
Faruq mengatakan bahwa ia ingin bicara dengan Noah sekarang namun Nadiba khawatir kalau sesuatu hal yang buruk akan terjadi jika mereka berdua bicara.
“Tidak perlu, kamu lebih baik pulang saja, Mas.”
“Tidak apa Nadiba, kalau memang dia mau bicara denganku, aku sama sekali tidak keberatan,” ujar Noah dengan santainya.
“Tapi Pak Noah ….”
“Percayalah pada saya Nadiba, semua akan baik-baik saja.”
Nadiba nampak masih belum sepenuhnya dapat mempercayai apa yang dikatakan oleh Noah barusan namun pada akhirnya Nadiba memilih untuk masuk ke dalam dan mulai melakukan pekerjaannya di rumah ini.
“Baiklah Pak Noah, kalau begitu saya permisi dulu.”
Nadiba segera masuk ke dalam rumah, kini hanya tersisa Noah dan Faruq saja di sana, nampak keduanya saling memandang tidak suka satu sama lain.
“Apa yang sudah anda lakukan pada Nadiba hingga membuatnya menerima tawaran anda?”
“Kenapa memangnya? Kamu tidak suka kalau Nadiba memilih ke rumah sewa lama mereka ketimbang bertahan di rumah tantenya?”
“Jangan anda berpikir dapat mengendalikan Nadiba hanya dengan cara murahan seperti itu.”
“Siapa yang mengendalikan Nadiba? Saya sama sekali tidak mengendalikan dia, dia berhak untuk menentukan pilihannya justru kenapa kamu yang sepertinya sangat tidak suka kalau Nadiba pindah ke rumah sewa lama
mereka? Apakah kamu tidak suka kalau Nadiba bahagia?”
“Nadiba akan bahagia jika dengan saya, bukan dengan orang lain.”
“Sepertinya kamu masih terlalu naif, bukankah sudah berulang kali Nadiba menegaskan bahwa kamu adalah masa lalunya dan sampai kapan pun dia tidak akan pernah kembali padamu?”
“Namun saya tidak akan menyerah, saat ini Nadiba hanya memerlukan waktu untuk kembali percaya pada saya dan semua akan kembali seperti dulu.”
“Terserah kamu sajalah, akan tetapi yang jelas tolong kamu hargai keputusan Nadiba yang memilih untuk tinggal di rumah sewa lamanya.”
Setelah mengatakan itu Noah langsung berbalik badan dan masuk ke dalam rumah, Faruq nampak kesal karena ia belum selesai bicara namun Noah sudah masuk saja ke dalam rumah.
****
Nadiba bertanya pada Noah apa saja yang dikatakan oleh mantan suaminya itu pada Noah akan tetapi Noah tak mau memberitahu Nadiba soal itu, menurutnya apa yang Faruq sampaikan padanya bukanlah sebuah hal yang
penting.
__ADS_1
“Pokoknya kamu tak perlu khawatir mengenai dia, Nadiba.”
“Pak Noah, saya ingin pergi ke pasar dulu membeli bahan makanan.”
“Saya antar kamu ke pasar, ya?”
“Tidak perlu, saya bisa sendiri.”
“Tolong jangan menolak kebaikan saya, Nadiba.”
Karena tak mau berdebat maka Nadiba pun menuruti saja apa yang Noah katakan padanya, mereka berdua kemudian pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan yang sudah habis, ketika Nadiba hendak membayar dengan uangnya, Noah menolak hal itu, ia malah menyodorkan uang miliknya.
“Ini semua adalah kebutuhan rumah tanggaku, jadi harusnya aku yang bertanggung jawab membayar semua belanjaan ini kan?”
Nadiba sama sekali tidak protes akan hal tersebut karena menurutnya apa yang Noah katakan barusan memang benar, akhirnya mereka pun membeli banyak sekali bahan makanan karena memang stok di kulkas sudah
habis. Setelah selesai berbelanja, kini Nadiba dan Noah pun memutuskan untuk pulang namun sebelum pulang, Noah mengajak Nadiba untuk mampir dulu ke sebuah tempat karena Noah mengatakan ingin membeli sesuatu dulu. Nadiba sama sekali tidak protes karena ia menumpang mobil Noah, pria itu berhenti di sebuah toko pakaian dan Nadiba merasa heran kenapa Noah memberhentikan kendaraannya di sini.
