Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Bersikap Acuh


__ADS_3

Nadiba pun akhirnya mengatakan yang sejujurnya pada Kusuma mengenai apa yang telah terjadi di antara dirinya dan Noah hingga mereka pulang tidak bersama, Kusuma dapat mengerti dengan keputusan yang telah dibuat


oleh Nadiba itu. Ia menghargai apa pun keputusan Nadiba karena ia yakin semua keputusan sudah dipikirkan secara masak apalagi hal ini menyangkut mengenai perasaan.


“Jadi bagaimana kelanjutannya setelah ini? Apakah kamu akan tetap bekerja di rumah pak Noah atau tidak?”


“Itu dia yang sedang aku pikirkan Bu, sepertinya aku tidak dapat untuk melanjutkan bekerja di sana karena perasaan pak Noah padaku akan semakin besar jika aku tetap bekerja di sana, akan tetapi kalau aku memilih untuk berhenti maka aku bingung harus bekerja di mana.”


“Menurut Ibu, lebih baik kamu berhenti bekerja di rumah pak Noah karena Ibu yakin ketika kamu berhenti maka itu adalah hal yang terbaik untuk kalian.”


“Terima kasih, Bu.”


Nadiba setelah itu mengirimkan sebuah pesan pada Noah yang intinya ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga dan ia harapkan Noah dapat mengerti dengan keputusan yang telah


diambil olehnya. Akan tetapi pada sore harinya ketika Nadiba tengah membuat makan malam untuk keluarganya, Noah datang untuk bicara dengannya. Nadiba mengatakan pada Noah bahwa semua sudah jelas dan ia harapkan Noah bisa mengerti keputusan yang sudah ia buat.


“Nadiba, kalau memang kamu memutuskan untuk berhenti dari bekerja di rumahku, maka kamu akan bekerja apa sementara kamu butuh biaya untuk biaya sewa rumah dan juga kehidupan sehari-harimu bersama Rama dan ibu?”


“Saya yakin kalau Tuhan akan memberikan jalan keluar terbaik dari masalah yang tengah saya hadapi Pak Noah.”


“Tapi Nadiba apakah kamu tidak dapat memikirkan lagi keputusanmu ini? Apakah kamu yakin ingin berhenti saja?”


“Saya sudah memikirkan ini dengan sangat masak Pak Noah, saya sudah mengatakan untuk tolong hargai keputusan yang sudah saya buat ini.”


****


Noah sejujurnya hancur sekali dengan keputusan yang sudah Nadiba buat, dirinya sangat berharap kalau Nadiba bisa terus bekerja di rumahnya dan pada akhirnya mereka bisa saling jatuh cinta akan tetapi harapan


Noah itu sirna sudah setelah Nadiba memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.


“Kenapa Papa nampak sedih sekali?” tanya Felix yang melihat papanya begitu sedih ketika kembali ke rumah.


“Semua karena Nadiba,” jawab Noah.


“Sudah aku duga pasti Papa bersedih karena wanita itu, untuk apa Papa menangisinya?”

__ADS_1


“Karena Papa mencintainya tidak sepertimu yang tega mempermainkan ketulusan hatinya.”


Felix nampak tetrawa mendengar ucapan papanya barusan, ia memberikan saran pada papanya untuk segera melupakan Nadiba dan melajutkan hidup.


“Karena Nadiba bukanlah akhir dari dunia.”


Setelah mengatakan itu Felix pergi meninggalkan Noah yang berpikir bahwa ucapan Felix barusan memang ada benarnya juga akan tetapi di sisi yang lain, dirinya sangat sulit untuk melupakan Nadiba karena wanita itu adalah satu-satunya wanita yang dapat membuatnya jatuh cinta lagi setelah ia bercerai dengan sang mantan istri.


“Apakah aku bisa melakukan seperti apa yang Felix katakan?”


Akan tetapi kemudian Noah berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia pasti bisa melakukan semua ini dan melupakan perasaannya yang tak terbalas oleh Nadiba.


“Baiklah, aku akan mencobanya dan semoga saja apa yang aku usahakan itu berhasil.”


