
Melihat kesungguhan di kedua mata Faruq saat mengatakan itu membuat Nadiba cukup percaya dengan apa yang dikatakan oleh mantan suaminya namun tentu saja ia tidak bisa begitu saja membiarkan Rama tinggal bersama Faruq selama libur sekolah apalagi Luna begitu membenci anaknya ini.
“Kamu mungkin memang akan menjaga Rama, tetapi kan kamu tidak setiap saat ada bersamanya. Kamu harus bekerja dan di rumah aku takut orang lain akan menyakitinya.”
“Aku akan berjanji padamu untuk menjaga Rama dengan baik selama libur sekolah nanti, aku akan pastikan dia tidak akan dijahati oleh Luna atau orang rumah yang lain, tolong Nadiba.”
“Kalau begitu tanya saja pada Rama langsung.”
“Rama sayang, kamu nanti ketika libur sekolah mau menghabiskan waktu dengan Ayah?”
“Aku takut dengan wanita itu.”
“Dia tidak akan menyakitimu lagi, kalau dia menyakitimu kamu langsung lapor pada Ayah.”
“Benarkah?”
“Iya, Ayah tidak akan membiarkan dia kembali menyakitimu.”
Rama pun akhirnya luluh dan mau ketika libur sekolah nanti berlibur di rumah Faruq, mendengar ucapan anaknya tersebut tentu saja Nadiba tidak bisa berkata banyak selain menuruti apa yang Rama inginkan.
“Baiklah kalau memang itu yang Rama inginkan.”
“Terima kasih banyak.”
Faruq memeluk Rama untuk yang terakhir kalinya karena ia tidak bisa berlama-lama di sini, ia kemudian berpamitan pada Rama serta Nadiba untuk kembali.
“Ayah akan pergi lagi?”
“Ayah kan harus bekerja sayang,” ujar Nadiba.
“Nanti saat libur panjang Ayah akan datang ke sini untuk menjengukmu dan libur sekolah kan tidak lama lagi maka kamu bisa pergi berlibur ke rumah Ayah.”
“Iya Ayah.”
Faruq kemudian pergi dari ruangan inap itu dan baru saja ia melangkahkan kaki dari ruangan inap itu ia bertemu dengan Darsih dan Kusuma yang baru saja tiba di rumah sakit ini.
“Mau apa kamu datang ke sini?”
“Aku tentu saja ingin menjenguk anakku.”
“Awas saja kalau istrimu itu berbuat jahat lagi pada cucuku, aku tidak akan tinggal diam!” seru Kusuma.
“Aku akan pastikan kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali, aku permisi.”
****
Luna baru saja hendak menuju ruangan inap Rama namun ia sudah keburu bertemu dengan Faruq yang rupanya sudah selesai menjenguk Rama, Faruq menarik Luna untuk pergi dari rumah sakit ini namun Luna tidak mau pergi.
__ADS_1
“Lepaskan aku!”
“Kamu jangan membuat onar, ini rumah sakit!”
“Apa saja yang kamu bicarakan dengan mereka di dalam sana?”
“Aku akan mengajak Rama berlibur di rumah selama ia libur sekolah.”
“Apa katamu?”
“Dan aku sudah berjanji pada Nadiba dan keluarganya kalau aku akan menjaga Rama dengan baik, jadi lebih baik kamu jangan bersikap kasar atau menjahatinya lagi karena aku akan benar-benar murka kalau sampai kamu melakukannya.”
“Faruq!”
“Aku tidak main-main dengan ucapanku Luna, kalau memang kamu masih ingin kita bersama maka turuti apa yang aku katakan barusan! Sekarang juga kita pulang.”
“Tidak, kamu tidak bisa melakukan ini padaku, lepaskan aku!”
Luna diseret masuk ke dalam mobi oleh Faruq dan rupanya sejak tadi ada Noah yang memperhatikan mereka dan Noah sempat mengambil beberapa foto mereka sebelum masuk ke dalam mobil.
“Apa yang tadi dilakukan oleh mereka di rumah sakit ini, ya?”
****
Noah mengunjungi Rama di rumah sakit, ia bertanya bagaimana kondisi anak Nadiba itu dan Nadiba mengatakan bahwa perlahan namun pasti kondisi anaknya sudah semakin membaik. Dokter bilang kalau kondisi Rama
“Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengarnya.”
