Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Kasmaran


__ADS_3

Prabu pada akhirnya setuju bertemu dengan mantan istrinya itu namun ia menolak jika mereka bertemu di tempat yang sepi, ia ingin kalau mereka bertemu harus di tempat yang ramai karena kalau sampai Ledi ingin mencelakainya maka ia akan memiliki banyak saksi, tentu saja Ledi sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. Mereka setuju untuk bertemu di sebuah restoran dan Ledi tiba di restoran itu terlebih dahulu sampai akhirnya sang mantan suaminya tiba juga.


“Jadi kenapa kamu ingin bertemu denganku?”


“Apakah kamu yakin ingin aku langsung masuk pada intinya saja?”


“Aku tidak memiliki banyak waktu untuk berbasa-basi denganmu, cepat katakan apa yang kamu inginkan.”


Ledi nampak tersenyum ketika mendengar apa yang dikatakan oleh mantan suaminya itu, maka kalau memang itu yang diinginkan oleh Prabu, ia akan dengan senang hati mengabulkan yang ia katakan barusan.


“Baiklah, kenapa kamu ingin sekali menggulingkanku?”


“Apa maksudmu?”


“Kamu jelas tahu apa yang sedang aku bicarakan ini, Prabu. Tidak perlu berpura-pura kalau kamu tidak tahu.”


Prabu menghela napasnya panjang, wanita ini jelas mengetahui apa yang ia rencanakan saat ini karena sekarang Ledi sudah memiliki banyak mata-mata yang akan siap memberitahu tindak tanduknya.


“Kenapa hanya diam saja, kamu ingin bicara yang sejujurnya padaku atau kamu akan memilih menutup rapat mengenai hal ini.”


“Karena aku ingin posisiku kembali.”


Ledi nampak tertawa mendengar jawaban yang diberikan oleh Prabu barusan, Prabu pun nampak mengepalkan tangannya kuat, ia bersumpah akan membuat Ledi membayar apa yang sudah wanita ini lakukan pada hidupnya.


“Kamu bilang apa? Ingin posisimu kembali? Jangan harap kalau kamu bisa mendapatkannya kembali, Prabu. Itu sama sekali tidak akan mungkin terjadi.”


“Tentu saja itu akan mungkin terjadi, aku yakin akan hal itu.”


“Kamu bahkan tidak memiliki rasa bersalah setelah apa yang telah kamu lakukan padaku dengan berkhianat dengan wanita murahan itu hingga memiliki seorang anak.”


“Cukup, Ledi!”


“Kenapa memangnya? Apakah yang aku katakan barusan adalah sesuatu hal yang salah?”


****


Nadiba pergi ke rumah Noah untuk bekerja hari ini seperti biasanya dan karena hari ini adalah hari libur maka Felix tidak pergi bekerja, pria itu sudah bangun tidur dan tengah olahraga kecil di halaman rumah.


“Selamat pagi, Tuan Felix.”


“Selamat pagi Nadiba.”


“Saya mau masuk dulu.”


“Tunggu dulu.”


“Ada apa, Tuan?”


“Apakah kamu pura-pura untuk lupa?”

__ADS_1


Nadiba terdiam karena tahu apa yang tengah Felix maksudkan ini namun ia bingung bagaimana harus mengatakannya secara langsung pada pria ini.


“Kamu tidak akan mengingkari apa yang sudah kamu janjikan padaku sebelumnya kan?”


“Tentu saja tidak, Tuan Felix.”


“Kalau begitu aku menunggu jawabanmu sekarang.”


Nadiba terdiam dan memejamkan kedua matanya, ia berusaha mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki untuk mengatakan yang sejujurnya pada Felix.


“Baiklah Tuan Felix… sebenarnya ….”


“Iya, bagaimana?”


“Aku juga menyukai Tuan Felix.”


Seketika wajah Felix menjadi sumringah mendengar ucapan Nadiba barusan, ia sama sekali tidak menyangka kalau cintanya akan diterima oleh Nadiba.


“Kamu benar-benar serius kan, Nadiba?”


“Iya Tuan, saya serius.”


Felix nampak begitu bahagia dan berterima kasih dengan jawaban yang Nadiba berikan padanya ini, sementara itu Nadiba merasa tidak enak karena membuang banyak waktu untuk bicara dengan Felix sedangkan ia harus bekerja di rumah ini sekarang.


