Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Tuduhan Jahat


__ADS_3

Nadiba sama sekali tidak menyangka kalau hubungannya dengan Felix akan menuju ke arah yang jauh lebih baik, Nadiba tentu saja tidak menampik bahwa dirinya bahagia karena Felix mengajaknya untuk kembali bersama


seperti dulu lagi. Akan tetapi Nadiba masih membutuhkan pertimbangan banyak sebelum mengiyakan ajakan Felix pun Felix juga tak memaksanya kali ini hingga mereka berdua memiliki waktu berdua untuk saling berpikir apa yang sebenarnya tengah mereka berdua rasakan.


“Nadiba, kamu kenapa hanya diam saja?” tanya Kusuma yang membuat Nadiba terkejut.


Saat ini adalah hari libur Nadiba dan ia sedang memasak sarapan untuk ibu serta anaknya namun karena tidak fokus memasak jadi ia tidak tahu kalau masakannya jadi gosong karena tadi ia melamun.


“Maaf Bu, aku tadi melamun rupanya.”


“Tidak masalah, nanti bisa kita buat lagi akan tetapi sebenarnya apa yang sedang kamu pikiirkan sampai tidak fokus memasak seperti ini? Ibu sama sekali tidak mempermasalahkan masakannya gosong namun bahaya kan kalau api menyala sementara kamu sedang melamun.”


“Iya Bu, aku mengerti ini memang kesalahanku.”


“Ada apa, Nak?”


Nadiba yang awalnya ragu pun akhirnya mengatakan yang sebenarnya pada Kusuma mengenai apa yang ia rasakan saat ini ketika Felix mengatakan kalau ia ingin mereka kembali seperti dulu lagi. Kusuma nampak


terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Nadiba barusan karena rupanya Felix ingin kembali pada Nadiba namun di sisi lain Kusuma pun khawatir kalau putrinya nantinya akan kembali terluka.


“Aku mengerti Bu, lagi pula aku belum mengambil keputusan apa pun mengenai tawarannya dan juga tuan Felix sama sekali tidak memaksaku untuk kembali padanya.”


“Baguslah kalau seperti itu, Nak.”


Rama tiba di meja makan dan ia nampak heran karena di meja makan belum tersedia sarapan seperti biasanya, Nadiba meminta maaf pada Rama dan ia segera memasak kembali masakan yang tadi gosong akibat ia melamun itu.


“Apakah Rama sudah lapar?” tanya Kusuma.


“Sudah Nek,” jawab Rama.


“Kalau begitu, Rama tunggu sebentar, ya.”


“Iya Nek.”


****


Sembari menunggu sarapan matang, Rama bercerita pada Kusuma mengenai Faruq yang dekat dengan Nimas. Rama yang waktu itu tengah menghabiskan waktu dengan ayahnya tiba-tiba saja didatangi oleh Nimas dan


wanita itu mengatakan pada Rama bahwa nanti Faruq akan menikah dengan Nimas, sontak saja Kusuma dan Nadiba yang mendengar cerita dari Rama itu terkejut.


“Kamu serius, Nak?”

__ADS_1


“Iya Bu, aku mendengarnya dengan jelas ketika tante Nimas bilang dia akan menikah dengan ayah, apakah itu benar?”


“Sudahlah Nak, kamu jangan memikirkan urusan orang dewasa, lebih baik memikirkan mengerjakan PR kan?” ujar Kusuma.


Rama kemudian tidak membahas mengenai hal tersebut lagi namun Kusuma dan Nadiba nampak sama-sama penasaran apakah yang dikatakan oleh Rama barusan itu benar atau tidak. Setelah sarapan, Rama pergi ke sekolah sementara Nadiba menyapu halaman rumah dan saat ia tengah menyapu halaman rumah, mantan suaminya muncul di depan pagar dan menyapanya.


“Selamat pagi Nadiba.”


“Selamat pagi, Mas.”


“Kamu tidak bekerja hari ini?”


“Aku hari ini libur, apa yang membawa Mas Faruq datang ke sini?”


“Aku hanya ingin mengobrol saja denganmu, bukankah sudah lama kita tidak mengobrol?”


“Oh seperti itu, ya?”


“Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu, itu pun kalau memang kamu tak keberatan.”


