
Felix menanti jawaban dari Noah yang nampak terkejut dan bingung apa yang harus ia katakan pada putranya ini, sikap Noah yang memilih diam dan tak menjawab ini pun membuat Felix yakin bahwa apa yang mamanya katakan padanya itu adalah sebuah kebenaran.
“Kenapa Papa hanya diam? Apakah yang mama katakan padaku itu memang benar?”
“Felix ….”
“Katakan padaku, Pa!”
Noah nampak begitu berat sekali harus mengatakan kejujuran pada Felix namun kalaupun ia berbohong maka akan percuma saja karena Felix tidak akan mempercayainya.
“Katakan padaku yang sebenarnya, Pa!”
“Baiklah! Baiklah! Aku akan menjawabnya dengan jujur, apa yang mamamu katakan itu memang benar Felix!”
Felix nampak terkejut dengan pengakuan papanya ini, ia sama sekali tidak menyangka kalau apa yang mamanya katakan itu benar, jadi selama ini papanya mendua tanpa sepengetahuan mereka semua?
“Kenapa Papa melakukan itu?!”
“Itu semua kecelakaan, aku… aku ….”
Felix tidak mau mendengar penjelasan dari Noah dan memilih untuk pergi ke kamarnya sementara Noah masih begitu emosional ketika mengingat kejadian 20 tahun lalu ketika dirinya dan wanita itu bertemu untuk
pertama kalinya dan mereka mulai menjalin hubungan sampai akhirnya terjadilah insiden yang tidak terduga itu.
“Kenapa Thalia mengatakan itu padanya?”
Noah segera menelpon Thalia untuk meminta penjelasan dari istrinya itu mengapa Thalia mengatakan semua rahasia itu pada Felix namun rupanya Thalia sama sekali tidak mau menjawab telepon darinya hingga membuat
Noah geram setengah mati.
“Kamu membuatku tidak memiliki pilihan lain, Thalia.”
Noah pun kemudian bergegas masuk ke dalam mobilnya dan memacu kendaraan itu menuju kota untuk menemui Thalia, sesampainya di rumah sakit secara kebetulan ia melihat Thalia baru saja selesai praktik di sana dan
sepertinya ia hendak pulang.
“Thalia.”
Thalia nampak terkejut ketika menemukan Noah di rumah sakit ini namun kemudian ia segera membuang muka dan bergegas menuju mobilnya namun secepat mungkin Noah menahan tangan Thalia supaya istrinya itu tidak
melarikan diri darinya.
“Mau apa kamu datang ke sini?”
“Kita perlu bicara.”
****
__ADS_1
Noah mengajak Thalia untuk bicara namun Thalia menolaknya dengan alasan dia sedang tidak mood untuk berbicara dengan Noah, akan tetapi Noah tetap memaksa istrinya itu untuk mau bicara dengannya karena
ia ingin mendengarkan secara langsung dari mulut Thalia mengenai kenapa istrinya ini membocorkan rahasia mengenai masa lalunya pada Felix.
“Apa yang ingin kamu bicarakan denganku? Lebih baik sekarang juga kamu mengatakannya atau aku akan pergi.”
“Kenapa kamu mengatakan rahasia itu pada Felix? Apakah kamu sudah kehilangan akal sehatmu?”
“Felix yang memaksaku untuk mengatakan kejujurannya, menurutmu apa yang harus aku lakukan selain mengatakannya?”
“Kamu benar-benar membuatku marah Thalia.”
“Kalau pun ada orang yang harusnya marah tentu saja aku, kamu berkhianat di belakangku 20 tahun lalu, apakah kamu tidak memikirkan bagaimana perasaanku saat tahu kamu berselingkuh dan memiliki seorang anak dari
hasil hubungan gelap kalian? Bersyukur saja karena hanya Felix yang mengetahui hal ini bukan anak itu.”
“Apakah kamu berencana untuk melakukan hal itu?”
“Aku masih memiliki nurani untuk tidak menghancurkan karirmu sebagai jurnalis berprestasi, Noah. Andai saja aku sudah tidak memiliki nurani maka aku dengan senang hati membongkar aib ini pada siapa pun!”
“Thalia!”
“Apa? Aku ingin kita bercerai!”