“Ayo turun.”
“Turun? Untuk apa?”
“Sudahlah, nanti juga kamu akan tahu.”
****
“Tidak perlu repot-repot Pak Noah.”
“Saya melakukan ini karena saya peduli padamu jadi tolong jangan tolak pemberian saya, ya?”
Nadiba merasa tidak enak dengan pemberian Noah ini yang menurutnya terlalu berlebihan, walaupun ia sudah berusaha menolaknya namun Noah tetap saja memaksa Nadiba menerima semua pemberiannya ini.
“Terima kasih banyak Pak Noah.”
“Ini belum selesai.”
“Apa?”
“Aku masih ingin membelikanmu sesuatu.”
Noah mengajak Nadiba untuk menuju toko ponsel, Noah rupanya ingin membelikan Nadiba sebuah ponsel yang baru dan Nadiba tentu saja menolak itu.
__ADS_1
“Tidak perlu Pak Noah, ponsel saya masih dapat berfungsi dengan baik.”
“Nadiba namun ponselmu itu sudah sangat ketinggalan zaman, jadi tolong jangan menolak pemberianku ini, ya?”
Nadiba pun hanya dapat menghela napasnya karena tidak dapat menolak semua pemberian Noah ini yang menurutnya sangat berlebihan.
“Terima kasih Pak Noah.”
“Tidak masalah Nadiba, tolong kamu jaga semua barang pemberianku dengan baik, ya?”
****
Ketika pulang ke rumah, Kusuma nampak terkejut karena Nadiba menenteng banyak tas belanja yang berisi pakaian baru bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan untuk Kusuma dan juga Rama.
“Ya Tuhan Nadiba, kamu membeli semua ini?”
“Bukan aku yang membeli Bu, akan tetapi pak Noah yang melakukannya.”
“Dia sama sekali tidak berubah ya? Selalu saja baik hati padamu.”
“Dia baik hati karena memiliki niat terselubung, Bu.”
“Tapi bukankah tidak baik menolak pemberian dari orang lain? Apalagi pakaian ini bagus sekali, Nadiba.”
“Kalau memang Ibu suka maka ambillah semua ini karena aku tidak tertarik sama sekali mengambil satu pun pakaian ini.”
Nadiba kemudian pergi ke kamarnya untuk beristirahat sementara itu Kusuma sangat sibuk melihat-lihat pakaian yang dibelikan oleh Noah barusan. Nadiba sudah sampai di dalam kamarnya dan ia duduk di tepian kasur seraya menghela napasnya, Noah pasti berharap dengan semua pemberiannya ini akan membuat luluh namun nyatanya Nadiba tidak luluh sekalipun Noah sudah sangat loyal padanya.
“Maafkan saya pak Noah, akan tetapi sampai kapan pun anda mencoba menarik perhatian saya, saya tidak akan pernah bisa membalas rasa cinta anda.”
Ponsel Nadiba berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk di sana, ia melihat ponselnya siapa gerangan yang menelponnya saat ini, rupanya yang menelponnya saat ini adalah Noah dan Nadiba memilih untuk tidak menjawab telepon dari Noah itu.
****
Rama bermalam di rumah Darsih bersama dengan Faruq, di sana Faruq berusaha untuk membuat Rama berpihak padanya dan mempengaruhi pikiran Nadiba supaya Nadiba mau kembali padanya lagi.
“Rama, apakah kamu ingin supaya Ayah serta Ibu dapat kembali bersama seperti dulu lagi?”
“Tentu saja Ayah, aku sangat ingin kita bisa kembali seperti dulu lagi.”
“Kalau begitu apakah kamu mau membantu Ayah supaya membujuk ibumu agar mau menerima Ayah kembali?”
__ADS_1
“Bukankah Ayah sudah pernah melakukannya?”
“Iya, Ayah sudah pernah melakukannya akan tetapi ibumu masih ragu, kalau kamu terus menerus membujuk ibumu dan membantu Ayah meluluhkan hatinya maka bukan tidak mungkin Ayah dan Ibu bisa kembali seperti dulu lagi.”