
Nimas pergi ke rumah kontrakan Nadiba dan di sana ia bertemu dengan Kusuma yang tengah menjemur pakaian, Kusuma tentu saja terkejut sekaligus heran kenapa Nimas datang ke rumah mereka dengan raut wajah yang
marah.
“Nimas, kamu kenapa datang ke sini?”
“Aku datang ke sini untuk menemui Tante.”
“Memangnya ada apa kamu sampai mau menemuiku?”
“Apakah Tante tidak tahu apa yang barusan dilakukan oleh Nadiba?”
“Apa maksudmu?”
“Nadiba dan Faruq tadi berduaan di pojok gang sebelah sana.”
“Kamu jangan asal menuduh, ya.”
“Aku sama sekali tidak asal menuduh, aku melihat dan memergoki mereka berdua kok, mereka hendak melakukan sesuatu hal yang tidak pantas.”
Kusuma tentu saja tak terima dengan tuduhan Nimas ini, ia mengetahui persis seperti apa perilaku putrinya dan Nadiba tidak akan pernah mungkin melakukan seperti hal yang barusan Nimas tuduhkan padanya.
“Aku mengerti betul seperti apa putriku jadi tolong kamu jangan menuduhnya sembarangan.”
“Tante tak percaya padaku padahal aku sudah memergoki mereka berdua?”
Nadiba keluar dari rumah ini setelah mendengar suara ribut dari luar rumah, rupanya saat ini Kusuma tengah berdebat dengan Nimas dan ketika melihat Nadiba keluar rumah, Nimas langsung menunjuk Nadiba dan mengatai
Nadiba sebagai wanita sok suci.
“Kamu itu tidak lebih seperti seorang wanita murahan Nadiba, kamu sebelumnya menolak untuk kembali pada Faruq namun ternyata diam-diam kamu malah mengajaknya untuk melakukan tindakan tidak pantas.”
“Cukup Nimas, kamu jangan menuduh anakku yang tidak-tidak.”
“Tanya saja pada Nadiba, dia tadi menemui Faruq di sebuah gang kecil dekat rumah ini kan?”
“Iya Bu, apa yang Nimas katakan itu benar namun aku sama sekali tidak berbuat hal yang buruk dengan mas Faruq, kami hanya bercerita saja.”
“Itu kan hanya alasanmu saja, aku memergokimu sendiri kalau kamu dan Faruq hendak melakukan tindakan tidak pantas di sana.”
“Nimas, cukup sudah, lebih baik kamu pergi sekarang juga dari rumah ini!”
__ADS_1
****
Kusuma nampak masih begitu kesal dengan apa yang dilakukan oleh Nimas menuduh putrinya yang tidak-tidak, Nadiba sendiri berusaha untuk menenangkan Kusuma yang begitu emosi bahkan sampai saat ini karena
mengingat hal tersebut.
“Aku tahu kalau dia membencimu namun bukan dengan cara melakukan fitnah seperti itu hingga akhirnya membuatmu terlihat buruk di mata orang lain.”
“Sudahlah Bu, lagi pula kan apa yang dikatakan olehnya itu tidak benar.”
“Iya, Ibu tahu namun kalau dia bicara pada orang lain yang tidak mengetahui kepribadianmu yang sebenarnya maka ini akan menjadi masalah yang serius, Ibu harus pergi menemui Darsih sekarang juga.”
“Apa yang akan Ibu lakukan di rumah tante Darsih?”
“Sudahlah Nadiba, kamu tidak perlu tahu. Pokoknya Ibu melakukan semua ini demi kamu.”
Setelah mengatakan itu Kusuma langsung pergi menuju rumah Darsih tanpa bisa Nadiba cegah, sepanjang perjalanan menuju rumah Darsih nampak Kusuma mengomel tidak jelas akibat kesal dengan Nimas yang menuduh
putrinya yang bukan-bukan.
“Darsih!”
Kusuma langsung memanggil adiknya itu ketika sudah sampai depan rumah, tidak lama kemudian pintu terbuka dan menampakan sosok Darsih di sana.
“Aku ingin bicara denganmu, ini menyangkut soal putrimu.”
“Nimas? Memangnya apa yang telah Nimas lakukan?”
Kusuma pun menceritakan apa yang telah Nimas lakukan pada Nadiba dan Darsih pun nampak terkejut dengan cerita Kusuma barusan.
