
Nadiba sudah tiba di depan rumah Noah dan kebetulan sekali pria itu tengah berada di luar rumah dan ia langsung menyapa Nadiba yang baru saja tiba untuk bekerja di rumahnya pagi ini. Nadiba nampak tak mau berbasa-basi dengan Noah dan ia akan mengatakan keputusan mengenai tawaran yang diberikan oleh Noah kemarin.
“Jadi bagaimana keputusanmu, Nadiba?”
“Saya menerimanya, Pak Noah.”
Tentu saja mendengar jawaban yang Nadiba berikan barusan membuat hati Noah girang bukan main, ia sebelumnya tidak terlalu berharap kalau Nadiba akan menyetujui syarat yang ia berikan kemarin dan rupanya saat ini Nadiba menyetujuinya.
“Kamu serius kan?”
“Tentu saja, apakah Pak Noah melihat ada sesuatu yang janggal dari saya saat ini?”
“Tidak, hanya saja terima kasih karena kamu memilih untuk menerima tawaran yang saya berikan itu.”
“Saya permisi dulu untuk memulai pekerjaan.”
Setelah Nadiba masuk ke dalam rumah, kini Noah mengeluarkan ponselnya untuk menelpon pemilik rumah kontrakan lama tempat Nadiba dan keluarga tinggal, ia ingin memberitahu pada pemilik rumah kontrakan
tersebut kalau tidak lama lagi Nadiba dan keluarganya akan kembali pindah ke rumah itu.
“Tolong anda bersihkan rumah itu seperti sedia kala, ya?”
“Baik Pak Noah, saya akan melakukannya.”
Noah pun kemudian menutup sambungan teleponnya dengan hati riang gembira, akan tetapi saat ia berbalik badan rupanya Felix sudah berdiri di belakangnya dan menatapnya tajam.
“Kenapa kamu menatap Papa seperti itu?”
“Apa maksud Papa dengan semua ini?”
“Papa tak paham apa yang sedang kamu bicarakan ini, Felix.”
“Papa ingin membantu Nadiba lagi padahal jelas-jelas wanita itu menolak Papa, apakah Papa sudah kehilangan akal sehat Papa?!”
“Jaga bicaramu Felix, siapa yang bilang kalau Nadiba telah menolak Papa? Buktinya dia bersedia melakukan apa yang sudah Papa tawarkan padanya.”
“Apa maksud Papa?”
“Nadiba tidak akan pernah menjauh lagi dari kehidupan Papa.”
“Papa sudah tidak waras, lebih baik Papa segera periksakan diri Papa itu ke dokter spesialis kejiwaan.”
Setelah mengatakan itu, Felix langsung pergi meninggalkan Noah tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
__ADS_1
****
Nadiba memikirkan keputusan yang telah ia katakan pada Noah, ia rasa sudah sangat terlambat kalau ia ingin menarik kembali jawaban tersebut, lagi pula kalau ia pikir-pikir sepertinya tidaklah buruk juga syarat yang diajukan oleh Noah padanya. Ia sejujurnya tidak nyaman tinggal di rumah Darsih, bukan karena ia benci atau tak suka pada sang tante akan tetapi semua itu karena Faruq yang kini tinggal bersama di rumah itu.
“Nadiba, tumben kamu melamun kita sedang bekerja,” tegur Noah yang membuat Nadiba tersadar dari lamunannya dan meminta maaf karena sudah melamun barusan.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, Nadiba?”
“Bukan apa-apa Pak Noah.”
“Baiklah kalau memang kamu belum mau mengatakannya padaku, maka saya tidak akan memaksanya.”
Setelah mengatakan itu Noah pun pergi menjauh dari Nadiba hingga membuat Nadiba dapat bernapas lega sejenak karena tidak perlu merasa takut atau kikuk saat berada di dekat Noah. Nadiba melakukan
pekerjaannya seperti biasa dengan baik hingga akhirnya waktu kerjanya sudah berakhir.
“Pak Noah, saya sudah melakukan semua pekerjaan saya di rumah ini hari ini, saya izin pulang dulu.”
“Iya, terima kasih banyak karena hari ini kamu telah bekerja keras, bagaimana kalau saya mengantarmu ke rumah?”
