Anugerah Cintamu

Anugerah Cintamu
Laporkan Saja Aku


__ADS_3

Nadiba terkejut bukan main saat menemukan sosok Nimas berada di dalam toilet ini bersama dengn dirinya apalagi nampaknya Nimas sedang ingin berbuat kejahatan padanya.


“Apa yang hendak kamu lakukan padaku, Nimas?”


Namun Nimas sama sekali tak menjawab pertanyaan yang Nadiba ajukan, ia mendorong Nadiba hingga terjatuh ke lantai, Nimas sebenarnya ingin mengakhiri nyawa Nadiba di tempat ini namun ia tidak berniat untuk melakukan hal tersebut karena kalau sampai Nadiba pergi maka permainan tidak akan menyenangkan lagi.


“Sebenarnya aku ingin sekali menghabisimu di sini akan tetapi aku masih ingin melihatmu menderita jadi tunggulah sebentar lagi.”


Setelah mengatakan itu Nimas langsung pergi dari toilet tersebut dan mengunci pintu toilet tersebut sebelum Nadiba berhasil keluar. Nadiba terkejut karena pintu toilet tak dapat dibuka dan ia berteriak meminta tolong supaya ada seseorang yang dapat membantunya keluar dari sini.


“Tolong!”


Nimas nampak menyeringai karena ia berhasil mengunci Nadiba di toilet dan ini akan memberikannya cukup waktu untuk membuat sesuatu kejutan untuk Nadiba. Nimas mendapatkan telepon dari orang suruhannya dan raut wajah


wanita itu nampak terkejut saat mendengar kabar yang diberikan tersebut.


“Apa maksudmu? Kenapa tidak berhasil lagi?”


“Maafkan aku namun ada orang yang memergokiku tadi ketika hendak menyuntikan cairan itu pada infus ibunya Nadiba.”


“Siapa orang itu?”


“Aku tidak tahu namun dia seorang laki-laki.”


“Laki-laki katamu?”


Nimas sedang memikirkan siapa orang yang tengah dimaksud oleh orang suruhannya namun ia malah dibuat terkejut oleh Darsih yang memanggil namanya.


“Sudah aku duga kamu yang berada di balik semua ini.”


“Apa maksud Ibu?”


“Kamu ingin mencoba membuat hal yang buruk lagi pada tante Kusuma kan?”


“Aku sama sekali tidak mengerti apa yang Ibu katakan.”


“Nak, mau sampai kapan kamu sadar? Apa yang kamu lakukan ini sudah sangat keterlaluan.”


Nimas nampak menghela napasnya panjang, ia nampak tak mau berdebat terlalu lama dengan ibunya dan memilih untuk segera berbalik badan namun Darsih mengatakan sesuatu hal yang membuat Nimas berhenti.

__ADS_1


“Ibu akan melaporkanmu pada polisi.”


****


Darsih terpaksa mengatakan itu karena ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya untuk menghentikan aksi tak terpuji Nimas. Nimas sendiri nampak terkejut dan tak percaya dengan apa yang Darsih katakan barusan,


Nimas menanyakan apakah dirinya akan benar-benar dilaporkan oleh Darsih ke polisi?


“Iya, Ibu tak memiliki pilihan lain, Nak.”


“Kalau begitu silakan saja Ibu laporkan aku pada polisi, aku sama sekali tidak takut karena aku tak bersalah!”


Darsih nampak menggelengkan kepalanya dengan jawaban yang diberikan oleh Nimas barusan, sepertinya memang Nimas sudah benar-benar dibutakan pintu hatinya karena ia tak dapat untuk diberikan nasihat bahwa apa


yang dilakukannya selama ini adalah sebuah hal yang salah.


“Silakan saja kalau memang Ibu memiliki bukti kalau memang aku terlibat dalam kasus ini.”


Setelah mengatakan itu Nimas langsung pergi meninggalkan Darsih, tentu saja hati Darsih hancur bukan main dengan sikap Nimas yang seperti tadi. Ia tak menyangka kalau putrinya sudah sedemikian rupa berubah hingga tak dapat untuk ia nasihati.


“Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi pada putriku?”


