Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Rasa Bersalah yang Mendalam


__ADS_3

Nadiba memberitahu pada Kusuma dan Darsih bahwa saat ini Rahmat sudah ditemukan dan kini ia berada di rumah sakit, tentu saja Kusuma dan Darsih begitu bahagia mendengar kabar tersebut namun ada sesuatu hal yang


begitu mengganjal di dalam benak Kusuma, kalau memang adik iparnya itu sudah ditemukan dan kini berada di rumah sakit, kenapa raut wajah Nadiba nampak murung.


“Nak, apakah ada sesuatu hal yang lain?”


“Sebenarnya memang ada sesuatu.”


“Katakan pada kami Nadiba.”


“Sebenarnya tadi pihak rumah sakit menelpon untuk memberitahu bahwa om Rahmat sudah dalam keadaan tidak bernyawa.”


Darsih dan Kusuma seketika terkejut bukan main terutama Darsih yang langsung ambruk tak sadarkan diri, Kusuma dan Nadiba seketika langsung membawa Darsih menuju kamarnya. Nadiba meminta supaya Kusuma menjaga


Darsih dan biarkan dirinya yang pergi mengurus jenazah Rahmat.


“Baiklah, Nak.”


Nadiba segera bergegas menuju rumah sakit untuk mengurus jenazah Rahmat dan di tengah jalan menuju rumah sakit ia bertemu dengan Noah.


“Kamu mau ke rumah sakit sekarang?”


“Iya Pak, saya mau ke sana.”


“Kalau begitu naiklah ke dalam mobilku agar kamu bisa segera sampai di sana.”


Karena kondisinya saat ini Nadiba harus segera tiba di rumah sakit maka ia tanpa banyak pertimbangan langsung masuk ke dalam mobil Noah. Di dalam perjalanan menuju rumah sakit nampak Nadiba begitu sedih dan tak


percaya kalau Rahmat sudah tiada.


“Kenapa harus om Rahmat?”


“Semua sudah takdir Nadiba.”


“Apakah aku ini pembawa bencana di keluarga omku?”


“Kamu jangan bicara seperti itu, tidak ada yang namanya pembawa bencana.”


“Tapi Pak Noah.”


“Saya percaya bahwa semua manusia sudah memiliki waktunya masing-masing dan mungkin saja ini adalah waktunya pak Rahmat untuk pergi jadi tolong kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri.”


Nadiba menganggukan kepalanya, ia merasa bahwa ucapan Noah tadi bisa sedikit menenangkan kekalutannya. Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit akhirnya mereka tiba di rumah sakit, Noah bilang ia yang akan


mengurus semuanya dan Nadiba hanya tinggal tunggu saja.


“Tapi Pak Noah.”


“Bagaimanapun juga saya sangat dekat sekali dengan pak Rahmat, dia sudah banyak berjasa untuk keluarga kami maka tolong izinkan saya melakukan ini sebagai bentuk penghormatan pada almarhum.”


****

__ADS_1


Darsih begitu histeris dan tak terima ketika melihat jenazah suaminya, Kusuma berusaha menenangkan adiknya itu, seperti Darsih anak-anaknya juga begitu terpukul dan menangisi kepergian ayah mereka. Nadiba


yang hadir di sana ikut merasa kesedihan yang dialami oleh keluarga mendiang omnya yang sudah pergi untuk selama-lamanya ini.


“Semua karena kamu, Nadiba!”


“Iya, kalau bukan karena kamu maka ayah kami tidak akan mungkin meninggal dunia!”


Nadiba begitu sedih karena disalahkan atas kepergian Rahmat, Darsih nampak berusaha melerai anak-anaknya yang mulai menyalahkan Nadiba sebagai dalang meninggalnya Rahmat.


“Kalian jangan menyalahkan Nadiba, dia tidak salah apa-apa.”


“Andai saja Nadiba tidak pergi ke sini maka ayah tidak akan mungkin meninggal!”


“Cukup, tolong kalian jangan salahkan Nadiba.”


Nadiba yang merasa terlalu bersalah dengan keluarga Rahmat pun memutuskan untuk pergi keluar, ia menangis sesegukan karena merasa dirinya pantas mendapatkan cacian seperti itu.


“Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku membuat om Rahmat pergi untuk selama-lamanya?”


“Nadiba, apa yang kamu lakukan di sini?”


