
Faruq membawa Rama menuju rumah yang selama ini ia dan Luna tinggali, reaksi pertama kali anaknya dibawa ke rumah ini sama persis seperti dulu ketika ia pertama kali diajak oleh Luna bertemu dengan kedua orang tuanya di rumah ini.
“Kamu sepertinya terkejut melihat rumah ini, ya?”
“Iya Ayah, rumahnya besar sekali, aku belum pernah melihat rumah sebesar ini.”
“Kalau begitu ayo kita masuk ke dalam.”
Faruq dan Rama masuk ke dalam rumah itu dan rupanya Luna sudah berdiri menunggu mereka dengan melipat kedua tangannya di depan dada, ia menatap tajam pada Rama yang membuat anak itu langsung beringsut ke
belakang tubuh ayahnya.
“Luna jangan membuatnya takut begitu.”
“Aku tidak membuatnya takut, aku akan membuatnya nyaman tinggal di sini.”
“Apakah aku bisa mempercayai apa yang kamu katakan saat ini?”
“Kita lihat saja nanti, ayo kita ajak Rama ke kamarnya.”
Luna mengajak Rama menuju kamar anak itu selama ia tinggal di rumah ini tentu saja Rama tidak mau pergi jika tidak ada ayahnya yang menemani dan mereka pun tiba di kamar yang ada di lantai dua, Rama nampak
begitu menyukai kamarnya dan ia langsung naik ke atas tempat tidur sambil berguling-guling di sana.
“Kamu menyukainya?” tanya Luna.
“Iya, aku menyukainya, terima kasih,” jawab Rama.
“Tolong kamu jangan bersikap kasar padanya atau aku tidak akan memaafkanmu,” ancam Faruq.
“Faruq, bukankah aku sudah mengatakan padamu bahwa aku
tidak akan bersikap kasar atau melakukan kejahatan pada anakmu tadi? Percayalah
padaku.”
Faruq tidak mau terlalu percaya dengan apa yang Luna katakan ini karena Luna adalah wanita yang sangat sulit untuk ditebak dan ia harus selalu siaga supaya Luna tidak dapat menyakiti Rama selama ia tinggal di sini.
“Rama, apakah kamu sudah lapar?” tanya Luna.
“Iya, aku lapar,” jawab anak itu.
__ADS_1
“Kalau begitu ayo kita makan,” ajak Luna.
Rama menatap ayahnya dan Faruq menganggukan kepalanya hingga akhirnya Rama pun mau ikut dengan Luna ke lantai bawah tentu saja dengan pengawasan dari Faruq, di meja makan sudah tersedia berbagai macam hidangan yang selama ini tidak pernah Rama lihat sebelumnya dan ia begitu penasaran ingin mencicipi semua hidangan yang tersaji di atas meja makan.
“Tunggu apa lagi? Ayo kamu makan.”
****
Sementara itu Prabu datang ke kantor dan masuk ke dalam ruangan kerjanya, akan tetapi ketika ia masuk ke dalam sana justru Ledi tengah duduk di kursi yang biasanya menjadi singgah sananya di dalam kantor
ini. Ledi nampak tersenyum pada Prabu dan pria itu baru menyadari kalau namanya sudah tidak lagi ada di meja kerja tersebut digantikan oleh nama Ledi di sana.
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”
“Apa yang sedang aku lakukan di sini? Justru harusnya aku yang bertanya kenapa kamu ada di sini? Seharusnya kamu itu tidak pernah bekerja di sini lagi.”
“Ledi kamu benar-benar ingin menghancurkanku?”
“Aku tidak akan pernah menerima sebuah pengkhianatan seperti yang pernah aku ucapkan padamu sewaktu sebelum kita menikah, kamu menyanggupi itu namun ternyata setelah lebih dari 30 tahun kita hidup bersama
justru kamu malah bermain api dengan wanita lain dan merusak janji pernikahan kita, apakah menurutmu aku bisa memaafkanmu begitu saja?!”
“Ledi ….”
****
Sementara itu di apartemen Winda, wanita itu dan anaknya diusir oleh pengelola apartemen, ketika Winda bertanya apa salah mereka, pengelola apartemen mengatakan bahwa seseorang sudah menyewa unit yang
selama ini Winda huni dengan harga yang lebih mahal. Winda nampak tak percaya ketika ia harus diperlakukan seperti ini, akan tetapi pihak pengelola apartemen tak mau tahu dan bergeming dengan semua caci maki yang ditunjukan pada mereka.
