Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Liburan Bersama Ayah


__ADS_3

Ledi nampak bersungguh-sungguh ketika mengatakan kalau ingin berpisah dengan Prabu bahkan Ledi langsung membuka lemari pakaian dan mengeluarkan semua pakaian suaminya itu dari dalam lemari tersebut hingga semua


pakaian berhamburan di lantai dan kasur. Prabu tentu saja tidak tinggal diam dengan apa yang dilakukan oleh istrinya ini, ia menahan tangan Ledi dan meminta supaya wanita itu tidak bersikap berlebihan seperti ini.


“Apa katamu? Aku bersikap berlebihan?! Aku yang berlebihan padahal kamu sudah mengkhianatiku selama ini!”


“Aku akui bahwa aku bersalah karena sudah menjalin hubungan dengan wanita itu selama ini dan tidak pernah memberitahumu sampai kami memiliki anak akan tetapi bisakah kita bicarakan ini baik-baik tanpa harus berpisah? Apakah kamu tidak kasihan pada Luna kalau kita memutuskan untuk berpisah?”


“Luna sudah dewasa dan dia sudah tahu apa yang terjadi pada kita, bahkan dia mendukungku supaya kita berpisah!”


“Apa katamu? Jadi Luna sudah tahu mengenai masalah ini?”


“Iya, aku sudah tahu masalah ini, bagaimana bisa Papa tega berselingkuh dengan wanita itu?!” seru Luna yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan membuat suasana semakin memanas saja di dalam sini.


“Ledi, kita bisa bicarakan ini baik-baik tanpa harus berpisah.”


“Tidak, aku merasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan saat ini, pergi sekarang juga dari rumahku! Aku tidak mau melihatmu lagi seumur hidupku!”


Ledi mendorong tubuh suaminya hingga keluar dari dalam kamarnya dan ia pun melemparkan semua pakaian dan koper milik suaminya itu sebelum ia menutup kencang pintu kamar. Prabu berusaha mengetuk pintu kamar istrinya


itu namun Ledi sama sekali tidak bergeming dan Luna mengatakan kalau sebaiknya papanya itu pergi saja dari rumah ini.


“Papa tidak seharusnya melakukan itu pada mama, kalau bukan karena keluarga mama maka Papa tidak akan bisa sampai di posisi seperti ini.”


Setelah mengatakan itu Luna pun pergi meninggalkan Prabu yang nampak mengepalkan kedua tangannya geram dengan penghinaan yang dilakukan oleh istri dan anaknya.


****


Pada malam harinya Faruq baru tiba di rumah dan ia nampak heran ketika melihat sang papa mertua membawa kopernya masuk ke dalam mobil, ia sempat bertanya pada papa mertuanya mau pergi ke mana namun papa


mertuanya itu sama sekali tidak menjawab pertanyaannya dan kemudian pergi meninggalkan rumah itu menggunakan mobilnya.

__ADS_1


“Aneh sekali.”


Faruq kemudian masuk ke dalam rumah menuju kamarnya dan Luna, di dalam kamar itu nampak Luna sama sekali tidak menatapnya dan nampak kesal akan sesuatu hal. Faruq sendiri nampak tak mau terlalu tahu apa


yang terjadi pada wanita itu apalagi saat ini Luna dalam kondisi tidak baik-baik saja, salah sedikit saja ia bicara maka Luna bisa mengamuk dan ia malas meladeni ucapan wanita itu karena memang hari sudah larut malam dan ia begitu lelah setelah menempuh perjalanan jauh.


“Apakah kamu bertemu dengan papa di depan?” tanya Luna saat Faruq membuka kemeja yang ia kenakan saat ini.


“Iya, tadi aku sempat bertanya padanya namun ia tidak mau menjawab dia mau pergi ke mana karena tadi aku melihatnya membawa koper masuk ke dalam mobil.”


“Dia diusir dari rumah ini.”


“Apa katamu? Diusir?”


“Iya, papaku ketahuan berselingkuh dengan mantan sekretarisnya dan parahnya lagi mereka sampai memiliki seorang anak dari hubungan itu.”


“Benarkah?”


Luna kini menatap Faruq dan berjalan menghampiri suaminya itu, ia mengalungkan kedua tangannya di leher Faruq dan menatap dalam kedua mata Faruq, ia mengatakan bahwa ia tidak ingin rumah tangga mereka berakhir seperti rumah tangga kedua orang tuanya.


