Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Memulai Kembali Bekerja


__ADS_3

Faruq akhirnya berangkat ke kantor untuk memulai bekerja di hari pertamanya setelah sekian lama ia tidak kembali ke kantor ini, ketika tiba di sana nampak beberapa mata menatapnya namun dari tatapan mereka itu nampak mereka tidak menyukai Faruq kembali ke kantor ini namun Faruq tak memedulikan tatapan mereka dan terus saja berjalan memasuki lift, ia harus menemui Luna terlebih dahulu untuk membicarakan sesuatu dengan mantan istrinya sebelum ia tahu harus bekerja di mana. Faruq tiba di lantai ruangan Luna berada, asisten pribadi Luna mempersilakan Faruq untuk masuk ke dalam ruangan itu karena Luna sejak tadi sudah menunggu.


“Terima kasih.”


Faruq mengetuk pintu ruangan itu sebelum masuk ke dalamnya, ketika ia masuk nampak Luna sedang duduk di kursinya dan tersenyum ketika melihat Faruq masuk ke dalam ruangan kerjanya ini.


“Akhirnya kamu datang juga, silakan duduk.”


“Terima kasih.”


Faruq agak canggung harus bicara dengan Luna seperti ini di ruangan kerja wanita ini, sejujurnya ia bukan pertama kalinya masuk ruangan ini karena sebelumnya ia pernah menghadap papanya Luna ketika hendak menikahi wanita ini dan di sana ia bersumpah akan menceraikan Nadiba supaya menjadikan Luna satu-satunya istrinya.


“Faruq, kamu kenapa?”


“Oh maaf, aku hanya teringat kejadian masa lalu di ruangan kerja ini.”


“Benarkah?”


“Iya, dulu aku mengingat kejadian di mana papamu meminta keseriusanku untuk menikahimu.”


“Oh rupanya kamu masih mengingat itu.”


“Jadi apa pekerjaan yang akan kamu berikan padaku, Luna?”


“Kamu akan menjadi asisten pribadiku mulai hari ini.”


“Apa maksudmu? Bukankah di depan sana asisten pribadimu?”


“Dia bukan asisten pribadiku, dia pegawai departemen pemasaran namun aku sengaja merekrutnya untuk beberapa hari sampai aku menemukan pengganti asisten pribadiku yang memutuskan berhenti bekerja karena


suaminya tidak mengizinkan dia bekerja lagi setelah ia diketahui hamil.”


“Oh seperti itu rupanya.”


“Jadi, bagaimana menurutmu?”


“Aku sudah datang ke sini dan tidak mungkin untuk pulang lagi kan?”


Luna nampak tersenyum mendengar jawaban Faruq barusan, maka ia pun dengan senang hati langsung menjelaskan apa saja yang perlu Faruq lakukan untuk menjadi asisten pribadinya.


****


Kusuma merasa tidak tenang belakangan ini, ia seperti merasa sedang diawasi oleh seseorang bahkan ketika ia sedang berjemur di halaman rumahnya. Nadiba awalnya tidak menaruh curiga apa pun pada sang ibu hingga


akhirnya ia merasa kalau belakangan ini sepertinya ibunya bersikap agak aneh dan ia pun bertanya pada Kusuma sebenarnya apa yang terjadi pada ibunya.

__ADS_1


“Bu, sebenarnya ada apa?”


“Apa maksudmu menanyakan itu?”


“Aku tahu kalau saat in Ibu tengah menyembunyikan sesuatu dariku kan?”


Kusuma nampak terdiam mendengar pertanyaan yang Nadiba tanyakan barusan hingga membuat Nadiba menjadi semakin yakin kalau memang ada sesuatu hal yang coba ibunya sembunyikan darinya.


“Ibu tak perlu menyembunyikan apa pun dariku, kalau memang ada sesuatu maka Ibu dapat mengatakannya.”


“Sejujurnya memang ada sesuatu hal yang mengganggu pikiran Ibu belakangan ini, Nak.”


“Apa itu, Bu?”


“Sebenarnya belakangan ini Ibu merasa kalau ada seseorang yang sedang mengawasi Ibu.”


“Apa maksud Ibu?”


“Mungkin ini hanya halusinasi saja namun entah kenapa Ibu merasa kalau ini bukan halusinasi Nadiba, Ibu merasa sepertinya ada seseorang yang mengawasi Ibu terus, apakah mungkin itu Nimas?”