“Pak Noah, sekali lagi kami berterima kasih karena Pak Noah sudah menemukan Rama dan juga membayar biaya rumah sakit Rama.”
“Bu Kusuma tidak perlu berterima kasih secara berlebihanpada saya, saya hanya berusaha membantu sebisa saya.”
Noah kemudian bilang ingin bicara sesuatu dengan Nadiba dan meminta wanita itu untuk ikut dengannya keluar ruangan inap Rama sebentar. Nadiba pun kemudian menitipkan Rama pada Kusuma dan Darsih seraya ia mengikuti Noah pergi keluar ruangan inap Rama.
“Jadi ada apa, Pak Noah?”
“Di depan tadi aku melihat wanita itu dan mantan suamimu, apakah barusan mereka datang ke sini?”
“Aku tidak tahu kalau Luna datang ke sini tadi karena aku sama sekali tidak berjumpa dengannya namun tadi memang mantan suamiku datang untuk menjenguk Rama.”
“Apa yang dia katakan?”
“Dia ingin nanti saat libur sekolah Rama ikut dengannya.”
“Dan kamu mengizinkannya?”
“Aku memberikan izin karena Rama yang menginginkannya, dia pasti merindukan sosok ayahnya selama ini kan?”
__ADS_1
“Apakah kamu yakin dengan keselamatan Rama?”
“Dia sudah menjamin semuanya, aku hanya perlu percaya dengan apa yang dia katakan.”
****
Rama sudah diizinkan untuk pulang oleh dokter setelah kondisi anak itu sudah membaik, Darsih mengajak mereka kembali tinggal di rumah untuk sementara waktu bahkan kalau memang Nadiba ingin selamanya tinggal di rumah ini pun sama sekali tidak masalah.
“Tidak Tante, kami hanya akan tinggal di sini untuk sementara waktu saja.”
“Kamu tak perlu mendengarkan apa yang anak-anakku katakan padamu, Nadiba.”
“Tapi aku masih merasa bersalah pada om Rahmat, aku akan segera mencari rumah kontrakan yang baru untuk kami tinggali.”
“Tidak bisakah kamu tinggal di sini saja?”
“Maaf Tante, aku tidak bisa melakukannya.”
Nadiba kemudian pamit untuk menengok keadaan Rama saat ini yang sudah berada di dalam kamar, ketika ia masuk ke dalam kamar nampak Rama sedang tertidur pulas hingga ia tidak mau membangunkan anaknya itu.
“Maafkan Ibu, Nak karena sudah membuatmu dalam keadaan seperti ini.”
Nadiba berusaha menahan air matanya supaya tidak tumpah dan akhirnya membangunkan Rama yang sedang lelap tertidur, Nadiba segera mengusap air matanya dan pergi keluar kamar.
“Tante, aku mau pergi ke rumah pak Noah dulu.”
“Kamu mau ke sana sekarang?”
“Iya, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan beliau.”
“Baiklah kalau begitu.”
****
Noah terkejut ketika mendapati Nadiba berdiri di depan pintu rumahnya, ia mempersilakan Nadiba untuk masuk ke dalam rumah dan Noah pun bertanya pada Nadiba apa yang membawa Nadiba datang ke sini.
“Pak Noah, sebelumnya saya berterima kasih sekali atas kebaikan hati Pak Noah karena sudah mau membantu saya banyak sekali.”
“Sudah aku katakan bahwa jangan memikirkan hal itu kan? Aku ikhlas membantumu.”
“Saya tahu hanya saja saya merasa benar-benar tidak enak pada anda, alasan saya datang ke sini adalah untuk mulai bekerja kembali.”
“Bekerja kembali? Tapi kamu sepertinya masih lelah sekali Nadiba, kalau memang kamu masih lelah jangan memaksakan diri dulu, aku bisa memahaminya, kok.”
“Tidak Pak Noah, saya tidak mau makan gaji buta karena Pak Noah sudah sangat baik pada saya dan keluarga, maka hanya dengan cara bekerja keraslah saya bisa membalas kebaikan anda.”
“Nadiba ….”
__ADS_1