Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Felix terus membuat Nadiba tersenyum sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Nadiba sudah merasa lama sekali ia tidak dibuat bahagia seperti ini oleh mantan suaminya terdahulu yaitu tentu saja Faruq, akan tetapi kehadiran Felix yang baru beberapa bulan ia kenal sudah berhasil membuatnya nyaman dan ia menjadi tidak ragu untuk menjatuhkan perasaannya pada pria ini.


“Terima kasih banyak karena sudah mengantarkanku pulang.”


“Tidak masalah.”


Nadiba hendak turun dari dalam mobil Felix namun tangannya ditahan oleh pria itu, sontak saja Nadiba menoleh pada Felix untuk menanyakan apakah ada sesuatu hal yang masih kurang.


“Iya tentu saja masih ada yang kurang.”


“Memangnya apa itu?”


“Ciuman selamat malam.”


Sontak saja pipi Nadiba memerah saat mendengar ucapan Felix barusan itu, Nadiba mengatakan bahwa ia tidak mau melakukan hal tersebut dan Felix tidak memaksa Nadiba untuk melakukannya.


“Selamat malam, Nadiba.”


“Selamat malam.”


Nadiba pun akhirnya turun dari dalam mobil Felix, akan tetapi sebelum ia masuk ke dalam rumah Nadiba sempat melambaikan tangannya terlebih dahulu pada pria itu dan kemudian baru masuk ke dalam. Saat ia baru saja masuk ke dalam rumah, rupanya Kusuma sudah menantinya di sana, Kusuma juga melihat kalau tadi Nadiba diantarkan pulang oleh Felix hingga membuatnya penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berdua.


“Nadiba.”


“Ibu kenapa ada di sini?”


“Ibu sudah melihatmu sejak tadi diantarkan pulang oleh tuan Felix.”


“Bu .…”


“Katakan sejujurnya pada Ibu, Nak, sebenarnya kamu dan tuan Felix itu ada hubungan kan?”


Nadiba merasa bahwa ia sudah tak dapat lagi menyembunyikan hal ini dari Kusuma, cepat atau lambat maka sang ibu juga akan tahu dan lebih baik ia jujur saja saat ini.


“Iya Bu, aku dan tuan Felix memang menjalin hubungan.”


Raut wajah Kusuma nampak terkejut sekaligus senang karena akhirnya Nadiba bisa menemukan pasangan hidupnya yang baru setelah ia bercerai dengan Faruq.


“Ibu sama sekali tidak masalah dengan itu kan?”


“Tentu saja tidak, Nak. Ibu sama sekali tidak masalah selagi hal itu membuatmu bahagia.”


****


Felix baru saja tiba di rumah setelah ia mengantarkan Nadiba pulang ke rumahnya, Noah sejak tadi menantikan ia pulang dan ketika Felix sudah pulang, Noah langsung ingin bicara dengan putranya itu.


“Papa ingin bicara denganmu, Felix.”


“Ada apa lagi, Papa?”

__ADS_1


“Sebenarnya apakah kamu tulus pada Nadiba atau hanya ingin mempermainkannya saja?”


“Kenapa Papa sepertinya ingin tahu sekali mengenai masalah pribadiku.”


“Papa sebenarnya tidak ingin membicarakan hal pribadi denganmu namun kalau Papa lihat sepertinya kamu tidak benar-benar mencintai Nadiba, kamu pasti hanya sedang bermain-main dengannya kan?”


“Itu sama sekali bukan urusan Papa.”


Ketika Felix hendak pergi meninggalkannya, Noah menahan tangan Felix supaya tidak pergi dulu karena ia belum selesai untuk bicara.


“Papa kan belum selesai bicara, kenapa kamu sudah mau pergi saja?”


“Astaga Papa ini, aku kan sudah mengatakan bahwa jangan urusi urusan pribadiku.”


“Katakan dulu kejujurannya pada Papa, benarkan yang Papa katakan tadi kalau kamu tidak benar-benar mencintai Nadiba?”


“Justru aku ingin bertanya hal yang sama pada Papa, apakah Papa sebenarnya menyukai Nadiba?”


“Kamu ini bicara apa? Siapa yang menyukai Nadiba? Sudahlah Felix jangan mengalihkan pembicaraan.”


“Aku tahu bahwa saat ini Papa sedang berbohong, Papa bersikap seperti ini karena cemburu padaku kan?”


