
Akhirnya Faruq dan Rama tiba juga di sebuah rumah kontrakan yang dihuni oleh Luna dan Ledi selama ini, Faruq nampakl tak percaya kalau saat ini Luna dan Ledi akan tinggal di rumah yang jauh dari kata mewah seperti rumah yang selama ini mereka tempati.
“Luna, apa yang terjadi padamu? Kenapa bisa tinggal di tempat seperti ini?”
“Semua ini karena ulah papaku, dia mengusirku dan mama demi selingkuhan dan anak haramnya.”
Faruq tentu saja terkejut saat ternyata Prabu akan melakukan tindakan mengerikan seperti ini pada anak dan mantan istrinya padahal Prabu sama sekali tidak berhak atas rumah itu tapi sepertinya pria tersebut menggunakan cara lain supaya dapat mengusir Luna dan Ledi dari rumah tersebut.
“Dia sudah mengganti semua nama mama dan aku pada semua aset yang dimiliki oleh perusahaan, dia sengaja ingin membuat kami jatuh miskin dan sekarang parahnya lagi aku sudah tidak memiliki pekerjaan.”
Faruq tentu saja iba dengan apa yang terjadi pada Luna saat ini, dalam sekejap mata keluarga istrinya ini tiba-tiba langsung jatuh miskin karena ulah papanya yang tamak harta, sekarang mereka harus tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sangat kecil dan jauh dari kata mewah seperti rumah mereka dulu.
“Ayah, kenapa kita ke sini?” tanya Rama heran.
“Tante Luna sudah tidak lagi tinggal di rumah itu, Nak,” jawab Faruq.
“Jadi selamanya kita akan tinggal di sini begitu?”
Rama nampak kecewa saat tahu mereka tidak lagi tinggal di rumah besar dan mewah itu, kini Rama juga tidak memiliki kamar sendiri dan harus tidur di ruang tamu karena dua kamar sudah diisi oleh Luna dan Faruq sementara
kamar yang lain sudah diisi oleh Ledi.
“Kalau begitu lebih baik aku tidak pulang saja ke sini,” gumam Rama.
Faruq tahu bahwa anaknya ini kecewa dengan kenyataan yang harus mereka alami saat ini akan tetapi Faruq mengatakan pada Rama bahwa untuk sementara waktu Rama jangan mengeluh dulu dengan keadaan sulit yang
tengah mereka hadapi saat ini.
****
Faruq menelpon Nadiba dan mengatakan bahwa Rama ingin kembali ke desa dan hal tersebut tentu saja membuat Nadiba terkejut karena terakhir kali sebelum Rama pamit kepadanya, anaknya itu berkeras untuk ikut dengan
Faruq ke kota.
“Luna saat ini diusir dari rumahnya oleh papanya sendiri.”
“Apa katamu? Bagaimana bisa?”
“Papanya begitu tamak akan harta dan ia menggunakan mamanya Luna yang sakit untuk memanipulasi surat pemindahan kekayaan padanya.”
“Ya Tuhan jahat sekali orang itu.”
__ADS_1
“Begitulah, sekarang kami tidak lagi tinggal di rumah yang besar dan mewah, kami hanya tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil dan kalau Rama tinggal di sini maka kasihan dia.”
“Aku mengerti, jadi kapan Rama akan pulang?”
“Secepatnya aku akan mengantarkan Rama pulang padamu.”
“Tidak perlu Mas, biar aku saja yang ke sana menjemput Rama.”
“Apakah kamu yakin, Nadiba?”
“Tentu saja Mas, lagi pula kamu kan harus bekerja dan baru kemarin kamu ambil cuti.”
“Baiklah kalau begitu, kabari saja aku kalau kamu ingin berangkat ke kota.”
“Baik Mas.”
Faruq menutup sambungan teleponnya dengan Nadiba dan selepas Faruq menutup sambungan teleponnya, Nadiba langsung memesan tiket kereta untuk ke kota menjemput anaknya yang ingin pulang bersamanya.
