
Nimas yang mendapatkan pertanyaan dari ibunya nampak hanya tersenyum dan membuat Darsih tentu saja terkejut dengan pengakuan putrinya ini, Darsih pun bertanya pada putrinya sejak kapan Nimas menyukai
Faruq dan Nimas pun secara terang-terangan mengatakan bahwa ia sudah tertarik dengan Faruq sejak lama namun ia memendam semua itu karena Faruq menyukai Nadiba dan berakhir menikah dengan Nadiba akan tetapi rupanya takdir berkata lain, Nadiba dan Faruq bercerai dan kini pria itu ada di rumah ibunya, tentu saja ini adalah kesempatan yang tidak boleh dirinya lewatkan begitu saja.
“Lebih baik kamu tidak perlu mengungkapkan perasaanmu padanya.”
“Kenapa begitu, Bu?”
“Karena menurutku percuma saja kalau kamu mengutarakan perasaanmu, asal kamu tahu saja Faruq sampai detik ini masih mencintai Nadiba dan sekuat tenaga dia berusaha untuk membuat Nadiba kembali padanya bahkan dia
sampai menceraikan istrinya yang baru ia nikahi beberapa bulan lalu.”
“Jadi dia sudah bercerai dua kali? Mungkin di pernikahan ketiganya ini akan menjadi pernikahan terakhirnya.”
Darsih yang mendengar ucapan Nimas barusan terlihat kesal karena putrinya ini sepertinya begitu terobsesi dengan Faruq.
“Nak, apakah kamu yakin kalau yang kamu rasakan pada Faruq itu adalah cinta? Karena kalau menurut Ibu itu bukanlah cinta.”
“Tentu saja aku mencintai Faruq, Bu. Aku yakin bahwa aku mencintainya.”
Rupanya Faruq secara tak sengaja mendengar perbincangan Darsih dan Nimas, tentu saja Faruq terkejut dengan cerita Nimas yang rupanya diam-diam menyukainya sejak dulu dan sepertinya Nimas ingin menjadikan Faruq sebagai suaminya namun tentu saja Faruq tidak akan mau melakukan itu karena sampai kapan pun wanita yang ia cintai hanya Nadiba seorang.
“Faruq? Kamu ada di situ?”
Faruq nampak terkejut ketika Darsih memergokinya menguping pembicaraan mereka, Faruq pun nampak salah tingkah dan meminta maaf pada Darsih karena tadi secara tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka
berdua.
“Sama sekali tidak masalah untukku, justru aku malah senang kalau kamu mendengar obrolan kami barusan,” ujar Nimas antusias.
“Nimas,” tegur Darsih.
“Kenapa, Bu? Apakah aku salah bicara? Bukankah ini bagus kalau Faruq sudah mengetahui kalau aku menyukainya?”
“Maaf Nimas, akan tetapi ada satu hal yang perlu kamu ketahui, sampai kapan pun hanya ada Nadiba di dalam hatiku.”
__ADS_1
****
Nimas nampak tak percaya dengan apa yang Faruq katakan barusan, ia pun mendekati Faruq dan mencoba bicara dengan pria itu mengenai kenapa ia masih mencintai Nadiba padahal sudah jelas tidak ada kemungkinan
untuk mereka berdua kembali seperti dulu lagi.
“Kalau memang aku dan Nadiba tidak bisa kembali seperti dulu lagi, maka selamanya aku tidak akan menikah lagi.”
“Jangan naif kamu Faruq, kamu mengatakan ini hanya karena Nadiba menolak untuk kembali padamu kan? Aku yakin tidak lama lagi kamu pasti akan menggandeng wanita baru lagi.”
“Terserah kamu mau berkata apa, akan tetapi keputusanku sudah bulat, aku tidak akan menikah lagi dan membuka hatiku untuk siapa pun.”
Setelah mengatakan itu Faruq langsung pergi meninggalkan Nimas menuju kamarnya, Nimas sudah mencoba memanggil Faruq untuk berhenti namun Faruq tidak mau melakukannya dan tetap saja pergi ke kamar dan
mengunci pintunya.
