
Walaupun berat mengatakan itu pada Rama namun pada akhirnya Nadiba tidak mau membiarkan Rama tetap di sisinya dan tak bahagia, ia ingin anak satu-satunya itu mendapatkan kebahagiaan walaupun harus berjauhan
dengannya. Rama kini ikut pulang bersama Faruq ke hotel, di sana Faruq kembali bertanya pada Rama apakah keputusannya untuk ikut dengannya itu sudah final atau belum.
“Tentu saja Ayah, aku harus kembali ke kota, kan aku harus sekolah.”
“Apakah kamu tidak kasihan meninggalkan ibu?”
“Ibu kan bersama nenek.”
Faruq bisa merasakan kalau Rama memang sangat ingin sekali ikut dengannya ke kota dan ia tidak dapat memaksa supaya Rama tidak perlu ikut dengannya, akan tetapi Faruq mengatakan sesuatu pada Rama supaya
kelak anaknya itu tidak terkejut ketika mereka sudah kembali ke kota.
“Nak, ada sesuatu yang ingin Ayah katakan padamu.”
“Apa itu, Ayah?”
“Ayah tidak lama lagi akan bercerai dengan tante Luna.”
Raut wajah Rama nampak terkejut ketika Faruq mengatakan itu akan tetapi kemudian ia berubah menjadi bahagia, Rama pun bertanya apakah ayah dan ibunya bisa bersatu kembali seperti dulu.
“Ayah inginnya seperti itu akan tetapi ibu bilang hubungan kami tidak bisa sama seperti dulu lagi.”
“Memangnya kenapa begitu, Ayah?”
“Ayah sendiri juga tidak mengerti, Nak.”
“Kalau begitu Ayah kan bisa membujuk ibu supaya mau kembali pada Ayah.”
“Ayah tidak dapat memaksakan kehendak pada ibumu, Nak. Ibu sudah memilih dan Ayah harus menghormati keputusannya.”
Rama nampak sedih ketika mendengar ucapan Faruq barusan padahal ia sangat berharap sekali kalau ayah dan ibunya bisa kembali bersama seperti dulu lagi, akan tetapi Rama pun kemudian memikirkan sebuah ide yang mungkin saja dapat membuat ayah dan ibunya bisa kembali bersama seperti dulu lagi.
“Ayah, apakah kalau aku yang bilang pada ibu untuk kembali pada Ayah maka ibu akan berubah pikiran?”
“Ayah tidak tahu, Nak.”
“Kalau begitu aku akan mencobanya, siapa tahu dengan bicara secara langsung pada ibu maka ibu mau berubah pikiran.”
****
Nadiba terkejut ketika mendapati Rama dan Faruq berdiri di depan pintu rumah ketika ia hendak pergi bekerja di rumah Noah.
“Rama, Mas? Kok kalian ke sini? Bukannya kalian hari ini harus kembali ke kota?”
“Rama ingin mengatakan sesuatu padamu,” jawab Faruq.
“Ibu, apakah Ibu tidak mau kembali pada ayah?”
__ADS_1
“Rama, kenapa kamu menanyakan itu?”
“Ayah bilang Ibu menolak ketika ayah ingin supaya kalian kembali bersama lagi.”
Nadiba menatap Faruq meminta penjelasan pada mantan suaminya itu kenapa tiba-tiba saja Rama mengatakan hal ini padanya akan tetapi Faruq nampak hanya diam dan membiarkan Rama membiarkan meluapkan keinginannya
pada Nadiba.
“Ibu, apakah kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi? Ayah bilang tidak lama lagi ayah dan tante Luna akan bercerai.”
“Rama, lebih baik kamu segera pergi ke bandara nanti terlambat naik pesawat.”
“Apakah Ibu tidak mau kembali pada ayah?”
“Rama …..”
Rama nampak sedih karena tidak mendapatkan jawaban yang pasti dari Nadiba, ia pun kemudian berbalik badan dan pergi dari rumah itu untuk masuk ke dalam mobil. Faruq sendiri meminta maaf karena tidak dapat
membela Nadiba barusan karena ia ingin supaya Rama mengatakan apa yang ia inginkan.
“Aku tetap menghormati keputusanmu, Nadiba. Akan tetapi aku akan sangat senang sekali kalau kita bisa kembali seperti dulu lagi.”
