Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Keputusan yang Telah Diambil


__ADS_3

Sikap Rama pada Nadiba langsung berubah setelah Nadiba mengatakan tidak memberikan izin pada anaknya untuk tinggal dengan Faruq dengan pertimbangan bahwa ia tidak yakin bahwa Luna benar-benar bersikap baik pada Rama mengingat wanita itu pernah mencoba mencelakai anaknya dan hal tersebut cukup membuatnya trauma.


“Nak, ayo makan dulu,” ujar Nadiba yang sudah menyiapkan sarapan untuk Rama namun Rama tetap diam karena merajuk pada ibunya.


“Nak, jangan seperti itu pada ibumu,” ujar Kusuma.


Rama masih diam dan tak mau mengatakan apa pun pada Nadiba maupun Kusuma, akhirnya karena Nadiba harus segera pergi bekerja maka ia pun berpamitan pada Kusuma dan Rama. Selepas Nadiba pergi, Kusuma pun bicara


pada Rama mengenai sikap cucunya itu pada putrinya barusan yang tidak baik.


“Aku tahu Nek, hanya saja aku masih kesal karena ibu tak memberikanku izin untuk tinggal bersama ayah.”


“Ibu melakukan semua itu kan untuk kebaikanmu, Nak.”


“Tidak, ibu tidak mengerti kalau tante Luna tidak bersikap jahat padaku, ibu masih salah sangka padanya.”


“Rama apakah tidak ingat apa yang pernah ia lakukan padamu waktu itu?”


“Tapi kan tante Luna sudah meminta maaf padaku, Nek.”


“Rama ….”


“Nenek sama saja, tidak mau mengerti aku.”


Rama kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya karena merasa jengkel dengan sang nenek yang sama saja sikapnya seperti ibunya. Kusuma menghela napasnya berat dan ia hanya dapat berharap masalah ini segera mendapatkan titik temunya. Ketika ia sudah selesai sarapan dan hendak membereskan meja makan, terdengar suara pintu diketuk, ia pun segera pergi ke pintu untuk melihat siapa orang yang datang saat ini dan rupanya saat ia membuka pintu nampaklah Faruq di sana.


“Faruq?”


“Halo, Bu.”


“Masuklah, apa yang membawamu ke sini?”


“Aku ke sini karena harus kembali ke kota, Bu.”


“Oh begitu rupanya.”


“Bagaimana dengan Rama?”


“Dia merajuk di dalam kamar karena Nadiba tak memberikannya izin tinggal denganmu.”


****


Sementara itu di rumah Noah, Nadiba menjadi tidak fokus bekerja karena memikirkan sikap Rama padanya yang berubah setelah ia menolak ide anak itu untuk tinggal dengan Faruq, ia melakukan itu semata-mata karena takut kalau Luna akan melakukan kejahatan lain pada anaknya.


“Nadiba, kamu tidak fokus lagi dalam bekerja,” tegur Noah yang membuat Nadiba terkejut bukan main karena ia sejak tadi tidak mengerjakan pekerjaannya dengan baik.


“Saya minta maaf Pak Noah,” ujar Nadiba yang merasa tak enak.


“Mau sampai kapan kamu bersikap seperti ini terus, Nadiba?”

__ADS_1


“Maaf Pak, saya benar-benar minta maaf.”


“Apakah masalahnya masih sama?”


“Iya, ini menyangkut soal anak saya.”


“Dia masih tetap ingin tinggal bersama mantan suamimu?”


Nadiba menganggukan kepalanya dengan sedih, ia kemudian meminta maaf kembali pada Noah dan bersiap untuk melakukan pekerjaannya yang lain namun Noah menghentikannya.


“Kamu harus menyelesaikan masalah ini dulu.”


“Pak Noah ….”


“Saya tahu bagaimana perasaanmu saat ini, pasti tidak enak kan ketika bekerja dengan tidak fokus seperti saat ini?”


Nadiba menundukan kepalanya kembali setelah mendengar ucapan Noah barusan, Noah sudah bersikap begitu baik padanya hingga ia merasa tidak enak karena terus menerus merepotkan pria ini.


“Saya minta maaf Pak Noah.”


“Kamu tak perlu meminta maaf pada saya Nadiba, sekarang juga pulanglah dan selesaikan masalahmu dengan anakmu.”


“Tapi Pak Noah ….”