****


Keesokan harinya Nadiba mulai mencari pekerjaan akan tetapi sangat sulit sekali baginya mencari pekerjaan di desa ini, karena tidak dapat mendapatkan pekerjaan lain maka Nadiba pun akhirnya bekerja untuk Darsih di ladang milik tantenya itu walaupun Darsih sudah menolak Nadiba akan tetapi Nadiba terus saja memaksa Darsih untuk menerimanya bekerja.


“Tante tidak perlu membayarku lebih, bayarlah aku seperti pekerja pada umumnya saja.”


“Terima kasih banyak, Tante.”


“Tidak masalah Nadiba, terima kasih karena kamu sudah mau membantu.”


“Iya Tante, kalau begitu aku permisi dulu.”


Nadiba merasa bahagia dan puas sekali karena hari ini ia dapat bekerja dan menghasilkan uang walaupun jumlahnya jelas tak seberapa. Setelah selesai bekerja di ladang itu, Nadiba pulang ke rumahnya dan disambut


oleh Kusuma yang terkejut karena pakaian yang Nadiba kenakan kotor sekali saat ini.


“Ya Tuhan, Nak. Kamu habis dari mana kok pakaiannya kotor begini?”


“Diriku habis membantu tante Darsih di ladang Bu, memanen sayuran.”


“Oh ya ampun, jadi kamu sekarang bekerja untuknya?”

__ADS_1


“Iya Bu hanya saat musim panen seperti sekarang saja sih, akan tetapi ini sudah cukup lumayan dari pada aku tidak bekerja sama sekali.”


****


Noah sudah berusaha untuk melupakan Nadiba seperti yang diminta oleh Felix beberapa hari yang lalu akan tetapi ia masih belum bisa melakukan hal tersebut karena bayang-bayang Nadiba masih saja ada dalam benaknya. Hari


ini Noah tergelitik untuk jalan-jalan dengan menggunakan mobilnya keliling desa dengan tujuan tentu saja mencari Nadiba dan apa pekerjaan baru wanita itu setelah keluar dari pekerjaan sebelumnya. Awalnya Noah tidak dapat menemukan di mana keberadaan Nadiba akan tetapi saat melewati ladang jagung, ia melihat Nadiba tengah berada di tengah ladang bersama dengan beberapa pekerja tengah memanen jagung yang sudah siap untuk panen. Noah seketika tentu saja memberhentikan mobilnya dan menatap Nadiba dari dalam mobil, ia terus


memperhatikan Nadiba hingga tak sadar bahwa saat ini Nadiba yang sudah merasa diperhatikan sejak tadi pun membalas tatapannya dan membuat Noah terkejut.


“Mau apa dia ke sini?” lirih Nadiba.


Nadiba pun kemudian memalingkan wajah dan hal tersebut membuat Noah sedikit kecewa karena respon yang diberikan oleh Nadiba saat melihat kedatangannya begitu dingin sekali bahkan ia sampai memalingkan wajahnya


padahal Noah tadi berusaha untuk tersenyum padanya.


“Kenapa dia melakukan itu padaku? Apakah dia membenciku sekarang?” tanya Noah penasaran dengan sikap Nadiba yang sangat berubah itu.


****


Luna meminta supaya Faruq tidak meninggalkannya saat ini akan tetapi Faruq tidak bisa untuk tetap tinggal karena ia benar-benar tidak mencintai Luna.


“Maafkan aku Luna, akan tetapi aku sadar bahwa sebenarnya aku tidak pernah mencintaimu sejak awal, aku hanya menjadikanmu pelarianku saja.”


Tentu saja hati Luna begitu sakit sekali mendengar ucapan Faruq barusan, ia menggelengkan kepalanya tanda ia tak mempercayai apa yang dikatakan oleh Faruq barusan karena baginya Faruq barusan sedang mencoba untuk


membohonginya.


“Jangan coba untuk membohongiku Faruq.”


“Aku mengatakan hal yang sebenarnya Luna.”


“Kamu meninggalkanku karena sekarang aku sudah jatuh miskin kan?”


“Tolong kamu hargai keputusan yang sudah aku buat.”

__ADS_1


__ADS_2