Setelah mengatakan itu Faruq menyusul Rama masuk ke dalam mobil dan mobil tersebut pun melaju meninggalkan rumah keluarga Nadiba.
****
“Nadiba, apakah kamu sudah baik-baik saja?”
“Iya Pak Noah, saya sudah baikan.”
“Syukurlah kalau begitu.”
“Saya permisi dulu.”
Nadiba pun kemudian melakukan pekerjaannya membersihkan rumah ini akan tetapi saat ia hendak melakukan itu, Noah mengikuti langkah kakinya hingga membuat Nadiba menjadi tidak nyaman dan bertanya pada Noah ada apa lagi.
“Apakah mantan suamimu sudah pulang?”
“Iya Pak, hari ini dia pulang.”
“Begitu rupanya, lalu apakah kamu akan kembali padanya?”
“Apakah saya perlu menjawab pertanyaan itu?”
“Maaf kalau saya terlalu ingin tahu urusan pribadimu, hanya saja saya benar-benar berharap kalau kamu tidak kembali pada mantan suamimu itu.”
“Maafkan saya Pak Noah, akan tetapi saya tidak ingin membicarakan hal pribadi ketika sedang bekerja, saya permisi dulu.”
Nadiba buru-buru pergi meninggalkan Noah yang agak kecewa karena Nadiba memilih untuk tidak menjawab pertanyaan yang ia ajukan barusan padahal ia benar-benar penasaran sekali dengan apa yang menjadi keputusan Nadiba.
__ADS_1
****
Tsania memanggil Felix masuk ke ruangan kerjanya, Felix nampak terkejut ketika mengetahui Tsania memanggilnya dan ia juga penasaran kenapa wanita itu memanggilnya ke dalam ruangan kerjanya. Felix mengetuk pintu ruangan itu dan kemudian setelah dipersilakan masuk barulah ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana.
“Duduklah.”
“Baik.”
Felix kemudian duduk di sofa dan Tsania pun kemudian duduk di sofa yang agak jauh darinya, Felix benar-benar penasaran kenapa dirinya dipanggil ke ruangan ini oleh Tsania dan wanita itu nampak memperhatikan Felix dari ujung rambut hingga sepatu yang ia kenakan.
“Maaf, kenapa Ibu memanggil saya ke sini?”
“Kamu anaknya Noah kan?”
Felix nampak terkejut ketika mendapatkan pertanyaan itu dari Tsania secara langsung, ia tak menyangka kalau Tsania akan mengetahui semua ini jauh lebih cepat sebelum ia berhasil menghancurkan wanita yang sudah membuat hancur keluarganya ini.
“Ekspresimu barusan sudah menjawab semua.”
“Kenapa tiba-tiba anda menanyakan hal itu?”
“Apa tujuanmu masuk ke perusahaan ini?”
“Saya ingin bekerja.”
“Jangan bohong, saya tahu kalau ada sesuatu yang sedang kamu dan papamu rencanakan pada saya kan!”
Felix kemudian menyeringai dan membuat Tsania terkejut, Felix kemudian menunjukan sifat aslinya di depan Tsania, ia mengeluarkan semua kemarahan dan kebenciannya pada Tsania karena akibat wanita ini keluarganya hancur berantakan.
“Kamu jangan hanya menyalahkanku, tapi juga kamu harus salahkan papamu atas apa yang telah ia perbuat!”
****
Nadiba sudah menyelesaikan pekerjaannya dan ia berniat untuk pulang ke rumah, ketika berpamitan pada Noah, pria itu menahannya dan mengatakan ingin mengantarkan Nadiba pulang akan tetapi Nadiba menolaknya dan
mengatakan bahwa ia bisa pulang sendiri.
“Nadiba ….”
“Saya mohon Pak Noah, saya bisa melakukannya sendiri.”
“Apakah kamu tidak mencintaiku?”
“Apakah saya perlu menjawabnya?”
“Tentu saja kamu perlu menjawabnya karena kalau kamu tidak menjawabnya maka kamu tida saya izinkan untuk pulang.”
Nadiba memutuskan untuk tak mau menjawab pertanyaan Noah dan benar saja Noah tidak memberikannya izin untuk pulang, tangan Nadiba ditahannya dengan keras.
“Katakan padaku yang sebenarnya Nadiba.”
__ADS_1