“Kalau memang kita berpisah itu bukan salahku tapi salahmu karena kamu yang selalu membuatku jengkel,” ujar Faruq yang kemudian mendorong pelan tubuh Luna supaya menjauhinya.


Luna nampak tak percaya dengan apa yang barusan sang suami katakan, baru saja ia hendak mengatakan sesuatu namun Faruq sudah memberikan isyarat bahwa ia tidak mau berdebat mengenai apa pun malam ini


dengannya. Faruq pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya sekaligus berganti pakaian, Luna nampak kesal dengan sikap Faruq yang seperti ini kalau ia menggunakan cara seperti yang dilakukan oleh mamanya supaya Faruq bisa tetap tinggal sepertinya hal itu tidak akan mempan karena Faruq yang sekarang sudah tidak silau lagi dengan harta tidak seperti dulu saat mereka masih berpacaran.


“Nadiba dan anaknya adalah batu sandunganku sampai kapan pun dan aku tidak boleh membiarkan mereka untuk hidup lebih lama atau aku bisa gila karena mereka selalu menjadi bayang-bayang dalam rumah tanggaku dan Faruq.”


****


Tidak terasa libur semester tiba juga, kemarin Faruq kembali datang ke kota ini untuk menjemput Rama berlibur di kota tempat tinggalnya. Kemarin Faruq juga mengambilkan raport yang diberikan oleh guru

__ADS_1


kelas Rama menggantikan Nadiba karena permintaan anaknya itu supaya sang ayah yang mengambilkan raportnya. Faruq nampak begitu bangga dengan capaian prestasi anaknya itu selama satu semester belakangan di sekolah barunya walaupun ia termasuk murid pindahan. Kini Rama berpamitan pada ibu serta neneknya untuk ikut pergi bersama dengan Faruq ke kota tempat pria itu tinggal.


“Jangan nakal selama di sana dan juga jangan membuat ayahmu repot, ingat pesan Ibu,” ujar Nadiba.


“Iya Bu, aku akan mengingat pesan Ibu, aku janji tidak akan merepotkan ayah dan juga tidak akan nakal,” ujar Rama.


Nadiba kemudian memeluk tubuh Rama untuk yang terakhir kalinya sebelum anaknya itu pergi berlibur bersama dengan mantan suaminya, setelah mereka berplukan kini Rama mencium tangan Kusuma dan Darsih, anak itu


berpamitan pada kedua neneknya dan kedua neneknya itu nanpak begitu emosional saat melepas Rama pergi bersama Faruq.


“Kamu harus kembali dengan selamat, Rama, Nenek akan selalu


mendoakanmu dari sini,” ujar Kusuma.


“Jangan nakal-nakal selama di sana, ikuti kata ayahmu,” ujar Darsih.


“Iya Nek.”


Akhirnya tiba juga untuk Rama pergi bersama Faruq, pria itu menyuruh Rama untuk masuk terlebih dahulu ke dalam mobil sebelum ia ikut masuk ke dalam sana.


“Baik Ayah.”


Setelah Rama masuk ke dalam mobil, Faruq berpamitan pada mereka bertiga, Faruq meyakinkan pada mereka bertiga bahwa selama Rama berlibur di sana maka ia akan menjaga Rama dengan baik dan tidak akan membiarkan hal buruk menimpa anaknya.


“Tolong kamu jaga Rama dengan baik, aku khawatir sekali kalau dia jauh dari kami,” ujar Kusuma.


“Iya Bu, aku pasti akan menjaganya dengan baik dan aku akan pastikan dia akan selamat ketika kembali aku antar ke sini,” ujar Faruq.


“Tolong jaga anak kita, jangan sakiti dia selama aku jauh darinya,” pinta Nadiba.


“Aku tidak akan menyakiti anak kita Nadiba, percayalah padaku,” ujar Faruq.

__ADS_1


Akhirnya Faruq pun masuk ke dalam mobil dan Rama melambaikan tangan pada mereka bertiga dari dalam mobil. Nadiba, Kusuma dan Darsih nampak berusaha menahan air mata dengan moment perpisahan ini dan melambaikan


tangan pada mobil yang membawa Rama pergi untuk beberapa minggu ke depan.


__ADS_2