Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Ikuti Perkataanku


__ADS_3

Nadiba nampak tak menduga kalau ia akan bertemu dengan Noah di tempat ini, Noah pun bertanya pada Nadiba hendak ke mana wanita itu.


“Saya mau ada keperluan sebentar untuk membeli sesuatu di warung.”


“Kalau begitu biar saya temani kamu.”


“Tidak perlu Pak, saya bisa sendiri.”


“Tapi kali ini saya memaksa supaya ikut jadi tolong jangan menolaknya.”


Nadiba akhirnya mengikuti apa yang diinginkan oleh Noah barusan, mereka sama-sama pergi membeli beberapa kebutuhan di sebuah warung dekat rumah kontrakan baru Nadiba. Ketika Nadiba hendak membayar semua total


belanjaan tersebut, Noah tidak mengizinkan Nadiba untuk membayar justru pria itu yang mengeluarkan uang untuk membayar semua total biaya belanja Nadiba hari ini.


“Tapi Pak Noah, saya memiliki cukup uang untuk membayarnya, kok.”


“Memangnya saya bilang kalau kamu tidak memiliki uang? Saya hanya ingin meringankan bebanmu karena uang dalam jumlah segitu bisa kamu simpan untuk keperluan sehari-hari yang lain.”


“Terima kasih banyak Pak Noah.”


“Sudahlah jangan terus berterima kasih padaku.”


Nadiba dan Noah pun pergi menuju rumah kontrakan baru Nadiba, wanita itu mengajak Noah untuk mampir dulu ke rumah sebelum pulang. Noah sama sekali tidak keberatan untuk hal itu dan kini ia pun sudah masuk ke


dalam rumah dan disambut oleh Kusuma yang tak menyangka kalau Noah akan datang berkunjung hari ini.


“Pak Noah?”


“Halo Bu, apa kabar anda?”


“Kabar saya baik, ada keperluan apa Pak Noah datang ke sini?”


“Memangnya saya tidak boleh datang ke sini?”


“Tidak, bukan begitu maksud saya.”


“Saya tahu kok maksud anda, saya tadi hanya bercanda. Kebetulan tadi saya bertemu dengan Nadiba di depan, ketika saya bertanya padanya mau ke mana dan dia jawab ingin membeli bahan makanan maka saya pun


ikut dengannya.”


“Oh begitu ceritanya.”


“Pak Noah duduklah, saya akan memasakan makanan untuk kita semua tidak lama lagi.”


Nadiba segera pergi ke dapur dan mulai memasak sementara itu Kusuma ikut membantu putrinya itu agar masakan mereka cepat jadi.


****


Noah memuji masakan Nadiba yang terasa enak, Nadiba merasa tidak enak hati dipuji oleh Noah barusan, merasa kalau sudah terlalu banyak merepotkan pria itu selama ini walaupun Noah selalu mengatakan bahwa ia

__ADS_1


sama sekali tidak merepotkannya.


“Tadi Pak Noah yang membelikan semua bahan belanjaan ini, Bu,” ujar Nadiba.


“Oh benarkah? Terima kasih banyak Pak Noah,” ujar Kusuma.


“Anda tak perlu berterima kasih padaku, saya ikhlas membantu kalian.”


Selesai makan, Noah berpamitan pada mereka berdua untuk pulang ke rumahnya, sebelum pulang ia sempat mengatakan pada Nadiba kalau memang wanita itu masih lelah karena baru saja pindah rumah maka besok ia tidak


perlu memaksakan diri untuk datang bekerja karena ia dapat memahami hal tersebut akan tetapi Nadiba yang merasa tidak enak karena Noah yang sudah terlalu banyak membantunya mengatakan bahwa besok ia tetap akan pergi bekerja.


“Kamu yakin baik-baik saja? Aku tak mau kalau sampai kamu memaksakan dirimu untuk bekerja padahal kamu lelah sekali.”


“Saya baik-baik saja Pak, Pak Noah jangan mengkhawatirkan saya.”


“Baiklah kalau memang kamu mengatakan itu, saya tidak dapat melarangnya kalau memang kamu ingin datang bekerja besok di rumah saya. Saya akan tunggu kamu besok.”


“Iya Pak Noah, hati-hati di jalan.”


