
Nadiba dan yang lainnya memutuskan untuk pindah ke tempat Darsih kembali karena memang mereka tidak dapat melanjutkan biaya sewa rumah yang harganya sangat tidaklah dapat dijangkau oleh mereka. Keputusan ini
semata-mata karena Nadiba dan Kusuma sudah sepakat dan saling mengerti kalau memang mereka tidak memiliki pilihan yang lain kecuali harus pindah kembali ke rumah Darsih. Tentu saja Darsih begitu bahagia karena akhirnya Nadiba dan yang lainnya kembali ke rumah ini akan tetapi tentu saja bukan hanya Darsih yang bahagia karena Faruq pun juga bahagia karena ia bisa lebih dekat dengan Nadiba karena mantan istri dan anaknya itu kembali tinggal di rumah Darsih.
“Ayah.”
“Rama.”
Rama begitu bahagia karena bisa tinggal satu rumah lagi dengan ayahnya, ia langsung berlari dan memeluk sang ayah dengan erat, Faruq pun membalas pelukan anaknya itu sambil sesekali mencium rambutnya
sementara Nadiba sendiri tidak dapat berkata apa-apa, sejujurnya kalau memang ia memiliki opsi lain yang tidak mengharuskannya untuk tinggal di rumah ini maka ia akan menempuh opsi tersebut, akan tetapi karena memang ia tidak memiliki opsi tersebut maka dengan sangat terpaksa ia kembali tinggal di rumah ini.
“Ibu, aku mau satu kamar dengan ayah, ya?” tanya Rama.
“Jangan Rama, kamu nanti mengganggu, ayah,” jawab Nadiba.
“Tidak apa Nadiba, aku sama sekali tidak masalah kalau Rama tinggal di kamarku, kamu nanti bisa di kamar bersama dengan ibu kan,” ujar Faruq yang membuat Nadiba jadi serba salah saat ini.
Darsih pun menghampiri mereka dan mengatakan bahwa kamar Nadiba sudah siap, saat itulah Rama mengatakan pada Darsih bahwa ia ingin tidur dengan ayahnya.
“Apakah tidak apa-apa?” tanya Darsih pada Faruq.
“Tidak apa-apa Tante,” jawab Faruq.
“Baiklah kalau begitu, kamu bisa tidur sendirian saja di kamar itu karena ibumu akan tidur bersamaku,” ujar Darsih.
“Terima kasih banyak Tante,” ujar Nadiba.
Faruq kemudian membantu Nadiba membawakan tasnya masuk ke dalam kamar walaupun Nadiba sudah mencoba melarang Faruq melakukan itu akan tetapi Faruq berkeras bahwa ia tidak masalah dengan hal itu.
****
Nadiba merasa canggung ketika harus bertatapan dan bertemu terus dengan Faruq di rumah ini, ia sebisa mungkin untuk tidak membuat pembicaraan dengan Faruq dan ketika mantan suaminya itu mencoba untuk
mengajaknya bicara maka Nadiba memiliki banyak sekali alasan untuk tidak meladeninya, awalnya memang Faruq diam saja dan tidak mempermasalahkan hal itu akan tetapi kini Faruq sengaja menahan Nadiba untuk tidak pergi darinya.
“Nadiba, kok sepertinya kamu selalu saja menghindariku?”
“Tidak Mas, aku baik-baik saja, aku masih ada pekerjaan yang harus dilakukan.”
__ADS_1
“Jangan bohong, kamu pikir aku tidak merasakan bahwa kamu selalu saja menghindariku belakangan ini?”
Nadiba menghela napasnya panjang, pada akhirnya ia pun memilih untuk jujur pada mantan suaminya mengenai apa yang ia rasakan saat ini.
“Sejujurnya, aku merasa tidak nyaman dengan kondisi saat ini, Mas Faruq pasti paham dengan apa yang aku bicarakan ini.”
“Aku paham dengan yang kamu bicarakan, akan tetapi mulai sekarang kan kamu harus membiasakan diri untuk kita hidup di atap yang sama lagi.”
“Mas, kenapa kamu tidak kembali saja ke kota dan jalani hidupmu di sana?”
“Kok kamu malah mengusirku, sih?”