****


Keesokan harinya Nadiba pergi bekerja ke rumah Noah seperti biasanya, pagi ini Felix sudah berangkat kerja sebelum Nadiba tiba di rumah. Nadiba menyapa Noah yang sedang berolahraga di halaman rumah, tiba-tiba


“Ada apa, Pak?”


“Nadiba, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan padamu.”


“Apa yang ingin Pak Noah tanyakan pada saya?”


“Ini menyangkut perasaanmu pada putraku.”


“Kenapa Pak Noah selalu menanyakan hal itu pada saya?”


“Tidak, hanya saja saya ingin tahu apakah kamu benar-benar mencintai putra saya atau tidak.”


“Tentu saja saya mencintai tuan Felix, saya tahu mungkin Pak Noah tidak akan menyetujui hubungan kami ini.”


“Siapa yang bilang begitu?”


“Itu hanya perkiraanku saja.”


“Nadiba, aku melakukan semua bukan karena ingin menghalangimu menjalin hubungan dengan siapa pun termasuk Felix hanya saja aku ingin mengetahui lebih dalam apakah memang kamu benar-benar mencintai putraku


atau tidak karena sejujurnya aku tak begitu yakin kalau Felix benar-benar mencintaimu.”


“Bagaimana bisa Pak Noah mengatakan hal itu?”

__ADS_1


“Saya tidak tahu, hanya saja perasaan saya mengatakan demikian.”


“Maaf Pak Noah, saya permisi dulu.”


Buru-buru Nadiba segera pergi masuk ke dalam rumah untuk memulai pekerjaannya hari ini, selepas Nadiba pergi kini Noah menghela napasnya panjang.


“Aku harap dia tak salah paham padaku.”


****


Ledi bicara dengan Luna mengenai Rama, Ledi mengatakan keberatan kalau Rama terus menerus tinggal di rumah itu bersama mereka namun Luna mengatakan kalau Rama bisa digunakan sebagai senjatanya supaya Faruq tidak


menceraikannya.


“Kalau begitu buat saja kamu hamil supaya pria itu tidak pergi dariku.”


“Aku sudah berusaha untuk membuat diriku hamil namun sampai sekarang aku belum juga hamil, Ma.”


“Kalau begitu kamu sebaiknya periksakan saja diri ke dokter mana tahu ada sesuatu yang salah darimu hingga juga belum memiliki keturunan.”


Sontak saja ucapan Ledi barusan membuat Luna naik darah, ia merasa tersinggung dengan ucapan mamanya itu dan lebih memilih langsung pergi meninggalkan ruangan kerja Ledi dengan perasaan jengkel sekaligus sedih.


Luna tiba di dalam ruangan kerjanya dan ia berusaha menenangkan dirinya supaya tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan ini.


“Aku tak menyangka kalau mama akan mengatakan hal menyakitkan seperti itu.”


Sementara itu setelah jam kantor usai, Luna mengajak Faruq untuk jalan-jalan dulu sebentar namun Faruq menolak dengan alasan ada Rama di rumah yang tengah menunggu mereka.


“Sebentar saja, ada sesuatu yang sangat ingin aku katakan padamu.”


Faruq menghela napasnya panjang dan akhirnya ia pun setuju untuk bicara dengan Luna saat ini.


****


Di rumah Ledi sudah berganti pakaian dan bersiap untuk makan malam, di meja makan sudah ada Rama yang duduk manis menunggu Faruq dan Luna kembali ke rumah namun sampai saat ini mereka berdua belum juga muncul padahal ia sudah sangat lapar.


“Kenapa kamu tidak makan?”


“Aku menunggu ayah dan tante Luna datang.”


Ledi menggelengkan kepalanya dan kemudian ia pun memakan hidangan yang ada di meja makan tanpa menyuruh Rama ikut makan bersamanya, ia sama sekali tidak peduli dengan anak itu hingga akhirnya ia


merasakan ada sesuatu hal yang aneh darinya, tiba-tiba saja kepalanya terasa begitu pusing dan tubuhnya mendadak tak dapat digerakan.


“Bu, anda baik-baik saja?” tanya Rama panik.


Ledi kemudian tak sadarkan diri bertepatan setelah Faruq dan Luna yang baru saja tiba di rumah ini, mereka berdua nampak terkejut dan panik dengan kejadian ini.


“Apa yang sebenarnya terjadi?!”

__ADS_1


__ADS_2