
Noah tentu saja panik saat Luna menodongkan senjata apinya pada Nadiba, ia tidak dapat berbuat sesuatu yang dapat memancing wanita itu untuk membunuh Nadiba.
“Baiklah, letakan senjata apimu itu dan mari kita bicara baik-baik.”
“Aku sudah kehabisan kesabaran, aku ingin wanita ini mati saja.”
“Aku akan pastikan Nadiba dan Rama akan menjauh dari kehidupan keluargamu dengan begitu kamu bisa hidup dengan tenang.”
“Ini kurang jauh apa dari tempat tinggalku? Namun nyatanya dia masih menjadi batu sandungan untuk kebahagiaanku, waktu Nadiba sudah habis saat ini!”
“Tolong berikan aku kesempatan, kali ini aku akan pastikan Nadiba tidak akan terlihat olehmu ataupun suamimu.”
“Aku tidak bisa percaya begitu saja dengan apa yang kamu katakan.”
“Kalau begitu kita buktikan, aku bukan pria yang suka ingkar janji.”
“Sepertinya kamu begitu peduli pada Nadiba, ya? Baiklah, kalau begitu aku akan melepaskannya lagi kali ini kalau ini tidak berhasil juga maka aku yang akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.”
Luna mendorong Nadiba sampai wanita itu tersungkur di aspal jalanan, Luna kemudian pergi meninggalkan Nadiba dan Noah.
“Kamu baik-baik saja, Nadiba?” tanya Noah khawatir dengan kondisi Nadiba saat ini.
“Saya baik-baik saja Pak Noah,” jawab Nadiba.
“Syukurlah kalau begitu, ayo kita pergi dari sini.”
Maka kemudian mereka berdua pergi dari tempat ini dan kembali menuju rumah sakit tempat di mana Rama dirawat, sepanjang perjalanan Nadiba hanya diam dan seperti tengah memikirkan sesuatu.
“Apakah kamu takut dengan ancaman wanita itu?”
“Saya tidak takut dengan ancaman wanita itu, hanya saja kenapa mantan suamiku masih memikirkanku?”
“Apakah menurutmu dia masih mencintaimu?”
“Itu tidak mungkin Pak, mantan suamiku sudah memilih Luna dan rasanya tidak mungkin kalau dia masih mencintaiku.”
“Apakah kamu masih berharap kalian akan kembali seperti dulu lagi?”
“Saya tidak mau memikirkan hal itu, saya ingin fokus untuk membesarkan Rama.”
Akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit, Nadiba berterima kasih pada Noah yang mau mengantarkannya ke rumah sakit sebelum turun dari mobil pria itu.
****
Di ruangan inap Rama, Kusuma sedang menemani sang cucu yang sejak tadi bertanya di mana keberadaan ibunya, tidak lama kemudian akhirnya sosok yang sejak tadi dicarinya itu muncul juga.
__ADS_1
“Ibu.”
“Iya sayang Ibu ada di sini.”
“Kamu dari mana saja, Nak? Rama sejak tadi mencarimu.”
“Tadi aku tidak sengaja bertemu dengan Luna, Bu.”
“Apa katamu? Wanita jahat itu ada di kota ini lagi?”
“Iya Bu, dia begitu membenciku dan mengatakan bahwa kita harus pergi.”
“Kita memangnya mau pergi ke mana lagi? Wanita itu sudah benar-benar tidak waras harusnya dia mendekam di rumah sakit jiwa.”
“Aku tidak suka wanita jahat itu, dia menyiksaku sampai seperti ini,” ujar Rama.
“Dengar? Anakmu saja tidak suka pada wanita itu, lebih baik kita laporkan saja dia ke polisi dengan kasus ini dengan begitu dia akan mendapatkan ganjaran atas perbuatannya.”
“Apakah Ibu lupa bahwa keluarganya itu kaya raya? Tidak akan sulit untuk mereka lolos dari kejaran hukum.”
“Astaga orang kaya memang benar-benar membuatku kesal, mentang-mentang mereka memiliki banyak uang dan kekuasaan maka mereka bisa seenaknya menekan orang kecil seperti kita.”
“Menurut Ibu apa yang harus kita lakukan setelah ini?”
