
Faruq tidak paham kenapa Luna bersikap sangat berlebihan mengenai Rama padahal sebelumnya mereka sudah menyepakati kalau ketika libur sekolah maka Rama boleh berkunjung ke rumah mereka tetapi sekarang
Luna mengubah keputusannya secara sepihak dan hal tersebut karena ia cemburu pada Nadiba?
“Kamu terlalu kenakan Luna.”
“Apa katamu? Kekanakan? Apakah menurutmu tidak wajar kalau seorang istri cemburu pada suaminya karena suaminya ini masih memikirkan mantan istrinya?”
Perdebatan antara Faruq dan Luna menjadi tontonan para karyawan yang bekerja di ruangan ini, merasa bahwa mereka menjadi tontonan Luna pun menatap garang mereka semua.
“Apa kalian lihat-lihat? Apakah kalian ingin aku pecat sekarang juga?!”
“Tidak Bu.”
“Kalau begitu sana pergi, kenapa masih ada di sini dan menguping pembicaraan kami?!”
Para karyawan yang sebelumnya masih ada di ruangan ini pun pergi meninggalkan mereka berdua hingga Luna dan Faruq bisa leluasa bicara.
“Apakah kamu tidak malu diperhatikan oleh banyak karyawan seperti tadi?”
“Untuk apa aku malu kalau memang apa yang aku katakan memang adalah sebuah kebenaran.”
“Kebenaran apa, sih? Sudahlah Luna, kamu makin lama makin tidak jelas saja.”
Faruq pergi meninggalkan Luna yang masih berdiri di ruangan tersebut, ia mengabaikan Luna yang masih memanggil-manggil namanya sambil berusaha mengejarnya. Akhirnya Luna bisa juga untuk mengejar Faruq
karena suaminya itu sedang menunggu lift.
“Kenapa kamu meninggalkanku di sana sendirian?!”
“Karena aku tidak mau membuang waktuku untuk mendengar ucapan tidak masuk akalmu!”
“Ucapan tidak masuk akal? Apakah aku salah kalau aku cemburu pada mantan istrimu itu? Andai saja kamu tidak bersikap berbeda padaku mungkin saja aku tidak akan bersikap seperti ini!”
Pintu lift terbuka dan Faruq langsung masuk ke dalam lift, Luna mencoba untuk mengejar Faruq untuk masuk ke dalam lift namun pria itu menahan Luna supaya tidak naik di lift yang sama dengannya.
“Menyebalkan sekali,” geram Faruq ketika ia sudah berhasil melarikan diri dari Luna dan tengah ada di dalam lift hingga ia menyadari bahwa ia tidak sendirian di dalam lift ini karena ada seorang wanita yang berdiri di belakangnya.
“Maaf.”
“Tidak apa.”
****
Nadiba kembali bekerja di rumah Noah dan hari ini ia tidak menemukan Thalia, ia agak sungkan kalau harus menanyakan di mana keberadaan istri Noah tersebut karena statusnya hanya sebagai asisten rumah tangga.
“Nadiba, aku dan Felix ingin pergi ke kota sebentar karena ada urusan.”
__ADS_1
“Baik Pak.”
“Awas saja kalau sampai kamu mengambil barang yang ada di rumah ini,” ancam Felix.
“Felix, tidak baik bicara sembarangan seperti itu pada Nadiba.”
“Kenapa? Apakah Papa bisa mempercayai dia seratus persen padahal dia adalah orang baru yang bekerja di rumah ini? Dia bisa saja mengkhianati kita.”
“Nadiba, kami pergi dulu, ayo pergi!”
Noah membawa Felix untuk pergi bersamanya, Nadiba melihat keduanya pergi dari dalam rumah, ia menghela napasnya berat karena lagi-lagi mendapatkan caci maki dan hinaan dari Felix mengenai pekerjaannya di
rumah ini dan yang lebih parahnya lagi Felix masih belum percaya bahwa di antara dirinya dan Noah memang tidak ada apa-apa.
“Kamu pasti bisa melewati semua ini Nadiba, kamu harus bertahan demi Rama.”
Nadiba akhirnya bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan saat ini adalah waktunya Nadiba untuk pulang namun Noah dan Felix belum kembali ke rumah juga.
“Ke mana mereka pergi, ya?”
