
Nadiba ditahan tangannya oleh Noah dan pria itu mengatakan bahwa Nadiba tidak boleh pulang sebelum wanita ini menjawab pertanyaan yang barusan ia ajukan, Nadiba sendiri berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Noah ini akan tetapi karena tenaga pria ini yang jauh lebih besar darinya maka apa yang ia usahakan pun menjadi sia-sia saja.
“Jawab saja pertanyaanku, Nadiba. Apa sulitnya menjawab?”
“Pak Noah kenapa memaksa begini?”
“Karena saya ingin tahu jawabannya.”
Ketika mereka berdua tengah berdebat, mobil yang ditumpangi oleh Felix tiba di depan rumah, sontak saja Nadiba dan Noah terkejut kemudian Noah melepaskan cengkraman tangannya pada Nadiba. Nadiba sendiri tidak kuasa bertemu dengan Felix karena masih mengingat bagaimana pria itu telah menghancurkan hatinya, Nadiba kemudian memutuskan untuk segera pergi karena tidak mau berlama-lama bersama dengan Felix.
“Nadiba!”
Nadiba tidak menggubris panggilan dari Noah barusan dan terus saja berlari menembus malam yang gelap, sementara itu Noah sendiri nampak hanya dapat menatap kepergian Nadiba tanpa bisa mengejar wanita itu karena ada Felix di sini.
“Kenapa Papa tidak mengejar wanita itu?”
“Karena ada kamu di sini.”
“Jangan jadikan aku alasan, kalau memang Papa ingin mengejar wanita itu maka kejar saja, aku yakin bahwa dia saja tidak akan mau menemui Papa.”
Felix kemudian masuk ke dalam rumah tanpa mau lebih lama berbasa-basi dengan papanya itu, Noah kemudian memutuskan untuk ikut masuk ke dalam rumah menyusul Felix karena besok ia harus ke kota, akan tetapi saat
ia baru saja menutup pintu depan, Felix mengatakan sesuatu padanya.
“Wanita itu mengatakan sesuatu padaku tadi di kantor.”
“Apa?”
“Tsania, wanita itu sudah tahu kalau aku adalah anak Papa, apakah Papa yang memberitahunya?”
“Papa sama sekali tidak memberitahunya mengenai kamu adalah anak Papa, wanita itu tahu dengan sendirinya, dia memiliki banyak mata dan telinga, tidaklah sulit baginya untuk mencari tahu semua yang ia inginkan.”
“Namun aku bahagia karena akhirnya tidak perlu repot-repor menyembunyikan identitasku padanya.”
****
Nadiba tiba di rumah dengan agak tergesa-gesa hingga membuat Kusuma heran apa yang terjadi pada putrinya ini, ketika mendapatkan pertanyaan seperti barusan, Nadiba hanya diam saja dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
__ADS_1
“Ayolah Nak, apakah seseorang barusan tengah mengejarmu?”
“Tidak Bu, tolong ibu jangan khawatir.”
Walau Nadiba sudah mengatakan hal itu akan tetapi Kusuma tidak dapat tenang saja seperti yang dikatakan oleh Nadiba barusan, ia yakin kalau ada sesuatu hal yang terjadi pada Nadiba dan ia harus mengetahui hal itu.
“Kamu yakin, Nak?”
“Iya Bu, aku mau mandi dulu.”
Nadiba nampak tak mau berlama-lama di sana dan langsung bergegas meninggalkan Kusuma yang masih penasaran sebenarnya apa yang terjadi pada Nadiba saat ini. Walaupun Nadiba mengatakan tidak ada apa-apa tetapi hal tersebut sangatlah tidak mungkin mengingat raut wajah Nadiba yang seperti menyimpan masalah ketika tiba di rumah ini.
“Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi padanya?”
Setelah mandi dan berganti pakaian, Nadiba masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya, di dalam kamarnya ia duduk di tepi ranjang dan memikirkan apa yang barusan terjadi di antara dirinya dan Noah serta kemunculan Felix setelah sekian lama setelah kejadian itu tidak ia temui lagi.