“Kita mau tinggal di mana, Ma?”
“Tenanglah sayang, kita hanya perlu menunggu papamu datang dan semua akan baik-baik saja seperti semula.”
Tidak lama kemudian Prabu datang dan terkejut ketika melihat anak dan istrinya berada di lobi apartemen dengan beberapa koper yang mereka bawa.
“Apa yang terjadi? Kenapa kalian ada di sini?”
“Kami diusir oleh pengelola apartemen dan mengatakan bahwa ada seseorang yang sudah menyewa unit apartemen itu dengan harga sewa yang jauh lebih mahal.”
“Wanita itu benar-benar keterlaluan,” geram Prabu.
__ADS_1
“Apa maksudmu?” tanya Winda.
“Semua ini adalah ulah Ledi, dia juga sudah menghempaskanku dari perusahaan.”
“Apa katamu?! Jadi sekarang kamu sudah tak memiliki pekerjaan lagi, dong?”
“Kamu tenang saja, kita tidak akan berlama-lama seperti ini, aku akan mencari cara supaya kita bisa kembali mendapatkan apa yang seharusnya kita miliki.”
****
Nadiba dan Kusuma tetap memutuskan untuk pindah dari rumah Darsih walaupun wanita itu sudah meminta supaya keduanya tidak pergi namun Nadiba tetap mengatakan mereka harus pergi. Darsih pun akhirnya dengan
berat hati harus menerima keputusan yang sudah Nadiba buat, Nadiba akhirnya menerima tawaran dari Noah untuk tinggal di rumah kontrakan yang pernah ditunjukan oleh pria itu sebelumnya bahkan sebelum hari ini tiba, Nadiba sudah melunasi biaya sewa selama satu bulan ke depan hingga ia bisa mendapatkan kunci rumah itu.
“Sering-seringlah main ke sini dan ajak Rama, ya?” ujar Darsih.
“Iya Tante, kami pasti akan sering main ke sini,” ujar Nadiba.
Mereka berdua kemudian berpelukan dengan haru karena Darsih sudah menganggap Nadiba sebagai anaknya sendiri dan ia sama sekali tidak keberatan kalau Nadiba harus tinggal selamanya di rumah ini.
“Pokoknya kalau kamu ada masalah, jangan pernah sungkan datang ke rumah ini dan minta bantuanku, kamu mengerti?”
“Iya Tante, terima kasih banyak atas semua kebaikan Tante dan mendiang om Rahmat selama ini pada keluargaku, aku tidak bisa membalas semua kebaikan kalian semua.”
“Jangan bicara seperti itu Nadiba, aku dan mendiang suamiku ikhlas melakukan itu karena aku sudah menganggapmu sebagai anak kandungku sendiri.”
Kini giliran Kusuma yang berpamitan pada adiknya itu, perpisahan keduanya pun tidak kalah haru dan rasanya Darsih ingin terus menahan mereka untuk tetap tinggal bersamanya namun apa boleh buat sekarang Nadiba sudah
mengambil keputusannya sendiri.
****
Nadiba dan Kusuma akhirnya tiba di rumah kontrakan mereka yang baru, Kusuma memastikan sekali lagi kalau memang mereka akan sanggup membayar biaya rumah kontrakan ini karena rumah ini cukup besar dan rasanya harga sewa yang disebutkan oleh Nadiba terlalu murah untuk rumah sebesar ini.
“Benar kok Bu, aku kan sudah bertemu dengan pemilik rumah kontrakan ini, mereka bilang memang harganya segitu.”
“Semoga kita bisa membayar sewa bulanannya, Nak.”
“Amiin Bu.”
Nadiba dan Kusuma kemudian memasukan pakaian mereka ke dalam lemari masing-masing dan Nadiba ingin pergi keluar dulu untuk membeli bahan makanan yang akan diolah sebagai menu makan malam, baru saja ia melangkah beberapa meter dari rumah, ia bertemu dengan Noah.
__ADS_1
“Nadiba.”
“Pak Noah?”