“Ini adalah perintah saya.”


****


“Nadiba, apakah dia hari ini tidak masuk kerja?”


“Dia tadi masuk kerja hanya saja Papa memberikannya izin pulang lebih awal karena dia sedang ada masalah dengan anaknya.”


“Masalah dengan anaknya?”


“Iya, anaknya merajuk padanya karena tidak diberikan izin tinggal bersama ayah kandungnya.”


“Bukankah istri dari mantan suaminya itu begitu membenci anak mereka?”


“Aku tidak tahu, kata Nadiba wanita itu mungkin saja saat ini tengah memainkan tipu muslihatnya.”


Namun kemudian Noah merasa penasaran kenapa belakangan ini Felix menjadi lebih perhatian pada Nadiba dan beberapa kali juga ia memergoki anaknya ini seperti bicara lembut pada Nadiba tidak seperti dulu ketika mereka pertama kali bertemu.


“Bukan urusan Papa.”


“Apakah kamu menyukai wanita itu?”


“Kalau iya aku menyukainya, apakah Papa memiliki masalah?”


Noah nampak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Felix barusan, ia tadi hanya asal bertanya saja dan ia pikir tidak akan mendapatkan jawaban yang serius seperti yang diutarakan oleh Felix saat ini namun ketika melihat raut wajah Felix saat ini membuat Noah yakin bahwa Felix sepertinya mencintai Nadiba.

__ADS_1


“Apakah kamu serius?”


“Sepertinya Papa begitu terkejut saat aku mengatakan menyukai Nadiba, memangnya ada apa? Apakah jangan-jangan Papa juga menyukai Nadiba?”


****


Rama merasa sedih sekali karena Faruq sudah pulang kembali ke kota tanpa mengajaknya untuk ikut, Rama sudah merengek dan meminta supaya Faruq ikut membawanya namun Faruq tetap tak bisa membawanya karena Nadiba tidak memberikan izin untuk Rama ikut dengannya.


“Semua ini salah Ibu, aku kan ingin ikut dengan ayah pergi ke sana,” ujar Rama.


“Rama, tidak baik menyalahkan ibumu seperti ini,” ujar Kusuma.


“Biar saja, ini memang salah Ibu!”


Rama kemudian masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya, Nadiba benar-benar sedih melihat tingkah anak satu-satunya itu yang kini benar-benar membencinya, ia meminta saran pada Kusuma apa yang harus ia lakukan


saat ini.


“Aku tak mau pada akhirnya Rama membenciku seumur hidup, Bu.”


“Tenangkan dirimu, Nadiba.”


“Apakah aku harus menuruti permintaannya?”


“Untuk soal itu, Ibu tak bisa bicara banyak, kamu yang memiliki kuasa penuh untuk Rama.”


Nadiba memikirkan segala kemungkinan buruk yang akan Rama hadapi jika tinggal jauh darinya di rumah itu termasuk penyiksaan yang mungkin saja akan Luna lakukan pada Rama dan hal itu bukanlah sesuatu yang ia


harapkan.


****


Pada akhirnya Nadiba pun memutuskan untuk mengabulkan permintaan Rama walaupun dirinya sangat berat sekali untuk mengizinkan Rama pergi namun setelah ia pikir lagi sepertinya memang tidak ada jalan lain lagi


kecuali dirinya yang harus mengalah dan memberikan izin Rama untuk tinggal bersama dengan Faruq dari pada hubungannya dengan Rama akan merenggang selamanya.


“Ibu serius kan?”


“Iya Nak, Ibu serius.”


Rama nampak girang sekali karena akhirnya ia diperbolehkan oleh Nadiba untuk tinggal bersama dengan Faruq, Nadiba ikut tersenyum ketika melihat anaknya begitu bahagia dan antusias mendengar kabar baik ini.


“Aku akan coba menelpon Ayah.”


Rama kemudian mencoba menelpon ayahnya untuk memberi tahu kalau Nadiba memberikannya izin untuk tinggal bersama Faruq, tidak lama kemudian pada akhirnya Faruq menjawab telepon dari Rama dan anak itu langsung


menceritakan perihal keputusan Nadiba barusan.


“Ayah katanya ingin bicara dengan Ibu,” ujar Rama serayamemberikan ponselnya pada Nadiba.

__ADS_1


__ADS_2