Setelah mengatakan itu Thalia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Noah yang masih terdiam di tempatnya seraya berusaha untuk menenangkan dirinya yang emosi akibat pembicaraan barusan.
****
sepenuhnya pulih dari trauma itu.
“Tapi aku harus bekerja, Bu, aku tidak enak pada pak Noah.”
“Pak Noah sudah mengatakan pada Ibu untuk kamu lebih
baik istirahat saja dan memulihkan diri dari pada memaksakan diri.”
“Tapi aku sudah baik-baik saja, Bu.”
“Ibu akan percaya kalau kamu sudah ditangani oleh psikolog, Nak.”
“Bu tolong jangan seperti ini.”
“Nak, jangan menolak hal itu, kamu pasti masih trauma kan dengan kejadian buruk itu?”
Nadiba terdiam mendengar pertanyaan yang Kusuma ajukan barusan, Kusuma kemudian meraih tangan Nadiba dan mengatakan bahwa sebaiknya mereka memeriksakan diri Nadiba ke psikolog supaya lebih yakin mengenai kesehatan mental Nadiba saat ini.
“Baiklah.”
__ADS_1
“Akhirnya kamu mau juga, sebentar Ibu ganti baju dulu kemudian kita pergi ke rumah sakit.”
Kusuma segera masuk ke dalam kamarnya untuk berganti baju dan kemudian mereka berdua pun pergi ke rumah sakit, sebelumnya Kusuma sudah memberitahukan pada Darsih bahwa mereka berdua pergi ke rumah sakit.
****
Noah dalam perjalanan pulang ke rumah dan kini mobilnya terjebak di lampu lalu lintas yang sedang berwarna merah, Noah menolehkan kepalanya ke kanan dan alangkah terkejutnya ia melihat sosok wanita yang tengah
berada di dalam mobil sebelahnya, Noah mengucek matanya untuk memastikan bahwa ia sama sekali tidak salah lihat. Belum sempat Noah memastikan bahwa ia salah lihat atau tidak, mobil tersebut sudah melaju karena lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau.
TIN
Noah pun segera melajukan mobilnya mengikuti mobil itu, ia harus memastikan sendiri bahwa apa yang ia lihat barusan itu adalah sebuah hal yang nyata atau tidak, mobil itu melaju menuju sebuah jalan pedesaan
yang mana di ujung jalan itu ada sebuah rumah mewah dan mobil tersebut masuk ke dalam rumah itu.
“Rumah siapa ini, ya?”
Noah memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah tersebut dan mengamati dari dalam, tidak lama kemudian wanita yang tadi ia lihat di dalam mobil itu turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah itu. Noah berusaha menajamkan pengelihatannya supaya ia yakin bahwa ia tidak sedang salah mengenali seseorang.
“Tidak mungkin aku salah dalam mengenali orang itu, bagaimana bisa dia ada di kota ini?” lirih Noah.
****
Setelah memeriksakan diri ke psikolog kemarin, Nadiba kembali bekerja di rumah Noah pagi ini, Noah nampak terkejut ketika mendapati Nadiba sudah berdiri di depan rumahnya.
“Mau apa kamu datang ke sini?”
“Saya datang ke sini untuk bekerja, Pak.”
“Bukankah saya sudah mengatakan bahwa kamu jangan memaksakan diri?”
“Saya sama sekali tidak memaksakan diri, saya sudah memeriksakan diri ke psikolog kemarin dan perasaan saya sudah agak lebih lega, psikolog saya menyarankan supaya saya melakukan aktivitas supaya saya tidak mengingat kejadian buruk itu lagi.”
“Tadi kamu datang ke sini tidak diganggu oleh siapa pun kan?”
“Tidak Pak.”
“Baiklah kalau memang begitu namun nanti saat kamu pulang, saya akan mengantarkanmu.”
“Tapi Pak ….”
“Tidak ada penolakan, Nadiba.”
Nadiba tidak mau mendebat dan kemudian segera melakukan pekerjaannya, baru saja Noah hendak kembali ke ruangan kerjanya ia mendengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah dan ketika ia melihat dari jendela,
nampak Thalia turun dari dalam mobil tersebut dan masuk ke dalam rumah ini.
__ADS_1
“Mau apa kamu ke sini?”
“Aku datang ke sini untuk mengambil pakaianku yang masih tertinggal.”