama namun apa boleh buat mereka harus tetap pergi dari rumah ini


sekarang juga.


“Ayo sayang, mobilnya sudah menunggu di depan.”


Akhirnya Nadiba dan Rama yang membawa tas berisi pakaian mereka itu masuk ke dalam taksi online yang sudah Nadiba pesan, mereka menuju stasiun kereta api untuk pergi ke kampung halaman Kusuma. Sepanjang


perjalanan ke stasiun kereta api Rama nampak tidak banyak bicara dan memilih memalingkan wajahnya ke luar jendela, tidak mau mengganggu anaknya itu Nadiba juga memilih diam dan menikmati perjalanan menuju stasiun kereta api. Akhirnya mereka tiba juga di stasiun kereta api dan Kusuma sudah menunggu mereka di pelataran stasiun sebelum mereka bersama-sama akan masuk ke dalam peron.


“Apakah kamu yakin akan meninggalkan kota ini, Nak?” tanya Kusuma untuk yang ke sekian kalinya dan keputusan Nadiba memang sudah


bulat.


“Iya Bu, lebih baik sekarang juga kita masuk karena keretanya sudah mau berangkat.”


Mereka bertiga masuk ke dalam peron setelah sebelumnya memperlihatkan tiket yang mereka miliki pada petugas yang berada diluar peron. Kereta yang akan membawa mereka menuju kampung halaman Kusuma sudah tersedia di peron dan terdapat pengumuman bahwa kereta akan diberangkatkan 10 menit lagi.


“Lebih baik kita cepat-cepat masuk.”


Mereka pun agak tergesa-gesa masuk ke dalam gerbong kereta nomor 3 tersebut, setelahnya mereka mencari kursi mereka, suasana di dalam gerbong kereta hari ini tidak terlalu padat di dalam gerbong tersebut


hanya ada beberap penumpang saja termasuk mereka.


‘Selamat tinggal Faruq.’


****


Hari ini Faruq dan Luna sudah masuk kerja seperti biasanya namun ketika Faruq sedang melakukan rapat dengan Luna pria itu justru nampak tidak fokus dan mendapatkan teguran keras dari Luna.


“Apakah kamu mendengarkan apa yang saya bicarakan tadi?”


“Maaf, saya tadi melamun.”


Rapat pun selesai dan semua peserta rapat sudah meninggalkan ruangan ini kecuali Luna dan Faruq, Luna bertanya apa yang tengah suaminya ini pikirkan.


“Hari ini mereka pergi.”


“Jadi kamu memikirkan mereka?!”

__ADS_1


“Luna kamu jangan salah paham dulu.”


“Bagaimana aku tidak salah paham kalau setelah kita menikah kamu malah memikirkan mantan istri dan anakmu!”


“Tolong jangan seperti ini, Luna.”


“Kamu masih mencintai Nadiba kan?”


“Tidak, aku tidak mencintainya.”


“Bohong! Aku tidak percaya kalau kamu sudah tidak mencintainya.”


“Apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya kalau aku sudah tidak mencintai Nadiba?”


“Cium aku sekarang juga.”


Faruq nampak terkejut dengan ucapan Luna barusan, mereka saat ini ada di kantor dan bisa-bisanya Luna meminta hal itu padanya.


“Kenapa hanya diam saja? Apakah kamu tidak mendengarkan perintahku tadi?”


“Tapi kita masih di kantor, Luna.”


“Lantas apa peduliku? Katanya kamu ingin supaya aku percaya kalau memang kamu sudah tidak mencintai mantan istrimu dan aku meminta keseriusanmu sekarang.”


****


sini sewaktu dia masih berusia 3 tahun.


“Ayo sayang.”


Rama nampak asing dengan kota ini terutama dengan pemandangan ketika mereka keluar stasiun yang begitu kontras dengan kota tempat mereka selama ini tinggal.


