
Nadiba nampak terkejut ketika dari dalam kamarnya Felix melempar sesuatu ke arah pintu dan nampaknya benda yang Felix lemparkan itu pecah ketika menghantam pintu.
“Aku sudah bilang padamu untuk pergi, kenapa kamu masih saja keras kepala?!”
Nadiba masih nampak terkejut dengan respon yang tidak baik ditunjukan oleh Felix barusan maka oleh sebab itu Nadiba memilih untuk segera pergi dari sana dengan berat hati karena ia belum dapat memastikan kalau Felix baik-baik saja.
“Bagaimana Nadiba, apakah kamu sudah dapat membujuknya?”
“Belum Pak, tuan Felix tadi melemparkan sesuatu ke pintu sepertinya.”
“Apakah benda itu mengenaimu?”
“Tidak, tuan Felix tidak membukakan pintu namun dia melemparkan sesuatu pada saya yang mengenai pintu tersebut.”
“Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, saya khawatir kalau Felix melukaimu tadi.”
Nadiba pun kemudian segera pamit pada Noah untuk melanjutkan pekerjaannya, Noah sendiri kemudian mencoba menghampiri kamar Felix dan berbicara dengannya baik-baik akan tetapi Noah juga mengalami penolakan
seperti yang Nadiba alami tadi.
“Baiklah, Papa tidak akan memaksamu selama kamu tidak melakukan sesuatu hal yang buruk, Nak.”
Noah kemudian memutuskan bekerja di ruangan kerjanya hingga jam makan siang tiba dan Nadiba menghampirinya untuk mengatakan makan siang sudah sedia dihidangkan.
“Terima kasih banyak Nadiba.”
“Tidak masalah Pak Noah, saya permisi dulu.”
Noah kemudian keluar dari ruangan kerjanya dan menuju meja makan akan tetapi sebelum ia makan siang, ia ingin melihat bagaiman keadaan Felix saat ini, ketika ia tiba di sana rupanya da Nadiba yang juga mencoba berbicara dengan Felix. Kedatangan Noah yang tiba-tiba membuat Nadiba terkejut dan merasa tak nyaman.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Saya sedang mencoba membujuk tuan Felix untuk makan siang, Pak Noah.”
“Lalu apakah Felix bersedia melakukannya?”
“Tidak Pak Noah, saya sudah mencoba sebisa saya.”
“Kalau memang dia tidak mau makan, maka biarkanlah.”
“Tapi Pak Noah ….”
“Percayalah pada saya, Felix akan baik-baik saja
selepas ini.”
****
__ADS_1
Nadiba masih berat hati untuk pulang sebenarnya karena sampai ia selesai bekerja, dirinya belum juga dapat menemui Felix karena Felix masih mengurung dirinya di dalam kamar. Noah yang seolah mengetahui kekhawatiran Nadiba berusaha menenangkannya, Noah mengatakan kalau Felix akan baik-baik saja dan ia akan menjaganya.
“Saya permisi dulu, Pak Noah.”
Nadiba pun segera pergi dari rumah itu untuk pulang ke rumahnya, Noah sendiri merasa cemburu pada Felx karena putranya itu mendapatkan perhatian yang lebih dari Nadiba dan ia bisa merasakan betapa besarnya cinta
Nadiba untuk Felix akan tetapi sayangnya Felix tidak mencintai Nadiba.
“Dunia memang terkadang tidak adil.”
Nadiba pun akhirnya tiba di rumah dan disambut oleh Rama, Nadiba nampak terkejut dan tak percaya ketika yang menyambutnya pulang bukanlah Kusuma seperti biasa.
“Rama, ada apa, Nak?”
“Aku mau bicara dengan Ibu.”
“Kamu memangnya ingin membicarakan apa dengan Ibu?”
“Bu, apakah Ibu tidak bisa kembali pada ayah?”
Nadiba nampak terkejut dengan pertanyaan yang Rama ajukan padanya barusan, kini Nadiba sendiri jadi bingung harus menjawab apa atas pertanyaan yang Rama ajukan padanya beberapa saat lalu.
“Kenapa Ibu diam saja? Ayah bilang kalau Ibu menolak untuk kembali pada ayah, itu semua tidak benar kan?”
“Nak, Ibu kan sudah pernah mengatakan padamu bahwa walau Ibu dan ayah tidak bersama lagi bukan berart kami tidak menyayangimu.”