****
Darsih menjenguk Rama di rumah sakit, ia bicara pada Nadiba untuk sementara waktu lebih baik mereka semua kembali ke rumah dulu hingga kondisi Rama membaik namun Nadiba mengatakan ia tidak mau kembali ke
rumah itu dengan alasan bahwa ia merasa bersalah pada mendiang Rahmat.
“Lantas apakah kalian sudah mendapatkan rumah kontrakan yang baru?”
Nadiba menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Darsih barusan, Darsih pun memegang tangan Nadiba seraya memohon supaya Nadiba mau mendengarkannya saja kali ini.
“Kamu tidak perlu mendengarkan apa yang anak-anakku katakan padamu, mereka tidak tahu kalau kamu adalah orang yang baik.”
“Tapi nanti kalau kami kembali ke rumah Tante maka hubungan Tante dengan anak-anak Tante akan renggang.”
“Mereka pasti akan bisa memahami dan melihat sisi baikmu Nadiba seperti yang Tante bisa rasakan saat ini, Tante mohon saat ini Tante sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di rumah itu, kalau kalian semua pergi maka Tante akan kesepian di rumah itu, apakah kamu tidak kasihan?”
Nadiba tentu saja kasihan pada Darsih setelah mendengar ucapan wanita itu, mungkin memang tidak ada salahnya untuk sementara waktu kembali tinggal di rumah itu selagi ia akan mencari rumah kontrakan baru untuk mereka tinggali.
****
Luna terkejut ketika mendapati suaminya berada di kota ini tanpa memberitahunya terlebih dahulu, ketika Luna bertanya pada Faruq mau ke mana dia, maka ia bilang ingin menjenguk Rama yang sedang di rumah sakit namun tentu saja Luna menahan Faruq supaya tidak pergi.
__ADS_1
“Jangan halangi aku untuk bertemu dengan anakku.”
“Tidak Faruq, kamu tidak boleh pergi menemui Rama!”
“Minggir!”
Faruq mendorong tubuh Luna untuk menjauh darinya dan ia pun segera menuju rumah sakit tempat di mana Rama dirawat saat ini, ketika tiba di ruangan inap Rama, ia menemukan Nadiba tengah menemani Rama di sana.
“Ayah?”
“Mas Faruq?”
“Nadiba, Rama.”
Faruq langsung memeluk Rama, Rama sendiri nampak bahagia karena akhirnya ayahnya menjenguknya dari yang Nadiba lihat raut wajah Faruq begitu cemas saat datang ke rumah sakit dan setelah mengetahui kondisi Rama sudah mulai membaik ada sedikit kelegaan yang terpancar di sana.
“Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, Nak.”
“Ayah, wanita itu yang melakukan ini padaku.”
“Ayah tahu, Ayah janji tidak akan membiarkan wanita itu menyakitimu lagi, maafkan Ayah karena baru bisa menjengukmu sayang.”
“Tidak apa Ayah, aku senang karena Ayah datang untuk menjengukku sekarang.”
“Rama sayang, Ayah dan Ibu mau bicara sebentar diluar, ya?”
“Iya Ayah.”
“Ayo Nadiba, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”
****
Nadiba dan Faruq kemudian bicara di koridor depan ruangan inap Rama, Faruq mengatakan bahwa ia akan melunasi semua biaya perawatan Rama selama anak mereka itu dirawat di rumah sakit ini namun Nadiba
mengatakan bahwa semua biaya rumah sakit telah dilunasi oleh seseorang.
“Benarkah? Siapa orang yang melakukan itu?”
“Kamu tidak perlu tahu siapa orang itu.”
“Nadiba, tolong izinkan Rama untuk datang ke rumahku ketika nanti dia libur sekolah, aku sangat ingin sekali menghabiskan waktu dengannya.”
“Aku akan mengizinkan Rama andai saja istri barumu tidak bersikap agresif pada Rama, kamu bisa lihat sendiri apa yang sudah Luna lakukan pada Rama? Aku tidak bisa membiarkan Rama terluka lebih parah lagi dan mengambil risiko.”
“Aku tahu apa yang sudah Luna lakukan memang sangat keterlaluan namun aku akan pastikan ketika Rama berlibur, dia tidak akan mendapat gangguan dari Luna.”
__ADS_1