“Tidak perlu Pak Noah, saya bisa jalan kaki sendiri.”
****
“Mas Faruq memangnya ingin bicara apa lagi?”
“Apakah kamu sudah memberitahu pak Noah mengenai keputusanmu?”
“Iya, aku sudah mengatakannya pada pak Noah.”
“Apakah kamu akan kembali pindah ke rumah lama itu?”
“Iya, aku akan pindah kembali ke sana.”
“Kenapa kamu melakukan ini, Nadiba? Kamu kan bisa saja menolak tawaran dari pria itu.”
“Aku melakukan semua ini karena aku tak nyaman, Mas.”
“Kenapa kamu tak nyaman, Nadiba?”
“Karena kamu, kamu selalu mendekatiku dan memintaku untuk kembali bersama seperti dulu lagi padahal sudah berulang kali aku mengatakan padamu bahwa kita tak akan pernah bisa sama lagi seperti dulu.”
“Nadiba, apakah kamu benar-benar sudah tak mencintaiku? Apakah kamu benar-benar tak mempercayai semua yang aku katakan padamu waktu itu? Aku mengatakan hal yang sejujurnya padamu bahwa aku menyesali
__ADS_1
keputusanku menceraikanmu dan menikah dengan Luna, sekarang kalau aku memang tak mencintaimu maka untuk apa aku melakukan semua ini?”
****
Nadiba dan Faruq masih terlibat dalam adu argumen yang panjang dan sengit hingga Kusuma muncul dari dalam rumah dan melerai perdebatan keduanya.
“Kalian berdua ini kenapa malah ribut di depan rumah?”
“Bu, apakah Ibu sudah tahu keputusan yang dibuat Nadiba mengenai tawaran dari pak Noah?” tanya Faruq.
“Tidak tahu, memangnya Nadiba sudah memberitahumu mengenai keputusannya?” tanya Kusuma heran.
“Iya Bu, aku telah memberitahu keputusanku pada Mas Faruq dan aku mengatakan bahwa aku menerima tawaran dari pak Noah, tidak lama lagi kita akan kembali ke rumah lama itu.”
“Bu, tolong katakan pada Nadiba jangan keliru dalam pengambilan keputusan seperti ini, pak Noah hanya memanfaatkan Nadiba saja untuk kepentingan pribadinya.”
“Faruq, aku berterima kasih karena kamu sudah peduli pada Nadiba akan tetapi Nadiba sudah membuat keputusan dan kamu harus menghormati keputusan yang telah Nadiba buat.”
Mendengar jawaban yang diberikan oleh Kusuma membuat hati Faruq hancur karena ia pikir ibu dari Nadiba itu akan memihaknya akan tetapi justru malah sebaliknya, Nadiba pun segera masuk ke dalam rumah untuk
mandi dan berganti pakaian.
“Ibu tahu bahwa ini sangat sulit bagimu untuk menerimanya, akan tetapi tolong hargai keputusan Nadiba, Nak.”
“Baik, Bu.”
Kusuma pun kemudian menyusul masuk ke dalam rumah meninggalkan Faruq yang masih termenung di halaman depan rumah meratapi keputusan yang telah Nadiba buat.
****
Keesokan harinya Noah memberitahu Nadiba bahwa ia akan menjemput Nadiba di rumah untuk membawanya ke sebuah tempat tentu saja Nadiba terkejut ketika mendapati pesan tersebut, baru ia akan mengirim balasan untuk Noah justru pria itu sudah muncul di depan pintu rumah.
“Pak Noah?”
“Selamat pagi Nadiba, kamu hari ini tak perlu pergi ke rumahku untuk bekerja karena hari ini saya akan mengajakmu pergi ke suatu tempat.”
“Kita akan ke mana, Pak?”
“Saya tak akan memberitahumu kita akan ke mana, yang jelas kamu ikuti saja saya.”
Nadiba pun kemudian masuk ke dalam untuk berpamitan dulu pada Kusuma dan Darsih, sementara itu Faruq nampak tidak terima kalau Nadiba diajak pergi oleh Noah saat ini.
“Nadiba, jangan pergi dengan pria itu, aku mohon.”
__ADS_1
“Hentikan, Mas!”