****
Kusuma melihat Rama dan Nadiba tengah berbicara, ia pun kemudian menghampiri mereka berdua dan bertanya apa yang sedang mereka berdua bicarakan. Rama mengatakan pada neneknya bahwa ia ingin Nadiba kembali
pada Faruq dan tentu saja Kusuma terkejut dengan ucapan cucunya barusan.
“Sayang, Nenek mau bicara sebentar dengan ibu boleh? Nanti nenek bicara juga denganmu.”
“Baik Nek.”
Rama pun pergi meninggalkan mereka berdua menuju kamarnya, selepas Rama pergi kini Kusuma bertanya pada Nadiba apakah anaknya itu baik-baik saja saat ini karena kalau Kusuma perhatikan sepertinya Nadiba sedang ada masalah.
“Kamu sedang ada masalah apa, Nak? Apakah karena Rama menanyakan itu padamu?”
“Bukan itu Bu, ini menyangkut tuan Felix.”
“Tuan Felix? Memangnya ada apa dengan pria itu?”
“Tuan Felix sekarang mengalami masa-masa sulit akibat mengetahui wanita yang ia cintai beselingkuh dengan pra lain selama ini.”
“Ya Tuhan, kasihan sekali tuan Felix.”
__ADS_1
“Aku sudah mencoba untuk bicara dengannya namun ia menolak kedatanganku, Bu, dia tidak mau bicara denganku.”
“Ibu memahami apa yang kamu rasakan saat ini, Nak, akan tetapi menurut Ibu saat in tuan Felix masih membutuhkan waktu untuk menerma semua ini, kita hanya dapat doakan semoga tuan Felix dapat menerima
semua hal buruk ini.”
****
Kusuma kemudian bicara dengan Rama, ia penasaran dengan cucunya itu yang bertanya pada Nadiba mengenai kenapa ibunya tidak mau kembali pada Faruq. Tentu saja Kusuma curiga kalau Faruq kembali mencoba mencuci
otak Rama supaya Rama memaksa Nadiba kembali pada mantan suaminya itu.
“Sayang, Nenek mau dengar kejujuranmu, apakah ayahmu yang menyuruhmu melakukan semua ini?”
“Tidak Nek, ayah tidak menyuruhku ini atas kemauanku sendiri, aku ingin ayah dan ibu kembali seperti dulu lagi.”
“Rama, tidak apa, katakan saja yang sejujurnya pada Nenek kalau memang ayahmu yang menyuruhmu melakukan semua ini.”
“Aku kan sudah mengatakan pada Nenek kalau ayah sama sekali tidak menyuruhku melakukan semua ini, semua in atas keinginanku sendiri, Nek.”
Kusuma dapat melihat kejujuran dalam kedua mata Rama, ia meminta maaf pada cucunya itu karena tadi sempat tak percaya dengan apa yang Rama katakan.
“Nenek benar-benar meminta maaf padamu, Rama.”
“Nenek, apakah Nenek bisa membantuku untuk membuat ayah dan ibu kembali seperti dulu lagi?”
“Nak, saat in keadaannya sudah berubah, ayah dan ibumu tidak akan pernah kembali lagi seperti dulu.”
“Kenapa begitu, Nek?”
“Kelak ketika kamu dewasa kamu akan paham dengan semua ini, Nenek tidak dapat mengatakannya padamu.”
****
Faruq mendatangi rumah Nadiba hari ini sebelum Nadiba pergi bekerja, Nadiba nampak terkejut dengan kedatangan Faruq namun ia kemudian mengatakan kalau ia tak memiliki waktu untuk berdebat dengan mantan suaminya
ini.
“Aku datang ke sini untuk bicara sebentar denganmu, bolehkan?”
“Baiklah, Mas Faruq ingin membicarakan apa? Aku tidak memiliki banyak waktu soalnya.”
“Nadiba, katakan padaku sekali lagi, apakah kita tidak akan pernah dapat kembali seperti dulu lagi?”
“Mas, aku sudah berulang kali mengatakannya padamu bahwa aku sudah memaafkanmu akan tetapi untuk kembali seperti dulu lagi, itu adalah sebuah hal yang mustahil, tolong kamu jangan tanyakan ini lagi padaku.”
“Baiklah kalau begitu, aku tidak akan lagi mengganggumu.”
__ADS_1
“Apa?”