“Hiks,” isak Nadiba yang kemudian ia merebahkan diri di atas kasur dengan wajah yang ia tutupi dengan bantal.
****
“Akan tetapi saat ini aku sudah terlambat bekerja, Bu.”
“Pak Noah pasti dapat mengerti kenapa kamu terlambat hari ini asal kamu memberitahunya terlebih dahulu.”
Nadiba terdiam mendengar ucapan Kusuma barusan, ia pun mengirimkan pesan pada Noah yang intinya dalam pesan itu ia meminta izin agak terlambat datang karena ia terlambat bangun pagi ini, akan tetapi justru ia malah mendapatkan balasan tak terduga dari Noah.
“Ada apa, Nadiba? Kok raut wajahmu berubah begitu setelah mendapatkan pesan?”
“Pak Noah bilang hari ini aku tidak perlu pergi bekerja karena ia ada urusan di kota.”
“Syukurlah kalau begitu jadi kamu bisa sarapan dengan tenang tanpa harus takut terlambat bekerja kan?”
Nadiba menganggukan kepalanya dan tersenyum pada sang ibu. Kusuma pun meminta Nadiba untuk sarapan bersamanya karena ia sudah menyiapkan semua menu sarapan ini tadi pagi.
“Aku jadi merasa tidak enak pada Ibu.”
“Sudahlah jangan bicara seperti itu, segera makan saja mumpung masih hangat.”
__ADS_1
****
Ketika Faruq dan Rama kembali ke rumah, mereka tidak menemukan Luna di seluruh penjuru rumah akan tetapi ada sebuah koper besar milik Faruq dan tas milik Rama yang berada di ruang tamu rumah ini.
“Ayah, itu kan tasku, kenapa ada di sini? Apakah tante mengusir kita?”
“Ayah juga tidak tahu, biar Ayah coba hubungi tante Luna dulu.”
Faruq kemudian mencoba menghubungi Luna untuk bertanya apa maksud dari semua ini, akan tetapi sebelum Faruq berhasil menghubungi Luna tiba-tiba saja seorang wanita yang tidak lain adalah Winda berdiri di tangga
dan menatap ke arah mereka.
“Siapa kamu? Mau apa di rumah ini?” tanya Faruq heran.
“Siapa aku? Aku adalah pemilik baru rumah ini, kalian semua harus angkat kaki dari sini,” jawab Winda angkuh.
“Apa maksudmu pemilik rumah ini? Ini bukan rumah milikmu, ini rumah milik keluarga Luna,” ujar Faruq.
“Iya memang sebelumnya rumah ini adalah rumah milik keluarga Luna akan tetapi sekarang rumah ini sudah menjadi milikku!”
“Lalu kalau sekarang Luna sudah tidak tinggal di rumah ini, dia tinggal di mana sekarang?”
“Mana aku tahu dia sekarang tinggal di mana, sudah jangan banyak bertanya dan segera pergi dari rumah ini!”
****
Faruq dan Rama diusir dari rumah ini oleh Winda, mereka tidak tahu apa yang terjadi selama mereka pergi ke desa untuk menemui Nadiba. Faruq kemudian mencoba menghubungi Luna mengenai di mana sekarang Luna tinggal dan tidak lama kemudian sambungan teleponnya dijawab oleh Luna.
“Kamu di mana sekarang? Seorang wanita di rumah mengatakan bahwa kamu sudah tidak tinggal lagi di rumah itu.”
“Itu benar Faruq, aku dan mama diusir dari rumah itu dan sekarang kami tinggal di sebuah rumah kontrakan.”
“Di mana?”
Luna memberitahukan alamat rumah kontrakan yang dihuni olehnya dan sang mama, Faruq pun membawa Rama menuju alamat tersebut dan ketika mereka tiba di alamat yang dituju, mereka dibuat terkejut dengan penampakan
rumah kontrakan ini.
__ADS_1