
Luna buru-buru turun ke bawah untuk bertanya pada mamanya apakah ia melihat suaminya tadi pagi atau tidak dan Ledi pun menjawab bahwa ia tidak tahu ke mana Faruq pergi.
“Mama jangan berbohong padaku.”
“Untuk apa aku berbohong padamu? Aku memang tidak tahu dia pergi ke mana.”
“Menyebalkan sekali.”
Luna kemudian pergi ke ruang pusat pengendali di mana ada banyak rekaman kamera CCTV yang dipasang baik di dalam maupun luar rumah, ketika Luna masuk ke dalam ruang itu nampak pegawainya sedang tertidur dan Luna
menggebrak meja karena kesal.
“Beginikah pekerjaanmu selama ini?”
“Maaf Bu, tadi saya ngantuk.”
“Mengantuk katamu? Jadi kamu tidak memperhatikan CCTV ini selama 24 jam?”
“Saya minta maaf.”
“Sekarang bantu aku putar semua rekaman kamera CCTV dari jam 12 hingga 5 pagi ini.”
“Baik Bu.”
Kemudian pegawainya memutar semua rekaman kamera CCTV seperti yang diperintahkan oleh Luna, ia memperhatikan satu persatu rekaman kamera CCTV hingga akhirnya menemukan Faruq pergi pukul 3 dini hari.
“Jam 3 dini hari, dia mau pergi ke mana?”
Luna kemudian mencoba menghubungi Faruq kembali namun sayangnya nomor ponsel suaminya itu tidak aktif hingga membuat Luna semakin frustasi.
“Bisa-bisanya dia pergi dan tidak mengatifkan ponselnya.”
Luna pun pergi dari ruang pusat pengendali itu kembali ke kamarnya, ia kemudian mengecek surat elektronik dari ponselnya yang menemukan ada sebuah transaksi yang digunakan dari rekening Faruq ke sebuah situs pembelian tiket pesawat.
“Bagaimana bisa aku melewatkan ini?”
Luna kemudian membuka surat elektronik itu untuk mengetahui sebenarnya Faruq ingin pergi ke mana, alangkah terkejutnya ia ketika tahu bahwa Faruq pergi menuju kota di mana saat ini Nadiba dan Rama berada.
“Aku yakin dia pergi ke sana untuk menemui Nadiba dan Rama, aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi, tidak akan!”
Luna segera memesan tiket pesawat dan mengemasi semua pakaiannya dengan agak tergesa-gesa, Ledi yang melihat itu nampak heran dan bertanya mau pergi ke mana Luna sampai membawa koper sebesar itu.
“Aku mau pergi menyusul suamiku.”
“Menyusul suamimu? Ke mana?”
****
__ADS_1
Faruq sudah tiba di bandara, ia menaiki taksi menuju hotel tempat ia menginap selama dua hari ke depan, setelah sampai di hotel ia hanya menaruh tas dan kemudian pergi lagi dengan mobil yang sudah ia sewa
sebelumnya. Faruq segera menuju alamat yang sudah ia ketahui sebelumnya karena itu adalah alamat rumah mantan ibu mertuanya di kota ini. Jalan dari kota menuju desa tidak mulus, beberapa kali lubang menganga di tengah jalan yang membuat mobil harus memelankan kecepatannya namun setelah perjalanan lebih dari
2 jam lamanya dari hotel menuju rumah itu, akhirnya ia pun tiba juga di sana akan tetapi Faruq masih diam di dalam mobil sambil memantau situasi.
“Apakah aku harus turun sekarang?”
Faruq masih menimbang apakah ia harus turun dari mobil atau tidak sampai akhirnya ia menemukan sebuah mobil masuk ke dalam pekarangan rumah itu, seorang pria yang sudah berumur turun dari dalam mobil itu dan
mengetuk pintu rumah.
“Siapa pria itu?”
Faruq benar-benar penasaran siapa gerangan pria yang datang itu, tidak lama kemudian Kusuma membukakan pintu dengan raut wajah bahagia ia mempersilakan pria itu masuk.
“Ini mencurigakan, siapa sebenarnya dia?”
****
Kusuma nampak terkejut dan tak menyangka kalau Noah kembali datang ke rumah ini, ia mempersilakan pria itu untuk duduk di sofa ruang tamu.