“Sudah Ibu katakan bukan?” ujar Darsih yang sejak tadi diam menyaksikan perdebatan mereka berdua.
“Ibu tunggu dan lihat saja, Faruq pasti akan menikah denganku,” ujar Nimas dengan penuh percaya diri.
****
“Kalaupun Tuan Felix tidak dapat mencintai saya, saya terima dengan ikhlas keputusan Tuan, akan tetapi tolong jangan menyerah dalam menjalani hidup karena saya yakin setelah ini Tuan pasti akan menemukan kebahagiaan lain.”
“Berhenti bicara omong kosong denganku Nadiba, kamu tidak perlu bersikap sok baik padaku begini, kamu pikir dengan sikap dan ucapan baikmu ini dapat membuatku luluh apa? Menjijikan.”
Setelah mengatakan itu Felix langsung pergi meninggalkan Nadiba, tentu saja Nadiba sakit hati dengan apa yang Felix katakan barusan akan tetapi ia berusaha tidak dendam atau benci pada Felix, ia sudah ikhlas jika Felix tidak dapat membalas cintanya namun ia tidak ingin melihat Felix terpuruk lebih jauh dan berakhir mengakhiri hidup.
“Maafkan apa yang dikatakan oleh Felix, Nadiba,” ujar Noah.
“Tidak apa Pak Noah, saya dapat memahami apa yang tuan Felix rasakan saat ini,” ujar Nadiba.
Kemudian Nadiba pun pamit pada Noah untuk melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat terhenti, sejujurnya Noah merasa cemburu dan iri pada Felix karena terlihat sekali Nadiba begitu mencintainya dengan tulus.
“Andai kamu juga bisa mencintaiku seperti kamu mencintai Felix, Nadiba.”
__ADS_1
****
Keesokan harinya Faruq hendak pergi dari rumah Darsih seperti apa yang sudah ia rencanakan sebelumnya akan tetapi Nimas menahannya dan mengatakan bahwa Faruq tidak perlu pergi dari desa ini karena ada dirinya.
“Aku kan baru datang di sini, kenapa kamu buru-buru ingin pergi, sih?”
“Nimas, aku tahu bahwa kamu menyukaiku namun aku tidak menyukaiku jadi jangan mencoba untuk menghalangiku untuk pergi.”
“Tapi tidak bisakah kamu membuka hatimu sedikit untukku?”
“Tidak, seperti yang sudah pernah aku katakan padamu kemarin, aku tidak akan mau membuka hatiku untuk siapa pun.”
Nimas masih tak mau menyerah untuk menahan Faruq pergi dari rumah ini hingga akhirnya Darsih turun tangan dan meminta Nimas untuk jangan menghalangi Faruq pergi.
“Kok Ibu malah mendukungnya, sih?”
“Karena apa yang kamu lakukan in salah, Nak. Kamu tidak dapat memaksakan dia untuk tinggal di sini kalau memang dia tidak ingin!”
Faruq merasa lega karena Darsih berada di pihaknya, ia berterima kasih pada tantenya Nadiba itu atas semua kebaikannya selama ini ketika ia tinggal di sini.
“Tidak Bu, Ibu tidak boleh membiarkan Faruq pergi!”
****
Noah mencoba bicara dengan Felix perlahan-lahan untuk tidak menyakiti hati Nadiba lagi dengan tindakan dan ucapannya akan tetapi Felix masih tak mau mendengar apa yang Noah katakan, ia tetap membenci Nadiba
dan ia ingin Nadiba pergi dari rumah ini.
“Kenapa kamu begitu membencinya?”
“Karena sebab dia hubunganku jadi seperti ini, Pa!”
“Justru harusnya kamu berterima kasih pada Nadiba, karena kalau saja tanpa Nadiba kamu justru akan merasakan perasaan yang jauh lebih sakit dari pada ini.”
“Papa mengatakan itu karena Papa menyukai wanita itu!”
__ADS_1
“Papa memang menyukai Nadiba dan ingin sekali dia menjadi milik Papa, akan tetapi Papa sadar bahwa sekuat apa pun Papa mencoba, dia tidak akan pernah menjadi milik Papa, cintanya hanya untukmu Felix.”