“Maaf Tuan Felix, akan tetapi saat ini saya harus segera bekerja.”


****


“Pak Noah nampak tidak baik-baik saja, apakah anda sakit?”


“Tidak, saya tidak sakit.”


“Apakah Pak Noah bersungguh-sungguh?”


Noah memutuskan untuk berbalik badan dan pergi meninggalkan Nadiba seorang diri, Nadiba tentu saja merasa heran dengan sikap Noah yang berbeda hari ini, ia jadi teringat kemarin sikap Noah juga agak aneh padanya dan seketika ucapan Kusuma terngiang di dalam kepalanya.


“Ya Tuhan, kenapa aku jadi memikirkan apa yang ibu katakan, sih?”


Nadiba menggelengkan kepalanya dan kemudian memutuskan untuk segera mengerjakan pekerjaannya, Felix tidak lama kemudian masuk ke dalam rumah dan ia tidak langsung masuk ke dalam kamarnya melainkan ia mendekati Nadiba yang tengah menyapu lantai bawah.


“Tuan Felix membutuhkan sesuatu?”


“Aku membutuhkanmu.”


“Tuan Felix ini apa-apaan, sih?”


“Aku hanya senang karena akhirnya kamu menerima cintaku juga.”


Nadiba nampak bersemu saat Felix mengatakan hal itu, tidak lama kemudian Felix memutuskan untuk pergi ke kamarnya dan Nadiba menghela napasnya dalam, berada di dekat Felix membuat degup jantungnya berdegup

__ADS_1


lebih cepat.


“Apa yang terjadi denganku?”


****


Akhirnya waktu bekerja Nadiba pun selesai, ia berpamitan pada Noah dan Felix, Nadiba hendak pulang sendiri namun ia dihalangi oleh Felix karena pria itu mengatakan bahwa ia ingin mengantarkan Nadiba pulang.


“Tidak perlu Tuan Felix, saya bisa pulang sendiri.”


“Namun aku khawatir kalau sesuatu hal yang buruk terjadi padamu, nanti ketika kamu pulang sendiri seperti waktu itu,” ujar Felix.


“Felix, apakah kamu tidak mendengar apa yang Nadiba katakan barusan? Dia kan bisa pulang sendiri, kamu tak perlu mengantarkannya pulang,” ujar Noah.


“Kok Papa jadi ikut-ikutan begini, sih?” tanya Felix heran.


“Kamu jangan memaksa Nadiba, dia sudah membuat keputusan jadi lebih baik kamu hargai keputusan yang telah ia ambil sekarang,” tegas Noah.


“Ada apa dengan Papa ini? Sikap Papa benar-benar berbeda sekali dari biasanya.”


“Pak Noah benar, Tuan Felix, saya bisa pulang sendiri dan saya akan baik-baik saja.”


“Tidak bisa begitu Nadiba, aku akan mengantarkanmu pulang.”


Felix tetap pada pendiriannya untuk mengantarkan Nadiba pulang, ia menarik tangan Nadiba untuk masuk ke dalam mobilnya dan tentu saja Nadiba tidak memiliki kesempatan untuk menolak karena Felix sudah memaksa


barusan.


“Nikmati saja perjalanan ini, sayang,” ujar Felix manis dan kemudian ia menyalakan mesin mobilnya.


Diam-diam Noah memperhatikan mereka dari dalam rumah dan kedua tangannya mengepal melihat kedekatan Felix dan Nadiba saat ini.


****


Nadiba akhirnya diantarkan pulang oleh Felix hingga ke rumah, sepanjang perjalanan menuju rumah Felix mengajak Nadiba untuk mengobrol namun Nadiba seperti masih merasa canggung dan justru ia mempertanyakan


keputusan yang telah ia ambil barusan mengenai status hubungannya dengan Felix.


“Nadiba, kok sepertinya kamu diam saja sejak tadi, sih?”


“Apa? Saya baik-baik saja, kok, Tuan Felix.”


“Kamu tidak perlu bicara dengan formal padaku, sekarang kan kita kekasih.”


“Maaf, hanya saja… aku belum terbiasa.”


“Tidak masalah, lama kelamaan kamu pasti akan terbiasa, kok.”


“Tapi kalau di depan pak Noah, aku tetap akan memanggilmu tuan Felix.”

__ADS_1


“Jika aku keberatan bagaimana?”


“Apa?”


__ADS_2