“Aku tidak mengusirmu, hanya saja….”
“Nadiba, apakah kamu masih mencintaiku?”
****
Nadiba tidak siap jika Faruq menanyakan hal itu, ia meminta maaf pada Faruq untuk jangan mengungkit soal itu lagi akan tetapi Faruq justru malah kembali membahas rasa penyesalannya karena akhirnya membuat mereka berdua bercerai.
“Ini semua adalah kesalahanku Nadiba, aku bodoh saat itu karena terbawa permainan Luna hingga akhirnya aku gelap mata dan menceraikanmu.”
“Apakah tidak ada kesempatan untuk kita bisa kembali seperti dulu lagi, Nadiba? Apakah kamu tidak mencintaiku?”
“Mas, tolong jangan membahas hal ini.”
Nadiba makin tidak nyaman dan menyentak tangan Faruq untuk melarikan diri dari pria itu, Nadiba keluar dari rumah untuk menenangkan dirinya dari apa yang barusan Faruq katakan akan tetapi justru diluar rumah, ia
menemukan sosok Noah yang sedang berdiri di sebelah mobilnya dan menatapnya.
“Nadiba.”
Nadiba menghela napasnya panjang, ia merasa sial sekali hari ini karena di dalam ada mantan suaminya dan diluar ia menemukan Noah yang mengejar-ngejar dirinya dan pria itu seperti tidak pantang menyerah untuk memperjuangkannya.
“Kenapa Pak Noah datang ke sini?”
“Aku datang ke sini karena kata pemilik rumah kontrakan kamu dan yang lainnya sudah pindah.”
****
__ADS_1
Noah berusaha membujuk supaya Nadiba bisa kembali bekerja di rumahnya, Nadiba awalnya menolak apa yang Noah inginkan tersebut karena ia tidak nyaman ketika ia sudah tahu kalau Noah sebenarnya menyukainya akan
tetapi seketika ia teringat ibu dan anaknya yang perlu ia beri makan, maka Nadiba pun jadi memikirkan itu.
“Bagaimana Nadiba, apakah kamu masih mau menolaknya?”
“Baiklah, saya akan kembali bekerja di rumah Pak Noah.”
Seketika raut wajah Noah cerah ketika Nadiba akhirnya mengatakan kalau ia setuju untuk kembali bekerja di rumahnya akan tetapi Nadiba memberikan sejumlah syarat yang salah satunya meminta Noah jangan mengusiknya
dan membicarakan hal pribadi soal perasaannya ketika ia sedang bekerja di sana.
“Saya akan ingat itu, terima kasih banyak Nadiba karena akhirnya kamu mau kembali bekerja di rumah saya.”
Noah pun segera pamit dan masuk ke dalam mobilnya sementara Nadiba menghela napasnya panjang dan hendak masuk ke dalam rumah, akan tetapi baru saja ia berbalik badan dan hendak melangkah, ia justru menemukan Faruq yang tengah berdiri di depan pintu dan menatapnya.
“Nadiba, apakah kamu akan bekerja lagi di rumah pria itu?”
“Mas Faruq sejak kapan ada di sana?”
“Itu semua tidak penting, jawab saja pertanyaanku barusan, Nadiba.”
****
Nadiba menghela napasnya dan ia mengatakan bahwa mulai besok ia akan bekerja di rumah Noah lagi dan tentu saja keputusan yang Nadiba buat itu membuat Faruq kecewa dan sedih padahal sebelumnya Nadiba mengatakan
bahwa ia tidak akan pernah mungkin bekerja kembali di rumah pria itu.
“Apa yang membuatmu bisa berubah pikiran, Nadiba?”
“Aku tidak memiliki pilihan lain, aku harus bekerja untuk ibu dan anakku.”
“Aku tidak akan membiarkanmu bekerja di rumah pria itu.”
“Mas, kamu tidak berhak untuk melarangku melakukan itu karena kamu bukan suamiku lagi.”
Faruq nampak menggeram kesal akan tetapi ia tetap berkeras bahwa Nadiba tidak boleh bekerja di rumah Noah lagi.
“Ada apa ini?” tanya Kusuma yang mendengar Nadiba dan Faruq tengah cekcok dari dalam rumah.
__ADS_1