****
Noah dan Felix saat ini tengah berada di kota lebih tepatnya di sebuah rumah sakit tempat di mana Thalia bekerja, Felix tentu saja tidak paham kenapa Noah membawanya ke rumah sakit ini padahal dirinya sama
sekali tidak dalam keadaan sakit.
“Untuk apa Papa membawaku ke rumah sakit? Aku kan tidak sakit, Pa!”
“Apa maksud Papa?”
“Diam dan lihat saja.”
Felix benar-benar penasaran dengan apa yang sebenarnya Noah katakan, ia pun kemudian diam dan menuruti apa yang papanya katakan barusan. Tidak lama kemudian mereka melihat Thalia keluar dari rumah sakit
bersama dengan seorang perawat pria yang usianya mungkin beberapa tahun di atas Felix.
“Lihat dia.”
“Iya aku lihat mama, dia bersama seorang perawat pria kan?”
Thalia dan perawat pria itu masuk ke dalam mobil Thalia dan mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit menuju suatu tempat.
“Kita ikuti mereka,” ujar Noah yang kemudian melajukan kendaraannya mengikuti ke mana mobil Thalia menuju tetapi tentu saja dengan tetap menjaga jarak karena ia tidak mau kalau sampai ketahuan oleh mereka kalau saat
ini ia dan Felix tengah diam-diam mengikuti mereka.
****
__ADS_1
Felix dan Noah akhirnya tiba di sebuah apartemen yang tidak jauh dari rumah sakit, nampak Thalia dan perawat pria itu turun dari mobil dan mereka masuk ke dalam apartemen itu, Felix masih penasaran hingga
ingin mengikuti mereka ke dalam namun Noah mengatakan mereka tidak bisa masuk ke dalam karena tidak memiliki akses masuk ke sana.
“Sebenarnya mereka itu kenapa, Pa?”
“Mereka memiliki hubungan.”
“Apakah Papa bercanda?”
“Untuk apa Papa bercanda? Papa sudah tahu ini sejak lama hanya saja Papa sengaja tidak mau mengatakan apa pun pada mamamu, Papa ingin dia jujur dengan sendirinya kenapa dia bermain api dengan pria lain
padahal dia masih berstatus sebagai istriku.”
“Bagaimana Papa bisa tahu dia selingkuhan mama? Bisa saja dia teman mama.”
“Teman? Kenapa teman bisa sampai masuk ke dalam apartemen bersama? Dan tadi ketika mereka turun dari mobil, apakah kamu tidak lihat mereka bermesraan sebelum masuk ke dalam lift?”
Felix terdiam mendengar ucapan papanya, apa yang tadi papanya katakan memang benar adanya tetapi ia tetap tidak mau berpikiran buruk pada mamanya.
“Tetapi aku tetap tidak mau berpikiran buruk dulu pada mama, bisa saja dia bukan selingkuhan mama seperti yang Papa tuduhkan barusan.”
“Baiklah, kita lihat saja nanti, apakah kamu akan percaya padaku atau tidak.”
****
Nadiba sudah ditelepon oleh Kusuma karena ibunya itu khawatir kenapa sampai malam begini Nadiba belum kembali ke rumah, Nadiba mengatakan bahwa saat ini Noah dan Felix tengah pergi keluar dan dia tidak bisa
meninggalkan rumah sebelum mereka kembali.
“Baiklah, tapi kalau pulang hati-hati, ya?”
“Iya Bu, Rama sudah tidur?”
“Sudah, barusan Ibu menyuruhnya untuk tidur dan tidak perlu menunggumu.”
“Terima kasih sudah menjaga Rama, Bu.”
“Tidak masalah, pokoknya hati-hati di jalan pulang.”
“Iya Bu.”
Kusuma kemudian menutup sambungan teleponnya dengan Nadiba dan di saat itulah Noah dan Felix tiba di rumah, tanpa membuang banyak waktu Nadiba langsung pamit pada Noah untuk pulang karena hari sudah malam.
“Nadiba, biar aku antar pulang saja.”
“Tidak perlu Pak Noah, saya bisa pulang sendiri.”
__ADS_1
“Tapi Nadiba ….”
“Sudahlah Pa, dia bilang bisa pulang sendiri, kenapa sih Papa memaksa supaya mengantarkan dia pulang? Apakah benar kalau Papa dan wanita ini memang memiliki hubungan?” tuduh Felix.