“Pak Noah mau minum apa?”
“Tidak perlu repot-repot, saya tidak akan lama di sini.”
“Bagaimana kondisi Nadiba saat ini? Apakah dia sudah membaik keadaannya?”
“Iya Pak Noah, perlahan kondisi Nadiba sudah mulai membaik, dia sudah mau keluar dari kamar namun dia masih takut untuk keluar dari rumah, mungkin saja karena ia masih teringat bayang-bayang orang yang ingin melakukan pelecehan padanya.”
“Mungkin saja begitu, apakah dia tidak mau dibawa ke profesional? Maksudku dia bisa mendapatkan penanganan dari psikolog untuk memulihkan kejiwaannya.”
“Saya sudah membujuknya untuk pergi menemui psikolog namun dia belum mau melakukannya.”
“Begitu rupanya.”
Noah tidak bisa lama-lama di sana karena masih ada urusan lain, ia menitip pesan pada Kusuma bahwa Nadiba tidak perlu terburu-buru untuk bekerja kembali di rumahnya karena bagaimanapun juga Nadiba harus pulih
dulu agar dia tidak terbayang-bayang soal kejadian buruk yang nyaris membuatnya hancur itu.
“Terima kasih banyak atas perhatian anda pada putri saya.”
“Kalau begitu saya permisi dulu.”
“Terima kasih Pak Noah, hati-hati di jalan.”
Kusuma mengantarkan Noah sampai ke mobil pria itu, ia masih berdiri di teras dan melambaikan tangan pada mobil Noah yang sudah perlahan pergi dari pekarangan rumah namun ia merasa janggal karena ada sebuah
__ADS_1
mobil yang parkir di depan pekarangan rumahnya.
“Mobil siapa itu, ya?”
****
Faruq panik ketika mantan ibu mertuanya menghampiri mobilnya, ia segera tancap gas meninggalkan rumah tersebut dan rupanya Kusuma heran dengan apa yang baru saja dilihatnya.
“Jangan-jangan itu wanita jahat perebut Faruq lagi, mau apa lagi dia datang ke sini?”
Baru saja Kusuma hendak masuk ke dalam rumah ada mobil lain yang berhenti di depan rumahnya dan kali ini Luna yang turun dari mobil itu dan berjalan menghampirinya.
“Di mana Faruq?”
“Kenapa kamu menanyakan pria itu padaku? Aku tidak tahu dia di mana.”
“Jangan bohong, Faruq datang ke kota ini untuk menemui Nadiba dan Rama, dia pasti ada di dalam kan?”
“Aku tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan, Faruq tidak ada di rumah ini, kamu pasti tidak waras karena mencari pria itu di rumah ini.”
“Aku tidak percaya, minggir!”
Luna mendorong tubuh Kusuma hingga jatuh dan wanita itu langsung masuk ke dalam rumah dengan tidak sopannya, ia berteriak memanggil Faruq dan membuka semua pintu kamar yang ada di rumah ini hingga ia malah
bertemu dengan Rama dan Nadiba.
“Mau apa kamu datang ke sini?” tanya Nadiba heran.
“Katakan di mana Faruq!”
“Aku tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan ini.”
“Jangan bohong kamu!”
****
Luna menarik rambut Nadiba dan mendesak supaya Nadiba mengatakan yang sebenarnya padanya, ia yakin kalau saat ini Nadiba sedang menyembunyikan Faruq darinya.
“Kamu pikir aku ini wanita yang bodoh? Kamu pikir dapat menyembunyikan Faruq dariku?”
“Lepaskan cengkraman tanganmu dari rambutku wanita jahat!” seru Rama.
“Apa katamu? Berani sekali kamu dasar anak kecil!”
Kusuma masuk ke dalam rumah dan langsung menarik Luna menjauh dari Nadiba, ia memaki Luna karena tidak sopan ketika masuk ke dalam rumah orang dan membuat keributan.
“Lebih baik sekarang juga kamu pergi dari sini atau aku akan panggil orang desa untuk memberikan pelajaran sopan santun ketika bertamu ke rumah orang!”
__ADS_1
“Baiklah, aku akan pergi sekarang tapi kalian semua lihat saja apa yang akan aku lakukan setelah ini!”