****


Selepas Noah pulang, Kusuma mengajak Nadiba untuk bicara sebentar sebelum mereka pergi tidur karena hari sudah malam, Kusuma mengutarakan pendapatnya mengenai sikap baik Noah pada keluarga mereka selama


ini.


“Menurutmu kenapa ya pak Noah baik sekali pada keluarga kita?”


“Apakah mungkin kalau sebenarnya dia itu menyukaimu?”


“Ibu ini bicara apa? Jangan bicara hal yang aneh-aneh seperti itu dong.”


“Lho? Bisa saja apa yang Ibu katakan ini benar kan? Coba kamu pikirkan bisa saja pak Noah melakukan semua ini karena dia menyukaimu.”


“Sudahlah Bu, lebih baik jangan berpikiran yang aneh-aneh pada kebaikan pak Noah, aku mau tidur dulu karena besok harus pergi bekerja.”


Nadiba langsung masuk ke dalam kamarnya padahal Kusuma masih ingin bicara panjang lebar dengannya, setelah ia masuk ke dalam kamar kini Nadiba duduk di tepi kasur dan memikirkan ucapan Kusuma tadi yang mengatakan bahwa Noah menyukainya.


“Astaga, kenapa juga aku harus memikirkan hal seperti itu? Rasanya sangat tidak mungkin sekali,” gumamnya yang kemudian memutuskan untuk segera rebah di atas kasur karena hari sudah malam dan besok ia harus berangkat


kerja di rumah Noah.


****


Keesokan harinya Rama diajak oleh Luna ke kantor bersamanya dan Faruq, pria itu nampak terkejut saat mendengar ide Luna yang mengajak Rama ke kantor. Ia khawatir kalau Rama diajak ke kantor maka Rama akan


merasa bosan apalagi ruangan kerja Faruq tidak seperti ruangan kerja Luna yang terpisah dengan karyawan lain.


“Kamu tak perlu khawatir soal Rama, dia bisa tinggal di ruangan kerjaku.”

__ADS_1


“Tapi Luna ….”


“Apa? Kamu takut kalau aku akan menyakiti Rama?”


“Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu hal yang jahat kan?”


“Tentu saja tidak, aku mengajak Rama ke kantor karena merasa kasihan pada anak ini kalau dia kita tinggal di rumah.”


“Rama, apakah kamu mau ikut kami?” tanya Faruq pada anaknya.


“Aku mau Ayah,” jawab Rama.


“Kamu dengar sendiri kan? Anakmu bilang dia mau ikut, sudahlah aku janji padamu bahwa Rama akan baik-baik saja di bawah pengawasanku.”


“Rama, apakah kamu yakin ingin ikut Ayah ke kantor? Ruangan kerja Ayah tidak nyaman,” ujar Faruq.


“Faruq, aku kan sudah mengatakan padamu bahwa Rama akan berada di dalam ruangan kerjaku dan ia akan baik-baik saja.”


“Rama, apakah kamu ingin tetap pergi bersama Ayah ke kantor tapi kamu akan tinggal di ruangan Tante ini selama Ayah bekerja?”


Rama menatap Luna sekilas sebelum Rama menganggukan kepalanya, Faruq tentu saja heran dengan apa yang sebenarnya terjadi di sini, kenapa tiba-tiba saja Rama bisa dekat dengan Luna?


****


Rama masuk ke dalam ruangan kerja Luna di kantor ini, anak itu duduk di sofa dengan tenang sambil bermain game di ponsel, Luna diam-diam memperhatikan anak itu dari meja kerjanya sampai akhirnya Luna bangkit


dari kursinya dan berjalan menghampiri Rama.


“Rama.”


“Ada apa?”


“Kamu sudah tidak benci padaku lagi kan?”


“Apakah Tante ingin menyakitiku lagi?”


“Tentu saja tidak, aku ingin meminta maaf kalau waktu itu pertemuan pertama kita agak kurang mengenakan dan aku sudah berbuat jahat padamu, bisakah kita lupakan apa yang dulu pernah aku lakukan padamu? Kita


sekarang sudah baikan kan?”


“Tante… aku ….”


“Rama, apakah kamu ingin selamanya tinggal bersama ayahmu di rumahku?”


“Aku mau Tante!”


“Benarkah? Rama yakin?”


“Iya Tante, aku ingin!”

__ADS_1


“Kalau begitu kamu harus ikuti perkataanku ini.”


__ADS_2