“Nimas kan sedang dipenjara Bu, mana mungkin dia melakukan itu?”


****


Selepas mendapatkan cerita dari Kusuma barusan membuat Nadiba jadi ikut memikirkan siapa gerangan yang terus menerus mengawasi Kusuma, sejujurnya memang Nadiba khawatir kalau Nimas adalah dalang di balik semua ini namun Nimas saat ini kan sedang dipenjara jadi tidak mungkin kalau Nimas yang melakukan itu.


“Ada apa, Nadiba?” tanya Noah yang membuat Nadiba terkejut.


“Oh bukan apa-apa, Pak Noah,” jawab Nadiba.


“Kamu yakin?”


“Iya, saya baik-baik saja.”


Walau tidak yakin apa yang Nadiba katakan namun pada akhirnya Noah memutuskan untuk pergi meninggalkan Nadiba dan tak mau mengganggu wanita itu bekerja.


“Aku tak boleh memikirkan hal yang lain dulu, fokus saja melakukan pekerjaanku hari ini.”


Nadiba akhirnya mengerjakan pekerjaannya hari ini dan fokus saja tanpa memikirkan hal yang lain hingga ketika siang Noah mengatakan bahwa ia ingin pergi ke kota untuk melayat.


“Baik Pak Noah.”


“Kalau sesuatu hal terjadi di rumah, segera hubungi aku, jangan sungkan.”


“Iya Pak Noah.”

__ADS_1


Maka kemudian Noah pun bergegas masuk ke dalam mobilnya untuk pergi dan Nadiba sendirian di rumah mengerjakan pekerjaannya, selepas Nadiba selesai mengerjakan pekerjaannya ponselnya berdering dan ketika


ia melihat nama yang tertera di ponselnya nampak ada nama Felix di sana.


“Tuan Felix?”


****


Kusuma tengah menunggu Rama pulang di halaman rumah, ia melihat jam dinding yang terpasang di ruang tamu dengan gelisah karena sampai saat ini Rama belum juga kembali.


“Ke mana dia? Kok jam segini belum kembali juga?”


Kusuma khawatir dengan cucunya maka ia pun pergi menuju sekolah Rama untuk memastikan kalau cucunya masih ada di sana namun ketika tiba di sekolah justru ia tidak menemukan Rama di sana, menurut guru yang mengajar Rama sejak tadi anak itu sudah pulang.


“Benarkah dia sudah pulang, Bu?”


“Iya Bu, Rama sudah pulang memangnya Rama belum juga kembali ke rumah?”


“Belum, Rama belum sampai rumah oleh sebab itu saya datang ke sini untuk memastikannya.”


Kusuma kemudian berpamitan pada gurunya Rama dan memutuskan untuk pulang ke rumah namun saat dalam perjalanan pulang dirinya diserempet oleh seseorang yang menggunakan sepeda motor dan membuatnya terjatuh.


“Aduh.”


Kusuma terjatuh ke pinggir jalan, untungnya saja ia tidak mengalami luka serius dan ia melanjutkan perjalanan pulang ke rumah namun sesampainya di rumah ia terkejut ketika menemukan Rama tak sadarkan diri di


depan pintu rumah sementara kondisi jendela rumah dalam keadaan pecah seperti ditimpuk batu.


“Ya Tuhan, apa yang sebenrnya terjadi saat ini?”


Kusuma segera menghampiri Rama dan berusaha membangunkan cucunya, sementara itu tetangga berdatangan ke rumah untuk memastikan apa yang terjadi pada Kusuma dan Rama.


****


Nadiba diberitahu oleh seorang tetangga bahwa Rama tadi pingsan di depan rumah dan sekarang kondisi rumah mereka kacanya hancur akibat dilempar batu. Nadiba pun segera pulang ke rumah untuk memastikan apa yang


terjadi di rumahnya, ketika tiba di rumah dirinya mendapati Rama sudah siuman dan ia langsung memeluk putranya itu.


“Rama.”


“Ibu.”


“Apa yang terjadi sebenarnya, Nak?”


“Tadi ketika aku pulang ke rumah ada orang asing di sini, aku berteriak dan orang itu malah membekap mulutku hingga aku pingsan.”

__ADS_1


“Ya ampun.”


“Nadiba, Ibu khawatir kalau ada orang jahat yang ingin mencelakai kita,” ujar Kusuma khawatir.


__ADS_2