Nadiba terkejut ketika mendengar suara seseorang yang dikenal olehnya, dan rupanya memang orang tersebut adalah Noah.


“Tidak ada apa-apa, Pak Noah.”


“Kamu jangan coba berbohong padaku.”


****


“Tapi ini semua memang salah saya, Pak.”


“Saya sudah mengatakan bahwa semua manusia memang memiliki waktunya masing-masing kan?”


“Pak Noah ….”


“Nadiba, percayalah pada saya bahwa ini adalah jalan Tuhan, waktu pak Rahmat memang hanya sampai saat ini, kamu jangan menyalahkan dirimu seperti ini, kalau pak Rahmat masih hidup dan melihatmu seperti ini maka


saya yakin beliau pun akan sedih melihatnya.”


Alih-alih berhenti menangis justru tangis Nadiba semakin kencang, ia makin merasa bersalah pada mendiang omnya yang sudah pergi untuk selama-lamanya.


“Saya juga harus meminta maaf padamu, Nadiba.”


“Memangnya kenapa Pak Noah harus meminta maaf pada saya?”


“Karena sampai saat ini keberadaan anakmu belum juga dapat saya temukan, saya minta maaf.”


“Tidak apa, Pak, saya terus berdoa semoga saja Rama bisa segera ditemukan dalam keadaan selamat, kalau Rama tidak selamat juga maka saya tidak akan pernah bisa memaafkan diri saya sendiri.”


****

__ADS_1


Faruq langsung berdiri ketika Luna baru saja menginjakan kakinya di rumah, ia menarik tangan Luna untuk masuk ke dalam kamar mereka dan bertanya dari mana saja Luna seharian ini, Luna beralasan bahwa ia


sibuk meninjau proyek di luar kota.


“Apakah kamu pikir aku tidak tahu bahwa saat ini kamu berbohong?”


“Apa maksudmu?”


“Asisten pribadimu mengatakan bahwa kamu tidak pergi ke proyek yang ada di luar kota.”


“Sudahlah Faruq, jangan menggangguku, aku lelah.”


“Tunggu dulu, aku bahkan belum selesai bicara denganmu.”


“Memangnya apalagi yang kamu inginkan?”


“Apa yang aku inginkan? Aku ingin kamu jujur padaku mengenai di mana Rama berada.”


“Rama? Kenapa kamu harus menanyakan padaku soal anak itu? Mana aku tahu dia ada di mana sekarang.”


“Mustahil kalau kamu tidak tahu Rama ada di mana, kamu adalah dalang di balik menghilangnya anakku itu.”


“Apakah kamu memiliki bukti bahwa aku adalah dalangnya?”


Seketika Faruq terdiam mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Luna barusan, wanita itu tersenyum sinis pada Faruq dan mengatakan bahwa suaminya itu harusnya memiliki bukti terlebih dahulu sebelum menuduh orang lain


melakukan kejahatan. Luna kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan moment tersebut digunakan oleh Faruq untuk melihat ponsel Luna yang tergeletak di atas nakas.


****


Felix mendapatkan kabar bahwa ia diterima di perusahaan G Corp, tentu saja seperti yang sudah ia duga bahwa mereka pasti akan menerima lamaran kerjanya, berbekal ijazah sebuah universitas ternama di


Australia dan juga latar belakang keluarga yang mumpuni membuat ia yakin bisa bekerja di perusahaan tersebut.


“Papa pergi ke mana sekarang?”


Felix mencari di mana keberadaan papanya di seluruh penjuru rumah namun ia sama sekali tidak menemukan keberadaan papanya tersebut. Felix kemudian mencoba menghubungi nomor telepon papanya dan langsung diangkat.


“Papa di mana sekarang?”


“Papa sedang ada di pemakaman sekarang.”


“Pemakaman? Memangnya siapa yang meninggal?”


“Pak Rahmat, sopir yang biasa bekerja di rumah kita meninggal dunia.”


“Pemakaman mana?”


“Tentu saja pemakaman desa sebelah.”


Felix segera menutup sambungan teleponnya dan bergegas menuju pemakaman desa sebelah, begitu ia tiba di sana sudah disambut oleh drama yang dibuat oleh anak-anak mendiang Rahmat pada Nadiba.

__ADS_1


“Kamu itu pembawa sial! Pergi kamu dari makam ayah kami!”


__ADS_2