****
Nadiba memberanikan diri menemui Noah untuk meminta izin pada pria itu agar ia bisa pergi ke kota dan menjemput Rama. Noah sendiri nampak terkejut saat Nadiba meminta izin padanya untuk menjemput Rama padahal setahunya Rama sudah bahagia dengan ayah kandungnya di kota sana.
“Ya Tuhan, kasihan sekali istrinya mantan suamimu itu.”
“Begitulah, selain itu dia juga harus merawat ibunya yang sakit.”
“Saya mengerti, lantas kapan kamu akan ke kota?”
“Lusa, Pak. Saya sudah pesan tiket kereta untuk ke sana.”
“Kamu naik kereta?”
“Iya Pak, saya akan naik kereta.”
“Kalau begitu batalkan saja tiket keretamu, saya akan mengantarkan kamu ke kota.”
“Apa? Tidak perlu, Pak. Saya tidak mau merepotkan anda.”
“Siapa juga yang merepotkanmu, Nadiba? Saya ingin supaya kamu bisa cepat sampai di sana dan kemudian membawa Rama kembali juga dengan cepat. Ketimbang naik kereta lebih baik naik mobil saya karena bisa langsung sampai depan rumah.”
“Tapi Pak ….”
__ADS_1
“Sudahlah kamu batalkan saja tiketnya, kalau memang uangnya tidak dapat dikembalikan maka saya yang akan mengganti tiketmu.”
“Eh, tidak perlu pak, itu sama sekali tidak perlu.”
Nadiba kemudian berterima kasih dan pergi dari hadapan Noah, selepas Nadiba pergi kini Noah tersenyum karena rencananya untuk mengantarkan Nadiba bisa berhasil juga.
****
Selepas tiba di rumah, Nadiba langsung mengabarkan pada Kusuma bahwa lusa ia akan pergi ke kota untuk menjemput Rama karena sekarang Luna sudah jatuh miskin dan mereka tinggal di rumah kontrakan yang
sempit sekali. Kusuma tentu saja terkejut dan tak percaya kalau Luna sudah jatuh miskin saat ini mengingat kekayaan keluarganya tak ternilai.
“Semua ini kata mas Faruq adalah ulah papanya, dia sengaja memanipulasi surat pemberian kekayaan dengan menggunakan mamanya Luna yang sedang sakit.”
“Oh ya ampun, mengerikan sekali papanya Luna itu.”
“Iya Bu, maka dari itu aku ingin segera menjemput Rama supaya dia bisa kembali bersama kita lagi.”
“Itu adalah ide yang bagus, Nak. Ibu sangat mendukungmu untuk melakukan itu. Akan tetapi kamu akan ke kota naik apa, Nak?”
“Anu… aku ke sana dengan diantarkan oleh pak Noah.”
Sontak saja Kusuma kembali terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh putrinya barusan, ia sampai meminta Nadiba untuk mengulangi kembali jawabannya takut barusan ia salah dengar.
“Tidak Bu, yang tadi itu Ibu sama sekali tidak salah dengar karena aku akan diantarkan oleh pak Noah.”
“Tapi kenapa bisa begitu, Nak?”
“Sebelumnya aku sudah memesan tiket kereta api akan tetapi ketika aku meminta izin pada pak Noah untuk pergi ke kota menjemput Rama, justru dia yang memintaku membatalkan tiket keretanya dan ia sendiri yang akan mengantarku ke sana.”
****
Hari yang dinanti itu pun tiba juga, Noah sudah bersedia dengan mobilnya di depan rumah keluarga Nadiba. Kusuma membantu Nadiba membawakan tas berisi pakaian putrinya itu ke dalam mobil Noah.
“Terima kasih banyak atas kebaikan hati Pak Noah yang mau mengantarkan Nadiba ke kota.”
“Bu Kusuma jangan berterima kasih pada saya, saya melakukan ini karena kebetulan saya ada perlu di kota itu jadi dari pada saya hanya sendirian di dalam mobil maka akan jauh lebih baik kalau Nadiba ikut bersama saya, hitung-hitung ada teman mengobrol.”
Akhirnya Nadiba keluar dari dalam rumah dan ia berpamitan pada sang ibu sebelum masuk ke dalam mobil Noah.
“Hati-hati di jalan, Nak.”
__ADS_1