****
Rupanya Nimas sudah bercerita ke lebih banyak orang di desa ini dan tadi ketika ia berdebat dengan Kusuma, ada beberapa orang juga yang mendengar perdebatan mereka hingga akhirnya hampir satu desa ini menggunjing Nadiba. Kusuma tentu saja tak terima jika putrinya digunjing yang tidak-tidak oleh penduduk desa ini.
“Asal kalian semua tahu, putriku tidak seperti apa yang kalian tuduhkan!”
“Kalau memang dia bukan seperti yang dituduhkan mengapa melakukan perbuatan tak pantas di desa ini?”
“Perilaku Nadiba sudah mencoreng nama desa ini, lebih baik usir saja mereka dari desa ini!”
Suasana semakin panas dan membuat banyak warga desa terprovokasi dan ingin menghakimi Nadiba padahal Nadiba sama sekali tidak melakukan apa pun dengan Faruq seperti yang dituduhkan oleh Nimas. Faruq pun
__ADS_1
ikut turun tangan untuk membantu menenangkan kondisi saat ini, Faruq mengatakan bahwa warga sudah salah paham dengan apa yang terjadi saat ini. Faruq juga mengatakan bahwa ia dan Nadiba sama sekali tidak melakukan seperti yang dituduhkan warga desa namun warga desa tak mau mendengarkan kata Faruq.
“Mereka berdua ini telah melakukan sebuah hal yang tidak patut di desa ini, maka sudah sepatutnya mereka diusir dari sini!”
Nadiba begitu sedih dengan ucapan warga desa yang begitu marah padanya padahal ini semua hanyalah salah paham saja yang sengaja dibuat oleh Nimas.
****
Pemilik rumah kontrakan mengatakan bahwa ia tidak bisa memberikan izin Nadiba dan keluarganya tinggal di rumah ini lagi karena kalau ia memaksa memertahankan Nadiba dan keluarga maka rumah ini akan dibakar oleh
warga karena dianggap sarang perbuatan tidak baik.
“Saya minta maaf Nadiba, saya tidak bermaksud untuk mengusirmu.”
“Tidak apa Bu, saya paham.”
Nadiba berusaha untuk memahami posisi pemilik rumah yang juga pasti tertekan dengan keadaan ini dan Nadiba memilih untuk mundur saja namun respon berbeda justru diberikan oleh Kusuma, ia meminta supaya pemilik rumah kontrakan in tidak mengusir mereka semua.
“Kalau anda mengusir kami dari sini, lantas kami harus tidur di mana?”
“Maaf Bu, akan tetapi saya tak memiliki pilihan.”
Nadiba berusaha bicara dengan Kusuma mengenai masalah ini, ia mengatakan pada sang ibu bahwa pemilik kontrakan juga tidak bisa berbuat banyak dengan hal ini.
“Tapi kamu tidak melakukan seperti apa yang mereka tuduhkan.”
“Aku tahu Bu, akan tetapi memang sebaiknya kita pergi saja dari sini.”
Kusuma nampak begitu berat karena harus diusir dari rumah ini untuk kedua kalinya, Nadiba berusaha menenangkan sang ibu yang begitu sedih sementara Nimas begitu bahagia menyaksikan penderitaan Nadiba.
****
Noah mendapatkan telepon dari pemilik rumah kontrakan mengenai masalah yang menimpa Nadiba, ia buru-buru datang untuk melakukan negosiasi dengan pemilik rumah kontrakan untuk jangan mengusir Nadiba dari desa ini namun pemilik rumah kontrakan tidak bisa menyanggupi itu, ia mengatakan pada Noah bahwa kalau ia dipaksa memertahankan Nadiba maka bisnisnya akan hancur.
“Pak Noah, tidak apa, saya dan keluarga akan pindah saja dari rumah ini.”
“Lantas kalian akan pindah ke mana?”
“Kami tidak tahu.”
Noah menghela napasnya kemudian meminta Nadiba dan semuanya masuk ke dalam mobilnya setelah mengemasi semua pakaian mereka, Noah rupanya membawa mereka semua ke rumahnya dan hal tersebut membuat Nadiba terkejut.
__ADS_1
“Mulai sekarang kalian tinggal dulu saja sementara di sini.”