****


Nadiba akhirnya menyanggupi ajakan mantan suaminya untuk bicara berdua, mereka pergi ke sebuah tempat yang tak jauh dari rumah kontrakan Nadiba untuk bicara, di sana Faruq langsung menceritakan mengenai


“Kalau memang Mas Faruq tidak mencintainya, maka Mas hanya tinggal katakan saja kalau apa yang Nimas lakukan adalah sesuatu hal yang sia-sia.”


“Aku sudah mengatakannya Nadiba, akan tetapi dia keras kepala, dia menggunakan berbagai cara supaya aku tetap tinggal di desa ini bersamanya.”


“Benarkah?”


Faruq menceritakan bagaimana Nimas yang selalu menghilangkan tiket kereta maupun bus yang sudah Faruq beli selama ini dan hal tersebut membuat Faruq kesal hingga kini ia mencoba mencari cara lain supaya


bisa pergi dari desa ini tanpa halangan Nimas.


“Apakah kamu memiliki solusi untuk hal ini?”


“Sayangnya tidak Mas.”


“Baiklah, tidak apa, setidaknya aku sudah jauh lebih lega karena bisa mencurahkan isi hatiku, bagaimana kabarmu?”


“Seperti yang Mas lihat saat ini.”

__ADS_1


“Rama bilang belakangan ini kamu lebih sering tersenyum, apakah itu benar?”


“Rama bilang begitu padamu, Mas?”


“Iya Rama mengatakan itu, apakah kamu sedang jatuh cinta saat ini?”


****


Nadiba menampik ucapan Faruq tersebut dengan mengatakan kalau ia tidak jatuh cinta seperti yang dikatakan oleh Faruq barusan ketika mereka berdua tengah berbincang santai itu tiba-tiba saja sosok Nimas muncul dan langsung menghancurkan suasana.


“Nadiba, mau apa kamu berduaan di sini dengan Faruq?”


“Aku di sini karena Mas Faruq mau bicara denganku,” jawab Nadiba.


“Apa yang Nadiba katakan itu benar Nimas, aku ke sini untuk bicara dengan Nadiba,” ujar Faruq.


Namun Nimas nampak tak berpuas hati dengan apa yang Nadiba dan Faruq katakan padanya, Nimas mengatakan kalau Nadiba itu mencoba untuk kembali menggoda Faruq padahal setelah sebelumnya Nadiba menolak untuk


kembali pada Faruq.


“Cukup Nimas, kamu jangan menuduh Nadiba yang bukan-bukan, Nadiba sama sekali tidak seperti apa yang kamu tuduhkan barusan.”


“Kamu membela Nadiba karena kamu mencintainya kan? Kamu terlalu dibutakan oleh cinta hingga tidak dapat melihat fakta yang sesungguhnya bahwa Nadiba sama sekali tidak mencintaimu lagi!”


Faruq nampak begitu emosi ketika Nimas masih saja menuduh Nadiba yang tidak-tidak namun Nadiba meminta Faruq untuk jangan terpancing emosi dengan yang Nimas katakan.


“Tapi Nadiba, dia sudah benar-benar keterlaluan.”


“Kamu jangan sok baik di sini Nadiba, kamu pikir dengan menjadi sok baik begini maka aku akan bersimpati padamu apa? Aku tidak akan pernah melupakan kamu yang telah membunuh ayahku!”


“Nimas, cukup!”


“Tidak apa Mas, aku permisi dulu.”


****


Faruq nampak marah dan kecewa dengan yang Nimas katakan pad Nadiba barusan karena semua yang Nimas katakan pada Nadiba tidaklah benar, akan tetapi Nimas tetap pada asumsinya bahwa Nadiba itu bukan wanita baik-baik.


“Kalau memang dia wanita baik-baik, bukankah seharusnya dia tidak membunuh ayahku?!”


“Ayahmu meninggal bukan karena Nadiba, ayahmu meninggal karena takdir, Nimas. Jadi aku mohon berhenti untuk menyalahkan Nadiba atas semua hal yang tidak pernah ia lakukan!”

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Faruq langsung pergi meninggalkan Nimas walaupun Nimas terus memanggil namanya dan berharap Faruq akan menoleh.


“Semua ini karena kamu Nadiba, tunggu saja pembalasanku!”


__ADS_2