“Kita akan naik apa ke rumah, Bu?”


“Katanya Darsih dan suaminya akan menjemput kita di sini tetapi kok sampai sekarang mereka belum datang juga, ya?”


Kusuma kemudian mencoba menelpon adiknya dengan sambil menengok ke kanan dan ke kiri untuk melihat sekeliling siapa tahu ia menemukan adiknya.


“Kamu di mana? Kami sudah sampai di stasiun.”


Kusuma menganggukan kepalanya dan kemudian mematikan sambungan telepon, Kusuma mengatakan bahwa adiknya itu sudah ada di depan stasiun dan mereka hanya perlu menunggunya saja di sini. Tidak lama kemudian akhirnya Darsih yang tidak lain adalah adiknya Kusuma muncul juga dengan suaminya,


mereka sempat berpelukan dan mengobrol sebentar sebelum wanita itu juga bersalaman


dengan Nadiba dan Rama.


“Rama sudah besar ya sekarang, terakhir kali dia

__ADS_1


datang masih kecil.”


“Iya Tante.”


“Ayo masuklah ke dalam mobil, kalian pasti lelah sekali setelah perjalanan jauh sejak kemarin.”


****


Rama langsung tidur di kamar karena anak itu kelelahan setelah menempuh perjalanan jarak jauh sampai ke kota ini sementara itu Nadiba dan Kusuma tengah berbincang dengan Darsih mengenai alasan mereka pindah ke


kota ini.


“Aku sudah mendengar beritanya mantan suamimu itu sudah menikah lagi dengan anak pemilik perusahaan properti yang terkenal itu kan? Aku sama sekali tidak menyangka kalau dia bisa tega-teganya melakukan itu


padamu.”


“Darsih, kamu tidak perlu membahas hal itu di depan Nadiba.”


“Memangnya kenapa? Apakah aku keberatan kalau membahas soal mantan suamimu?”


“Tidak Tante.”


“Kamu dengar sendiri kan? Dia saja tidak keberatan kalau aku membahasnya.”


“Kalau membahasnya bukan hanya menyakiti hati Nadiba namun juga hatiku, asal kamu tahu saja Darsih istrinya yang kaya raya itu bersikap sangat angkuh karena anak orang kaya bahkan dia sampai menjebloskanku


ke penjara karena mengacau di pesta pernikahan mereka.”


“Oh ya Tuhan, aku juga mendengar berita itu kalau aku jadi dirimu mungkin saja aku akan melakukan hal yang sama.”


Nadiba hanya diam dan menyimak saja obrolan Darsih dan Kusuma yang sama-sama menjelekan mantan suami dan istri barunya itu hingga akhirnya Nadiba pun mengutarakan keinginannya untuk memulai usaha di kota ini.


****


Darsih mengatakan bahwa ia tidak memiliki banyak modal untuk membantu Nadiba memulai usaha, hari-harinya ia adalah seorang petani yang penghasilannya tidak seberapa banyak ketika Kusuma bertanya pada Darsih


mengenai mobil, Darsih pun mengatakan bahwa mobil itu mereka pinjam dari salah satu orang kaya di desa sebelah yang terkenal dermawan dan suaminya kerap diminta menjadi sopir istrinya ke kota.


“Pasti orang itu sangat kaya, ya?” tanya Kusuma.


“Yang aku dengar suaminya adalah seorang jurnalis sementara istrinya seorang dokter di rumah sakit umum daerah, mereka memiliki dua orang anak yang satunya sudah menikah dan tinggal di luar kota sementara


yang satunya lagi baru saja lulus dan mencari pekerjaan di Australia.”


“Apakah menurut Tante aku bisa bekerja di sana?”


“Kalau soal itu, aku tidak tahu namun besok kamu bisa minta suamiku untuk mengantarmu pergi ke sana, siapa tahu kamu bisa diterima bekerja di sana kan?”

__ADS_1


__ADS_2