Sementara itu Nimas masuk ke dalam mobilnya dan menghela napasnya panjang, sejujurnya saat ini ia tengah khawatir dengan ancaman yang Darsih berikan padanya namun ia yakin kalau Darsih pasti tidak akan tega untuk melaporkannya pada polisi.


****


langsung berlari ketakutan karena mengira Nadiba hantu dari dalam toilet tersebut. Akan tetapi ketika petugas kebersihan dan teknisi datang untuk memperbaiki toilet yang katanya rusak, mereka dibuat terkejut ketika menemukan Nadiba yang terkunci sendirian di dalam sana.


“Terima kasih banyak karena kalian sudah membukakan pintunya,” ujar Nadiba yang sudah lemah karena sejak tadi ia terperangkap dan berteriak dari tempat ini.


Nadiba langsung pergi menuju ruangan inap Kusuma, ia khawatir kalau sesuatu hal yang buruk terjadi pada Kusuma namun untungnya saja saat ia tiba di sana, ia tak menemukan hal buruk pada ibunya.


“Nadiba, kamu ke mana saja? Kenapa lama sekali pergi ke toilet?” tanya Felix.


“Ibu baik-baik saja?” tanya Rama.


Nadiba kemudian jatuh tak sadarkan diri karena terlalu lelah selama dikurung di dalam toilet, Felix, Rama dan Kusuma nampak terkejut dengan Nadiba yang tak sadarkan diri. Felix langsung membawa Nadiba ke dokter


untuk memeriksakan bagaimana keadaan wanita ini. Dokter mengatakan bahwa Nadiba hanya kelelahan saja hingga ia bisa pingsan begini, dokter bilang sebentar lagi bahwa Nadiba pasti bisa siuman.

__ADS_1


****


Nadiba mengerjapkan kedua matanya perlahan dan hal pertama yang ia lihat adalah Felix yang tengah menjaganya, pria itu nampak bahagia ketika akhirnya Nadiba membuka kedua matanya.


“Syukurlah kalau kamu sekarang sudah sadar, Nadiba.”


“Apa yang terjadi pada saya, Tuan?”


“Kamu tadi pingsan di ruangan inap ibumu, Nadiba.”


Nadiba mengingat kejadian itu ketika ia tak sadarkan diri, ia kemudian meminta maaf pada Felix karena telah membuat pria ini repot namun Felix justru penasaran dengan apa yang terjadi pada Nadiba selama 4 jam


belakangan ini.


“Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Nadiba?”


Nadiba pun menceritakan apa yang ia alami tadi selama 4 jam, Felix terkejut ketika mengetahui bahwa Nimas yang telah mengurung Nadiba di toilet karena sepertinya ia hendak melakukan sesuatu hal yang buruk pada


Kusuma namun Felix berhasil mengganggalkan aksi perawatn suruhan Nimas yang hendak mencelakai Kusuma tadi.


“Syukurlah kalau begitu, Tuan.”


“Nimas sudah keterlaluan Nadiba, dia harus diberikan pelajaran atas tindakan tidak terpujinya ini.”


“Tidak perlu Tuan, tolong jangan terlibat terlalu jauh dalam masalah ini.”


“Kenapa Nadiba? Aku tidak bisa tinggal diam ketika wanita yang aku cintai disakiti oleh orang lain seperti ini.”


****


Darsih baru saja tiba di rumah namun ia sama sekali tidak menemukan sosok Nimas di rumah ini, ia menghela napasnya panjang dengan kelakuan Nimas yang selalu saja membuat masalah dan ingin mencelakai keluarga


Nadiba.


“Kamu dulu anak yang baik namun kenapa sekarang kamu sangat berubah begini, Nimas?”


Darsih terkejut ketika menemukan sebuah surat yang ditulis oleh Nimas di atas meja, Darsih membaca surat tersebut dan nampak terkejut ketika membaca keseluruhan isi surat tersebut, ia segera mencoba menelpon Nimas


namun sayangnya nomor telepon Nimas tidak aktif.

__ADS_1


“Ya Tuhan, aku harus menghentikan anak itu.”


Darsih kemudian segera pergi untuk mencari Nimas namun secara mengejutkan sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi menghantam tubuhnya ketika ia hendak menyebrang jalan dan membuat tubuhnya membentur aspal jalanan.


__ADS_2